Cinta Setelah Dia

Cinta Setelah Dia
Bab 35


__ADS_3

Pagi ini mentari bersinar dengan cerah, secerah hatiku. Cahaya mentari pagi langsung menembus kamarku yang terletak dekat dengan halaman belakang. Aku menyebutnya halaman belakang, padahal yang aku maksud itu hanya sebatas ruang terbuka untuk menjemur pakaian.


Tak seperti biasanya, pagi ini setelahbangun tidur aku langsung mengecek gawaiku. Dan benar saja, sudah ada satu pesan masuk dari calon suamiku. Ah, membayangkannya saja membuatku malu.


(Pagi sayang)


Hanya itu. Namun sukses membuatku tersenyum malu.


Drrrt Drrrt Drrrt.


Segera kuangkat teleponnya.


"Hallo."


"Hai sayang, sudah bangun?"


"Iya, aku baru bangun ... Em, kamu udah bangun, Mas?" Aku mengecek jam di atas layar gawaiku. Ternyata pukul 05.00.


"Setengah jam yang lalu. Aku mimpiin kamu ... Makanya pas lihat chat aku udah centang dua warna biru, langsung aku telfon kamu."


Aku tertawa.


"Mimpi apa, Mas?"


"Mimpiin kamu udah jadi istriku." Aku tersipu. Kutarik kembali selimutku yang berwarna cream. Kubenamkan seluruh tubuhku ke dalam selimut yang terasa hangat itu.


"Insyaa Allah sebentar lagi, Mas." Kusibak selimutku, lalu duduk bersila di atas kasur.


"Ya udah, aku mau mandi dulu ya, Mas. Abis ini mau masak."


"Iya sayang. Sampai ketemu nanti ya."


"Sampai nanti, Mas."


"Bye, sayang ..."


Klik. Kumatikan sambungan telepon. Kuletakkan gawaiku di samping nakas, Kulipat selimutku, lalu kuletakkan di sisi bawah tempat tidur. Tak membuang waktu, aku segera mandi dan menyiapkan sarapan.


Pagi ini aku membuat nasi liwet dengan ayam goreng tulang lunak, tempe dan tahu goreng beserta sambal dan lalapan.


🍂


Terdengar deru mesin mobil dari luar pagar. Ternyata Pak Raka tiba beberapa jam lebih cepat. Ia menurunkan satu karung besar beras dari dalam mobilnya.


Bunda yang sedang menyiram tanaman di depan langsung menyambutnya dengan senyumannya yang ramah. Sesampainya di teras, ia segera mencium punggung tangan Bunda, dan membawa beras ke dapur dengan izin Bunda.


Ia tersenyum saat melewatiku yang sedang menyajikan menu sarapan. Padahal ia hanya memakai kaos polos berwarna abu tua yang dipadukan dengan celana jeans hitam, namun auranya begitu memikat.

__ADS_1


Gesturnya saat membawa satu karung beras di atas pundak kanannya sangat menggoda pikiranku. Ah, dasar aku!


Setelah meletakkan beras di samping rak piring, ia mendatangiku, kemudian membelai kepalaku dengan lembut.


"Masak apa, Sayang?"


"Nasi liwet, Mas." Kemudian aku menengok ke sosok tinggi bermata tajam di depanku.


"Katanya jam sebelas, kok jam tujuh udah sampai sini, Mas?" Tanyaku penasaran.


"Saya belum sarapan, Luna. Lidahnya bener-bener udah kecanduan masakan kamu. Lagian nggak enak sarapan nggak sama kamu."


Kucubit lengannya yang sebentar lagi menuju rambutku. "Ish, gombal!" Aku mencebik.


"Aduh, sakit. Ih Luna mulai nakal ya, cubit-cubit. Saya bilangin Bunda nih! Bun ..." Segera kubungkam mulutnya dengan tanganku.


"Ssst, ish Mas jangan berisik!" kutatap wajahnya yang tampan, kutajamkan tatapanku padanya. Ia tertawa melihat ekspresiku.


Segera kulepaskan tanganku saat kudengar suara langkah kaki Bunda. Kuambil satu buah piring tambahan untuk Mas Raka, yang kemudian kuletakkan di meja makan.


"Arya mana, Lun?" tanyanya saat mengikutiku ke ruang dapur untuk menyiapkan minuman.


"Disini." Seru suara khas kakakku satu-satunya. Ia keluar dari kamar mandi dengan membawa handuk basah yang barusan ia pakai.


"Udah lama, Bro?" sapa Mas Arya.


"Tengkyu Bro. Sering-sering ya!" Jawab Mas Arya sambil memberikan cengiran khasnya.


"Beres. Insyaa Allah."


🍂


Setelah Bunda menyelesaikan kegiatan menyiram tanaman, kami berkumpul di ruang makan. Semua menu telah terhidang di meja makan. Piring makan berwarna putih telah tertata rapi di tiap sisi. Gelas yang berisi air putih pun telah tersedia di samping piring makan.


Aku menuangkan nasi liwet ke semua orang tanpa terkecuali. Setelah semua piring terisi, giliran aku mengambil bagianku. Sedangkan untuk lauk pendamping, aku mempersilahkan mereka untuk memilih lauk yang mereka suka.


Kami makan dengan sesekali bercerita dan berbincang. Calon suamiku terlihat sangat menikmati makanan yang aku masak. Ya ampun, calon suami.


"Ka, pelan-pelan lah makannya. Lahap banget lo sampe keringetan gitu!" Ujar Mas Arya kepada Pak Raka, eh, Mas Raka maksudku.


"Lidah gue nih, udah kecanduan sama masakannya Luna. Apalagi sambel terasinya ini, sadis banget, Ar!" Jawab Mas Raka sambil mengelap keringat yang ada di pelipis dan pipinya. Lucu sekali.


"Alhamdulillaah, anak Bunda makin pintar masaknya. Iya lho Nak Raka, ini sambelnya joss banget ya?" Ujar Bunda.


"Iya, Bunda. Saya nggak salah pilih calon istri nih!"


"Uhuk."

__ADS_1


Semua mata mengarah kepadaku. Mereka menertawai tingkahku. Pasalnya bukannya mengambil gelas minumku, aku malah menuang kembali gelas yang masih terisi air sehingga air dari teko tumpah dan membuat meja makan menjadi basah.


Untung hanya sedikit. Kalau tidak, habislah aku.


🍂


Setelah insiden tadi, aku segera menyelesaikan sarapanku. Setelah itu aku bereskan sisa kekacauan tadi, tak lupa kucuci semua perlengkapan makan kami.


Bunda mendekatiku saat aku sedang mencuci. Ia bilang, tak baik jika membuat tamu menunggu terlalu lama. Jadi aku disuruh bersiap-siap untuk pulang bersamanya.


Bunda juga menitipkan pesan padaku untuk menjaga diri. Sebentar lagi aku akan menikah, jangan sampai aku tergoda untuk melepas kesucianku untuknya.


"Godaan pasti semakin banyak. Setan akan semakin menjerumuskan manusia pada kesesatan. Kamu jaga diri ya. Ingat, berikan hanya kepada yang berhak. Suami adalah satu-satunya orang yang paling berhak." Pesan Bunda saat itu.


Aku akan selalu ingat, dan akan selalu menjalankan pesan Bunda. Ah, Ayah, aku juga merindukannya. Seandainya Ayah disini, pasti ia akan bahagia melihatku menikah.


Akhirnya aku memutuskan untuk mengemasi barang-barangku. Pak Raka masih di ruang tengah bersama Mas Arya.


"Mas, aku udah siap." Saat aku selesai mengemasi barang-barangku.


"Kan baru jam sepuluh."


"Ngga papa. Kita jalan lebih pagi aja, takut macet." Ujarku.


"Hmm, ngga papa bener? Mau jalan dulu nggak sama Bunda?"


"Nggak usah Nak. Nak Arya ini lho, ngajak Bunda terus." Ujar Bunda dari arah kamarnya.


"Saya kan udah lama nggak ajak Mama sendiri jalan, karena sekarang yang ada Bunda, ya saya mau bikin Bunda senang."


"Mama Raka udah nggak ada, Bun." Mas Arya menjawab pertanyaan Bunda yang tak terucap.


"Maafin Bunda ya Nak Raka. Bunda nggak tahu." Bunda menatap Pak Raka, kemudian Pak Raka menghampiri Bunda dan memeluknya.


"Nggapapa Bun, udah lama berlalu."


"Bro, titip adek gue ya. Kita sekarang saudara. Bunda udah jadi Bunda buat lo juga. Kalo lo kangen, tinggal kesini aja ya. Nggak usah sungkan." Katanya.


Siap, Mas Arya!" Ujar Pak Raka sambil bersikap hormat kepadanya. Kemudian keduanya tertawa, lalu mereka berangkulan seperti layaknya sahabat.


"Ya udah, ati-ati kalian di jalan. Kabar-kabari kalau ada apa-apa."


"Bunda, Mas Arya, aku pamit dulu ya. Sehat-sehat ya di rumah." Pamitku kepada mereka berdua. Aku mencium punggung tangan Bunda dan Mas Arya bergantian dengan disusul Pak Raka.


Mereka mengantar kami sampai depan rumah. Lalu kami masuk ke dalam mobil untuk kembali ke Jakarta.


"Pamit, Bunda, Arya. Assalamu'alaikum."

__ADS_1


__ADS_2