Cinta Setelah Dia

Cinta Setelah Dia
Bab 3


__ADS_3

Happy reading, gengs!


🖤


Jantungku masih terus berdetak cepat dengan nafasku yang semakin memburu. 'Ya, Allah, jangan dia, Yaa Allah' Pintaku dalam hati. Entah mengapa pikiranku tak tenang setelah mendengar ucapan pria plontos tadi.


Pak Raka sudah selesai mengisi daftar tamu, ia mengajakku masuk, dan mengisyaratkan agar aku melingkarkan tanganku di lengannya lagi.


Lagu-lagu cinta mengalun indah sesaat setelah kami memasuki ruangan pelaminan yang megah ini. Sungguh, kalau saja hatiku sedang tenang, aku pasti akan menikmati suasana ini. Tapi aku tak bisa tenang sampai aku bisa memastikan bahwa bukan Leo-ku yang menikah siang ini.


Pak Raka menyadari perubahan suasana hatiku, lalu ia bertanya padaku "Luna ada apa? Are you okay?"


Aku katakan padanya aku akan baik-baik saja. Sengaja tidak kusampaikan kegalauanku padanya. Lalu kami mengantri untuk bisa memberikan salam kepada kedua mempelai.


Melangkah ke pelaminan sungguh membuatku tak tenang. Sepertinya panjang sekali antrian ini.


🖤


Lemas. Syok. Sedih. Kecewa. Hancur.


Saat kulihat Leo-ku di depan sana sedang bersanding dengan wanita cantik yang kutahu bernama Thalia, sahabat Pak Raka. Kepalaku pening. Nafasku berantakan. Aku berantakan.


'Yaa Allah, mengapa Kau beri ujian seperti ini kepadaku, Yaa Allah?' jeritku dalam hati.


"Luna, ada apa? Tanganmu dingin" Suara Pak Raka menyadarkanku dari pikiranku. Sepertinya ia khawatir.


"Dia ... Dia Leo, Pak. Pacar saya." Jawabku menahan sesuatu yang hendak keluar dari pelupuk mata. Aku tak tahu bagaimana penampilanku saat ini. Rasanya aku hancur ...


"Sial." Umpatnya.


"Saya nggak mungkin menanyakan keadaanmu, tapi jangan tunjukkan kelemahanmu, Lun. Kamu kuat, dan kamu harus kuat." Ia menyunggingkan senyuman lembutnya kepadaku, seraya menarik tanganku ke dalam lengannya. Kami hanya beberapa meter dari mempelai.


"Sekarang, angkat kepalamu. Tenangkan dirimu. Kita jalan, ya." Tambahnya lagi.


Aku hanya mengangguk, dan menuruti kata-katanya lagi.


"Bismillaah" ucapku lirih.


🖤

__ADS_1


Leo, lelaki itu sekarang terlihat cemas. Seperti maling ayam yang kepergok pemiliknya saat hendak mencuri ayam. Pandangannya beralih dariku, ke arah Pak Raka. Aku tak tahu apa yang ia pikirkan.


'Dasar maling ayam!' teriakku dalam hati.


"Thalia, selamat ya atas pernikahannya. Doain gue cepet nyusul". Pak Raka tersenyum kepada Thalia sambil menengok ke arahku.


"Ya Tuhan, Raka, thanks. Gue pikir lo ga punya niat cari istri. Syukurlah. Titip Raka ya, sis. Dia lelaki baik-baik." Ujarnya sambil tersenyum kepadaku.


"Cantik" lanjutnya dengan kerlingan mata ke arah Pak Raka.


Aku hanya tersenyum kepadanya. Kemudian kami beralih ke hadapan Leo. Ingin rasanya kutampar lelaki di depanku ini. Tapi dengan Pak Raka disampingku, membuatku ingin bertingkah semanis Putri Salju. Kalaupun hari ini aku teraniaya, esok aku kan bahagia. Tekadku.


Leo hendak menjabat tanganku. Sesaat aku terdiam, namun sedetik kemudian aku menerimanya, "Selamat ya, semoga kamu bahagia". Ucapku dengan senyum yang dipaksakan karena menahan perih. 'Jangan menangis, Luna, jangan menangis'.


"Sampai bertemu lagi ya, Tha. Kita jalan dulu". Pamit Pak Raka pada Thalia seraya meletakkan tangan kirinya di pinggangku.


"Okay, jangan lupa undangan ya Ka. Gue tunggu!" Jawab Thalia.


Akupun menarik nafas dalam-dalam. Menahannya sekuat tenaga agar butiran bening dari mataku tak memaksa keluar.


"Ayo, Lun. Kita pergi" satu tangan di pinggangku, tangan yang lain merapihkan rambutku yang menempel pada pipi yang telah basah.


Aku hanya ingin segera pergi dari sini. Kalau saja aku tak memakai high heels, mungkin aku akan berlari dengan sangat cepat.


Kurasakan tangan Pak Raka masih ada di pinggangku. Sesekali ia menatapku dengan tatapan khawatir. Aku bisa melihat jelas kekhawatirannya kepadaku.


"Saya nggak apa-apa, Pak. Terima kasih." Ujarku ditengah-tengah perjalanan ke luar aula resepsi itu. Kutengok wajahnya sesekali sambil menyunggingkan senyum. Entah bagaimana rupaku saat ini. Sepanjang perjalanan air mataku luluh lantak. Turun tanpa dikomando.


"Kalau saja tak ada Pak Raka, mungkin saya akan menggila disana. Terimakasih, Pak" Lanjutku lagi.


"It's okay, Lun." Ujarnya.


"Sekarang Kita pergi, ya!" Lanjutnya lagi sambil menggandeng tanganku ke basement.


🖤


Mobil melaju dengan mulus membelah kota Surabaya. Kami menikmati makan siang di restoran tak jauh dari hotel. Pak Raka mengajakku kesini, karena sejak tadi kami belum makan siang.


Aku sebetulnya tidak terlalu memikirkan soal makan saat hendak kesini. Namun sesampainya di dalam restoran, cacing-cacing di perutku meminta hak nya untuk diberi makan.

__ADS_1


Berbagai macam menu makanan dan minuman yang telah kami pesan segera tersaji di hadapanku. Pak Raka mengambil sop buntut beserta nasi di hadapannya. Lalu aku mengambil iga bakar yang sangat menggugah selera.


Pak Raka memilih jus jeruk sebagai minumannya seperti biasa, sedangkan aku memilih jus melon.


Kami makan dan minum dalam diam. Hanya terdengar suara sendok dan garpu yang menyentuh piring. Sedangkan kami tetap diam dengan pikiran masing-masing.


"Sudah berapa lama kamu pacaran sama dia?" Pertanyaan Pak Raka memecah keheningan kami. Dia menatapku, menungguku menjawab pertanyaannya.


"Em, dua tahun, Pak." Jawabku.


"Saya nggak pernah punya firasat dia akan membohongi saya, Pak. Dua tahun ini tidak pernah sedikitpun saya curiga sama dia." Ucapku kemudian.


"Dia memang posesif, sampai-sampai saya tidak boleh pergi dengan laki-laki selain dia ataupun keluarga saya. Hanya urusan kantor saja yang agak sedikit longgar. Karena sebelum menjalin hubungan dengan dia saya sudah bekerja. Jadi saya kekeuh untuk urusan pekerjaan". Lanjutku lagi.


Pak Raka mendengarkan setiap kata dari bibirku tanpa memotongnya sedikitpun. Bahkan, untuk bertanya pun tidak. Sebetulnya memang itulah yang aku butuhkan saat ini. Didengar.


"Saya nggak tahu, Pak. Saya yang terlalu bodoh, atau memang dia yang terlalu pintar." Tambahku. Kali ini bulir-bulir bening itu kembali memaksa keluar. Aku berusaha menahannya namun mereka jauh lebih kuat. Perlahan pipiku kembali basah.


Pak Raka mengulurkan sapu tangannya kepadaku. Aku menerimanya sambil mengucap terima kasih. Kali ini sepertinya Pak Raka hendak mengatakan sesuatu, namun keduluan olehku.


"Maaf, Pak. Nggak seharusanya saya begini di depan Bapak. Saya permisi, mau ke toilet dulu". Ujarku kemudian seraya berjalan dari hadapannya. Pak Raka menganggukkan kepalanya tanpa mengucap sepatah kata pun.


Kubawa clutch bag yang ada di pangkuanku. Untung aku membawa bedak dan lipstick. Kasian Pak Raka, harus melihat sekretaris pribadinya seperti ini. Segera kucari letak toilet untuk merapihkan penampilanku yang sudah amburadul ini.


🖤


Selesai merapihkan penampilan, aku kembali ke meja nomer 12. Kulihat Pak Raka sedang memanggil pelayan untuk meminta bill nya.


Aku kembali duduk di hadapannya. Seorang pelayan laki-laki menghampiri Pak Raka dan Pak Raka segera memberikan uang pembayaran dan tips untuk si pelayan tadi.


"Kamu masih mau jalan-jalan?" Tanya Pak Raka padaku.


"Saya ikut Bapak aja. Saya juga bingung di hotel mau apa". Jawabku sambil merapihkan poni yang tidak berantakan.


"Hmm, bagaimana kalau kamu temani saya melihat lokasi baru? Kamu mau, Lun?" Ajaknya.


"Boleh, Pak." Jawabku.


Lalu kami pun meninggalkan restoran itu untuk menuju tempat lainnya. Lahan baru yang berhasil Pak Raka dapatkan saat meeting pagi tadi.

__ADS_1


__ADS_2