
Bantu LIKE & VOTE ya. Happy reading, gengs!
🖤
Hanya butuh waktu setengah jam, kami tiba di lokasi. Pak Raka mengajakku berkeliling. Ia mengatakan bahwa rencana awal akan membangun empat komplek perumahan di Surabaya. Setelah itu dalam beberapa tahun kedepan akan dilihat perkembangannya. Jika memungkinkan, akan ditambah lagi.
Aku tertarik mendengar penjelasannya. Tidak seperti proyek di Jakarta, untuk proyek di Surabaya ini Pak Raka menghubungi sahabatnya yang seorang arsitek mumpuni yang sudah mendesain banyak hunian mewah di Korea dan Jepang. Dia ingin membuat hunian berkelas ala dua negara maju di kawasan Asia Timur itu. Menurutnya, akan banyak yang tertarik dengan konsep hunian baru tersebut.
Aku yang baru mendengarkannya saja sudah tertarik, bagaimana nanti kalau sudah jadi. Pak Raka terlihat sangat bersemangat saat menjelaskan rencana-rencana pembangunan ke depan. Membuatku bisa membayangkan dengan jelas akan rencananya itu. Dia memang selalu seperti itu. Selalu memiliki energi positif yang dapat segera ditularkan ke orang di sekitarnya. Termasuk aku.
Karakternya yang selalu positif, serta pembawaannya yang tegas namun tidak terlalu kaku, membuat semua karyawan di kantor hormat dan segan padanya. Namun walaupun tegas, dia sangat pengertian dan memiliki empati yang cukup besar pada para karyawan.
Seperti dua bulan lalu, saat salah satu Office Boy kami, Mas Nurmansyah yang beberapa kali harus izin bolak-balik ke Rumah Sakit untuk menunggui istrinya yang melahirkan secara Caesar dikarenakan posisi bayinya yang sungsang, sedangkan tidak ada keluarga lain selain Mas Nurmansyah sendiri, Pak Raka memberikannya libur selama dua minggu tanpa memotong gajinya sepeserpun. Malah, Pak Raka memberikan bantuan berupa sejumlah uang untuk membantunya membeli keperluan untuk istri dan anaknya.
Lalu satu bulan yang lalu, saat Pak Raka mengetahui Pak Budi, yang berprofesi sebagai security kantor memiliki pekerjaan sampingan sebagai ojek online, saat itu juga Pak segera memanggilnya untuk menanyakan mengapa dia sampai mengambil dua pekerjaan sekaligus.
Saat Pak Budi mengatakan warung kopi milik istrinya mengalami musibah kebakaran sehingga mengakibatkan semua barang habis terbakar dan hanya tersisa bangunannya saja yang juga rusak disana-sini, Pak Raka memintaku mengeceknya untuk memastikan seberapa parah kondisinya. Dan untuk memastikan juga apakah benar atau tidak yang dikatakannya.
Setelah aku dapat memastikan bahwa berita itu benar adanya, Pak Raka segera meminta team pembangunan untuk membangun kembali warung kopi Istri Pak Budi dengan material yang baik, dan juga mengisi peralatan untuk kebutuhan warung, serta memberikan bonus modal sejumlah dua juta rupiah untuk mereka.
Masih banyak hal-hal baik yang sudah dilakukan Pak Raka, karenanya seluruh karyawan hormat dan segan padanya. Terlebih orang-orang yang telah dibantu Pak Raka. Mereka selalu berusaha untuk bekerja dengan sebaik mungkin dan tidak mengecewakan Pak Raka.
Terlalu baik dan pengertian? Mungkin. Tapi Pak Raka selalu mengatakan pada kami bahwa apabila kita ingin diperlakukan dengan baik oleh orang lain, maka berbuat baiklah dulu kepada orang-orang sekitar kita.
"Tuhan selalu punya caranya sendiri untuk menilai dan menjawab doa-doa kita." Katanya pada suatu pertemuan pagi. Pak Raka percaya bahwa apa yang kita tanam adalah apa yang akan kita tuai.
🖤
Enam puluh menit sudah kami berada disini, namun bagiku rasanya baru sebentar. Aku masih belum ingin ke hotel. Aku belum siap untuk melihat apa yang kutinggalkan tadi.
Setelah beberapa saat, terdengar suara dering telepon dari saku kemeja Pak Raka. Ia meminta izin padaku untuk menjawabnya. Aku tidak tahu siapa yang menelfonnya, namun aku memilih untuk menjauh darinya. Aku tidak ingin mendengar percakapan mereka.
Keadaan ini sangat lah tidak enak. Menjauh dari Pak Raka membuat keadaanku menjadi kacau. Aku merasa lelah, dan saat sendiri seperti ini bayang-bayang Leo kembali mengusikku. Aku benci. Karena semakin mengingatnya, semakin aku tak kuasa untuk menahan air mata ini untuk tidak jatuh.
__ADS_1
'Ya Allah, kuatkan hamba-Mu yang lemah ini, Ya Allah. Aku mohon' jeritku dalam hati. Rupanya air mataku benar-benar tak bisa diajak untuk kompromi. Mereka seperti sedang berlomba lari. Semua sama-sama ingin keluar dari mataku. Sial. Pasti aku kacau sekali.
'Tidak, jangan Luna, masih ada Pak Raka disini. Jangan menangis lagi. Kau tak mau dia mengasihanimu, kan?' Suara hatiku mengingatkanku.
Kuusap perlahan air mata yang jatuh sambil mengecek keberadaan Pak Raka. Aman. Dia masih menerima telepon.
Beberapa menit setelah itu Pak Raka datang. Ia mengatakan bahwa yang menelepon tadi adalah Thalia. Ia mengundang kami untuk makan malam di restoran hotel. Pak Raka tidak memintaku untuk ikut, namun sepertinya wanita itu memintaku untuk datang bersamanya.
Aku tidak akan membuat Leo bahagia diatas kesedihanku. Jika aku tidak datang, bisa saja dia berpikir aku hancur karenanya. Tidak, aku tak akan membuat Leo sesenang itu. Aku tak akan menjadi sosok yang menyedihkan untuknya.
"Saya ikut, Pak!" Sambil tersenyum, kuyakinkan Bos ku bahwa aku tak apa, ia tak perlu mengkhawatirkan aku.
Pak Raka terlihat gamang, dia sepertinya masih bingung akan suasana hatiku, mungkin dia takut aku akan terluka lagi. Atau, mungkin dia takut aku membuatnya malu? Entahlah.
"Pak, gara-gara saya, Bapak malah repot mikirin saya. Bapak juga jadi nggak bebas. Sudah, Pak, saya nggak papa, kok. Saya ikut ya, Pak!" Ucapku saat melihatnya terdiam seperti sedang berpikir.
Diam sebentar, kemudian Pak Raka menganggukkan kepalanya "Oke Lun, tapi sebelumnya kita ke butik kenalan saya dulu ya. Nggak jauh dari sini kok," Jawabnya kemudian.
"Baik, Pak. Saya ikut Bapak aja."
Di perjalanan, aku sudah tidak sekacau tadi. Walau masih ada sedikit kerikil-kerikil kecil di dada, tapi tidak sesakit tadi. Aku sudah lebih tenang.
🖤
"Sar, lagi di butik?" tanyanya pada seseorang di telepon.
" ..... "
"Iya ini aku mau kesana. Sepuluh menit lagi sampe. Kamu tungguin ya!"
" ..... "
"Haha, iya sayang. Beneran. Oya, siapin kopi yang kaya biasa ya"
__ADS_1
" ..... "
Klik.
Pak Raka tersenyum saat menutup sambungan teleponnya. Aku baru sekali mendengarnya berbicara di telepon dengan nada seperti itu. Manis sekali, seperti anak remaja. Mungkin orang yang di seberang sana ada hubungan khusus dengan Pak Raka. Aku menebak-nebak sendiri dalam hati.
Sekitar lima menit kemudian, mobil yang dikendarai Pak Raka memasuki kawasan perumahan elit. Sampai di Pos Sekuriti, seseorang menanyakan keperluan kami, dan kami diberi kartu pengunjung untuk masuk. Sebelumnya mobil kami diperiksa terlebih dahulu oleh orang tersebut.
Melewati Pos Sekuriti, kami disambut dengan pemandangan hijau yang asri. Disisi kanan kiri pintu masuk terdapat pepohonan hijau yang tertata rapi. Kemudian ada taman yang cantik yang ditumbuhi bermacam jenis tanaman hias disana.
Ada ratusan bunga tulip berbeda warna yang memanjakan mata, beberapa bunga mungil berwarna-warni yang aku tak tahu apa namanya, lalu beberapa meter dari sana terdapat sebuah kolam yang cukup besar yang dihiasi dengan bunga teratai.
Selang beberapa menit, kami tiba di depan sebuah bangunan bernuansa vintage yang cukup besar. Di depan bangunan berlantai dua tersebut terdapat papan nama bertuliskan "Sara Boutique". Setelah memarkirkan kendaraan, Pak Raka mengajakku untuk keluar.
"Maaaaaas" Seorang wanita yang tampaknya berusia diawal dua puluh tahunan berlari kecil ke arah Pak Raka. Tiba-tiba saja tubuhnya memeluk Pak Raka dengan posisi yang membuatku membelalakkan kedua mataku. Syok.
Kedua tangannya melingkari leher Pak Raka begitupun dengan kedua kaki yang ikut mengapit pinggang Pak Raka. Seperti anak kecil yang sedang merajuk kepada sang ayah agar tidak ditinggal bekerja, wanita ini memeluk tubuh Pak Raka dengan sangat erat.
Tubuhnya yang ramping sepertinya membuat Pak Raka tidak kesulitan sama sekali saat menggendongnya. Dengan jegging setengah betis yang dipadukan dengan blouse sabrina berwarna putih tulang, ditambah flat shoes etnik berwarna krem yang dihiasi berbagai batu, membuat sang pemakai tampak menarik.
Ah, siapa wanita itu. Pak Raka juga sepertinya sangat menikmati pelukan mereka. Aku bisa melihat senyum manisnya saat memeluk dan menggendong wanita itu. Dan rasanya aku tak akan tahan berlama-lama melihat pemandangan di depan mataku.
Wanita itu kemudian melepaskan tubuhnya dari tubuh Pak Raka. Dia memandang Pak Raka dengan binar mata kagum, penuh rindu dan sepertinya penuh cinta.
"Sayang, apa kabar?" Sapa Pak Raka mencium pipi wanita itu.
"Baik Mas, aku sehat. Ini siapa, pacar Mas Raka?" tanya wanita itu dengan manja ke arahku.
"Oh iya, Sara, kenalkan, ini Luna sekretaris aku," Aku tersenyum dan mengulurkan tangan ke arah wanita itu dan dia pun membalasnya dengan senyuman yang tak kalah manis.
"Dan Luna, kenalkan, ini Sara, adikku"
•••••
__ADS_1
Hadeeeh, udah kaget. Kirain siapa ya gaes. Hehe. Jangan lupa kasih like dan vote buat tulisanku yaaa. Biar tambah semangat. 😚