Cinta Setelah Dia

Cinta Setelah Dia
Bab 6


__ADS_3

❤️ Bantu LIKE & VOTE ya, Dear ❤️


.


.


.


Aku bingung karena terkejut mendapat pertanyaan itu, namun Arsen tidak berpindah posisi, tetap berdiri di hadapanku. Menunggu jawaban.


"No, Arsen sayang, Tante Luna ini your uncle's secretary."


{Bukan, Arsen sayang. Tante Luna ini sekretaris Om-mu."} Kata Sara menjawab pertanyaan Arsen.


"Oh, but why she's coming with you?"


{"Oh, tapi kenapa dia ikut bersama Om?"} tanyanya lagi dengan pandangan yang ditujukan kepada Pak Raka.


"Om sedang ada urusan di Surabaya, Sayang, Tante Luna Om ajak karena ini urusan kantor. Tante Luna sangat mengerti perkerjaan Om jadi dia harus ikut" Ujar Pak Raka menjawab kekepoan keponakan kecilnya itu.


"Oh. Tapi, are you gonna marry her?"


{"Oh. Tapi, apakah Om akan menikahinya?"} Tanya Arsen kembali, entah ada apa dengan anak ini.


"Sayang, kok nanyanya begitu sih? Udah ah kasihan tuh Om Raka dan Tante Luna jadi bingung jawabnya" Potong Sara kemudian.


"Mommy, kalau ada perempuan yang mengerti perkerjaan Om Aka sampai kemana-mana harus diajak, kenapa Om Aka nggak menikahi dia aja?


Pertanyaan Arsen membuat kami semua kaget sekaligus bingung. Pintar sekali anak ini. Di usianya yang masih sangat kecil, dia bisa berpikiran sampai kesitu. Saat kulihat Pak Raka, sepertinya dia hendak mengatakan sesuatu, tapi dia memilih diam.


Keadaan tiba-tiba hening. Setelah beberapa detik yang bisu, Arsen mengambil ponsel pintarnya kembali.


"Mommy aku mau playing games lagi. Aku boring."


{"Mommy, aku mau main games lagi. Aku bosan."} Katanya kemudian dengan Bahasa Inggris campur-campur.


"Oke, sana main sama Kak Mery ya"


"Okay Mommy. Bye Om, Bye Tante Luna"

__ADS_1


Kami melambaikan tangan padanya. Setelah itu dia menghilang melewati pintu kecil di belakang. Aku bersyukur akhirnya Arsen memutuskan untuk pergi. Bisa gila karena malu aku sejak tadi pagi berada di situasi yang aneh terus sama Pak Raka.


🥀 🥀 🥀 🥀 🥀


"Mbak Luna maafin Arsen ya, pikirannya memang agak beda sama anak seusianya. Terus, dia pengen banget Om nya menikah, karena ..." Tiba-tiba ucapan Sara terhenti, lalu dia menengok ke arah Pak Raka.


"Mas, iya tumben kesini. Ada keperluan apa? Nggak mungkin Mas cuma mampir aja kan kesini?" Tanya Luna kepada Kakaknya.


"Hem jadi gini Sar, nanti malam aku ada undangan makan malam sama Thalia dan suaminya ..." pandangan Pak Raka beralih sebentar ke arahku.


"Ehm, ya gitu, Thalia hari ini menikah, dan suaminya itu - pacarnya" Ujar Pak Raka sambil mencondongkan dagunya ke arahku. Sara membekap mulutnya namun ia tetap mendengarkan dengan seksama. Aku bingung harus apa, tak tahu kemana arah pembicaraan ini. Oke, aku ikuti saja alurnya.


"Aku sengaja ajak Luna kesana sebagai calon tunanganku, eh malah aku buat dia lihat pacarnya nikah sama orang lain. Sorry ya Lun" pandangannya tulus meminta maaf padaku. Kuanggukkan kepala sambil tersenyum padanya. Aku belum benar-benar paham arah pembicaraan ini.


"Nah, tadi Thalia telfon, ngajak Mas untuk makan malam bersama, karena tadi Luna syok banget disana sampai nggak sempat ngobrol banyak. Thalia pengen ketemu lagi sama aku. Luna mau ikut. Aku awalnya sempat ragu, tapi setelah ku pikir-pikir ada baiknya juga Luna dan aku menerima ajakan mereka, biar cowok ******** itu sadar, Luna nggak lemah. Luna itu kuat." Lanjut Pak Raka.


Terus terang, aku kaget mendengar Pak Raka mengatakan semua itu di depan aku dan Sara. Mungkin mereka memang sedekat itu sampai tidak ada hal yang mereka sembunyikan satu sama lain.


Dan lebih kagetnya lagi, Pak Raka membelaku dari Leo. Ia sampai menyebut Leo ******** demi membelaku yang hanya seorang sekretaris nya. Kan aku jadi gimana, gitu. Gimana coba?


"Hem, iya iya Mas aku paham sampai sini. Yaudah Mas cari aja yang Mas butuh. Aku bawa Mbak Luna ke atas ya Mas." Ujar Sara sambil menggandeng tanganku.


'Please, pelan-pelan Sara, masa Pak Raka harus melihat aku jatuh lagi?'


"Udah, Mbak Luna ikut aku aja. Ayok!"


Ini gimana ya, aku kok jadi bingung. Nggak paham maksudnya apa tiba-tiba aku harus nurut sama ni cewek. Pak Raka juga cuma senyam-senyum melihat aku diperlakukan semena-mena oleh adik kesayangannya. Huh. Nasib.


"Mas, udah nggausah ngikutin kita. Mas sama Lily aja." Ujar Sara menunjuk seorang karyawannya yang sedang stand by di bagian pakaian pria saat melihat kakak kesayangannya mengikuti kami dari belakang.


"Ya udah aku disini. Nggausah sama siapa-siapa, aku bisa sendiri. Kamu urusin Luna ya, Sar. Use your magic!" Dia berlalu sembil mengedipkan mata kepada Sara.


"Sar maksud ..."


"Udah Mbak nggausah nanya-nanya. Kita harus secepatnya sulap Mbak biar mantan Mbak gila nanti."


🥀 🥀 🥀 🥀 🥀


Kami berada di sebuah ruangan di lantai dua. Dekorasinya senada dengan lantai satu, hanya saja sepertinya lantai ini menyediakan pakaian dengan kualitas lebih baik dari lantai satu.

__ADS_1


Di ruangan ini juga terdapat meja rias yang cantik dengan lampu yang mengelilingi cermin bulat dihadapannya. Di atas meja rias, terdapat berbagai merk make up yang tidak pernah aku pakai sebelumnya. Merk kualitas atas.


"Mbak, Mbak disini sebentar ya."


Beberapa menit kemudian Sara sudah membawa beberapa potong gaun beraneka model dan warna.


"Hem, dengan kulit Mbak yang putih dan tubuh Mbak yang padat berisi, seharusnya nggak akan sulit mencari pakaian yang cocok untuk Mbak. Sebentar. Aku mau Mbak coba pakai ini" katanya sambil menyerahkan satu potong gaun berwarna merah maroon dan hitam.


Aku menerima gaun yang dipilihnya. Saat aku hendak menuju bilik kecil untuk mengganti pakaianku, Sara berlari ke arah pintu. Ceklek. dia mengunci pintu masuk ke ruangan ini.


"Nggausah kesitu Mbak. Sempit. Disini aja, biar aku bantu." Ucapnya padaku. Aku sebetulnya malu, tapi ya sudahlah, toh aku masih memakai tank top dan short pant sebagai dalamanku saat ini.


Selain dua gaun tadi, beberapa potong pakaian yang berbeda juga sudah kami coba. Dari yang mini, panjang selutut hingga yang semata kaki. Dan dari sekian banyak pilihan, Sara memilih satu pakaian yang juga menarik perhatianku.


Sebuah gaun 'V neck' tanpa lengan yang membentuk tubuh dengan panjang selutut berwarna merah maroon menjadi pilihan kami. Dengan tambahan aksen batu permata di sekeliling bagian dada, membuat gaun itu terlihat cantik. Sederhana namun cantik.


Setelah aku mengenakannya, Sara memintaku untuk mengikutinya ke arah meja rias. Aku diminta duduk diam, sedangkan ia mulai membuka perlengkapan make up yang telah tersedia. Sepertinya Sara kurang puas jika belum mentransformasikan aku sesuai apa yang ia mau. Aku tak berani menolak, jadi aku pasrah saja. Semoga hasilnya memuaskan.


Rambut panjangku yang lurus berwarna hitam dibentuknya menjadi bergelombang dan dibiarkannya jatuh ke pundak dan pinggangku. Aku belum pernah merubah bentuk rambutku menjadi seperti ini. Biasanya kalau ke pesta aku hanya akan menggerai rambutku, kubuat kuncir kuda dengan tambahan jepit-jepit permata, atau sesekali aku bentuk cepol dengan sedikit hiasan. Belum pernah sekalipun rambutku dibentuk seperti ini.


Untuk riasan wajah, syukurlah Sara tidak membuat riasan yang tajam. Mataku dibingkai dengan eye liner hitam dan eye shadow berwarna peach, lalu dia menambahkan blush on tipis yang senada dengan warna kelopak mata. Hanya bibirku yang dipoles dengan warna yang tajam. Merah plum.


Sara bilang untuk mempertegas karakterku.


"Biar mantan Mbak tau kalau Mbak itu wanita dewasa yang berani dan kuat. Bukan wanita lemah yang akan meratapi kepergiannya" katanya. Aku bersyukur diperkenalkan dengan wanita cantik yang cerdas ini. Sepertinya aku mulai menyukainya.


Setelah riasan wajah selesai, dia memberikan sepasang sepatu stiletto yang senada dengan gaunku. Lalu dia melihat clutch bag yang kubawa.


"Oke Mbak, cocok tuh sama clutch bag-nya. Mbak bisa pakai punya Mbak sendiri" Ujarnya. Setelah itu ia mengajakku ke bawah.


"Mbak, Mbak sekarang sudah siap. Mbak bisa berangkat sama Mas Raka. Dengan penampilan Mbak sekarang, aku jamin mantan Mbak bakal nyesel udah khianatin Mbak." Lanjutnya lagi.


"Selamat bermalam minggu Mbak. Have fun ya" katanya seraya memelukku.


"Mas, Mbak Luna sudah siap." Sara berteriak memanggil kakak kesayangannya seaat setelah membuka pintu ruangan yang barusan kami pakai.


•••••


Guys, maaf selama Ramadhan ini nggak bisa posting kilat. Banyak yang harus dikerjakan. Jangan lupa like dan votenya yaaa. Makasiiiih. 💗

__ADS_1


__ADS_2