Cinta Setelah Dia

Cinta Setelah Dia
Bab 5


__ADS_3

❤️ Bantu LIKE & VOTE ya, Dear ❤️


.


.


.


"A-adik?"


"Iya ini adik saya Lun. Kenapa, kamu kok kaget gitu?" tanya Pak Raka.


Sara mengarahkan pandangannya padaku. "Mbak Luna kira aku pacarnya, ya? hahahaha banyak yang ngira gitu Mbak, tenang aja Mbak nggak sendiri kok." Ujar Sara sambil terkikik.


"Aku sama Mas Raka beda usia enam tahun. Aku emang gini, Mbak. Manja banget sama dia. Karena dulu kita deket banget. Mas Raka selalu ada buat aku. Tapi setelah Mas Raka kuliah dan lanjut kerja, aku jadi jarang ketemu sama dia. Aku kangen, Mbak." Lanjutnya.


"Ditambah, ceweknya yang terakhir nyebelin. Aku susah ketemu sama Mas Raka. Untung saja dia nggak jadi kakak iparku." Sambungnya lagi dengan wajah yang terlihat sebal.


Pak Raka hanya senyam-senyum saja mendengar perkataan Sara, adiknya.


Ah bodoh banget sih aku. Lagian, mau dia siapa kek, harusnya kan aku nggak kaya gini. Kok aku jadi ribet sendiri gini sih. Aku meringis.


"Sara, mana kopi Mas? Kita ngobrolnya di luar, nih?" Ujar Pak Raka sambil tersenyum memandangi adiknya.


"Eh iya, yuk masuk, Mas. Udah aku siapin tadi. Mbak Luna mau minum apa? jus, kopi, teh, atau apa?" Tanya Sara sambil bergelayut manja di lengan Pak Raka. Ya ampun.


"Luna suka es kopi. Tolong pesenin satu ya sayang" Pak Raka menjawab pertanyaan Sara untukku.


Sara mengacungkan jempolnya padaku, lalu dia menelfon seseorang.


"Mer, tolong bawain kopi yang tadi udah saya pesan ya. Terus sekalian buatin es kopi biasa, dua. Tolong bawain kesini ya. Saya sekarang di butik. Nggak pake lama. Makasih"


Sara kemudian mematikan sambungan telfon nya tanpa melepaskan tangannya dari Pak Raka. Lalu kami berjalan menuju butik.


"Arsen mana, Sar?" Tanya Pak Raka.

__ADS_1


"Ada, nanti juga dia kesini. Yuk masuk" Sara mempersilahkan aku masuk ke dalam butiknya. Ya, sudah pasti butik ini miliknya, karena tadi aku melihat namanya tertera dalam papan nama yang berada di depan bangunan ini. "Sara Boutique"


🥀 🥀 🥀 🥀 🥀


Memasuki butik, aroma bunga tercium oleh indera penciumanku. Aromanya sangat khas. Manis dengan sedikit sentuhan kayu, namun bukan aroma favoritku.


Di pintu masuk, kami disambut oleh seorang perempuan manis berpakaian blazer putih yang dipadukan dengan jeans, membuatnya terlihat casual namun tetap tredi. Rambutnya yang dicat cokelat emas digulung membentuk bun yang manis. Kalian tahu, seperti roti beraroma kopi yang terkenal itu.


"Selamat datang di Sara Boutique" sapanya terdengar sopan. Dia menunduk sesaat sambil tersenyum. Tertulis kata Adisty pada papan nama berukuran kecil yang tersemat di dadanya. Saat aku berada di dekatnya, aku bisa melihat dia mengedipkan satu matanya ke arah Pak Raka. Aku bergidik. Ngeri. Sedangkan Pak Raka terlihat acuh saat melewatinya.


Nuansa vintage begitu terasa saat memasuki ruangan ini. Sofa panjang berwarna peach dengan pinggiran kayu yang cantik menyambut kami di area ruang tunggu. Lalu meja kayu berukuran panjang dengan ornamen kaca di bagian atasnya, di letakkan di depan sofa tersebut.


Di bawahnya, terdapat karpet bulu berwarna ungu tua yang senada dengan bantal sofa beraneka bentuk yang disusun sedemikian rupa. Diatas meja panjang telah bertengger dengan manis vas bunga berukuran tinggi yang berisi bunga lavender. Beberapa edisi majalah mode terbaru juga telah tersaji diatas meja.


Dinding butik yang di cat berwarna peach, berpadu serasi dengan gordyn berwarna ungu tua transparan. Sepertinya gordyn itu tidak berfungsi sebagai penutup jendela, namun hanya difungsikan sebagai pemanis ruangan.


Beberapa lukisan yang unik dan antik disematkan di dinding. Ada enam buah lukisan, kalau aku tak salah hitung. Satu diantara lukisan itu adalah lukisan wajah seorang wanita dan anak kecil laki-laki berumur sekitar tiga tahun. Wanita di lukisan itu sudah pasti Sara. Tapi aku tidak tahu siapa anak kecil yang sedang digendongnya. Apakah Sara sudah memiliki anak? Entahlah.


Di bagian tengah, terdapat tangga ulir berwarna putih tulang yang menghubungkan lantai satu dengan dua. Ratusan jenis pakaian pria dan wanita beraneka warna dan model tersusun rapi dan digantung dalam lemari kaca transparan yang berada di setiap sudut ruangan. Ada Lima bilik ganti yang tersedia di sini. Ternyata wanita ini pintar sekali menata butiknya. Belum sampai area belakang, aku sudah kagum dengan dekorasi bangunan ini.


Tak lama, datang seorang perempuan muda berusia sekitar 19 tahun, datang membawa nampan berisi tiga cup minuman. Sara mengambil satu per satu minuman tersebut. Lalu ia letakkan di depan kami. Minumanku sama dengan minuman yang ada di depan Sara.


"Mas, Mbak, silahkan diminum. Ini dalgona coffee yang terkenal itu, Mbak. Silahkan dicoba ya." Ucapnya tersenyum.


"Aku permisi sebentar" Lanjutnya.


Aku ambil minumanku. Walau belum terlalu haus, tapi rasa penasaran akan minuman populer yang akhir-akhir ini sedang ramai dipebincangkan membuatku tak sabar untuk mencobanya. Busa berwarna cokelat muda dengan taburan cokelat bubuk diatasnya terlihat sangat menggoda.


Kuaduk es kopiku dengan sedotan yang telah tersedia. Kuperhatikan perlahan busa itu berubah warna karena tercampur dengan cokelat bubuk dan mungkin susu di bagian bawahnya. Kemudian kuhirup perlahan aroma kopinya. Hemmm, wangi ... Lalu kusesap cairan dengan toping busa itu.


Perlahan, rasa kopi masuk ke dalam tenggorokan. Dingin. Ah, sedapnya. Aku seperti sedang dinina-bobokan oleh Ibu. Rasanya nyaman sekali. Lalu mataku terpejam sesaat.


Lebay? hahaha aku memang seperti ini jika meminum es kopi. Sensasinya tuh tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata.


Tiba-tiba seperti ada sesuatu yang menempel di bibirku. Sesuatu yang terasa lembut bergerak dari tengah ke sisi kanan bibir atasku. Apa ini? Kubuka perlahan mataku.

__ADS_1


"Ada busa tuh di bibir kamu. Minum kopi aja kaya anak kecil." Suara Pak Raka mengejutkan aku. Dia tertawa pelan sambil menoleh ke sampingku. Jarinya yang barusan menyeka bibirku pun telah dia tarik kembali dan kini sudah ada gumpalan tissu di atas meja.


Aku menoleh ke samping kiri. Risih rasanya. Tapi entah mengapa aku tersenyum dengan apa yang baru saja terjadi. Dari sudut mata, aku menangkap seseorang yang berada di pintu masuk sedang memperhatikanku. Sorot matanya tajam, entah mengapa aku jadi merasa tak nyaman.


🥀 🥀 🥀 🥀 🥀


Sara kembali lima menit kemudian. Dia menggandeng seorang anak laki-laki yang wajahnya persis dengan wajah di lukisan dinding itu. Dengan mengenakan kaos putih berkerah dan celana bahan berwarna krem selutut, anak itu tampak sangat menggemaskan.


Pak Raka bangun dari sofa di sebelahku. Ia melambaikan tangan pada anak itu.


"Hey bro, Whats up?" Sapanya kepada anak laki-laki itu lalu ia merubah posisi tubuhnya sehingga bertumpu pada kedua lututnya di lantai.


"Om Akaaa, I miss you" Pekik anak itu melihat Pak Raka yang ada di hadapannya.


"I miss you, bro." Jawabnya seraya mengangkat anak itu ke pelukannya, kemudian diciumnya pipi anak itu.


"Udah besar sekali kesayangan Om, udah bisa bantu Mommy jaga butik nih?" candanya kepada si anak.


"Boro-boro bantu Mommy, kerjaannya main cacing terus tuh, Om" Sara mendekati mereka berdua sambil menunjuk ponsel pintarnya yang menampilkan permainan cacing. Rupanya benar, anak ini anak Sara.


"Mommy malah-malah telus tuh Om. Acen cebel." Kedua bibirnya maju ke depan, dan kedua tangannya bersedekap tanda ia sedang kesal. Lucu sekali.


"Hey, jagoan mana boleh marah-marah begini. Om Raka kan udah bilang, Arsen harus nurut apa yang Mommy katakan. Nggak boleh ngambek loh. Arsen kan udh besar. Okay?"


"Iya Om. Tapi Mommy juga nggak boleh malah-malah telus sama Acen."


"Iya iya sayang, mommy minta maaf yaa. Janji nggak akan sering marah. Forgive me, please?" Sara meraih kedua tangan putranya. Lalu Arsen pun memeluknya erat.


"Arsen, tuh lihat ada tante Luna. Kenalan coba" Ucapan Sara membuat semua menoleh padaku.


"Hi Tante Luna, I'm Acen. Nice to meet you"


"Oh hi Arsen, nice to meet you too." Aku menjawabnya. Tiba-tiba Arsen menghampiriku. Lalu


"Are you gonna be my uncle's wife?"

__ADS_1


Syok. Bocah kecil ini tiba-tiba mengajukan pertanyaan itu padaku. Oh Arsen, belajar darimana saja kamu, sayang?


__ADS_2