Cinta Setelah Dia

Cinta Setelah Dia
Bab 30


__ADS_3

Mbak, kok bengong sih?" Bunda memandangiku, ia tersenyum dan sedikit meremas pergelangan tanganku. "Mbak jangan bengong. Ayok, Mbak udah siap kan? Kita ke depan yuk!" Aku mengerjap, lalu mengangguk.


Aku dan Bunda berjalan beriringan menuju teras. Aku melihat Mas Arya sedang duduk dan berbicara dengan beberapa laki-laki yang sama yang kutemui kemarin malam di restoran. Sedangkan Brian, ia duduk di ujung sana, sepertinya juga sedang berbicara. Entah dengan siapa.


"Luna sama Bunda sudah siap?" Tiba-tiba saja Pak Raka sudah berdiri di sampingku, menghadapku sambil tersenyum. Sepertinya dia tadi sempat melihatku celingak-celinguk mencarinya.


"Eh, em, iya Pak, kita udah siap," jawabku.


Brian menoleh ke arah kami berdua, ia berdiri dan berusaha menghampiri kami. Tatapannya tak bisa kutebak. Sesaat dapat kulihat ada tangan yang menariknya ke belakang, namun segera ditepis olehnya. Aku tak tahu siapa itu.


"Mau kemana, Na?" tanyanya saat pandangan kami bertemu.


"Mau keluar sama Bunda, Bri" jawabku segera.


"Bunda, juga pergi?" tanyanya lagi. Aku menengok ke arah pandangan Brian. Bunda sudah berdiri di belakangku.


"Iya, Brian. Ini, Nak Raka ada perlu di daerah sini, tapi belum terlalu paham sama daerah sini makanya ajak Luna dan Bunda."

__ADS_1


"Ooooh," jawabnya datar.


Pak Raka memperhatikan kami, Brian bergeming di tempatnya. Ia tidak bergerak sama sekali, dan pandangannya kosong, seperti sedang memikirkan sesuatu.


🍃


"Ka, ati-ati ya. Titip Luna sama Bunda." Ujar Mas Arya saat mengantar kami ke mobil Pak Raka.


"Iya Ar. Ya udah gue jalan ya!" jawab Pak Raka sambil menepuk pundak Mas Arya. Ia kemudian membuka pintu pengemudi untuk menyalakan mesin mobilnya lalu kembali ke luar.


"Iya Mas, kita jalan ya." Kucium punggung tangan Mas Arya, lalu aku memasuki mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Pak Raka. Sesudahnya, Bunda menyusul masuk di belakangku.


"Mas, pergi dulu ya. Assalamu'alaikum." Aku lambaikan tangan kepada Mas Arya.


"Waalaikum salam."


🍃

__ADS_1


"Kita kemana, Luna?" tanya Pak Raka saat mobil mulai melaju meninggalkan komplek rumahku. "Jangan lupa pakai seat belt nya ya, Lun" sambungnya.


"Ke Metropolitan Mall aja, Pak. Sepertinya disana lengkap. Mudah-mudahan ada tenant yang menyediakan barang-barang yang cocok untuk Arsen." Ujarku sambil mengencangkan seat belt.


"Okay. Bun kita kesana ya," Ujar Pak Raka sambil menoleh ke belakang.


"Iya. bunda ikut aja."


Perjalanan dari rumahku menuju lokasi yang kami tuju memakan waktu empat puluh lima menit lamanya. Seperti halnya di kota Jakarta, hari ini jalanan sedikit lebih padat. Dan seperti weekend sebelumnya, jalanan dipenuhi oleh kendaraan berpelat B. Yang artinya banyak warga Jadetabek datang kesini untuk menikmati libur akhir pekan.


"Nak Raka jarang kesini ya?" Tanya Bunda.


"Iya Bunda. Saya lebih sering di Jakarta. Kalaupun ke luar kota, biasanya urusan bisnis aja. Udah capek duluan. Hehe."


"Nak Raka pasti capek ya urus ini itu di kantor."


"Ya semua perkerjaan pasti ada capeknya Bunda. Tapi saya bersyukur ada Luna yang menjadi partner kerja saya, dia paham sekali perkerjaan saya. Nggak tahu juga kalau bukan dia yang di posisinya sekarang, mungkin saya akan lebih capek." Ujar Pak Raka tanpa memalingkan pandangan dari jalanan di depannya.

__ADS_1


__ADS_2