
Pertemuan dengan Celine
Siang itu tak sengaja Bram menangkap sesosok wanita yang sepertinya ia kenal, ya dia adalah Amanda.
Entah mimpi apa semalam, Siang ini ia bertemu orang yang pernah ia cintai, seseorang yang berencana ia nikahi tapi gagal.
"Kau Amanda kan? Aku tidak salah, kau memang Amanda"
Amanda yang saat itu hanya diam, ia sungguh tak percaya akan bertemu mantan kekasihnya yg telah mencampakkannya beberapa tahun silam, dan lebih memilih menikah dgn gadis pilihan orang tuanya.
Rasanya Amanda ingin segera berlari meninggalkan Bram, tapi Bram menahannya. Seketika itu pula Amanda menepis tangan Bram,
"kau benar, aku memang Amanda, wanita bodoh yang telah tergila gila pada pengecut sepertimu" Ucap Amanda.
"Aku mohon maafkan aku, Amanda. Maafkan aku telah menyakitimu"
"Aku tahu kesalahanku tak bisa dimaafkan, tapi percayalah hingga saat ini aku masih mencintaimu"
Tak ingin terlarut dalam ucapan Bram, Amanda pergi seketika itu juga.
Ditempat lain.....
Tok... Tok...
"Masuklah... " (Dimas)
"Maaf Pak, ini sekretaris pak Dimas yang baru, namanya Celine"
Mendengar nama itu, Dimas yg tadinya masih sibuk dengan pekerjaannya, mengangkat kepalanya sedikit terkejut.
__ADS_1
Entah tiba-tiba saja ia teringat Celine adiknya yg telah terpisah beberapa tahun yang lalu.
"Oh baiklah, tinggalkan kami berdua. Dan kau duduklah" Perintah Dimas kepada bawahannya.
Dimas tak begitu yakin dengan dugaannya kalau Celine yg didepannya adalah adiknya yang telah lama terpisah darinya. Karena waktu itu mereka sama-sama masih kecil.
Ya saat itu Celine masih berusia 3th.
Kalau ku tanyakan langsung tidak ada salahnya kan? Batin Dimas.
"Apa benar namamu Celine? "
"Iya Pak" Jawab Celine tegas
"Apa kau punya kakak laki-laki? "
"Tidak Pak, saya anak tunggal"
"Amanda"
Sontak Dimas terkejut mendengar jawaban Celine, ia ingat betul kepada siapa ayahnya menitipkan Celine waktu itu.
"Apa kau tak mengenalku? " Tanya Dimas lagi.
"Bapak... Pak Dimas kan, putra pemilik perusahaan ini? "
"Bukan itu maksudku, (Dimas menggaruk kasar tengkuknya yg sebenarnya tidak gatal) apa kau tidak ingat sama sekali, aku Dimas, kakakmu"
"Tidak mungkin, saya kan anak tunggal" Bantah Celine
__ADS_1
"Baiklah, mungkin saya salah orang, kalau begitu keluarlah, kau sudah tahu kan apa pekerjaanmu disini? " Ucap Dimas lesu.
"Iya pak saya mengerti, permisi"
Celine pergi meninggalkan ruangan Dimas, dengan sedikit bingung atas apa yang ditanyakan Dimas tadi.
Celine, seorang wanita berusia 20th, paras cantik, cerdas dan mandiri. Semenjak Mariana meninggal, ia diasuh oleh Amanda, ia dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Amanda sangat tegas dalam mendidik, itu yang menjadikan Celine tumbuh menjadi wanita yang mandiri.
Bertemu Amanda
Setelah pertemuan dengan Amanda beberapa hari yang lalu, Bram nampak gelisah. Tiba-tiba rasa rindu menyerangnya, ya... Ia merindukan Amanda.
Ia sengaja meminta orang kepercayaannya untuk mencari Amanda.
Tak butuh waktu lama untuk menemukan tempat tinggal Amanda. Sebenarnya Bram sudah berusaha melupakan Amanda, ia mulai membuka hati untuk Rianti, istrinya. Namun kejadian beberapa hari lalu mengubah segalanya. Keegoisan dalam dirinya bangkit lagi.
Malam itu di kamar Bram dan Rianti....
"Rianti, aku telah bertemu Amanda"
Perkataan Bram yang datar, sontak membuat Rianti terkejut, pikirannya tak karuan, hatinya seperti ditusuk.
"Lalu apa kau akan menceraikan ku dan menikahinya?? " Rianti tak kuasa menahan air matanya.
"Apa kau lupa dengan anak kita, anak yg tak pernah kau inginkan kehadirannya?? "
"Aku sudah mengorbankan nya demi bisa bersamamu" Rianti terus meneriaki Bram, dan tangisnya pun pecah.
Bram hanya diam, ia tahu Rianti pasti terluka.
__ADS_1
Tak ingin bertengkar dengan istrinya, Bram keluar kamar. Ia berniat untuk menemui Amanda, ia harap masih ada maaf untuknya.
Ia ingin sekali kembali ke pelukan Amanda. Bram tahu ternyata selama ini Amanda tidak menikah, itu yang membuatnya yakin bila Amanda juga masih mencintainya.