
Darah Rio mendidih saat mendengar semua itu, dia berdiri dari kursinya dan tanpa memberi peringatan, ia melayangkan tinjunya ke wajah pria yang memiliki postur tubuh lebih kecil darinya itu.
Dia tidak bisa terima dengan apa yang Andi katakan tehadap Rini, meski didalam hatinya dia membenar perkataan Andi. Tapi entah mengapa dia tidak bisa menerima saat Andi mengatakan hal buruk tentang Rini.
"Sekali lagi aku mendengar kau mengatakan hal buruk tentang Rini, maka tidak hanya satu pukulan yang akan mendarat di wajahmu. Camkan itu!"
kata Rio memberi peringatan sambil berlalu pergi, meninggalkan Andi yang menatapnya tak mengerti mengapa tiba-tiba Rio memukulnya.
Tiga hari kemudian dihalaman belakang.
"Aku sudah memikirkannya dan aku datang untuk memberi tahu jawabannya, ibu bisa memberitahu nenek bahwa aku siap untuk menikah dengan Rio"
kata Rini berbicara dengan ibu tiri Rio, saat mereka sedang duduk santai menikmati malam di ruang terbuka atau yang lebih sering disebut gazebo. Pipinya sedikit merona saat ia mengatakan siap untuk menikah dengan Rio.
Ibu tiri Rio tersenyum dalam diam saat mendengarnya, ia bahagia tapi tidak mau terlalu memperlihatkannya.
"Baiklah, nanti aku akan menyampaikannya pada ibuku." Kata ibu tiri Rio sambil melihat wajah Rini sesaat.
__ADS_1
"Sebaiknya aku pulang sekarang! ini sudah terlalu malam, ibu juga pasti sudah lelah." Kata Rini sambil berdiri dan pergi tanpa menunggu jawaban. Sepertinya dia sangat malu dengan apa yang ia katakan.
"Hati-hati" kata ibu tiri Rio saat Rini berjalan meninggalkannya.
"Bagaimana?" Tanya nenek Rio saat menantunya masuk ke kamarnya, nampaknya dia sudah tidak sabar ingin tahu apa jawaban Rini. Dia bahkan berkali-kali mengintip keluar demi mencari tahu apakah Rini sudah pergi atau belum, dan mengapa menantunya lama sekali.
"Dia setuju" jawab menantunya sambil tersenyum dan di sambut bahagia oleh nenek Rio.
"Alhamdulillah" kata nenek Rio mengucap syukur.
"Besok pagi telpon Haris, suruh dia datang kerumah dengan membawa tukang penjahit gorden, tukang bangunan, tukang pelaminan, dan tukang pembuat undangan yang biasa jasanya kita pakai.
"Baik ibu, ......???" Jawabnya penuh tanda tanya, karena tidak tahu untuk apa tukang bangunan.
"Tapi bu, untuk apa tukang bangunan?" Tanyanya karena penasaran untuk apa mertuanya meminta tukang bangunan.
"Untuk mendekorasi ulang kamar yang dulu ditempati Dion dan mengganti pintunya dengan pintu kaca, kau juga harus Menganti semua furniturenya dengan yang baru.
__ADS_1
Nantinya kamar itu akan ditempati oleh Rio dan Rini setelah mereka menikah, karena kamar yang ditempati Rio yang sekarang sedikit kecil dan tidak ada kamar mandi didalamnya." Kata nenek Rio menjelaskan.
"Dan pintu kaca?" Tanya ibu tiri Rio lagi, tampaknya dia sedikit heran kenapa ibu mertuanya ingin mengganti pintu dengan pintu kaca dan bukan pintu kayu seperti biasanya.
"Entah lah tiba-tiba saja aku ingin mengganti pintu itu dengan pintu kaca, dan kau tahu setiap aku ingin melakukan sesuatu aku pasti akan lakukan nya!." Ujar nenek Rio menjawab rasa penasaran menantunya dan mengakhiri pembicaraan mereka.
Diruang tengah nenek Rio sedang duduk dan berbicara dengan beberapa tamu yang dibawa Haris, sementara ibu tiri Rio sibuk bersama para pekerja mengeluarkan semua furniture dalam kamar Dion.
Rio baru keluar dari kamar saat melihat ibu tirinya sedang menggeser meja dengan sedikit kesulitan.
'Biar aku saja" kata Rio langsung mengangkat meja dengan kedua tangan.
"Mau diletakkan dimana?" Tanya Rio sambil melihat kearah ibu tirinya.
"Letakkan disana saja" jawab ibu tiri Rio sambil menunjuk kearah tangga.
"Disini?" Tanya Rio sambil meletakkan meja.
__ADS_1
"Ya, nanti mereka akan menurunkannya kebawah dan mengumpulkannya bersama barang-barang lainnya, lalu menaikannya keatas mobil pick up." Jelas ibu tiri Rio tanpa diminta dengan ekspresi wajah seperti biasa, dingin!.