
Sekarang tujuanku tetap ingin menikah denganmu bukan karena mencintai mu tapi karena membencimu. Aku tidak akan pernah memaafkan mu, aku akan membalas semua rasa sakit yang kau torehkan padaku seumur hidupmu."
Ujar Rini sambil melepaskan tangan Dion dari tangannya.
Akan lebih baik jika kau mati sebelum semua itu terjadi agar aku tidak perlu menikah denganmu." Ujar Rini lagi sambil berlalu pergi.
Malam itu Rini menangis didalam mobil, tangisannya begitu menyayat hati, air mata yang susah payah ia bendung akhirnya tumpah tak tertahan lagi.
Berkali kali ia menyebutkan nama tahunnya
"Ya Allah, tolonglah aku, apa yang harus aku lakukan ya Allah. kenapa disini rasanya sangat sakit?" Hiks.... hiks.... hiks.....,Kata Rini disela-sela tangis sambil memukul dada.
Sepertinya tuhan mendengar tangisan rini dan tak ingin Rini terjebak dalam niat pernikahan yang salah. Tepat jam dua dini hari, saat Rini mendapat panggilan masuk dari nomor yang tak di kenal, yang memberinya kabar tentang kecelakaan yang dialami Dion.
Itu adalah panggilan masuk dari salah satu perawat yang menangani Dion.
"Bagaimana Rini, kau mau kan jadi putriku?" Kata ibu tiri Rio bertanya sekali lagi dan berhasil membunyarkan lamunan Rini.
__ADS_1
"Ibu, sejak dulu aku sudah menganggapmu sebagai ibuku, dan mengenai menikah dengan rio aku harap ibu mau memberiku waktu untuk memikirkannya dulu." Kata Rini meminta dengan lembut.
"Baiklah aku akan memberimu waktu dan aku sangat berharap jawaban dari mu adalah, ya." Kata ibu tiri Rio sambil berdiri, ia ingin pulang sekarang agar Rini bisa bersiap-siap untuk pergi bekerja.
"Aku akan pulang sekarang, selama kau memikirkannya simpanlah ini bersamamu dan kembalikan lagi kepadaku setelah kau selesai memikirkannya."
Ujarnya sambil menyerahkan foto yang telah ia robek di bagian Dion, dengan harapan Rini akan menerima menikah dengan Rio setelah melihat foto tersebut.
Rini mengambil foto tersebut, melihatnya sebentar lalu melalu meletakkannya di atas meja, dan kemudian Rini berjalan mengantar ibu tiri Rio sampai kedepan pintu.
"Ya" jawab ibu tiri Rio dengan tersenyum dan kemudian ia pun pergi bersama dengan mobilnya.
"Rio?"
Sapa salah seorang pria yang tidak sengaja bertemu dengannya di sebuah kafe yang sedang ia kunjungi. Pria itu berjalan menghampirinya yang sedang duduk sendiri menikmati secangkir kopi.
"Tumben sendiri saja?" Tanya pria itu setelah duduk dimeja yang sama dengan Rio tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu, tampak pria itu sudah cukup akrab dengannya.
__ADS_1
"Ya. Ini belum jam istirahat, jadi Lia masih bekerja." Jelas Rio menjawab pertanyaan pria yang ada dihadapannya. Pria itu adalah Andi mantan pacar Rini yang kebetulan juga teman SMA Lia.
Wah, kau memang hebat bisa memisahkan antara hubungan pribadi dan pekerjaan, padahal kau adalah general manager hotel dan hotel itu adalah milik nenekmu." Puji Andi dengan maksud bergurau, Rio tahu itu dan dia tidak mau menanggapinya.
"Kenapa kau putus dengan Rini? Apakah Rini yang memutuskan mu?" Tanya Rio mengalihkan pembicaraan.
"Wah, apa yang kau pikirkan? Bagaimana mungkin Rini yang memutuskanku tentu saja aku yang memutuskannya." Jawab Andi tidak terima.
"Kenapa?" Tanya Rio penasaran karena selama ini dia tahu, Rini lah yang selalu terlebih dahulu memutuskan sebuah hubungan.
"Aku hanya akan mengatakannya padamu jadi kau jangan mengatakannya kepada siapa-siapa," ujarnya dengan sedikit mendekat pada
Rio.
"Aku tidak bersungguh-sungguh ingin menjalin hubungan serius dengannya. Kau tahu dengan sangat jelas bagaimana Rini, sudah berapa banyak pria yang jalan dengannya! Dan aku adalah pria yang kesekian kalinya.
Entah berapa banyak pria yang penah menjamahnya, dan aku tidak mau menghabiskan hidupku bersama barang bekas sisa-sisa orang lain!" Ujar Andi sambil meminum kopi.
__ADS_1