Cinta Tanpa Disadari

Cinta Tanpa Disadari
part 14


__ADS_3

Ya, Rini menyukai Rio! Bahkan ia menyukainya sejak dua tahun dulu, setelah ia mengenal semua sifat Rio. Rio adalah pria yang baik ia menghormati siapapun tidak peduli tua mau pun muda.


Sangat jauh berbeda dengan Dion yang sedikit sombong, dan selalu memandang rendah pada orang yang berada jauh dibawahnya. Meski kalau dibandingkan dengan wajah Dion jauh lebih tampan.


Ia sangat mirip dengan ibunya yang memiliki wajah seperti orang timur tengah. Sedangkan wajah Rio sangat asli Indonesia, kulitnya berwarna kuning Langsat dan hanya menang tinggi dari Dion.


Tapi dia tidak pernah mengatakan perasaan nya karena Rio menganggapnya sebagai teman. Dan saat Rio memutuskan untuk berpacaran dengan Lia setahun lalu, Rini mulai mengubur perasaannya dalam-dalam.


"Kalian sudah bangun?" Tanya nenek Rio saat melihat Rini dan Rio yang sedang berjalan menuruni tangga.


"Kenapa pagi pagi sekali kalian sudah rapi seperti ini?" Tanyanya lagi sebelum mereka sempat menjawab pertanyaan yang pertama.


"Ya, karena kami akan pergi kehotel untuk mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda kemarin." Jawab Rio menjelaskan pada neneknya.


"Kalian bisa melakukan nya besok! Kalian baru saja menikah kemarin jadi sebaiknya kalian mengambil libur sehari lagi." Katanya memberi perintah dan saran.


"Baiklah kalau begitu kami tidak akan pergi bekerja, tapi aku akan keluar sebentar ada seseorang yang harus aku temui hari ini." Kata Rio meminta izin pada neneknya.

__ADS_1


"Jika kau keluar untuk menemui gadis itu?! sebaiknya kau tidak melakukan itu, kau sudah menikah dan aku tidak mau ada rumor yang tidak sedap." Jelas nenek Rio memberi perintah.


"Apa sekarang aku tidak bisa berteman dengan siapa pun yang aku ingin?" Tanya Rio tidak terima.


"Kau boleh berteman dengan siapa pun yang kau ingin! Tapi aku tidak mau kau melakukan kesalahan yang sama seperti yang ayahmu lakukan."


Kata neneknya menjelaskan, sementara Rini hanya diam melihat perdebatan Rio dan neneknya.


Rio tak lagi membantah apa yang neneknya katakan, dia hanya diam menikmati sarapannya, tentunya dengan ekspresi wajah sedikit kesal dan neneknya tidak mempedulikan itu.


"Karena kalian sudah terlanjur rapi seperti ini, sebaik kalian berdua pergi jalan-jalan saja." Ujar nenek Rio memberi ide.


"Mau jalan-jalan kemana? Sebaiknya kami dirumah saja, lagi pula selama ini Rini juga sudah sering jalan-jalan. Betulkan Rini?" Ujar Rio bertanya pada Rini, berharap Rini membenarkan ucapan.


"Iya nek" kata Rini membenarkan ucapan Rio,


"Lagi pula Rini juga sebetulnya masih letih karena seharian berdiri kemarin" kata Rini lagi menjelaskan.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu terserah kalian saja" jawab nenek Rio kecewa, karena Rini tak mendukung idenya.


"Kenapa ibu terlihat kecewa?" Tanya ibu tiri Rio setelah Rio dan Rini selesai sarapan dan kembali kelantai dua dimana kamar mereka berada.


"Ya, karena ide ku tidak berjalan sesuai rencana" jawab nenek Rio pada menantunya.


"Seharusnya ibu tidak perlu kecewa, biarkan semua berjalan seperti air mengalir. Dan serahkan semua kepada Rini, dia pasti bisa membuat Rio menyadari perasaan nya yang sesungguhnya."


Kata ibu tiri Rio mencoba menenangkan mertuanya.


Sementara itu dilantai dua tepatnya diruang santai, Rio nampak gundah karena tidak bisa menepati janji dengan Lia, ia bolak balik Menganti channel TV yang ada dihadapannya lalu kemudian mematikan nya.


Ia memutuskan untuk menemui Rini dikamar nya, berharap Rini mau membantunya karena sebelum menjadi istrinya Rini adalah teman baiknya. Rini pasti mau membantunya pikir Rio saat itu.


Rio berdiri didepan pintu kaca yang tirai nya sengaja dibiarkan terbuka lebar oleh Rini, dari sana ia bisa melihat semua yang sedang Rini lakukan.


Rini sudah berganti pakaian dengan dress santai sebatas lutut berwarna hijau muda, ia juga menggerai rambutnya yang telah panjang sebatas pinggang.

__ADS_1


__ADS_2