Cinta Tanpa Disadari

Cinta Tanpa Disadari
part 3


__ADS_3

"Betul, nyonya" jawab pria itu membenarkan, sedangkan Rio hanya diam memandang wanita tua di hadapannya. Ia mulai ingat saat kecil ibunya pernah membawanya bertemu wanita tersebut.


Disebuah restoran ibunya memohon sambil berlutut, air matanya bahkan tak henti mengalir.


"Tolong bawa dia bersamamu ibu, dia juga adalah darah daging mu."


Saat itu Rio belum mengerti apa yang dikatakan ibunya, karena dia baru berusia enam tahun, tapi dia masih sangat ingat apa saja yang ia dengar.


"rawat sendiri anakmu, bagaimana bisa kau memberikannya padaku?"


"Jika alasannya karena ekonomi, aku akan mengirimkannya setiap bulan melalu orang kepercayaan ku." Kata wanita itu tanpa ekspresi.


"Tapi dengan syarat, seumur hidup kau harus merahasiakan dari semua orang dan darinya tentang siapa ayahnya. Aku tidak mau orang mengenang putraku yang telah tiada sebagai suami yang tidak setia."


Lanjut wanita itu lagi sambil melihat kearah Rio yang sedang berdiri disamping ibunya, tanpa memberi kesempatan pada ibu rio untuk bicara.


"Hah, andai wajahnya tidak mirip dengan putraku. Pasti akan lebih mudah untuk tidak mengakuinya." Gumam wanita itu sambil menghela nafas, lalu ia mengeluarkan sebuah amplop putih dari dalam tasnya, dan meletakkannya di meja kemudian wanita itupun pergi.

__ADS_1


Meninggalkan Rio dan ibunya yang masih terus menangis, kini Rio tahu siapa wanita itu, dia adalah neneknya.


Rio begitu hanyut dalam kenangannya, hingga ia tidak menyadari bahwa sejak tadi ibu tirinya terus memperhatikannya. Cukup lama wanita itu berdiri di ambang pintu dan akhirnya memutuskan untuk menghampiri Rio yang sedang duduk di taman.


"Kau masih disini?" Tanya wanita itu mengagetkan Rio.


Rio terkesiap dan langsung menoleh kearah asal suara.


"Iya" jawab Rio singkat saat melihat wajah ibu tirinya.


"Jam berapa sekarang?" tanya wanita itu kembali dengan ekspresi wajah datar.


"Masuklah dan makanlah ini sudah lewat jam makan malam, meski kau tidak punya riwayat penyakit lambung tapi kau harus tetap menjaga lambung mu." Kata wanita itu sambil berjalan kembali kedalam rumah.


Rio menuruti perkataan ibu tirinya dan masuk kedalam.


Pagi ini Rio akan pergi menemui Rini, dia sudah memikirkannya sejak semalam. Karena dia tidak bisa menolak keinginan neneknya jadi dia berencana untuk mengunakan Rini.

__ADS_1


Dipikirannya jika Rini menolak permintaan neneknya maka sudah dipastikan, Rio pun tidak perlu menjalankan perintah neneknya untuk menikahi Rini.


Rio memasuki sebuah kafe, dia sudah membuat janji dengan Rini akan bertemu disini. Rio melayangkan pandangannya keseluruhan area kafe, mencoba mencari keberadaan Rini dan dia menemukannya.


Rini duduk di pojok dekat jendela, ia tidak menyadari kedatangan Rio karena padangan matanya sedang melihat keluar jendela. Ada seulas senyum di bibirnya saat Rio menyapanya.


"Apa kau sudah lama menungguku?" Tanya Rio sambil duduk di depannya. 


Rini tidak menjawab, dia hanya menggeleng sambil tersenyum. Apa yang Rio katakan tiga tahun lalu benar, dia akan terlihat sangat sangat cantik dengan sedikit senyum di bibirnya.


"Apa kau datang sendiri?" Tanya Rio setelah duduk.


"Aku tidak melihat ada Andi disini?" Tanyanya lagi, karena biasanya Andi selalu mengikuti kemana Rini pergi.


"Ya aku datang sendiri" jawab Rini sambil meminum jus di hadapannya, ekspresi wajahnya tampak tenang tanpa beban, Rio mengenal betul ekspresi itu.


"Kalian putus?!" Tebak Rio dengan tersenyum tak percaya.

__ADS_1


"Hmm" jawab Rini membenarkan tembakan Rio dengan malas.


__ADS_2