
"Aku sama sekali tidak keberatan kau menjalin hubungan dengan Lia, meski pun hatiku sakit. Tapi aku tidak akan pernah terima jika kau berbicara buruk tentang Rini. Apa kau dengar itu bajingan." Ujar Rio setelah puas menghajar Andi.
Rio pergi meninggalkan Lia dan Andi setelah puas melampiaskan semua amarahnya, ia bahkan tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang melihatnya.
Sial, kenapa aku begitu marah saat dia mengatakan hal buruk tentang Rini? dan kenapa aku tidak marah saat mengetahui dia memiliki hubungan dengan Lia dibelakang ku?"
Ujar Rio bertanya pada diri sendiri setelah kembali ke hotel.
Sesekali ia melihat kearah ruangan Rini, mencari keberadaan Rini disana. Sejak jam istirahat tadi ia belum melihat Rini keluar dari ruangannya, nampaknya Rini sedang sibuk mengurus laporan nya.
Rio berjalan menuju ruangan Rini, mencari keberadaan Rini disana tapi ruangan itu kosong.
"Sial, giliran ingin melihatnya dia malah tidak terlihat, dan saat aku tidak ingin melihatnya dia justru terlihat dimana-mana"
Ujar Rio mengumpat pada dirinya sendiri, dan lalu pergi mencari Rini di setiap ruangan. Rio menemukan Rini sedang duduk di lobi bersama dua orang pria dan satu wanita, mereka sedang sibuk berbicara.
__ADS_1
Rio mengenal ketiga orang itu, mereka adalah teman baik Rini dan salah satunya adalah mantan pacar pertama Rini, Dimas. Meski mereka sudah lama putus tapi mereka masih berhubungan baik sebagai teman.
Rio mengetahui nya karena Dimas sendiri yang memberitahu nya, saat mereka tidak sengaja bertemu ketika sedang melakukan pekerjaan diluar hotel.
Rini mengatakan Dimas adalah teman lamanya, sementara Dimas memperkenalkan dirinya sebagai teman sekaligus mantan pacar Rini. Rio tidak tahu apa yang mereka obrolkan.
Tapi ia sangat kesal setiap melihat Rini berkali-kali tertawa dan tersenyum pada Dimas. Ditambah lagi saat Dimas menatap Rini yang sedang tertawa tanpa sedikitpun mengedipkan mata.
Terlihat sangat jelas Dimas masih menyimpan perasaan padanya. Rio sangat kesal menyadari semua itu. Ia tidak tahan melihatnya, ia sangat marah dan berlalu pergi kembali keruangan nya.
Tapi bagaimana pun dia tetap harus pulang, karena ia tidak ingin mendapatkan banyak pertanyaan dari neneknya, besok paginya. Saat mendapati dia tidak pulang kerumah.
Rio pulang dengan perasaan malas, begitu sampai ia langsung pergi kelantai dua. Sebelum masuk kemarnya, ia melihat kedalam kamar Rini terlebih dahulu dan tidak mendapati Rini disana.
"Kemana dia di jam segini?" Pikir Rio saat tidak melihat Rini di kamar.
__ADS_1
Rio kembali turun kelantai bawah dan berjalan menuju halaman belakang, ia menemukan Rini disana sedang berdiri didalam gazebo sambil melihat bintang-bintang di langit.
"Siapa yang sebetulnya ingin dia goda?" Tanya Rio didalam hati saat menemukan Rini.
Malam ini Rini terlihat lebih menggoda dari biasanya, dengan dress pink hambar sebatas lutut dan lengan transparan. Membuat darah Rio berdesir hebat karena tak kuasa menahan hasrat.
Sepertinya yang dikatakan Andi benar, Rini sudah biasa melakukan nya. Buktinya sejak kemarin Rini terus menggodanya, pikir Rio sambil berjalan mendekati Rini.
"Sepertinya kau memang sangat berpengalaman dalam hal meruntuhkan pertahanan pria?" Ujar Rio bertanya begitu ia berdiri tak jauh dari Rini, membuat Rini langsung melihat kearahnya.
"Kau pasti sudah biasa melakukan nya? Dilihat dari caramu yang terus menggodaku beberapa hari ini!" Tanya Rio dengan mimik wajah mengejek.
"Tapi aku sungguh penasaran, malam ini sebetulnya siapa yang ingin kau goda? Aku ataukah para pria yang bekerja di rumah ini?!" Tanya Rio lagi dengan tatapan mata mengejek.
Rini tidak terima dengan apa yang Rio katakan, darahnya mendidih telinganya terasa panas, resplek ia mengangkat tangannya dan menampar pipi Rio dengan cukup keras.
__ADS_1