Cinta Tanpa Disadari

Cinta Tanpa Disadari
part 11


__ADS_3

Rio sudah biasa dengan ekspresi itu, itu adalah ekspresi yang selalu ia lihat dari sejak pertama bertemu dengannya, tapi Rio tahu sebetulnya ibu tirinya adalah wanita yang hangat dan baik.


Rio ingat saat pertama datang kerumah ini dan diminta untuk tinggal dirumah ini.


"Aku tidak mau apa-apa, aku hanya ingin mengenal ayahku!" Ujar Rio saat itu, ia menolak semua fasilitas yang diberikan neneknya, termasuk jabatan sebagai general manager di hotel milik neneknya.


"Kalau kau ingin mengenal ayahmu maka tinggallah disini dan bekerjalah dihotel sebagai general manager, hanya dengan begitulah kau dapat mengenal ayahmu." Kata nenek Rio menegaskan.


Rio tidak memiliki pilihan selain tinggal disini dan menerima semuanya.


"Kau bilang, kau ingin mengenal ayahmu?" Tanya ibu tiri Rio dengan ekspresi dingin, saat Rio sedang melihat-lihat isi kamar yang akan ia tempati.


Rio tak menjawab dia hanya diam melihat kearah ibu tirinya yang sedang berdiri tepat didepan pintu kamar.


"Kamar ini adalah kamar ayahmu saat masih lajang, setelah dia menikah dengan ku dia menjadikan kamar ini sebagian kamar kerjanya. Jika kau ingin mengenal ayahmu kau bisa memulainya dari kamar ini."

__ADS_1


Katanya memberitahu Rio dan mulai bersiap meninggalkan kamar Rio. Ia tidak bisa terlalu lama melihat wajah Rio, yang sangat mirip dengan wajah suaminya.


Rio menyalin semua wajah ayahnya, dari  hidung yang mancung, bibirnya yang tebal, matanya yang tajam dan garis wajah yang keras, tapi juga sedikit lembut.


"Terima kasih bu" kata Rio saat itu.


"Tidak perlu berterima kasih, dan jangan terlalu keras berusaha untuk mengambil hatiku. Cukup lakukan tugasmu! sebagai anak yang memiliki nenek dan ibu yang seorang janda." Rio masih mengingat perkata itu sampai sekarang.


"Memang kenapa dengan semua barang-barang ini? Bukankah semuanya masih bagus?" Tanya Rio saat melihat seluruh barang yang dikeluarkan oleh para pekerja dari kamar dion.


"Nenekmu ingin mendekorasi ulang kamar ini dan mengganti semua furniturenya. Nantinya kamar ini akan menjadi kamarmu dan Rini, setelah kalian resmi menikah nanti." Jawab ibu tiri Rio tanpa melihat kearah Rio.


"Aku akan menyerahkan keputusan ku pada Rini, jika Rini setuju aku pun akan setuju jika tidak maka aku pun tidak. Jadi sebaiknya nenek bertanya pada Rini apakah dia setuju menikah denganku!"


Jawab Rio yakin setelah tahu Rini sudah menolak permintaan neneknya, kini dia tidak perlu menikah dengan rini. Karena sejatinya pernah terjadi jika kedua calon pengantin setuju, dan Rini sudah menolak begitu pun dengannya. 

__ADS_1


Pikir Rio tanpa tahu bahwa Rini sudah berubah pikiran, dan setuju menikah dengannya. Rio berjalan menuruni tangga, menemui neneknya diruang tengah yang sedang berbicara dengan jasa pembuatan undangan.


"Aku ingin undangan yang seperti ini" kata nenek Rio sambil menunjuk salah satu contoh undangan yang ada diatas meja.


"Dan aku ingin ada foto......."


"Nenek! kapan aku setuju menikah dengan Rini?" Tanya Rio menyela neneknya yang sedang berbicara.


"Bukankah kau yang mengatakan nya kemarin" jawab nenek Rio dengan menatap wajah Rio.


"Aku bilang, aku setuju jika Rini setuju" ujar Rio mengulang apa yang ia katakan kemarin, matanya melihat kearah contoh undangan yang sedang tersusun rapi diatas meja


 Ia tak mengerti mengapa neneknya melakukan semua ini. "bukankah Rini sudah nolak permintaan neneknya? Lalu apa yang terjadi? Kenapa jadi begini?" Pikir Rio


"Nah! Karena itu mulai hari ini dan beberapa hari kedepan, aku akan sibuk menyiapkan segalanya. Aku ingin kalian menikah secepat mungkin agar aku bisa tenang." Ujar nenek Rio menjelaskan.

__ADS_1


"Maksud nenek, Rini setuju menikah denganku?" Tanya Rio tidak percaya.


"Iya, dia sudah setuju." Jawab nenek Rio dengan ekspresi meyakinkan.


__ADS_2