Cinta Tanpa Disadari

Cinta Tanpa Disadari
part 8


__ADS_3

"Iya" jawab Rini sambil mengangguk, sementara tangannya sibuk menyusun kertas yang ada di meja.


"Rini" panggil Dion sekali lagi dengan lembut berharap Rini menghentikan kesibukan dan melihat kepadanya.


"Hmm" jawab Rini sambil menghentikan tangannya dan melihat kearah Dion.


"Kita sudah bertunangan sekarang dan dalam dua bulan lagi kita akan menikah" kata dion pada Rini.


"Jadi?" Tanya Rini pada Dion.


"Bolehkah aku mencium mu sekarang, sekali saja" kata dion mengutarakan niatnya, tampaknya dia sudah tidak bisa lagi nahan hasratnya, setelah enam bulan lamanya berpacaran.


Semua itu karena syarat yang diberikan Rini saat dia menyatakan cintanya, Rini tidak mau ada hubungan intim sebelum menikah termasuk ciuman.


Rini takut kebablasan dan menghancurkan kepercayaan yang telah diberikan bibinya, Dion menerima syarat tersebut dan tidak pernah melewati batas.


"Hanya sekali" kata Rini memberi izin.

__ADS_1


"Hanya ciuman tak akan terjadi apa-apa, Dion pasti bisa mengendalikan diri" pikiran Rini saat memberi izin.


Perlahan Dion mencium bibir Rini, ia mengecupnya dengan lembut dan Rini membalasnya. Dion hanyut terbawa suasana, Ia menurunkan tangannya dari wajah Rini dan mulai melepaskan kancing baju bagian atas milik rini.


Rini menyadari apa yang sedang Dion lakukan, ia mendorong tubuh Dion menjauhi tubuhnya. Dion terkesiap menyadari ia hampir melewati batas.


"Maaf Rini aku terbawa suasana" ujarnya dengan penuh penyesalan.


"Tidak apa, tapi mulai hari ini aku harap kau tidak akan meminta cium lagi sampai aku benar-benar sah menjadi istrimu." Kata Rini sambil memasang kancing baju bagian atas yang sempat terbuka.


"Sebaiknya aku pulang sekarang" kata Rini tak mau terlalu lama berduaan dengan Dion diruang nya.


Rini meninggalkan ruangannya dengan tergesa gesa hingga ia lupa membawa berkas yang harus ia perbaiki, dan saat ia menyadarinya dia sudah sampai diarea parkir.


Rini memutuskan kembali kedalam hotel, ia naik kelantai sembilan karena ruangan kerjanya berada disana. Sesampainya dilantai sembilan, Rini berjalan melewati setiap ruangan.


Langkahnya terhenti tepat di ruangan sekretaris Dion, matanya tidak sengaja melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat. Dari balik pintu yang terbuat dari kaca ia melihat Dion sedang bercumbu dengan sekretaris nya.

__ADS_1


Cukup lama ia berdiri disana melihat apa yang sedang dilakukan Dion, hingga Dion menyadari keberadaannya.


"Ri, Rini" kata Dion gugup saat melihat Rini.


Alih-alih menangis Rini justru mendengus sambil tersenyum sinis pada Dion, kini dipandangan matanya Dion tak jauh berbeda dengan kebanyakan pria, yang mengunakan wanita hanya sebagai pemuas nafsu belaka.


"Sudah beberapa lama?" Tanya Rini dengan ekspresi dingin tanpa bertele-tele setelah Dion menghampirinya dan berdiri di dekatnya. Rini tahu pasti mereka sudah lama menjalin hubungan dibelakangnya.


"Maafkan aku Rini, aku mencintai mu tapi juga menyukainya." Ujar Dion berterus terang tak ingin menyembunyikan apapun dari Rini.


"Meski pun begitu aku hanya ingin menikah denganmu, aku harap kau tidak akan membatalkan pertunangan kita." Lanjut Dion lagi sambil memegang tangan Rini.


"Hah! tentu saja" kata Rini sambil sedikit tertawa sinis.


"Membatalkan pertunangan denganmu sama saja dengan meletakkan kotoran di wajahku. Meski aku tidak akan pernah melupakan kejadian hari ini tapi aku akan tetap menikah denganmu.


Tapi kau jangan senang dulu, aku melakukan semua itu bukan karena terlalu mencintaimu, bahkan cinta yang masih ku rasakan beberapa saat lalu sudah hilang berganti menjadi benci.

__ADS_1


__ADS_2