Cinta Tanpa Disadari

Cinta Tanpa Disadari
part 7


__ADS_3

"Ningsih, aku akan pergi keluar sebentar. Mungkin sekitar satu atau dua jam, aku sudah menyiapkan sarapan dan obat ibuku di atas meja.


Yang perlu kau lakukan hanya memastikan ibuku meminum obatnya." katanya memberitahu dan memberi perintah orang yang sedang berdiri didepannya.


"Iya nyonya" jawab Ningsih sambil mengangguk.


Ibu tiri Rio tak berbicara lagi ia langsung pergi setelah mendengar jawaban Ningsih. Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit menggunakan mobil.


Sekarang dia sudah berdiri disini, di depan rumah minimalis tipe empat lima. Masih ada mobil dihalamannya menandakan bahwa penghuninya ada didalam rumah.


Ting tong, bel berbunyi saat ibu tiri Rio menekan tombolnya.


Click, bunyi kunci diputar lalu pintu ditarik kedalam dan Rini pun muncul dari balik pintu.


"Ibu???" Kata Rini penuh tanda tanya, saat mengetahui siapa yang datang di jam sepagi ini, karena sekarang masih jam enam pagi.


"masuklah bu" kata Rini lagi tidak membiarkan wanita itu berdiri terlalu lama diluar, ibu tiri Rio pun menuruti perkataan Rini, ia masuk dan duduk diruang tamu.


Sementara Rini pergi ke dapur, membuat minuman dan memotong brownies untuk disuguhkan kepada ibu tiri Rio.

__ADS_1


"Silahkan diminum tehnya dan dimakan kuenya, bu" kata Rini sambil meletakkan teh dan kue diatas meja.


"Ya, terima kasih" jawab ibu tiri rio sambil mengangkat gelas yang berisi teh hangat, dia meninyupnya sebentar dan meminumnya seteguk, lalu meletakkan gelas itu kembali ke meja dan mulai bicara.


"Rini, sebenarnya kedatangan ku kemari karena ada yang ingin aku bicara dengan mu, aku tahu sebagai sekretaris eksekutif kau sangat sibuk, karena itu aku datang kemari sepagi ini." Katanya memulai pembicaraan.


Ya, Rini memang sudah naik jabatan dari sekretaris manager manjadi sekretaris eksekutif sejak tiga tahun lalu.


"Apa itu ibu? Katakanlah, aku yakin ibu pasti ingin membicarakan hal yang penting." Tanya Rini dengan antusias.


"Aku tahu ibuku memintamu untuk menikah dengan Rio dan aku juga tahu kau sudah menolaknya, karena itu aku datang kemari untuk memintamu menerima permintaan ibuku.


"Maafkan aku bu, aku tidak bisa menerima permintaanmu." Ujar Rini memberi jawaban dengan penuh penyesalan.


"Kenapa?" Tanyanya sambil melihat Rini.


"Apakah alasannya karena aku?" Tanyanya lagi tapi Rini hanya diam.


"Jika alasannya karena aku, kau tidak perlu risau. Putraku sudah lama meninggal dan aku sama sekali tidak keberatan kau menikah dengan Rio. Dia adalah pria yang baik bahkan lebih baik dari putraku, aku tidak akan memungkirnya meski aku ibu tirinya.

__ADS_1


Rini, dari dulu aku selalu ingin kau menjadi putriku. Aku mohon wujudkanlah keinginanku dengan menikahi Rio." Katanya menyakinkan sambil menggenggam tangan Rini.


Rini menatap dalam-dalam wajah wanita yang sedang duduk dihadapannya, ia sungguh ingin tahu semua isi hati wanita tersebut.


"Kenapa ibu tidak membencinya?


Bukankah dia adalah bukti ketidak setia'an ayahnya Dion pada ibu?" Kata Rini menyelesaikan pertanyaannya.


"Jika aku membencinya artinya aku juga membenci suamiku. Untuk apa aku membenci orang yang sudah lama meninggal, hanya akan menyakiti hatiku.


Lagi pula saat hidup dia tidak pernah memperlakukanku dengan buruk dan selalu bersikap baik padaku, aku tidak tahu sejak kapan dia menghianati ku.


Jika saja Dion tidak mengalami kecelakaan dan meninggal, mungkin hingga akhir hayat aku tidak akan mengetahuinya." Ujarnya menjawab pertanyaan Rini.


"Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, pepatah itu memang benar adanya. Andai saja Dion tidak meninggal mungkin sekarang aku juga akan berada diposisi mu ibu" ujar Rini didalam hatinya. Ia kembali teringat kemalam sebelum Dion mengalami kecelakaan.


Malam itu Dion datang menemui rini di ruangannya.


"Sudah mau pulang?" tanya Dion duduk diatas meja menghadap ke Rini yang masih duduk di kursi.

__ADS_1


__ADS_2