
Dimata Rio, Rini adalah wanita yang buruk, dia mudah menjalin hubungan dan mudah juga mengakhirinya. Dalam setahun ini saja dia sudah menghancurkan tiga hati pria yang ingin menjalin hubungan serius dengannya.
Sungguh berbanding terbalik dengan penampilannya dan gaya berpakaiannya yang sopan, tapi itu hanya Dimata Rio karena sebenarnya Rini adalah wanita baik-baik.
Rini adalah anak yatim piatu yang dibesarkan oleh bibinya(kakak dari ibunya), bibinya adalah seorang janda beranak dua yang sangat tegas dan menjunjung tinggi prinsipnya, baginya kehormatan wanita adalah segalanya.
Bibinya selalu menanamkan pada Rini, wanita yang tidak bisa menjaga kehormatannya adalah wanita yang tidak bisa diberi kepercayaan. Begitu pula saat Rini mendapatkan surut pemberitahuan bahwa ia diterima bekerja sebagai sekretaris maneger hotel dan harus pindah ke kota.
"Ingatlah selamanya kemanapun seorang wanita pergi, dia selalu membawa perut bersamanya. Jangan buat malu!" Hanya itu pesan bibinya saat ia akan pergi, dan Rini masih mengingatnya hingga sekarang.
"Ada apa sebenarnya?" Tanya Rini memulai pembicaraan,
"Tidak biasanya kau mengajakku bertemu sepagi ini?" Lanjutnya kembali sambil melihat kearah Rio.
"Nenek ingin aku menikahi mu" jawab Rio berterus terang.
"Oh" kata Rini santai, seolah olah ia sudah tahu.
Rio tidak percaya dengan apa yang dia dengar, dia menatap wajah Rini mencari jawaban disana, wajah Rini nampak biasa saja dia tidak sedikitpun terkejut dengan apa yang dia dengar.
__ADS_1
"Kau sudah tahu?" Tanya Rio kembali setelah melihat wajahnya.
"Ya" jawab Rini masih dengan santai.
"Lalu apa jawabanmu?" tanya Rio lagi, sekarang Rio tahu neneknya pasti sudah meminta hal yang sama pada Rini.
"Menurutmu apa yang harus aku lakukan?" Rini malah balik bertanya pada Rio.
"Tentu saja menolaknya!" Jawab Rio kesal
"Hmm, baiklah aku akan menolaknya" ujar Rini menanggapi jawaban rio dengan sedikit tersenyum.
"Nah, kalau beginikan bagus" ujar Rio kembali tenang, sementara Rini hanya tersenyum.
"apa?" Tanya Rini sambil melihat kearahnya.
"Kita berdua sangat tahu bagaimana sifat nenekku, apa yang dia inginkan pasti akan terjadi, meski aku mengerahkan segala usaha semuanya akan berakhir sia-sia." Ujar Rio menjelaskan.
"Jadi?" Tanya Rini lagi karena dia masih belum mengerti kemana arah pembicaraan Rio.
__ADS_1
"Aku sangat mencintai Lia, dan aku sangat percaya padamu. Aku tahu kamu pasti akan menolak permintaan nenekku dengan tegas, dan nenekku tidak akan bisa memaksamu."
Rio berhenti bicara sebentar, lalu melanjutkannya lagi.
"Jadi aku akan mengatakan pada nenek, aku hanya akan mengikuti keputusanmu. Jika kau setuju untuk menikah maka aku pun akan setuju, jika tidak maka aku pun tidak.
Bagaimana, apakah aku bisa mempercayai masa depanku dan Lia padamu?" Tanya Rio mestikan.
"Hmm, Baiklah, kau tidak perlu cemas aku pasti akan menolaknya." Jawab Rini meyakinkan.
Rio senang mendengar jawaban Rini kini dia tidak perlu lagi hawatir.
Pikir Rio satu masalah telah selesai, kini dia hanya perlu menyakinkan neneknya agar mau menerima Lia sebagai calon istrinya.
Sangat jelas diwajah Rio betapa senangnya dia saat Rini menyetujui rencananya, sementara Rini terlihat sedikit kecewa tapi dia berusaha menyembunyikannya dengan senyuman.
Malam harinya, tepatnya pukul tujuh malam Rini datang dan di sambut ramah oleh nenek Rio.
"Assalamualaikum" ucap Rini sopan memberi salam saat akan memasuki rumah neneknya Rio, karena pintunya memang sengaja dibiarkan terbuka.
__ADS_1
Nenek Rio memang sejak tadi menunggunya bahkan ia sengaja duduk diruang tamu.
"Waalaikumsalam" jawab nenek Rio ramah dari tempat duduknya.