
"Rini" gumam Rio frustasi sambil memukul mukul bangku taman yang sedang ia duduki, ia bingung tak tahu harus berbuat apa berkali kali Rio menghirup nafas panjang dan membuangnya dengan kasar.
"Andai aku tidak datang kerumah ini" gumamnya lirih dengan padangan mata menerawang.
Tiga tahun lalu seorang pria berusia sekitar lima puluhan tahun datang menemui Rio yang sedang bekerja di sebuah kafe, Rio pernah melihat pria itu, saat ia masih kecil pria itu selalu datang mengantarkan uang pada ibunya.
Tapi dia tidak tau siapa nama pria itu dan dimana pria itu tinggal, setelah ibu Rio meninggal pria itu datang kembali! membawa Rio dan menitipkan Rio di sebuah panti asuhan.
Sekarang setelah sekian lama tak melihat pria itu, tiba tiba pria itu datang kembali tapi kali ini dia datang untuk mengungkapkan sebuah rahasia besar.
"Sekarang kau sudah besar, tapi aku yakin kau masih mengingatku!" Kata pria itu tanpa berbasa basi.
"Ya, paman" jawab Rio singkat
__ADS_1
"Hmm, baguslah! aku tidak perlu memperkenalkan diriku padamu dan aku tidak mau berbicara pajang lebar. Aku hanya akan mengatakan bahwa nenekmu memintaku untuk membawamu menemuinya sekarang juga!." Jelas pria itu tanpa membuang buang waktu.
Rio sedikit kaget mendengar penjelasan Pria itu, selama ini dia tidak tahu kalau dia masih mempunyai nenek, bahkan wajah ayahnya sendiri pun Rio tidak tahu.
Terakhir kali Rio melihat ayahnya saat ia berusia empat tahun, setelah itu dia tidak pernah lagi melihatnya, sebelum ibunya meninggal Rio pernah bertanya pada ibunya tentang siapa ayahnya.
Ibunya hanya menjawab ayahnya adalah pria yang baik. Lalu Rio bertanya kembali, kemana ayahnya kenapa tidak pernah datang? ibunya menjawab dia sudah pergi ke surga.
Rio tidak tahu pria tadi akan membawanya kemana, hingga mobil yang membawanya berhenti tepat didepan rumah mewah bercat biru, rumah itu memiliki halaman yang sangat luas dengan aneka macam tanaman yang menghiasinya, terlihat sungguh cantik dan tenang.
Rio berjalan dengan pandangan mata lurus kedepan, dia mulai merasa jenuh terus melihat punggung pria itu, akhirnya Rio memutuskan untuk melihat kekanan dan kiri.
Tap, Rio menghentikan langkah kakinya, saat matanya tidak sengaja beradu pandang dengan wanita muda bertubuh mungil yang sedang berdiri tak jauh darinya, wanita itu berdiri disamping sebelah kanannya.
__ADS_1
Bagi Rio wanita itu mungil karena dia membandingkan tinggi badan wanita itu dengannya, yang memiliki tinggi badan seratus tujuh puluh lima centimeter, padahal wanita itu memiliki tinggi yang mendekati standar.
Tinggi badannya seratus lima puluh tujuh centimeter, berat badannya mungkin sekitar empat puluh lima, wajahnya bulat telur, hidungnya kecil mancung bibirnya tipis dagunya sedikit lancip, ia juga memiliki rambut yang indah dan sedikit ikal bagian dibawahnya.
"Akan lebih indah lagi jika ia memanjangkannya sampai sebatas pinggang." Gumam rio sambil memalingkan pandangannya kembali menatap lurus kedepan, tapi dia masih belum puas dan menatapnya sekali lagi.
"Ditambah dengan sedikit senyuman dibibir, maka dia akan terlihat sangat sangat cantik." Gumam Rio kembali. Bukan tanpa alasan Rio berkata seperti itu, karena sejak tadi wanita itu hanya menatap Rio dengan tatapan dingin tak bersahabat.
Rio kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, kali ini ia berjalan lebih cepat agar bisa menyusul pria yang ada di depannya. Langkah kaki pria itu berhenti tepat didepan seorang wanita tua yang sibuk menyiram bunga!
Sepertinya wanita itu sangat menyukai bunga mawar, dilihat dari banyaknya tanaman bunga mawar di sekelilingnya.
"Kau sudah datang?" Tanya wanita itu tanpa menghentikan kegiatannya.
__ADS_1
"Iya, nyonya" jawab pria itu sopan.
"Apakah itu dia?!" Tanya wanita itu kembali setelah melihat Rio sekilas.