
"Cantik" gumam Rio tanpa sadar karena sudah lama sekali dia tidak melihat Rini menggerai rambutnya, ia juga baru tahu kalau rambut Rini telah panjang sebatas pinggang, seperti apa yang ia bayangkan tiga tahun lalu.
Rio lupa dengan rencananya dan hanya berdiri diam disana, menatap Rini sepuasnya dibalik pintu kaca. Rini sedang sibuk memindahkan barang-barang dari dalam koper ke lemari, ia belum sempat melakukannya semalam karena terlalu letih.
Ia bahkan tidak sadar kalau sejak tadi Rio memperhatikan nya dari balik pintu.
Darah Rio berdesir hasrat nya mulai naik ke ubun-ubun, iya hampir tidak bisa mengendalikan dirinya untuk menyentuh Rini.
Tapi secepat kilat ia mengendalikan dirinya dan pergi menjauh dari kamar Rini.
Ke esokan harinya. Akhirnya Rio bisa bertemu dengan Lia tentunya setelah jam istirahat, mereka bertemu di lobi hotel dan Rio mengajak nya keluar.
Mereka pergi kebuah cafe yang letaknya tak jauh dari hotel.
"Maafkan aku Lia. Ku harap kau bisa mengerti, aku terpaksa dan aku terjebak dalam rencana yang ku buat sendiri." Ujarnya mencoba menjelaskan pada Lia tentang situasinya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku menerima semuanya, dan tetap menjalin hubungan dengan mu sementara kau sudah sudah menikah?!" Kata Lia bertanya pada Rio.
"Bukan, bukan begitu maksud ku! Aku hanya ingin kau menunggu sampai aku bisa terlepas dari hubungan pernikahan ini." Kata Rio menjelaskan maksudnya.
"Sampai kapan? Katakan padaku sampai kapan aku harus menunggu mu?" Tanya Lia menuntut kepastian.
__ADS_1
"Aku tidak tahu pasti nya" jawab Rio gamang.
"Kalau begitu maafkan aku, aku tidak bisa menunggu mu." Kata Lia memberi jawaban dan bersamaan dengan itu Andi pun datang menghampiri mereka.
"Hai kawan, senang bertemu dengan mu disini. Aku sungguh tidak menyangka kalau kau akan menikah dengan Rini. Tapi aku akan tetap mengatakan selamat atas pernikahan mu."
Kata Andi sambil duduk bergabung dengan Rio dan Lia tanpa diminta untuk bergabung.
"Hmm, terima kasih" jawab Rio dengan sedikit kesal karena Andi telah mengganggunya.
"Kebetulan sekali kita bertemu disini? Apa yang kau lakukan disini? bukankah tempat kerjamu cukup jauh dari sini?" Tanya Rio berkali kali dengan nada kesal.
"Apa maksudmu?" Tanya Rio tidak mengerti mengapa Lia meminta Andi untuk datang.
"Ya, aku yang memintanya datang kemari. Karena aku ingin memberi tahukan pada mu kalau kami juga memiliki hubungan." Kata Lia menjawab pertanyaan Rio yang ditujukan untuk Andi.
"Sejak kapan?!" Tanya Rio tidak percaya.
"Sejak aku tahu nenekmu tidak menyukai ku" jawab Lia tanpa rasa bersalah.
"Kenapa kau melakukan itu?" Tanya Rio masih tidak percaya.
__ADS_1
"Kerena aku tahu sejak awal hubungan kita tak akan berhasil" jelas Lia.
"Jadi kau langsung menghianatiku saat itu?" Tanya Rio lagi.
"Menghianati yang tak akan menjadi milikku, aku rasa itu tak masalah." Jawab Lia dengan entengnya.
"Apa katamu?!" Tanya Rio dengan berteriak pada Lia.
"Hai kawan tidak perlu berteriak seperti itu, apa yang dikatakan Lia itu benar. Lagi pula menurut ku ini adil, kau mendapatkan bekasku dan aku mendapat bekas mu.
Hanya sayang kau tidak hanya mendapatkan bekasku tapi kau juga mendapatkan sisa-sisa orang lain, dan aku yakin kau pasti sangat kecewa setelah menghabiskan malam pergantian dengan nya.
Karena itu kau meminta Lia untuk menunggu mu!" Ujar Andi sambil tersenyum mengejek.
Rio tidak bisa lagi mengendalikan dirinya ia begitu dikuasai oleh amarahnya, dan menghajar Andi berkali kali tanpa mempedulikan Lia yang berdiri ketakutan.
Selama Lia mengenalnya inilah pertama kali ia melihat Rio marah.
"Apa katamu tadi?" Tanya Rio sambil melayangkan tinjunya kewajah Andi.
"Bukankah aku sudah pernah mengingatkan mu untuk tidak berbicara tentang hal yang buruk mengenai Rini!" Katanya lagi sambil terus melayangkan tangannya kewajah dan tubuh Andi.
__ADS_1