
"Duduklah" kata nenek Rio memberi perintah. Rini menurutinya dan duduk didepannya.
"Bagaimana?" Tanya nenek Rio setelah Rini duduk.
"Maafkan aku nek, aku tidak bisa menuruti permintaanmu." Kata Rini dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Apakah Rio yang memintanya?" Tanya nenek Rio sambil menatap wajah Rini.
"Ya, dan aku tidak bisa menghancurkan kepercayaannya. Jadi aku mohon agar nenek mengerti dan tidak memaksanya." Jelas Rini sambil memegang tangan nenek Rio.
"Baiklah, aku tidak akan memaksanya," jawab nenek Rio sambil menjauhkan tangannya dari tangan Rini.
Ia bangkit dari duduknya dan mulai berjalan
"Tapi akan ku pasti keinginanku pasti akan terwujud." ujar nenek Rio lagi sebelum meninggalkan ruang tamu.
Rini hanya terdiam menatap kepergian nenek Rio, dia sangat mengenalnya tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, nenek Rio adalah wanita yang gigih dia tidak pernah menyerah sebelum keinginannya terwujud, entah apa yang akan dilakukannya nanti.
Cukup lama Rini duduk diam menatap foto yang terpajang di dinding, foto itu adalah foto dirinya bersama keluarga ini, disana ada dirinya, Rio, nenek dan ibunya Dion.
Foto itu diambil sekitar tiga tahun lalu, saat nenek Rio memperkenalkan Rio sebagai cucunya, kepada kolega dan seluruh karyawan yang bekerja padanya.
Hah, desah Rini menghela nafas berat, mencoba menyingkirkan pikiran yang sempat terlintas.
__ADS_1
"Sebaiknya aku segera pergi" gumam Rini pada diri sendiri sambil berdiri, lalu kemudian berjalan keluar.
Diluar Rini bertemu Rio yang baru saja kembali dari hotel.
"Bagaimana, apakah berhasil?" Tanya Rio saat berpapasan dengan Rini.
Rini hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Terima kasih Rini, kau memang sahabatku" Ujar Rio dengan memeluk Rini sepontan karena terlalu bahagia.
Sementara itu dari atas balkon, ibu tiri rio terus memperhatikan mereka berdua, tidak terlalu jelas bagaimana ekspresi wajahnya karena dia berdiri di tempat yang sedikit gelap.
"Iya" jawab Rini singkat sambil sedikit mendorong tubuh Rio agar menjauhinya.
"Maaf" kata Rio dengan sedikit gugup.
"Hmm, tidak apa" jawab Rini dengan pipi sedikit memerah. Suasana diantara mereka berubah menjadi canggung.
"Sebaiknya aku pulang sekarang" ucap Rini memecah suasana sambil menekan remote mobilnya.
Bib bib, suara mobilnya memecah keheningan.
"Hmm, hati hati dijalan" kata Rio dengan perasaan canggung saat Rini sudah berada didalam mobil.
__ADS_1
Rini mendengarnya tapi dia tidak menjawab, ia menghidupkan mesin mobilnya dan mulai berjalan meninggalkan halaman, dalam hitungan detik mobilnya sudah tak terlihat lagi.
Rio berjalan memasuki rumah dengan perasaan tidak menentu.
"Sudah pulang?" Tanya ibu tiri Rio yang sedang berdiri tepat didepannya, saat Rio akan menaiki tangga menuju lantai dua, hanya ada dua kamar disana, kamar Rio dan Dion.
Rio menjawab pertanyaan ibu tirinya hanya dengan anggukan kepala.
"Aku membongkar gudang hari ini dan menemukan beberapa helai baju bekas ayahmu, jika kau ingin memakainya aku sudah meletakkannya dikamar mu."
Jelas ibu tirinya sambil menuruni tangga, ekspresi wajahnya tetap sama seperti pertama kali Rio bertemu dengannya dingin.
Didalam kamar nenek Rio.
"Akan lebih cepat terlaksana jika dia tidak menolak" kata nenek Rio sambil mengambil gelas dan obat yang diberikan menantunya(ibu tiri Rio).
Sementara ibu tiri Rio hanya diam mendengarkan apa yang dikatakan
mertuanya.
"Kau pasti membenciku?" Tanya nenek Rio setelah menyerahkan gelas kosong pada menantunya.
"Karena aku selalu membuat keputusan tanpa meminta pendapat darimu" jelasnya sambil menatap wajah menantunya.
__ADS_1