
...Selamat Membaca...
"Bukkk"
Galang memukul meja yang ada di hadapannya dengan sangat keras. Hingga, tangan nya memerah.
Wajah tampan Galang terlihat suram, cahaya dari bola matanya menggelap, rahangnya mengeras, bibirnya yang terkatup rapat mengerat dengan gigi yang bergemerutuk.
Alifa menghela napasnya dalam. Wajahnya memucat seperti kertas, kedua tangannya saling meremas dengan kuat.
Bibirnya bergetar. "Maap, kakak bisa melupakan permintaan ku tadi." Memejamkan matanya sejenak, lalu membukanya kembali.
Dari balik pintu, Tania tampak mengepalkan tangannya kuat.
"Dasar bodoh! Kenapa menarik kembali permintaan mu!"
Galang menatap Alifa dengan tajam.
"Dia yang menyuruhmu mengatakan nya!" Nada suaranya rendah mengintimidasi.
Benar-benar penuh tekanan.
Alifa sadar, jika dia mengatakan nya pasti Tania akan menerima hukuman. Meski sebenarnya dia seharusnya senang, karena dulu Tania berbohong, dan mengakibat dirinya di hukum.
Tapi, Alifa tidak lah pendendam.
Menghela napasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan lembut.
Menyentuh tangan Galang dengan tatapan mata yang lembut.
"Tidak ada, ini murni hasil pemikiran ku. Aku merindukan ayah, ibu dan kakak ku." Matanya begitu polos saat berkata.
Tidak nampak keraguan ataupun kebohongan. Karena itu, memang yang dirasakan nya. Rindu, rindu, ya sangat rindu keluarga nya.
Tatapan Galang melembut, senyuman indah terukir di bibirnya.
Dia sudah begitu terobsesi memiliki Alifa yang polos dan murni.
Tanpa memikirkan bagaimana perasaan gadis kecil ini.
Tapi, obsesi itu seakan memudar dengan berjalannya waktu.
Dia ingin menjaga dan melindungi gadis kecil ini, dengan segenap hatinya.
"Bukankah kamu bilang mencintai ku? Apakah meninggalkan ku termasuk rasa cinta mu?" Tatapan matanya lembut, bahkan suara nya juga terdengar lembut.
"Aku mencintaimu kak, kita bisa bertemu dan berhubungan secara normal tidak seperti ini, mengurungku seperti seekor burung."
Entah dari mana, keberanian Alifa tiba-tiba saja muncul.
"Kamu hebat ya sekarang." Tersenyum miring dengan tatapan mata yang menajam.
"Sudah bisa membantah ku!" Lanjutnya, dengan suaranya yang rendah seperti sapuan angin.
Namun, begitu dingin dan mengintimidasi.
"Kak, bukankah laki-laki sejati harus menepati janjinya?" Bertanya, tapi dengan nada memerintah.
Galang terdiam. "..."
Matanya menatap lekat ke arah Alifa.
"Alifa ku sudah dewasa rupanya, sudah sangat pandai bersilat lidah. Heh." Tersenyum sinis, tangan nya di silangkan di dada.
Alifa terdiam tanpa ekspresi. "..."
"Baiklah, aku akan mengabulkan permintaan mu. Karena, aku sudah berjanji padamu. Aku tidak menyangka, jika kamu akan minta hal ini."
Galang berdiri, menghembuskan napasnya kasar. aura nya dingin dan tajam.
Melangkah ke arah pintu. " Ceklek." Pintu di bukanya.
Tania yang berada di sana terkejut, dengan cepat bersembunyi saat mendengar suara pintu terbuka.
"Semoga dia tidak melihatku! Hah, syukur lah. Ternyata Alifa tidak sebodoh yang aku kira. Hah hah." Napasnya tersengal, karena cape berlari dari balik pintu dan takut ketahuan sedang mengintip.
Jika ketahuan, sudah pasti itu akan berakibat buruk padanya.
Alifa berdiri.
__ADS_1
Sebenarnya, hatinya sangat berat meninggalkan Galang. Pria kejam ini, sudah ada di dalam hatinya.
Tidak, tidak dia sudah berubah. Tidak kejam lagi, pikir Alifa.
Alifa berjalan mengikuti Galang.
Sekarang Galang sudah berada di teras vila nya.
Alifa memeluk Galang erat.
"Maapkan aku kak, aku mencintaimu." ucap nya lembut.
Galang mengurai pelukan nya, menatapnya lembut, menundukkan kepalanya sedikit.
Cup
Mengecup bibir Alifa dengan lembut, sekilas.
Alifa hanya diam, terkejut dengan perlakuan Galang.
Setelah itu dia memanggil Tania.
"Tania!" Teriak Galang.
Tania, deg degan. Takut, kalau saja Galang hanya melepaskan Alifa saja.
Dalam sekejap Tania sudah berada di hadapan Galang.
Galang tersenyum sinis. "Kamu memang hebat dalam memanfaatkan situasi. " Nada suaranya datar.
Seketika wajah Tania memucat. "Sial, sepertinya dia sadar kalau ini rencana ku." gumamnya.
"Kalian bebas, kalian bisa pergi dari tempat ini. Tapi ingat waktu kalian hanya sampai jam 12 siang, jika aku menemukan kalian masih ada di sekitar sini jam 12 siang. Maka kalian silahkan tebak apa yang akan terjadi!"
Galang berkata dengan sorot mata yang tajam, suara datar mengintimidasi, tak ada seringai di bibirnya.
Aura nya terasa begitu gelap, dingin dan menakutkan.
"Glek " Alifa dan Tania menelan kuat saliva nya.
Saling memandang, dengan tatapan penuh arti.
"Sial, kita harus berlari? Aku pikir, dia yang akan mengantar kita ke kota!" Tania mengeram kesal.
"Jika ingin bebas sebaiknya mulai sekarang kita cepat berlari!" Alifa berkata dengan cepat.
Tidak perlu menunggu lama, mereka berdua dengan cepat berlari meninggalkan Vila terkutuk itu.
"Tuhan bantu kami menemukan jalan keluar!" Doa Alifa.
"Aku harus bebas dari orang gila itu, tuhan biarkan aku bebas!" Doa Tania.
"Hah hah hah" Napas mereka tersengal-sengal, sesekali berhenti dulu.
" Tania ayo, jangan sampai kak Galang menemukan kita di sini!" Alifa berteriak.
"Aku cape, istirahat dulu." Ujar Tania, duduk di bawah pohon.
"Baiklah." Alifa ikut duduk.
Sekitar 5 menit mereka duduk, lalu bangkit dan mulai berlari lagi.
Menggunakan ingatan mereka untuk menemukan jalan keluar.
Alifa mengingat kejadian masa lalu, dia sedikit nya ingat, karena saat itu dia sadar.
Berbeda dengan Tania, yang pingsan saat di bawa sampai tiba di vila.
"Hah hah hah." Deru napas bercampur keringat yang mengalir di wajah dan sekujur tubuh mereka.
Alifa kelelahan.
Dia duduk di pinggir jalan, sedikit lagi pasti sampai ke jalan raya.
"Lifa cepat!" teriak Tania.
"Aku lelah! Istirahat dulu." Wajah Alifa tampak pucat, karena lelah.
"Kalau begitu aku duluan, aku tidak mau tertangkap! maap." Berlari kembali tanpa memikirkan Alifa.
__ADS_1
"Baiklah." Alifa menatap punggung Tania hingga menghilang. Dia merasa sedih, Tania sama sekali tidak setia kawan.
Alifa menghela napas panjang. Sekilas mendengar suara deru mesin mobil.
Alifa segera mencari tempat persembunyian, dia takut itu mobil Galang, yang sedang mencari mereka.
Tania berlari sampai tenaganya hampir habis.
Wajahnya cerah, bibirnya tersenyum. Melihat hamparan jalan raya di depan matanya.
"Kebebasan aku datang!" Tertawa senang.
Dari kejauhan melihat mobil putih datang, dengan cepat berdiri di tengah jalan meminta pertolongan dengan melambai-lambaikan tangan nya.
"Tolong aku, tolong aku!"
"Cekiiit" Mobil berhenti.
Seseorang melongokan kepalanya dari jendela mobil, dengan seringai sinis dan mata yang agak sipit menatap tajam.
Karena kelelahan, Alifa tertidur di bawah pohon. Tiupan angin membuatnya semakin terlelap.
Saat dia terbangun hari sudah gelap. Terdengar kembali deru mesin mobil, dia mengintip dari balik pohon.
Itu adalah mobil Galang, sepertinya pria itu akan pergi ke kota.
Menatap mobil itu hingga tak terlihat, memberanikan diri untuk pergi.
"Biasanya kak Galang, kalau pergi pasti pulang nya larut malam. Aku punya kesempatan."
Alifa mulai melangkah kan kakinya pelan, waspada jika saja Galang kembali datang.
"Hah, syukur lah. Sepertinya kak Galang sudah benar-benar pergi." Mengelus dadanya pelan.
Mulai berlari kecil.
Langkahnya berhenti, kembali bersembunyi. Dia melihat mobil putih, jendela mobilnya terbuka.
Alifa melihat sekilas pengemudi itu dari samping. Samar, tidak terlihat jelas. Karena, posisinya yang cukup jauh.
Orang itu memakai jaket Hoodie dengan topi Hoodie nya yang di gunakan menutupi kepala, hingga wajahnya sedikit tertutup jika di lihat dari pinggir.
"Apa itu kak Galang? Bukankah baru saja dia pergi?" pikir Alifa.
Mencoba mengingat - ingat. Ya, Galang punya jaket Hoodie seperti itu, sama persis seperti yang di pakai orang itu.
"Ah. Mungkin, dia kembali lagi. Lagi pula mobilnya putih sama dengan yang tadi." Alifa menunggu mobil itu menjauh menuju vila, tanpa melihat plat mobilnya.
Setelah mobil tak terlihat, berjalan cepat.
"Jalan raya!" Tersenyum senang.
Berjalan menyusuri jalan raya, hingga menjelang pagi.
"Huh, capek nya." Duduk di pinggir jalan dengan wajah yang pucat.
"Nona mau kemana?" Seseorang melongokan kepalanya, bertanya dari sebuah jendela mobil.
"Kota A " Jawab Alifa polos.
"Mau ku antar, kebetulan tujuan kita sama."
Pria itu berkulit bersih, tampan dan terlihat lembut. Senyuman nya hangat sungguh menyejukkan siapapun yang melihatnya.
Sangat berbeda jauh, dengan Galang yang terlihat dingin dan kaku.
"Jangan takut, aku bukan orang jahat." Senyuman indah nya terukir di bibirnya.
Bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo reader's ku tercinta, jangan lupa dukung terus karya author dengan like, vote, hadiah, dan kasih rate bintang 5.
Masukan karya author ke favorit kamu, supaya kamu yang pertama tau jika ada update terbaru.
Terimakasih atas segala dukungan nya
Salam
__ADS_1
mirastory