Cinta Terdalam Ku Untuk Tuan Muda Kejam

Cinta Terdalam Ku Untuk Tuan Muda Kejam
Pertemuan tak Terduga


__ADS_3

...Selamat membaca...


"Terimakasih kak, jangan terlalu lama memandang ku nanti kakak jatuh cinta pada ku." Tertawa tanpa suara, maksudnya hanya menggoda saja.


"Tapi aku udah jatuh cinta Fa, mau jadi pacarku?" Tersenyum penuh harap.


"Gak lucu!" Alifa mencebikkan bibirnya, lalu keluar dari kamar melewati Brian.


Brian mengikutinya.


"Gantengan mana aku sama pacar mu?" Penasaran.


"Emmh, gantengan pacar ku lah. Maaf jangan tersinggung." Nyengir.


"Masa, emangnya ada gitu yang lebih ganteng dari aku?" Narsis luar biasa.


Alifa geleng-geleng kepala mendengar kenarsisan Brian. "Ada lah, dasar narsis." Gumam nya pelan, tapi masih bisa di dengar Brian.


"Heheh, aku tuh ganteng banget tau. Coba kamu perhatikan aku!" Tergelak tanpa suara, meraih tangan Alifa di tangkup kan nya ke pipinya.


Alifa terpana dengan tingkah Brian yang di rasa konyol.


Demi menyenangkan hati Brian, Alifa memperhatikan gesture wajah pria tampan itu. "Kamu memang tampan kak, dengan sikap hangat mu ini menjadi nilai plus untuk mu. Tapi, sayang hati ku sudah terpatri untuk dia." Tersenyum, menarik tangan nya.


" Aku patah hati FA, aku jadi ingin kenalan sama dia." Serius, penasaran dengan cowok idaman Alifa itu.


"Suatu hari nanti pasti ketemu." Meringis dalam hati, toh dia gak tau Galang dimana, sedang apa dan apakah dia juga mencintainya atau tidak.


Semua yang terjadi di vila selama 5 tahun ini, bukan kah itu hanya sekedar obsesi Galang saja, belum tentu ada rasa di hatinya.


Alifa jadi sedih.


"Huuh" Brian menghela napasnya dalam-dalam.


"Ayo kita pergi sekarang, ibu meminta kita datang sebelum jam sarapan. Dia ingin sarapan bersama." Brian mendahului Alifa keluar apartemen.


Alifa mengikuti seperti anak ayam.


"Hei berjalan di sampingku Fa, jangan di belakang ku." Kesal Brian. Berhenti berjalan dan menoleh ke arah Alifa dengan jengkel.


Alifa tersenyum malu. Namun, langsung mensejajarkan langkahnya dengan Brian. Kini mereka berjalan berdampingan sangat serasi cantik dan tampan.


Mereka menasuki lif. Ada beberapa orang disana, Alifa merasa tidak nyaman. Apalagi, ada beberapa orang lelaki muda yang menatapnya suka.


Alifa menundukkan kepalanya dalam.


Menyadari kecemasan Alifa, Brian menggeser tubuhnya dan menggenggam tangan Alifa cukup erat lalu berbisik. " Jangan takut, ada aku."


Lagi-lagi Alifa membiarkan yang Brian lakukan, saat ini dia perlu perlindungan dan ia dapatkan dari Brian.


"Maafkan aku kak Galang." Merasa bersalah telah membiarkan pria lain menyentuh nya.


Selama berada dalam lif, Brian terus menggenggam tangan Alifa dengan erat. Baru terlepas saat mereka keluar dari lift.


"Maap, aku gak bermaksud lancang." Ucap Brian saat berjalan menuju area parkir.


Alifa berjalan di sampingnya dengan elegan. ". Aku mengerti kak, terimakasih telah melindungi ku." Tersenyum hangat.


Mendengar jawaban itu dari mulut Alifa, hatinya menghangat. Berharap suatu hari nanti Alifa akan membuka hati untuk nya.


Kini mereka sudah duduk di dalam mobil.


Brian melajukan mobilnya cukup kencang, memburu waktu agar sang ibu tidak marah.

__ADS_1


30 menit kemudian, mereka sampai di depan rumah mewah dengan halaman yang luas. Pintu gerbang besi yang menjulang tinggi menambah kesan mewah rumah itu.


Alifa terpana.


Mobil memasuki halaman.


Jantung Alifa berdegup, saat mengenali salah satu mobil yang ada di halaman luas itu.


"Ah mungkin hanya mirip saja." Pikir nya.


"Eh, tapi apa mungkin plat nomor bisa sama?" Semakin gusar.


"Ayo" Suara Brian terdengar menyapa telinga nya.


Alifa sedikit terlonjak kaget, untunglah dia segera bisa mengendalikan diri nya.


Pintu utama terbuka, menampakkan seorang asisten rumah tangga berusia sekitar 30an dengan senyuman ramah nya.


"Silahkan tuan, nyonya besar sudah menunggu di ruang makan." Sopan sekali bicaranya.


"Terimakasih." Brian tersenyum ramah, Alifa menganguk kecil di iringi senyuman kecil.


Mereka berjalan beriringan.


Alifa terpana melihat kemewahan seisi rumah ini. Luar biasa mewah nya, lebih mewah 3x lipat dari vila nya Galang.


"Brian kamu kok telat sih!"cPekik seorang wanita paruh baya yang langsung berjalan menghampiri Brian, dialah ibunya.


Alifa tersentak kaget.


Bukan kaget melihat atau mendengar suara ibu Brian. Tapi, tatapan matanya fokus ke arah seorang pria yang menatapnya dengan dingin dan datar.


"Kak Galang!" Pekik nya dalam hati.


Galang sedang marah padanya.


Tapi kenapa?


Apa karena dia datang bersama Brian?


Dan siapa sebenarnya kak Galang? Kenapa bisa berada di rumah ibu kak Brian? Apa jangan-jangan mereka adalah saudara? Itulah yang ada di pikiran Alifa.


Jemari tangan nya saling meremas kuat, hingga terasa panas dan sedikit sakit. Dia sedang gusar saat ini.


"Ibu!"


Brian dan ibunya saling berpelukan.


"Apa dia pacar mu?" Ibu meraih tangan Alifa, lalu memeluk nya senang hati.


"Manis nya calon mantu ibu." Tersenyum ceria.


"Galang jangan mau kalah sama adik mu! Lihatlah dia bawa calon menantu untuk ibu, masa kamu yang seharian nya di kerubutin cewek gak bawa." Ibu menoleh ke arah Galang dengan tatapan mengejek.


"Huuuh!" Galang mendengus kesal.


Berjalan menghampiri Brian lalu memeluknya.


"Benarkah dia pacar mu? Sejak kapan?" Melirik Alifa penuh makna.


Alifa menundukkan wajahnya, takut.


Takut Galang nya marah.

__ADS_1


Takut Galang nya salah sangka.


Ingin rasanya mengatakan tak ada hubungan apapun antara dirinya dengan Brian, tapi bagaimana cara menyampaikan nya. Dia merasa bingung.


"Heheh, ia maunya sih." Tersenyum, melirik ke arah Alifa yang sedang menunduk.


Galang tersenyum miring. "Artinya belum jadi pacar? Kurasa dia sudah mencintai seseorang? Apa benar begitu nona?" Galang menatap Alifa mengintimidasi.


"Jangan sinis begitu sama wanita ku! Dia bisa takut padamu! Lihatlah dia sudah cemas begitu." Brian mencibir kakak nya, tidak suka.


"Sudah ayo kita sarapan bersama dulu." Ibu memenggamit lengan Alifa, membawanya ke ruang makan.


Galang dan Brian mengikuti dari belakang.


"Bertemu dia di mana?" Tanya Galang dengan datar.


"Kenapa ingin tahu? Jangan bilang kakak suka padanya? Dia milik ku!" Berkata tajam, lalu berjalan dengan cepat meninggalkan Galang.


Sementara itu, Alifa sudah duduk di meja makan tepat di samping mama mereka.


"Ternyata mereka bersaodara, bagaikan bumi dan langit! Aku gak nyangka."


"Fa, kamu bisa kenal Brian di mana?" Mama Rita bertanya dengan senyuman yang lebar.


"Emm..."


Belum sempat Alifa menjawab terdengar suara seseorang yang menyerobot.


"Kenal di jalan mah, aku gak sengaja ketemu dia dan akhirnya kita kenalan. Lalu..." Brian duduk tepat di samping Alifa.


"Lalu?" Mama semakin kepo.


"Lalu setelah berjalan nya waktu kita jadi akrab dan pacaran deh. Hehehe." Bohong Brian, dia melirik Alifa dengan senyuman lebarnya.


Alifa tersenyum getir. "Bohong aja terus! Nanti gimana cara ngelurusin nya!" Ingin rasanya Alifa menjerit saat ini.


Tatapan matanya tak sengaja bertemu dengan tatapan mata Galang, yang entah sejak kapan sudah duduk di kursi depan Alifa.


Glekkk


Alifa menelan salifa nya susah payah.


"Semoga kak Galang gak marah dengan perkataan kak brian." Menatap Galang dengan salah tingkah.


Ketika Galang balas menatapnya tajam, Alifa segera menundukkan wajahnya.


Tak sanggup bersitatap dengan pria galak bin jutek yang telah mencuri hatinya itu.


Brian bisa menangkap interaksi antara Galang dan Alifa.


Hatinya serasa di remas.


"Ah, tidak mungkin kan pria yang selalu di bilang pacar oleh Alifa itu kak Galang! Tak rela aku jika itu benar!" Menatap Galang, lalu Alifa secara bergantian.


Hatinya langsung berdenyut, nyeri rasanya.


"Kak! Jangan memelototi pacar ku seperti itu, dia jadi takut!" Brian menatap sinis kakak nya.


Bersambung.....


Terima kasih atas segala dukungan kalian para reader's ku tercinta.


Salam hangat dari Autor

__ADS_1


mirastory


__ADS_2