Cinta Terdalam Ku Untuk Tuan Muda Kejam

Cinta Terdalam Ku Untuk Tuan Muda Kejam
Tania


__ADS_3

...Selamat Membaca...


Menutup laptopnya, menyandarkan kepala dan punggung nya di sandaran kursi.


"Semoga kamu bisa lebih cepat belajar dari Alifa." gumamnya.


Kemudian Galang pergi entah kemana, menggunakan mobil nya.


...Tania...


Sementara itu Alifa masih di dalam kamar Tania. Berbincang sedikit mengusir penat.


"Apa kamu tidak bosan berada di tempat seperti ini?" Tanya Tania sambil merebahkan diri di atas tempat tidur nya.


"Awalnya bosan, tapi sekarang sudah terbiasa." Menjawab dengan binar di wajah nya.


"Katakan apa saja yang kamu lakukan di sini?" Bertanya, tapi dari nada bicaranya sepertinya wajib di jawab.


"Aku akan menghabiskan waktu ku seharian dengan memainkan piano, memasak, membaca buku atau menonton tv. Sudah, itu saja." Senyuman secerah mentari mengembang dari bibirnya.


"Tidak ada hp?" Berharap ada, supaya bisa kabur.


"Mana ada." Sambil tergelak.


"Kalau ada, mungkin sejak dulu aku sudah telpon kakak ku minta tolong, hehehe." Kembali tergelak.


"Bagaimana bisa kamu bertahan begitu lama di sini?" Berkata sambil memejamkan matanya.


"Aku saja ingin cepat keluar dari penjara ini. Huuh." Air mata Tania lolos kembali.


"Kamu hanya belum terbiasa, percaya lah setelah biasa kamu bahkan tak akan ingin pulang. Meski kadang kasar, dia sebenarnya sangat baik." Matanya kembali berbinar saat mengatakan sesuatu tentang Galang.


Membuat Tania bergidik ngeri, membayangkan gadis seimut Alifa bersanding dengan psiko seperti Galang. Pikir nya.


Padahal apa yang di lihat, belum tentu kebenarannya.


Tidak lama kemudian, dia mendengar suara deru mesin mobil.


"Hei, Alifa dengar itu. Sepertinya Galang pergi, ayo kita kabur." Ajak Tania menarik tangan Alifa dengan keras.


Tapi Alifa menolak nya.


"Jangan! Jika tertangkap, kamu bisa di hukum." Memberikan tatapan peringatan.


"Aaaaah, kamu terlalu penakut! Aku akan kabur sendiri!" Segera keluar dari kamarnya.


Alifa menghadang nya. "Ku mohon jangan rugikan dirimu sendiri, mari berteman dengan ku. Kita bisa jadi sahabat di sini dan bersama-sama melayani dia." Tatapan matanya menghiba.


"Gila! Kalau kamu mau jadi budak dia, ya sudah! Tapi, gak usah ajak-ajak aku segala. Dasar tidak normal kamu!" Berkata dengan kasar nya, kesal, jengkel dan marah dengan kelakuan Alifa.


Alifa akhirnya memundurkan badan nya dan memberikan jalan kepada Tania.


"Ingat hampir di semua sudut di tempat ini ada CCTV, termasuk kamar kita dan juga kamar mandi. Dia bisa mengetahui semua yang kita lakukan!" Peringatan berikutnya, Alifa berkata dengan nada suara yang datar.


Senyum tak lagi tampak dari bibirnya. Ekspresi wajah nya menunjukkan keseriusan.


"Tuh kan semakin gila, itu artinya saat mandi dan telanjang saja dia bisa melihatnya kan? Huuuh!"


Makin besar keinginannya untuk kabur.


Alifa menghembuskan napas nya dengan gusar.


Tania bergegas keluar dari kamar.


Tak ada penjaga, atau pun pelayan di tempat sebesar ini.


Berlarian beberapa kali, menuruni anak tangga dan mencari pintu utama.


"Ni, rumah sangat besar. Belum keluar aja aku sudah cape, huuh." Matanya bersinar terang setelah menemukan apa yang di cari nya, pintu utama.


"Di kunci!"


Berlarian kembali, mencari kunci nya.


Bertemu dengan Alifa yang sedang asik nonton tv sambil ngemil keripik.

__ADS_1


"Hei! Enak saja, kamu malah asik nonton sambil ngemil. Sedangkan aku, kesusahan cari jalan keluar!" Kesal menggebu.


Alifa tersenyum dan melirik sedikit.


"Semua kunci kak Galang yang pegang, kamu harus cari cara lain untuk kabur." Mata Alifa masih fokus ke Tv.


Tania akhirnya menyerah, dia sudah kelelahan berlarian di dalam rumah saja.


Menjatuhkan tubuhnya, di samping Alifa ikut ngemil keripik sambil nonton.


Sekita jam 12 malam terdengar suara deru mesin mobil.


"Dia datang." Tania sedikit panik.


"Emang kenapa?" Alifa tersenyum.


Tania mendengus sebal mendengar perkataan Alifa.


"Ikuti aku!" Alifa sudah berdiri dan melangkahkan kakinya.


"Kemana?"


"Menyambut kak Galang." Lagi-lagi binar kagum muncul dari raut wajah Alifa saat menyebut nama Galang.


"Menyambut. " Tertawa geli, tapi ikut juga.


Mereka berdua berdiri di depan pintu.


Saat Galang membuka pintu, tampak dua gadis cantik sedang menyambut nya. Dia senang.


Menatap Alifa, gadis itu begitu imut menggemaskan. Di usia 20 tahun nya, dia terlihat seperti baru usia 17 san.


Mata bulat polos dan senyuman manis tulus di bibir tipisnya, itulah yang membuat Galang selalu menginginkan gadis ini.


Menatap Tania,


Tania memalingkan wajahnya sebal.


Gadis 25 tahun ini begitu cantik dan ****. Aura kewanitaan nya tampak jelas.


Bibir **** dan bentuk tubuhnya yang padat berisi itu membuat nya selalu terpesona.


Tersenyum kepada mereka berdua.


Berjalan menghampiri Tania dan melewati Alifa.


Menyentuh dagu Tania, dan menciumnya lembut di depan Alifa.


Tania, bahkan membalasnya. Dia sudah berpengalaman masalah ini.


Mereka berpagutan di depan Alifa.


Alifa menundukkan kepalanya dan memalingkan wajahnya, marah. Dadanya bergemuruh, ada sesuatu yang sakit di sana.


Cairan bening jatuh begitu saja membasahi lantai, Alifa kaget. Segera mengelap lantai dengan menggosok-gosokkan kakinya.


Sementara, jempolnya mengusap pipinya yang basah. Galang tak boleh tau, dia menangis. Atau dia akan di hukum nya. Karena, dianggap tidak patuh.


Sakit yang tidak berdarah.


Sesuatu yang tidak pernah dia rasakan selama ini.


Ingin rasanya pergi, dan tak harus melihat adegan ini. Tapi, mana berani harus menghadapi kemarahan Galang.


"Jadilah gadis penurut, maka aku akan menyayangi mu." Membelai lembut kepala Tania, usai berciuman.


Tania mengangguk pelan.


"Harus pura-pura patuh, sambil berusaha cari jalan kabur " pikir nya.


Galang melihat ke arah Alifa, tahu gadis itu sedang cemburu.


Galang tersenyum.


Menggenggam tangan Alifa dengan lembut. Dan menuntun nya berjalan menaiki tangga.

__ADS_1


Sorot mata Tania tajam mengikuti kepergian mereka.


"Barusan enak-enaknya ciuman sama aku! Sekarang pergi begitu saja sama dia!" Kesal, merasa di campakkan.


Tangan nya terkepal.


Lalu mengikuti mereka dari belakang.


Galang dan Alifa sampai di depan kamar Alifa.


Berdiri berhadapan saling menatap.


"Apa kamu marah?" Tersenyum hangat, matanya menatap bola mata yang bersinar seperti bintang yang terang itu.


Alifa menundukkan pandangan nya, tak sanggup menatap mata elang Galang yang begitu tajam. Namun, sangat dia sukai.


Memeluk Alifa erat, dan berbisik di telinga nya. "Kamu wanita pertama ku dan terakhirku. Dengan wanita manapun aku bermain, kamu tetap nomor satu. Aku hanya butuh kepuasan, aku tak pernah bisa menahan diri kepada wanita. Maafkan aku."


Mengecup keningnya sekilas, lalu menyuruh nya masuk ke dalam kamar.


"Tidurlah, sudah larut." Senyuman hangat kembali terukir dari bibir **** Galang.


Alifa balas tersenyum dengan wajah ceria.


Kata-kata Galang barusan, membuat nya bahagia. Dia hanya fokus pada kata 'Kau adalah wanita pertama ku dan terakhirku, juga nomor satu' itu saja.


Masuk ke dalam kamar nya dengan wajah merona bahagia.


Dari belakang mereka, Tania menatap nya aneh.


"Alifa, perempuan lain mendengar perkataan nya itu akan marah dan menangis, bahkan minta putus. Tapi, kamu malah sesenang itu, dasar bodoh!" Memaki Alifa dalam hatinya.


Galang menoleh ke arah Tania berdiri.


Tania terkejut melihat tatapan tajam dari Galang. Segera berjalan menuju ke dalam kamar nya, yang berada di sebelah kamar Alifa.


Segera masuk dan mengunci pintu kamar nya.


Galang menuruni tangga, dan memasuki ruang CCTV, ingin memeriksa kejadian saat dia meninggalkan mereka beberapa jam tadi.


Tertawa sinis, melihat Tania berlarian di dalam rumah tak bisa kabur.


"Dasar bodoh!"


Matanya terpaku melihat kejadian lain nya, Alifa tampak menggosok-gosokan kakinya ke lantai dan mengusap pipinya, saat dia berciuman dengan Tania.


"Sedang apa dia?" Bertanya pada dirinya sendiri.


Lalu, melihat ulang bagian itu dengan mode Zoom.


Tersenyum lebar. "Dia menangis, apa kamu cemburu? Artinya kamu benar-benar mencintai aku kan."


Raut wajah Galang tiba-tiba saja senang, matanya berbinar.


Keluar dari ruang CCTV, masuk kedalam kamar nya dan tidur dengan nyaman sambil memeluk bantal guling.


Bersambung...


...--------------------------------...


...----------------...


...Happy Reading...


...Di tunggu dukungannya ya ;...


...Like...


...Vote...


...Rate...


...Komentar...


...Terimakasih banyak atas dukungan nya...

__ADS_1


...salam...


...mirastory...


__ADS_2