Cinta Terdalam Ku Untuk Tuan Muda Kejam

Cinta Terdalam Ku Untuk Tuan Muda Kejam
Pertemuan Tak di Sengaja (5 tahun yang lalu)


__ADS_3

...Selamat Membaca...


14 hari berlalu setelah Alifa dan teman-teman nya makan bersama.


Sekarang Alifa sudah duduk di kelas satu SMU.


Tersenyum menatap dirinya di cermin.


"Wah, adik kakak udah gadis nih." Teguh kakak nya, mengusek rambut adiknya sayang.


"Kak, kusut lagi rambut ku." Cemberut.


"Haha." Teguh tergelak.


"Ayo berangkat, nanti kesiangan." Teguh baru masuk fakultas hari ini, mengambil jurusan kriminologi. Dia ingin menjadi detektif/Intel.


"Iya, iya."


Setelah berpamitan kepada ayah dan ibu, keduanya berangkat.


Alifa diantar teguh ke sekolah nya.


Setelah itu, teguh menuju ke kampusnya.


Alifa, Sandra dan Dewi kembali satu kelas. Mereka tentu saja senang, bisa kembali berkumpul.


"Teng teng" bunyi bel tanda pulang.


Sandra naik motor maticnya, sedangkan Dewi di jemput sopirnya.


Alifa akan pulang naik angkot, karena teguh tadi menelpon gak bisa jemput.


Alifa berdiri di pinggir jalan. Ini hari pertamanya masuk SMU, dia masih sedikit takut. Dia tidak pernah naik angkot sebelumnya, biasa nya ayah atau kakak nya yang selalu mengantar kemanapun.


Jika pergi bareng Dewi atau Sandra, mereka yang mengantar dan menjemput nya.


Tapi, hati ini Sandra buru - buru. Ibunya menyuruhnya membeli obat dulu ke apotik.


Dan Dewi, harus segera pulang. Ada pertemuan keluarga menyambut kepulangan kakak nya dari luar negeri.


Sebagian besar teman nya sudah naik angkot, jalanan mulai sedikit sepi.


"Huuh, aku jalan kaki saja sambil nunggu angkot." gumam nya.


Berjalan menelusuri jalanan, cuaca sangat tidak mendukung.


Tiba-tiba saja cuaca gelap. Rintik - rintik hujan mulai turun.


Alifa berlindung di bawah pohon besar.


"Bagaimana ini, gak ada angkot kosong. Hp ku lowbat lagi." Alifa, meremas tas gendong nya.


Ada rasa takut ketemu orang jahat.


Tiba-tiba saja sebuah mobil Ferrari berhenti di depan nya.


Alifa memperhatikan, siapa yang ada di dalam mobil itu.


"Bukankah itu pemilik restoran yang waktu itu, ya " gumamnya.


Galang mengintip dari jendela mobil yang di buka nya, dia tersenyum tipis. Tatapan mata dari manik mata hitam pekatnya serasa menusuk ke jantung Alifa.


"Deg deg." Jantung Alifa kembali berdegup kencang.


"Hujan semakin besar, ikut lah dengan ku!" Sudut bibirnya terangkat, tampan tapi menakutkan.


Alifa menggelengkan kepalanya." Terimakasih, tidak perlu pak!" tersenyum dengan wajah yang merona, malu dan takut jadi satu.


Tangan nya sedikit gemetar.

__ADS_1


Tapi Galang langsung turun dari mobilnya, tak peduli dirinya kehujanan.


Berjalan memutar menghampiri Alifa. Menggenggam tangan nya keras, dan menariknya, lalu memasukkan nya ke dalam mobil.


Alifa terkejut, wajahnya mulai terlihat panik.


"Klik," Mobil sudah terkunci secara otomatis. Galang menyeringai.


"Kenapa? kamu takut?" Galang melajukan mobilnya.


"Iya, saya takut. Saya tidak pernah pergi dengan orang asing." Jawab Alifa polos, tubuhnya gemetaran. Antara kedinginan dan ketakutan.


"Galang tersenyum tipis."


Alifa melirik dengan ekor matanya, tak di pungkiri Galang memang sangat tampan, tapi juga menakutkan, pikir nya.


Alifa semakin ketakutan, saat melirik e arah jalanan. Mobil pergi menjauh dari kompleks tempat tinggal nya.


"Pak hentikan, rumah saya ada di sana." Alifa menengok ke arah belakang, dia menunjuk dengan jari nya.


Tapi Galang terus melajukan mobilnya dengan cepat, tak menghiraukan rengekan Alifa yang ketakutan.


Hampi 4 jam perjalanan.


Mereka tiba di sebuah Villa yang jauh dari keramaian.


Vila yang mewah dan besar, yang berada di dekat area pegunungan. Atau lebih mirip dekat dengan hutan.


Alifa tampak terlelap, setelah tadi lebih dari satu jam menangis, merengek minta pulang.


Entah apa yang ada di pikiran Galang.


Dia membawa anak gadis orang begitu saja.


Hujan sudah mereda.


Memarkirkan mobilnya di garasi, menggendong Alifa dengan lembut, dan membaringkan tubuhnya di atas kasur di kamar yang cukup luas .


"Deg" Jantung Galang berdegup kencang, menatap dalam tubuh polos di depan nya, menelan saliva nya kuat.


Menggelengkan kepalanya kuat-kuat, dia bergumam." Dia masih bocah, belum cukup umur untuk bercinta."


Mengganti pakaian nya beserta dalaman nya dengan yang baru, supaya dia tidak kedinginan.


Semua kebutuhan Alifa sudah dia siapkan sejak jauh hari.


Saat Alifa membuka matanya, dia terkejut. Pakaian nya sudah berganti, mengintip dalaman nya juga sudah berganti.


"Siapa yang mengganti semua pakaian ku?" Rasa takut langsung memenuhi hatinya.


"Jangan-jangan orang itu!" pikir nya.


Berjalan keluar dari kamarnya, menelusuri setiap sudut ruangan.


Dia melihat Galang sedang duduk santai sambil minum es jeruk.


"Apa tidak salah, di cuaca sedingin ini dia minum es." Alifa bisa melihat jelas es batu yang banyak di gelas minuman nya.


Merasa ada yang memperhatikan, Galang menoleh.


Manik mata hitam pekat nya menatap Alifa dengan tajam, begitu mengintimidasi. Membuat Alifa gemetar ketakutan.


"Kemarilah!" Suaranya datar, namun terdengar tegas dan mengintimidasi.


Alifa masih berdiri mematung, antara bingung dan takut. Badan nya gemetaran.


"Apa aku di culik?" gumam nya.


Tiba-tiba saja, air matanya menetes dari pelupuk matanya, mengalir semakin deras, menganak sungai membasahi pipinya, jatuh hingga ke lantai.

__ADS_1


Galang semakin tajam menatap Alifa.


"Kemarilah! Aku tidak suka bicara berulang-ulang !" Kakinya melangkah panjang-panjang ke arah Alifa.


Alifa seakan kehilangan tenaganya, dia ketakutan. Tak mampu meski mengangkat sebelah kakinya saja.


Galang sudah ada di hadapannya, dengan kasar dia menarik tangan Alifa.


Menyeret nya ke dalam sebuah ruangan gelap dan pengap.


"Brukk" Alifa di banting, hingga tersungkur. Menutup pintu, mengunci nya dari luar lalu pergi.


"Kak lepaskan aku! Keluarkan aku dari sini!" Alifa berteriak-teriak memukul-mukul pintu ruangan gelap itu.


Namun, Galang tak peduli. "Ini adalah caraku mengajarimu agar patuh!" gumam nya.


Alifa yang takut gelap memejamkan matanya, dia duduk di depan pintu dengan memeluk lututnya. Wajahnya menunduk mencium lututnya sendiri.


Isakan tak henti-hentinya keluar dari mulutnya.


"Kenapa orang itu begitu jahat!" gumam nya.


Alifa berpikir, dia tidak mengenalnya, tidak juga mengganggu nya, apa salahnya hingga dia di perlakukan seperti ini.


Rasa takut semakin menyeruak memenuhi hatinya. Badan nya gemetar karena takut.


Sementara itu Galang duduk bersandar di sopa yang ada di kamar nya.


Memejamkan matanya, dia sedang berpikir.


Saat pertama kali melihat Alifa tersenyum di restoran, jantung nya berdegup kencang.


Ada rasa ingin menjadikan nya miliknya seorang, dia terus teringat bayangan wajah manis Alifa.


Hingga saat tak sengaja melihatnya, pikiran jahatnya mendominasi.


Dia menculik Alifa dan membawanya pergi jauh, dia hanya akan menjadi miliknya seorang.


Tapi ***** nya yang begitu kuat tak kunjung hilang.


Dengan cepat Galang pergi dari vila itu. Menuju apartemen nya di kota.


Perjalanan yang cukup panjang, menempuh waktu hampir 4 jam.


Waktu menunjukkan pukul 11 malam.


Dia sudah berada di dalam kamar apartemen, dengan seorang wanita bayaran yang sudah di pesan nya tadi.


Menumpahkan hasrat yang sudah dia pendam selama beberapa jam tadi.


Bersambung...


...****************...


...Happy Reading...


...Di tunggu dukungannya ya ;...


...Like...


...Hadiah...


...Vote...


...Rate...


...Komentar...


...Terimakasih banyak atas dukungan nya...

__ADS_1


...salam...


...mirastory...


__ADS_2