Cinta Terdalam Ku Untuk Tuan Muda Kejam

Cinta Terdalam Ku Untuk Tuan Muda Kejam
Mencoba Bersama Sonia


__ADS_3

...Selamat Membaca...


Dia sadar siapa Galang.


Pria itu takan pernah berubah.


Kak Galangnya adalah pria yang suka mencari kesenangan dan tak akan pernah mencintai satu wanita manapun.


Tapi Alifa yakin hati kak Galang sebenarnya hanya untuk dirinya seorang. Dia sudah mengenal begitu dalam tentang pria itu.


Kak Galangnya hanya butuh teman tidur, penghangat ranjang. Namun, kenapa kak Galang tak pernah melakukannya pada dirinya?


Alifa tak tau alasan nya.


Yang sebenarnya, Galang tak ingin merusak Alifa. Wanita yang sudah memenangkan hatinya.


"Hei kenapa reaksimu begitu? Apa kamu gak suka mendengar kak Galang punya pacar?" Brian menyelidik.


"Ah, kenapa aku harus seperti itu?" Alifa tersenyum, balik bertanya.


Menutupi hatinya yang berdenyut nyeri.


"Tapi, kamu kelihatan seperti seorang pacar yang sedang cemburu. Apa kamu sedang cemburu?" Tanya Brian dengan tatapan menyelidik, ingin tau.


"Apaan sih." Alifa membalikkan badannya, tak mau Brian melihat ekspresi nya.


"Hei jangan marah begitu." Brian menyentuh bahu Alifa dan mencondongkan tubuhnya.


Jika di lihat sekilas, seolah sedang bermesraan. Padahal tidak seperti itu.


Prang


Tiba-tiba saja terdengar suara benda jatuh.


Alifa dan Brian, seketika menoleh ke sumber suara. Tampak Galang berdiri dengan wajah yang masam.


Galang sengaja menjatuhkan vas bunga, karena tak suka melihat kemesraan Brian dan Alifa.


Pikirnya, mereka sedang bermesraan.


Padahal tak seperti itu.


"Kami gak melakukan apa-apa! Jangan salah paham kak." Tiba-tiba saja Alifa berkata dengan paniknya.


Takut kak Galang nya marah.


"Kenapa bicara begitu Fa? Toh kita ini kan sepasang kekasih, gak perlu malu." Brian tersenyum sinis kearah Galang.


Brian kesal, karena dia sadar ternyata di hati Alifa memang ada kakaknya. Dia sadar itu, dari reaksi yang Alifa tunjukkan.


Galang menatap kedua nya dengan dingin, lalu meninggalkan mereka tanpa bicara sepatah katapun.


Tapi, Alifa tau ekspresi itu.


Galang sedang marah.


"Fa aku menyukaimu, maukah kamu memberiku kesempatan?" Brian menggenggam tangan Alifa dengan erat.


Wajahnya sendu, menatap Alifa dengan dalam. Memperlihatkan perasaan sayangnya.


"Kakak pasti salah. Kita baru saling kenal, mana mungkin secepat ini kakak suka pada ku." Alifa merasa sedikit bingung.


"Aku sudah memantapkan hati ku, Fa. Dan aku memang menyayangi mu." Brian menatap Alifa penuh harap.


"(....)" Alifa terdiam, dia sedang berpikir keras.


Dia tak mencintai Brian, di hatinya ada Galang seorang.

__ADS_1


Lama tak mendapat jawaban, akhirnya Brian bersuara. "Aku akan menunggu jawabanmu, tak perlu kamu jawab sekarang." Dengan lembut Brian berkata.


"Kak, aku..."


"Sudah lah, jawab nanti jika kamu sudah menemukan jawabannya. Tapi, jangan lama-lama." Tersenyum menggoda.


Alifa ikut tersenyum.


Membuat hati Brian makin meleleh.


Senyuman Alifa yang begitu manis, dengan kedua lesung pipit yang membuat nya makin menawan.


Alifa gusar, dia merasa semakin bingung.


Brian berusaha mencairkan suasana dengan mengalihkan topik pembicaraan. Meski begitu Brian sadar, sepertinya Alifa tidak konsentrasi saat bicara.


Hingga tiba waktunya makan siang. Mereka mulai pergi ke sebuah restoran milik Galang.


Saat makan suasana begitu hening, sesekali Galang menatap Alifa dan sebaliknya.


Alifa sadar arti tatapan itu, mata Galang mengisyaratkan sesuatu. 'Ia mengajaknya bertemu ' Alifa berdiri. "Saya ke toilet dulu sebentar." ujarnya.


"Oke, apa perlu saya antar?" Tanya Brian dengan seulas senyuman.


"Nggak usah kak, terimakasih." Jawab Alifa dengan wajah merona, dia tersipu mendengar perkataan Brian.


Brian mengangguk. " Jangan lama-lama, okey." Mengedipkan satu matanya.


Alifa hanya tersenyum, lalu pamit pada Sonia dan Galang juga.


Alifa melangkahkan kakinya dengan cepat menuju toilet wanita.


Dia yakin, kak Galang nya akan mengikuti.


Dugaannya memang benar, Galang mengikutinya. Saat Alifa hendak memasuki toilet, tangan seseorang mencengkram tangannya. Dan itu adalah tangan Galang.


Alifa hapal sentuhan itu, sentuhan kak Galang nya.


"Kak!" Pekik Alifa terkejut, ini tempat umum. Bahkan ada beberapa orang yang lewat. Mereka hendak ke toilet.


Galang mengerutkan dahi nya tanpa berkata.


Tapi, Alifa tahu kalau kak Galang nya sedang bertanya padanya. Alifa menggelengkan kepalanya. Dia tahu apa yang sedang ditanyakan oleh Galang.


Galang tersenyum, menarik Alifa dari toilet wanita. Membawanya ke arah ruangan pribadinya di restoran ini. Restoran miliknya.


Kini mereka sudah berada di dalam ruangan pribadi Galang. Dia mengunci pintunya rapat -rapat.


Galang menarik pinggang ramping Alifa, memeluknya erat dan merapat dengan tubuhnya hingga otot-ototnya menegang.


Satu tangannya menahan tengkuk Alifa, lalu menjalar ke kepala gadis itu. Dan menyelipkan jemari tangannya kedalam rambut Alifa.


Alifa seakan tak bisa bernafas dengan jarak yang begitu dekat. Hembusan nafas Galang begitu dekat dan hangat menerpa wajahnya.


Tatapan mata tajam itu, berubah sendu dan sayu berkabut gairah.


Wajah mereka semakin dekat. Tapi, Alifa tidak mau memejamkan matanya. Dia ingin menikmati setiap ekspresi wajah kak Galang nya yang begitu tampan dan memesona.


Nafas Galang semakin berat dan hangat menerpa, hingga akhirnya satu ******* mendarat sempurna dibibir Alifa.


"Ummmh." Hanya itu yang keluar dari mulut Alifa.


Galang mengeksplor bibir ranum Alifa dengan gairah yang menyala-nyala.


Tangan Alifa mulai mengalung dilehernya.


Galang semakin tak terkendali, semakin buas dan bergairah.

__ADS_1


Tangan yang memeluk pinggang itu, kini sudah merambat naik ke punggung dan menjalar ke dada.


Menyentuh sensual benda kenyal yang begitu menggoda.


Alifa semakin tergoda. Dia menurunkan tangannya dari leher Galang, kini tangannya sudah memeluk punggung Galang erat.


Lututnya terasa lemas, dia semakin mengeratkan pelukannya. Takut terjatuh.


Galang menghentikan pagutannya, nafas mereka tersengal. Saling tatap dengan dalam.


Lalu Alifa menundukkan pandangannya, tidak sanggup harus lama-lama bertatapan dengan Galang nya yang begitu memesona.


Dia sadar diri, kak Galang nya tidak akan pernah mencintainya ataupun benar-benar mencintai seorang wanita.


Hanya hasrat dan gairah yang mendorongnya mendekati wanita. Hanya kepuasan yang dibutuhkan pria itu.


Galang membopong tubuh Alifa membawanya keatas sopa.


Alifa terkejut. "Kak!" Pekiknya pelan.


Galang tidak berkata-kata, dia sudah mengungkung wanitanya dari atas. Di atas sopa. Kembali mengecup dan merasai bibir ranum itu dengan lembut, dalam dan makin menuntut.


"Kamu mencintai Brian?" Tanya Galang tepat ditelinga Alifa.


Alifa menggeleng. "Hanya kakak yang aku cintai." Jawab Alifa dengan pipi memerah.


Jika dulu saat mereka bersama di vila itu, dia mengatakan cinta pada Galang atas intimidasi darinya. Tapi kini dia mengatakannya, karena memang dia mengatakannya dari hatinya sendiri.


Galang tersenyum kecut. "Benarkah? Lalu kenapa kamu kabur? Kenapa meninggalkan vila?" Menatap Alifa dengan tatapan mengintimidasi.


Alifa yang masih berada dibawah kungkungan tubuh galang menghela napasnya dengan gusar.


Dia tidak menjawab, tapi dia memejamkan matanya dengan tangan yang megalung ke leher Galang.


Galang tersenyum tipis dan kembali menundukkan wajahnya, mengecup dan merasai bibir ranum milik Alifa nya. Hingga ia berhenti, tidak mau merusak Alifa makin jauh.


Ciuman sudah cukup baginya.


Untuk hal lainnya akan dia lakukan jika mereka sudah menjadi pasangan resmi. Hanya wanita mu***an lah yang akan dia tiduri, wanita yang mau mengobral dan melemparkan diri untuknya. Tapi, bukan Alifa.


"Jaga tubuhmu ini hanya untukku seorang!" Tegas Galang dengan tatapan mata yang tajam.


Alifa replex mengangguk.


Galang tersenyum senang. "Bagus, jauhi Brian!" Tegasnya.


Dia mengubah rencananya 'tidak akan membiarkan Brian, adiknya itu mengambil kesempatan untuk mendekati Alifa' tidak akan!


Galang merapikan penampilannya, tapi bagian tubuhnya yang menegang tidak bisa dengan mudah ia luluhkan.


"Ayo kembali ke meja, mereka menunggu kita." Galang menarik tangan Alifa hingga berdiri.


Alifa sudah berdiri tegak dihadapan Galang.


Galang merapikan rambut Alifa yang berantakan akibat ulahnya itu dengan jemari tangannya, mengusap bibir Alifa dengan lembutnya. Dan mengecupnya kilat.


Alifa hanya diam mematung dengan setiap perlakuan Galang, seperti boneka yang sedang dimainkan oleh pemiliknya.


Tapi ada sudut hatinya yang menghangat, merasakan debaran hebat dan jantungnya berdegup kencang. Meski ia terus mengingatkan diri siapa pria dihadapannya ini, dia Galang yang tidak mungkin mencintai wanita dengan tulus. Hanya hasrat untuk memenuhi kebutuhan biologisnya saja yang dia butuhkan.


Galang membalikkan tubuhnya, lalu berjalan menuju pintu dan segera keluar setelah membuka kuncinya.


Meninggalkan Alifa yang masih mematung dengan pikirannya sendiri.


Sejenak Alifa teringat pada Tania. "Tidak mungkin kak Galang!" Gumamnya, meski ia tahu Galang sangat mampu melakukan hal itu. Galang kasar dan tidak ada belas kasih saat marah.


Tapi, dia yakin Galang tidak setega itu. Alifa berusaha menepis dan mencari semua kebaikan Galang, meski sedikit. Hanya sedikit, pria itu sangat kasar padanya dulu. Tapi juga terkadang begitu lembut. Sungguh membingungkan.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2