
...Selamat Membaca...
Alifa merasa semakin gelisah, dia berfikir untuk kabur dari tempat terkutuk ini.
Dia berusaha menekan rasa takutku nya tapi gagal.
...Paginya...
Dia merasa sangat lapar, sejak kemarin siang dia belum makan. Badan nya terasa lemas luar biasa, bibirnya bergetar. Dia sangat kehausan.
Kepalanya berkunang-kunang. Tapi, Galang masih belum menampakkan dirinya, hanya sekedar untuk memberinya makan atau minuman.
Dia menelusuri ruangan gelap itu, tak mungkin kan jika tak ada fentilasi udara pikir nya.
Tak sengaja tangan nya menyentuh sesuatu di salah satu bagian bawah dinding. Dia meraba nya.
"Hah, aku bisa kabur." tertawa tanpa suara.
Dengan cepat dia menarik penutup dari saluran fentilasi udara itu. Lubang nya cukup besar untuk tubuh mungilnya bisa masuk, bahkan orang dewasa juga pasti masuk.
Merangkak masuk kedalam saluran udara tersebut. Sekitar 5 menit kemudian dia menemukan sebuah cahaya, cahaya kebebasan.
"Yes, aku harus berlari dengan cepat."gumam nya girang.
Dia keluar dari saluran udara itu.
Dia mengedarkan pandangannya, dia berada di sebuah tempat dengan pepohonan kokoh berdiri.
Nyalinya sedikit ciut, untung saja ini sudah siang hari.
"Aku harus kabur secepatnya sebelum orang itu mengejarku." Dengan sisa tenaga yang di milikinya, dia berlari.
"Hah ... hah..." terengah-engah.
Berhenti sebentar.
Berlari dan berlari lagi.
"Hah...hah...." terengah-engah.
Badan nya mulai lemas, kepalanya terasa berputar-putar. Dia duduk bersandar di balik sebuah pohon, dia sudah berada di jalan setapak sekarang. Sedikit lagi pasti sampai jalan raya pikir nya.
Tapi, dia terlalu lemas untuk terus berlari.
Tiupan angin yang menerpa kulitnya, membuai nya begitu nyaman. Hingga dia terlelap dalam tidurnya.
Rambut panjangnya melambai tertiup angin, sebagian menempel di pipinya, karena keringat yang bercucuran.
Sebuah suara mengganggu kenyamanan istirahat nya.
"Enak tidur di sini!" Suaranya keras menggelegar bagaikan petir.
Alifa tersentak, matanya mengerjab-ngerjab, dia masih linglung.
Sejenak dia tersadar.
Bibirnya mulai bergetar, dia ketakutan.
"To tolong biarkan saya pergi! Hik hik." Terisak memeluk kaki Galang penuh harap.
Galang mencengkram tangan nya kasar, menyeret nya masuk ke mobil dengan kasar.
Lalu melajukan mobilnya, kembali membawa Alifa ke dalam Vila.
Sebelumnya,
Galang pulang dari restoran. Dia menangkap seseorang duduk bersandar di bawah pohon besar, lewat kaca spion mobil nya.
Dia segera menghentikan mobilnya, memeriksa. Ternyata benar dugaan nya, itu adalah Alifa.
"Berani juga kamu bocah, lihat apa yang bisa aku lakukan sama kamu!" gumamnya, dengan seringai licik di bibirnya.
Alifa kembali di bawa ke ruang gelap itu.
Galang melepaskan sabuk dari pinggang nya.
"Bukkk...bukkk..." dengan kasar memukul kan nya beberapa kali kepada Alifa.
Alifa hanya menjerit ketakutan dan menahan kesakitan di punggung dan kaki nya.
__ADS_1
"Aaawwwh, hentikan! Sakiiit, kak! Ampuuun. Hik hik hik." Pekik nya memekakan telinga.
"Renungkan kejadian hari ini! Jika kamu melanggarnya, kamu akan mati!" Berbisik dengan suara rendah penuh penekanan, namun mengintimidasi.
"Hiks...hiks....hiks" Alifa hanya terisak.
Punggungnya terasa perih, ada cairan merah akibat goresan sabuk yang begitu keras di punggungnya.
Itulah sebabnya, dia begitu ketakutan dengan ruangan gelap ini, sebuah tempat penyiksaan nyata yang dia pernah rasakan.
Galang kembali ke kamarnya, menghubungi seseorang lewat ponsel nya.
"Galang, kamu semakin gila rupanya!" Pekik seseorang di panggilan telpon itu. Setelah mendengarkan perkataan Galang.
Dia adalah Jimi, dokter psikiatri sekaligus sahabat Galang, tempat Galang menceritakan kondisi kejiwaannya yang sedikit menyimpang.
"Aku tak bisa mengendalikan diri ku! huh!" Galang menghela napasnya.
"Jika kamu marah, ingat pergi saja. Hindari dia, jangan sampai kamu membunuh nya, itu kriminal teman ku. Bahkan tindakan mu menculik nya saja itu sudah kriminal, ck ck." berdecak kesal.
Galang memejamkan matanya.
"Kamu masih di sana?" Jimi.
"Hemm." Galang.
"Datanglah besok, aku akan memeriksa mu. Huuh." Jimi.
"Oke, jam 2 siang aku akan menemuimu." Galang.
"De..."
"Tut Tut Tut. " Galang mematikan panggilan nya.
"Sial, dia selalu menutup panggilan nya. Padahal aku masih ingin bicara." Gerutu Jimi dari sebrang sana.
Malam menjelang.
Galang membuka pintu ruangan gelap itu.
Menyalakan center di ponselnya, menerangi ruangan tanpa lampu itu.
Galang menghampirinya.
Memasukan ponsel ke dalam saku celananya.
Menggendong Alifa, membawanya ke dalam kamar. Memposisikan nya miring.
Membuka dress nya dengan lembut. Tampak beberapa luka memar di punggungnya. Bahkan ada yang berdarah.
Membersihkan lukanya dengan hati-hati dan lembut.
Alifa tak sedikitpun bergerak, dia tak sadarkan diri.
Galang mengoleskan salep antibiotik yang ada di kotak obat dengan lembut. memakaikan dres baru di tubuhnya.
Juniornya meronta-ronta di bawah sana.
"Sial! Huuh." menghela napasnya dalam-dalam dan menghembuskan nya dengan kasar.
Menekan kuat hasratnya.
Dia selalu tidak tahan jika berdekatan apalagi bersentuhan dengan wanita.
Libido nya besar, dia menelan kuat - kuat saliva nya.
Pergi ke dapur, berkutat di tempat itu membuat sepiring nadi goreng ayam, sosis dan segelas teh manis untuk Alifa.
Dia sudah mahir urusan memasak, dia sering mempelajarinya dari para koki nya di restoran miliknya.
Membawa hasil masakannya ke kamar Alifa.
Alifa tampak siuman, dia meringis kesakitan terutama di punggung nya.
Melihat kedatangan Galang, bola matanya membulat badan nya gemetar ketakutan.
"Makan lah."
Alifa tak percaya lelaki kasar itu berkata dengan lembut.
__ADS_1
Tak hanya itu, dia duduk di sisi tempat tidur di sampingnya. Membantunya bangkit, dan menyuapi nya hingga makanan itu habis.
Memberikan nya minum, dan dengan lembut membelai kepalanya.
"Ingat patuhlah, maka hidup mu akan bahagia." Senyuman tipis tersungging dari bibir Galang.
"Katakan kau mencintaiku." Menatap lekat bola mata Alifa, yang bulat bersinar bagaikan matahari.
"A aku mencintaimu." Ucap Alifa tergagap.
Galang kembali tersenyum tipis. "Katakan itu setiap hari, aku ingin mendengar nya. Katakan aku mencintaimu kak Galang."
Suara Galang begitu lembut, dia menyentuh lembut pipi Alifa, menelusurinya hingga berhenti di bibir tipis warna pink segar milik Alifa.
"A aku mencintaimu kak Galang." tangan nya meremas sprei dengan kuat, hatinya berusaha menahan marah dan kesal kepada pria yang sudah menculiknya ini.
"Aku akan menunggumu sampai dewasa, saat itu aku akan menyentuh mu sebagai seorang wanita."
Suara lembutnya, mana ada yang menyangka jika dia pria yang kasar dan jahat. Pikir Alifa.
"Jangan mencoba untuk kabur dari ku, aku bisa menemukan mu dimana pun kamu!" Suaranya telah kembali rendah mengintimidasi dan penuh penekanan.
Galang keluar dari kamar Alifa menutup pintunya rapat-rapat.
Dia segera meninggalkan vila, untuk menyalurkan hasratnya yang sudah membuncah.
"Aku harus pesan wanita." gumamnya, mengetik sesuatu di ponselnya.
Lalu keluar dari vila dengan mobilnya.
Dia yakin Alifa tak akan berani kabur lagi, setelah apa yang dia alami.
Alifa menghela napasnya dalam-dalam, setelah kepergian Galang.
"Cinta, aku mencintaimu, aku mencintaimu kak Galang! Aku harus mengucapkan nya setiap hari, hah yang benar saja. Mana mungkin aku mencintai pria jahat seperti mu." gerutu nya.
1 jam kemudian, dia memberanikan diri untuk turun. Dia turun menelusuri setiap ruangan yang ada di villa ini.
Berhenti di sebuah ruangan yang ada tv besar di dalam nya.
"Klik." Menekan tombol power, menyalakan tv nya.
Air mata seketika berderai melihat berita di Tv.
Anak gadis dinyatakan hilang, nama Alifa Putri, umur 15 tahun. Tidak pulang semenjak pulang sekolah di hari pertamanya masuk SMU.
Tampak ibunya dengan mata sembab memberikan keterangan, ada teguh kakak nya dan juga papa nya.
"Kak temukan aku segera. Hik hik." Alifa mulai terisak, mengingat keluarganya jauh di sana sedang bersedih mencarinya.
Sementara itu di sebuah kamar apartemen.
"Engggh, hemmh." Galang mengerang nikmat, setelah puas dengan pelayanan dari wanita bayaran nya.
Memberikan segepok uang, kepada wanita itu sebelum dia pergi.
Itulah Galang, selalu tak bisa menahan hasrat nya yang tinggi.
Bersambung...
...****************...
...Happy Reading...
...Di tunggu dukungannya ya ;...
...Like ...
...Hadiah...
...Vote ...
...Rate ...
...Komentar...
...Terimakasih banyak atas dukungan nya...
...salam...
__ADS_1
...mirastory...