
Selamat Membaca
"Isshh, apaan sih ibu ini. Anak mu ini gak sejahat itu Bu, lagian untuk apa aku bunuh dia? Apa coba motif ku!" Ketus, namun merangkul bahu ibunya.
Dia tau ibunya sedang cemas.
Galang ikut pulang ke rumah ibunya.
"Duduklah!" Ibu duduk duluan di kursi dan Galang mengikutinya. Lalu duduk si samping ibunda itu.
"Kamu kenapa bisa tersangkut masalah seperti ini sih!" Ibu bertanya dengan nada kesal. Namun, tak bisa menahan bulir air mata nya yang menetes.
"Bu, jangan menangis. Anak mu ini baik-baik saja. Aku emang sempat kencan dengan dia, tapi saat itu dia pula sendiri dengan bahagia." Galang bicara dengan yakin, menatap ibunya yang tampak sedih dan terisak.
"Ibu percaya pada mu nak." Ibu menyeka air matanya.
Galang menatap wanita yang telah melahirkan nya itu dengan lembut. "Ibu hanya perlu percaya pada anak mu ini saja, jangan terprovokasi dengan berita miring apapun. Seburuk apapun aku, aku gak akan melenyapkan nyawa orang." Ucap nya.
"Ibu percaya padamu Galang, tapi tetap saja ibu takut kamu di jadikan tersangka dan di penjara." Lirih.
"Isssh, ibu apaan sih!" Mendesis kesal.
"Siapa pula lagi yang mau di penjara, aku memang sudah jahat padanya. Tapi, aku gak melenyapkan dia!" Menggerutu dalam hati.
"Menginap di sini saja ya, jangan pulang ke apartemen mu!" Tegas ibu. Menatap Galang penuh harap.
"Huuuh, baiklah Bu. Aku akan menginap beberapa hari di sini." Dengan malasnya.
"Tidak! Menginap lah sampai kasus ini selesai. Kalau perlu tinggal di sini selama nya." Ibu tak ingin di bantah lagi.
Galang hanya mengangguk. Lalu naik ke lantai 2 dimana kamarnya berada.
Ibu segera menghubungi suaminya yang sedang berada di luar negri untuk urusan bisnis. Memberitahukan tentang kasus Galang.
Sementara itu, Galang berdiri di balkon kamar nya. Dia sedang menelpon seseorang. "Bereskan vila ku secepatnya jangan sampai ada yang tertinggal, hilangkan semua bukti yang akan memberatkan ku! Paham!"
Tut
Galang mematikan panggilan nya.
Matanya menatap lurus ke atas langit dengan tajam. Bibirnya terkatup rapat, membuat nya terlihat tegas dan kejam.
*
.*
Apartemen Brian
Waktu menunjukkan pukul 8 malam saat Brian pulang. Seperti biasa Alifa menyambut kedatangan nya dengan senyuman yang merekah.
Brian tersenyum lebar, mengusap kepalanya lembut.
"Kak, jangan berlebihan dong." Menatap Brian kesal.
"Heeheh, gak berlebihan ko. Ini hanya wujud kasih sayang ku padamu saja." Tersenyum.
Alifa hanya geleng-geleng kepala.
"Kamu udah masak makan malam?" Setelah duduk di kursi di ruang tv.
"Udah kak. Ayo makan bareng!" Menerima tas kerja yang di sodor kan Brian.
__ADS_1
"Iya. Tapi aku mau mandi dulu." Ujarnya. Tapi, malah menyalakan tv.
Alifa mengangguk, lalu menyimpan tas itu di kamar Brian.
Kring
Kring
Terdengar nada dering dari ponsel Brian.
Panggilan masuk, dengan cepat dia menerima panggilan itu.
"Iya Bu, aku udah dengar berita nya."
"Apa!" Terkejut.
"Ada-ada saja kakak!" Mengeram kesal.
"Iya, iya aku akan ke rumah ibu. Tapi..." Brian terdiam sejenak.
"Itu Bu. Boleh aku membawa teman wanita ku ke rumah?" Nada bicaranya sedikit memelan.
"Belum Bu, doa kan saja. Heheh." Malu - malu.
"Selamat malam ibu, besok pagi aku datang ya."
Alifa dari tadi memperhatikan Brian yang sedang menelpon.
Brian menoleh ke arah Alifa. "Telpon dari ibu." Ucap nya, tersenyum.
Alifa balas senyum, dia mengangguk pelan lalu duduk di samping Brian. "Aku udah siapin air hangat untuk mandi kak, silahkan mandi dulu." Alifa tersenyum.
"Wah wah cocok kamu jadi isteri ku, hehehe." Goda Brian, tergelak kecil.
Brian berdiri masih dengan menyisakan gelak kecilnya, meninggalkan Alifa sendirian di ruang tv.
Kamar mandi
Brian berendam di bathtub dengan senyum yang tersemat di bibir tipis nya yang tak pernah tersentuh rokok.
"Alifa aku menyukaimu, apa kamu merasakan hal yang sama?" Huuh, kamu bilang punya pacar, apa itu benar? Ah, selama janur kuning belum melengkung aku masih bisa merebut mu dari pacarmu itu kan?" Menggelengkan kepalanya kuat-kuat, untuk mengusir pikiran negatif yang merayapi otak nya.
30 menit kemudian, Brian keluar dari kamar nya. Berjalan menuju meja makan, di sana tampak Alifa sedang menata makan malam mereka.
"Ayo kita makan kak." Menggeser kursi untuk Brian.
"Gak perlu perlakukan aku seperti tuan muda juga kali. Hehehe, aku biasa mandiri ko." Tersenyum ceria sambil menatap lekat kepada Alifa.
"Aku senang kok melakukan nya." Alifa Tersenyum, lalu ikut duduk.
Dia sudah terbiasa melayani Galang.
"Tolong ambilkan itu untuk ku." Menunjuk ke arah ayam goreng kecap buatan Alifa yang terlihat menggiurkan.
Alifa tersenyum mengejek. "Katanya mandiri." Cibir nya pelan.
Brian hanya tergelak kecil tanpa suara mendengar cibiran Alifa.
Alifa mengambilkan lauk sesuai permintaan Brian. Mereka pun makan dengan tenang tanpa bersuara setelah berdoa sebelum nya.
Usai makan, Brian membuka obrolan.
__ADS_1
"Besok temani aku ke rumah ibu. Ada hal yang ingin ibu bicara kan, katanya penting." Ucap nya serius.
"Aku gak akan di lamar kan?" Alifa bertanya dengan polos, membuat Brian tergelak tanpa suara.
"Kalau dilamar apa kamu mau?" Tersenyum, dengan tatapan yang lekat penuh harap.
"Aih, gak mau lah. Kan aku udah punya pacar." Berkata dengan yakin.
Brian kecewa.
"Kamu membuat hatiku sedih " Dengan raut sedihnya.
"Ah acting." Alifa tergelak kecil sambil geleng-geleng kepala.
Sesaat kemudian Brian ngakak. "Pintar juga ya kamu."
"Sebenarnya aku seriusan sedih, dan berharap kamu mau jadi kekasih ku." Gumam Brian dalam hati.
Alifa hanya tersenyum melihat tingkah Brian yang santai dan hangat itu. Sungguh beda jauh dengan Galang nya. Eh lagi-lagi teringat Galang.
"Udah malam tidur dulu, jangan lupa pagi sekali kita ke rumah ibu." Brian menatap sayang ke arah Alifa.
Alifa mengangguk sambil tersenyum kecil, lalu berdiri dan melangkahkan kakinya memasuki kamar nya.
Brian duduk dengan senyuman lebar di bibirnya. "Aku akan luluhkan hatimu, Fa. Aku gak yakin kamu punya pacar, buktinya mana dia! Gak ada, cuma khayalan mu saja!"
Brian memasuki kamarnya dan mulai terlelap dalam mimpi indah nya.
Paginya
Sesuai yang telah di bicarakan tadi malam, Alifa bersiap untuk menemani Brian.
"Fa, sudah siap?" Brian mengetuk pintu kamar Alifa.
Alifa membuka pintu dengan senyuman manis yang merekah dari bibir merah muda tanpa Liptin itu.
Manis dan cantik, itulah yang bisa mendeskripsikan Alifa.
Apalagi lesung Pipit yang tercipta saat dia tersenyum membuat nya makin menggemaskan di mata Brian.
Brian terpana melihat Alifa dengan dres di bawah lutut warna biru langit yang sengaja ia belikan kemarin.
Rambut panjang hitam nya tergerai indah menutupi punggung menjuntai hingga pinggang Alifa.
Sepatu flat shoes yang ia pakai membuat ia terlihat segar dan muda. Ya dia memang masih muda, usianya baru menginjak 20 tahun. Sedangkan Brian berusia 25 tahun saat ini.
"Cantik banget kamu Fa." Menatap dengan senyuman yang tercetak manis di bibirnya, tanpa sadar tangannya terulur menyentuh pipi kanan Alifa.
Bersambung......
...----------------...
...----------------...
...----------------...
Selamat membaca, semoga suka dan bisa menghibur.
Mohon maaf jika banyak kesalahan.
Salam hangat dan sehat selalu dari Autor
__ADS_1
mirastory.