Cinta Terdalam Ku Untuk Tuan Muda Kejam

Cinta Terdalam Ku Untuk Tuan Muda Kejam
Berita kematian Tania


__ADS_3

...Selamat membaca...


(POV Alifa)


"Hem, itu kakak belum berdo'a." Kata ku.


Kak Brian terlihat kikuk, malu mungkin.


"Heheh, siapa bilang aku udah doa ko, kamu aja gak denger." Sangkal nya, mungkin untuk mengusir malu.


"Masa?" Aku menggodanya.


"Iya, tadi dalam hati. Heheh."


Kak Brian yang tampan itu tampak menggemaskan, lucu sekali menurut ku.


Sangat beda jauh dengan kak Galang.


Eh, bagaimana kabar nya ya.


Aku jadi rindu kak Galang yang galak dan jutek itu.


Wajah kecut nya, sikap jutek nya, ah tapi menurutku dia sangat tampan dan menarik. Aku suka dia apa adanya, meski galak.


"Hei kenapa?" Kak Brian menatap ku heran.


"Emang aku kenapa kak?" Tanya ku balik, bingung.


"Kelihatannya kamu sedang sedih!" Kak Brian menatap ku heran, dia menyentuh bawah mata ku.


"Tuh kan ada air mata!" Katanya.


Dengan cepat aku menepis tangan nya.


Tak ada yang boleh menyentuh ku, hanya kak Galang yang boleh!


Aku menatap kesal kak Brian.


"Heh, maap. Aku sudah lancang menyentuh mu." Katanya sambil tersenyum penuh sesal.


"Jangan di ulangi!" Kataku ketus, entah kenapa aku jadi kesal padanya.


Padahal dia hanya perhatian saja padaku.


"Oke, aku janji. Kecuali kamu rela aku gak akan sentuh kamu, oke." Dia tersenyum padaku.


Senyuman nya sangat manis, beda dengan kak Galang senyuman nya agak horor heheh. Maaf ya kak Galang kamu memang horor sih.


"Tadi sedih, sekarang tersenyum sendiri! Ck ck." Kak Brian geleng-geleng kepala sambil berdecak.


Aku hanya tersenyum malu pada nya.


"Ayo makan, aku yang pimpin do'a nya." Kak Brian pun membaca basmalah di iringi doa sebelum makan.


Setelah itu kami makan berdua dalam hening.


Usai makan aku mencuci bekas makan kami. Membereskan meja dan dapur lalu aku pergi ke ruang depan untuk nonton tv.


Kak Brian masih belum berangkat, dia sedang berbalas chat sepertinya.


Ku nyalakan tv.


Aku terkejut saat melihat berita, di tv yang baru ku nyalakan.

__ADS_1


"Tania gadis cantik pemilik Tania boutique ditemukan tak bernyawa di daerah sekitar puncak dengan banyak luka benda tumpul."


"Gak mungkin!" Teriak ku.


"Ada apa?" Kak Brian langsung memasukkan hp nya ke dalam saku, dia mengguncang-guncang bahu ku dengan cukup kuat.


Aku diam menatap tv dengan syok.


"Alifa katakan ada apa?" Tanya nya lagi.


"Kamu mengenal orang yang ada dalam berita itu?" Dia bertanya dengan tatapan yang menuju tv.


Aku mengangguk.


"Di dia teman ku!"


Aku langsung bersimpuh di lantai.


Kak Brian menggandeng ku dan nembawa ku ke sopa.


"Sudahlah, itu sudah takdirnya." Dia membelai lembut rambut ku, sangat nyaman.


Tadi aku menepis tangan nya saat dia menyentuh wajah ku.


Tapi, saat ini aku sedang butuh sandaran untuk rasa syok dan sedih ku. Jadi aku terima perhatian kecilnya itu.


"Aku pergi bersamanya waktu itu, aku gak nyangka dia meninggal. Hik hik." Akhirnya tangis ku pecah.


Kak Brian merengkuh ku dalam pelukan nya, membelai punggung ku menenangkan.


"Tenangkan diri mu, Alifa." Katanya lembut.


"Gak mungkin kak Galang yang menangkap dan membunuhnya kan?" Tanya ku dalam hati.


Tiba-tiba dadaku terasa sesak, sakit rasanya.


Mereka bercinta!


Cemburu, aku cemburu!


Aku mencintai kak Galang, dia milik ku saja seharusnya. Tapi, kak Galang dasar Playboy sialan seenaknya celup sana sini tanpa memikirkan perasaan ku.


Tapi, kenapa hatiku tak bisa berpaling darinya? Aku sungguh sudah buta hati seperti nya.


Kesal pada diriku sendiri akhirnya.


Aku berada dalam dekapan kak Brian, terisak-isak. Air mata yang kucoba tahan akhirnya luruh juga.


"Apa kamu orang terakhir yang bersamanya?" Tanya kak Brian padaku.


"Iya kak." Jawab ku.


Aku mengurai dekapan nya, ku seja air mata yang jatuh di pipi ku dengan kedua punggung lengan ku.


Kulihat kak Brian menatap ku, entah apa arti dalam tatapan matanya. Hingga, ia mengatakan sesuatu yang membuatku makin syok.


"Polisi pasti akan menjadikan mu sebagai saksi, karena kamu orang terakhir yang bersamanya." Ucap kak Brian dengan menatap ku lembut.


"Hah, saksi?" Kuremas kedua jemari tangan ku dengan kasar. Hingga terasa panas dan sedikit sakit.


"Tenang saja, aku yakin kamu gak bersalah." Dia tersenyum padaku.


Apa maksud perkataannya coba, apa dia berpikir ada kemungkinan akulah pembunuh nya! Aku jadi kesal padanya.

__ADS_1


"Aku hanya pergi bersamanya, tapi kami berpisah saat itu. Karena, dia udah pergi duluan. Sedangkan aku tertinggal sendiri di dekat hutan itu." Dengan sedikit jengkel aku berkata.


"Aku percaya padamu, mana mungkin Alifa ku berbuat jahat. Bunuh semut saja kamu gak tega gimana bisa ngilangin nyawa orang." Dia tersenyum hangat pada ku.


Aku sedikit lega mendengarnya.


*


*


"Aku berangkat kerja dulu ya, jangan keluar dari apartemen sendirian. Tunggu aku sampai pulang kerja oke." Brian tersenyum dengan tatapan mata yang lembut menatap Alifa penuh sayang.


"Iya kak." Tersenyum.


"Kak...." Alifa terdiam tak melanjutkan perkataannya.


"Ada apa Fa?" Menatapnya dengan senyuman tipis terukir.


"Gak ada apa - apa cuma panggil aja." Tersenyum kikuk.


"Katakan saja gak usah ragu." Menatap nya lembut, tangan nya terangkat hendak menggenggam jemari tangan Alifah.


Tapi Alifa menahan dengan ucapannya. "Aku sudah punya pacar!" Tegas.


"Haha, benarkah? Ck ck tadi mau aku peluk - peluk." Dengan nada mengejek.


Alifa mengerucutkan bibirnya. "Tadi itu aku lagi sedih banget kak!" Jengkel pada Brian.


"Heheh, jadi sekarang udah sembuh sedih nya?" Menusuk pipi Alifa yang ada lesung Pipit nya jika sedang tersenyum.


"Ishh, jangan sembarangan colek -colek kak!" Makin jengkel.


"Iya, iya. Kalau gitu aku pergi dulu ya." Tersenyum sekilas, lalu pergi setelah Alifa mengangguk kan wajahnya.


Kini Alifa sendirian di apartemen Brian.


Membereskan apartemen, lalu duduk di depan tv setelah beres.


"Kak Galang, gak mungkin dia bunuh Tania kan?" Gusar dengan pikirannya sendiri.


Sementara itu di tempat lain nya.


"Tuuan Galang kami butuh keterangan dari anda mengenai nona Tania yang meninggal tidak jauh dari vila anda." Seorang polisi mendatangi Galang di restoran miliknya.


"Tentu " Galang menjawab dengan tenang, dia segera mengikuti polisi.


Sebelumnya, dia memberikan kuasa kepada asistennya untuk mengurus restoran selama ia pergi ke kantor polisi.


...Kantor Polisi...


Hampir 3 jam Galang di cecar pertanyaan. Namun, ia dapat menjawab semua pertanyaan nya dengan tenang.


Dia tidak terlihat seperti orang yang bersalah.


"Galang! Kamu gak bunuh wanita itu kan?" Tiba-tiba saja seorang wanita sekitar usia 50 tahunan berteriak histeris sambil terisak.


Bersambung....


Selamat membaca semoga suka, maaf ya jarang update.


salam hangat dari Autor


mirastory.

__ADS_1


__ADS_2