
Menyapukan kayu putih di seluruh kulit Alifa, agar tidak kedinginan.
Memakai kan satu demi satu kain untuk menutupi tubuh Alifa.
Dia memakaikan setelan lengan panjang dan celana panjang.
Menyisirkan rambutnya dengan rapi dan lembut.
Mengecup bibir nya sekilas, lalu keluar dari kamar.
Setelah mendengar suara pintu tertutup, Alifa membuka matanya.
Dia bingung dengan perlakuan Galang barusan, lembut dan manis, gumam nya. Senyuman tipis terukir di bibirnya yang tipis.
Saat sedang melakukan Galang, terdengar kembali suara langkah kaki mendekati kamar nya.
Alifa kembali pura-pura tertidur.
Galang masuk kembali ke kamar Alifa.
Menyimpan makanan di atas nakas, lalu membelai lembut pipinya cukup lama.
Mengecup keningnya cukup lama.
Lalu keluar dari kamar Alifa.
Alifa tersenyum mendapatkan perlakuan manis dari Galang, meski dia tau Galang adalah pria yang dingin dan memiliki sisi kejam.
Segera duduk dengan lemas, mulai menyantap makanan dan minuman yang di bawa Galang.
Dia sangat lapar.
...Galang...
Galang menghampiri Tania yang sedang duduk di tepi kolam renang.
Hanya memakai celana pendek dan tangtop warna merah menggoda.
Tubuh dan rambut basah nya begitu menggoda.
Apalagi, hasrat nya sudah sangat membuncah semenjak melihat tubuh Alifa tadi.
Tania sudah tau arti sorot mata nakal Galang, meski dia diam dengan raut wajah yang datar.
Meraih tangan Galang dan membawanya menuruni kolam renang.
Saling bertukar saliva di dalam kolam renang, dengan ***** yang sama besarnya.
Sekali lagi mereka melakukan perbuatan dosa. Kali ini mereka melakukan nya, di sisi kolam renang.
...Masa lalu...
Alifa duduk bersandar di tempat tidur, pandangan nya lurus kedepan.
Dia mengingat kembali kejadian 5 tahun yang lalu.
Saat itu,
Alifa dan dua teman nya Sandra dan Dewi baru lulus SMP.
Mereka membuat janji temu akhir pekan. Makan di restoran berbintang, dengan Dewi yang mentraktir nya, tentu saja. Dewi adalah orang paling kaya diantara mereka bertiga.
"Hei, lihat kakak itu ganteng banget." Dewi menunjuk dengan ekor matanya kearah seorang pemuda tampan dan bertubuh tegap yang sedang berbicara dengan manager restoran.
"Dasar otak mesum, masih kecil udah keganjenan." Sandra memukul lengan Dewi pelan. Tapi, matanya melotot menatap pria tampan itu.
"Kamu juga sama!" Dewi mencubit lengan Sandra pelan.
Mereka tergelak kencang, hingga banyak tamu yang menoleh.
"Fa, kenapa diam aja." Dewi menepuk punggung lengan Alifa pelan.
Alifa hanya tersenyum. " Kita ke sini kan untuk makan, sudah-sudah ayo makan." Alifa hanya fokus pada makanan nya saja.
"Ayo kita buat taruhan!" Sandra berbisik kepada Alifa dan Dewi.
Mereka bertiga saling memandang.
"Taruhan apa?" Alifa seperti nya penasaran.
"Diantara kita bertiga, siapa yang bisa menggoda kakak ganteng itu. Heheh." Sandara tertawa malu.
__ADS_1
"Kirain apa!" Alifa dan Dewi bersamaan.
"Tapi seru juga, ayo kita mulai!" Dewi Antusias.
"Aku gak ikutan." Alifa, menyedot minuman nya.
"Kenapa?" Dewi dan Sandra kompak. Mereka bersamaan menatap Alifa.
"Kalian tau kan aku pemalu, bagaimana cara nya merayu, aku gak tau." Mengendikan bahunya.
"Ikuti saja kata hatimu." Dewi tergelak.
Sandra yang memulai duluan. Dia memanggil pelayan.
"Mba, itu siapa ya?" Menunjuk dengan ekor matanya ke arah pemuda tampan itu.
"Itu pemilik restoran ini, pak Galang." Jawab pelayan perempuan itu dengan sopan nya.
"Wah, masih muda, keren, ganteng kaya lagi." Gumam Sandra, makin antusias.
"Hemm, bisa tolong suruh ke sini mba, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan." tersenyum imut.
Alifa hanya menahan tawanya, sambil mengunyah.
Dewi sudah mulai cekikikan.
"Iya, saya akan sampaikan." Jawab pelayan dengan sopan, lalu meninggalkan mereka bertiga.
Mereka memperhatikan kepergian pelayan tadi. Betul saja pelayan itu, menemui bos nya dan mengatakan sesuatu.
Tampak pria tampan pemilik restoran itu menoleh ke arah mereka bertiga.
Sandra langsung melambaikan tangannya, tanda kalau dia lah yang membutuhkan nya.
Pria itu segera melangkahkan kakinya dengan wajah cool dan kharismatik.
Dia sudah berada di dekat mereka bertiga.
"Ehm, kenalkan nama saya sandra." Tersenyum imut, mengulurkan tangannya.
"Saya Galang, ada yang perlu saya bantu? Apa pelayanan kami kurang memuaskan?" Tanpa menerima jabatan tangan Sandra.
"Aku udah klepek-klepek nih!" Dalam hati Sandra.
Alifa tidak menghiraukan usaha Sandra untuk menggoda Galang.
Berbeda dengan Dewi, yang terus melirik ke arah Galang. "Ya ampun! Ganteng banget sih."
"Iya, ada." Mulai merajuk.
"Hem, tolong katakan. Supaya saya bisa mulai memperbaikinya." Galang terlihat serius.
"Anda sudah membuat saya jatuh cinta pada pandangan pertama kak, mau kan kakak jadi pacar saya." Senyum imut nya kembali di sunggingkan, dengan mata yang di kerjab-kerjabkan seperti boneka.
"Uhuk-uhuk."
"Kamu masih kecil, tapi berani merayu pria dewasa seperti saya, ya." Menggelengkan kepalanya, lalu pergi begitu saja meninggalkan mereka.
"Hi hi hi." Alifa dan Dewi cekikikan.
Sandra hanya mendengus kesal, di tertawa kan.
"Dia bener, kamu masih kecil udah berani rayu-rayu cowok. Dasar ganjen!" Dewi menepuk bahu Sandra cukup keras.
"Lagian, kamu kok langsung to the poin gitu sih!" Alifa menggelengkan kepalanya heran.
"With, oke aku gagal. Sekarang giliran kalian. Aku yakin kalian bakal gagal juga heheh." terkekeh.
"Aku gak ikutan." Alifa.
"Liat dong aku!" Dewi mengibas-ngibaskan rambut panjangnya.
Dia berjalan dengan elegan menuju ke arah Galang.
"Kak!" Berkata dengan suara yang di lembut-lembut kan.
"Kamu teman nya gadis yang bernama Sandra itu kan?" tanya Galang.
"Iya betul." Tersenyum elegan.
Galang melihat postur tubuh Dewi, yang memang lebih padat berisi dan dari penampilannya terlihat lebih dewasa.
__ADS_1
Meski usianya mereka sama, Dewi lebih fashionable. Mungkin, karena Dewi orang kaya.
"Ada apa?"
"Nama saya Dewi." Mengulurkan tangannya.
Galang menatap tangan kecil itu, dia tak menerima jabatan tangan nya.
"Kalau kamu mau merayu saya seperti teman mu, lupakan! Saya lebih tertarik wanita dewasa, bukan anak kecil seperti mu. Lebih baik cepat pulang sebentar lagi gelap." Ada senyum tipis di bibirnya.
Mendengar perkataan Galang, Dewi tersenyum kecut. Menghentakkan kakinya, lalu pergi.
Dari meja, Alifa dan Sandra cekikikan. Mereka sudah tau, kalau Dewi pasti gagal.
"Dasar sombong dia! Huuh." Gerutu Dewi, mendudukkan bokong nya di kursi dengan keras.
"Fpppt." Alifa dan Sandra masih menahan tawanya.
"Sudah dong ngetawain aku nya." Kesal Dewi.
"Sekarang giliran mu!" Dewi menyeringai kepada Alifa.
Alifa langsung pias, jangan kan merayu pria dewasa seperti Galang. Pacaran sama pria seumuran saja belum pernah.
Bagaimana caranya dia sangat tabu, dia jadi bingung.
"Iya, Lifa. Giliran kamu. Masa kita udah maju sampai malu, kamu diem aja. Gak setia kawan!x Dewi dan Sandra menggerutu.
"Huuuh. Akan aku coba." Akhir nya Alifa memutuskan.
Dia masih duduk di kursinya, menatap ke arah pria bernama Galang itu dengan kedua tangan nya yang saling meremas di bawah meja. Dia sangat takut.
Di saat bersamaan Galang melihat kearahnya.
Dia tersenyum dengan tatapan yang begitu tajam menusuk ke jantung Alifa.
Deg
Deg
Alifa langsung menundukkan pandangan nya.
"Cemen, belum apa -apa udah gugup." Ejek Dewi.
"Maap, aku gak seberani itu." Alifa mengurungkan niatnya.
"Ya udah-udah. Udah jam 5 sore, pulang yuk." Ajak Sandra.
" Okey." Mereka bertiga pun keluar dari restoran.
Tatapan Galang mengarah kepada Alifa, sampai menghilang di pintu keluar.
Ada senyum yang tak bisa di artikan tersungging dari sudut bibirnya.
Bersambung...
...****************...
...Terimakasih untuk para reader's ku yang setia menunggu update Cinta Terdalam....
...Jangan lupa dukungan nya ya....
...Happy Reading...
...Di tunggu dukungannya ya ;...
...Like ...
...Hadiah...
...Vote ...
...Rate ...
...Komentar...
...Terimakasih banyak atas dukungan nya...
...salam...
...mirastory...
__ADS_1