
Galang berdiri tanpa bertanya. Menyeret tubuh Alifa ke suatu ruangan.
Ruangan gelap tanpa cahaya, yang di takuti Alifa. Tempat hukuman akan berjalan.
"Apa salah ku? Tania berbohong! Percayalah!" Alifa berkata dengan getir, air matanya sudah mengalir deras seperti sungai nil.
"Jangan banyak bicara lagi! Kamu lebih banyak tau kondisi rumah ini! Kamu pasti yang bohong!"
Mendorong tubuh Alifa masuk ke ruangan gelap itu. Dan mengunci pintu nya rapat.
Ruangan itu gelap dan pengap. Hanya ada satu satu lubang udara ukuran kecil.
Dulu waktu dia mencoba kabur selama 7 hari, dia di kurung di tempat ini. Karena takut kegelapan, maka tempat ini terasa sangat menakutkan bagi Alifa.
Alifa duduk di pojok dengan memeluk lutut nya sendiri, wajah nya menunduk mencium lututnya sambil menangis terisak.
"Apa yang kamu pikirkan Tania, kenapa berbohong. Hiks." gumam nya.
...Galang...
Galang masuk ke ruang kerjanya, duduk menggusar wajah nya kasar.
"Tok tok tok" Terdengar suara ketukan pintu.
Dia tau pasti Tania, siapa lagi? Kan tidak ada orang lain di sini.
"Masuklah!"
Tania membuka pintu dan masuk, lalu menutup kembali pintu nya.
"Maap kan aku yang mencoba kabur." Menatap penuh sesal. Akting.
Galang menatap nya dengan datar. Dia tidak mencintai Tania, hanya membutuhkannya untuk memenuhi kebutuhan biologisnya yang besar.
Menatap pakaian yang di pakai Tania dari atas sampai bawah.
Dres warna kuning motif bunga tanpa lengan, yang pas di badannya. Panjangnya di atas lutut.
Gilang berdiri.
Menyentuh bahu Tania, menelusuri nya hingga turun ke pinggang nya.
Mata mereka saling beradu.
Tania hanya mencari cara agar bisa kabur. Menyerahkan diri, dan menjerat Galang akan memberikan nya jalan keluar dari tempat ini, pikir nya.
Tania mendekatkan bibirnya, di telinga Galang dan berbisik nakal.
"Apa kamu mau?" Bibirnya tersenyum genit.
Galang tersenyum tipis. Dalam hatinya dia bergumam. "Wanita murahan! Kamu tak kan bisa menggantikan posisi Alifa."
Nafsunya sangat besar, dia tidak mampu menahan godaan dan rayuan wanita untuk bercinta.
Galang menggandeng Tania masuk ke dalam kamar nya.
Menutup pintunya rapat-rapat. Dan melakukan perbuatan dosa itu sekali lagi.
...Alifa...
Alifa mengingat-ingat saat pertemuan pertamanya dengan galang.
Pria itu sudah membuatnya jatuh cinta, pada usia remaja nya. Entah itu cinta beneran atau cinta monyet, dia tidak tau.
Membaringkan tubuhnya di kegelapan. Yang hanya beralaskan tikar tipis, tanpa selimut dan bantal.
Mata nya terpejam.
Air matanya meleleh membasahi tikar. Jemari tangan nya saling menaut dengan gemetar.
Dia tidak mau membuka matanya, meskipun tidak tidur.
__ADS_1
Dia takut kegelapan.
Bibirnya bergumam." Apa salahku! Aku tidak berbohong! Hik hik!
Badannya menggigil karena dingin.
...Kota A...
Waktu menunjukkan pukul 12 siang.
Jauh di tempat lain nya, di sebuah kota besar dengan lalu lalang kendaraan yang cukup padat.
Seorang pemuda tampan dengan pakaian kasual dan kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, sedang duduk di kursi di pojokan sebuah kafe.
Pria itu tampak sedang menerima sebuah panggilan.
"Iya bu, doa kan saja semoga aku bisa menemukan adik tersayang ku." Panggilan pun berakhir.
Menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Lifa, kamu di mana sebenarnya. Semoga kamu baik-baik saja." Gumam pria tampan itu.
Dia adalah Teguh, Alifa adiknya menghilang 5 tahun yang lalu. Sampai sekarang tidak ada kabar.
Sekarang dia sudah bekerja menjadi detektif, yang menyelidiki berbagai kasus penculikan dan pembunuhan.
Teguh mengingat perkataan teman-teman Alifa 5 tahun yang lalu. Mereka terakhir berkunjung ke restoran ini dan menggoda pemilik restoran yang tampan.
Beberapa hari setelah kejadian itu Alifa menghilang, tanpa jejak.
Andai saja dulu dia sudah menjadi detektif, mungkin dia akan lebih cepat menemukan adiknya. Pikir Teguh.
Dia baru menjadi anggota dari kelompok detektif swasta ini hanya baru 6 bulan terakhir ini. Dan performanya cukup bagus.
Seorang pria tampan, tampak dingin namun penuh pesona masuk ke dalam restoran.
Para pelayan tampak menghormatinya.
Teguh sudah melakukan pengintaian beberapa hari terakhir ini.
"Akhirnya, dia datang juga." Gumam nya.
Teguh sudah mengantongi identitas pria tersebut.
Galang Aditya, itulah namanya. Pemilik beberapa restoran dan hotel bintang lima. Pemikat banyak wanita, playboy.
Lebih jelasnya, para wanita yang mengincarnya. Dan dia yang tidak bisa menahan diri terhadap wanita, hanya menikmati nya saja.
Teguh makan dengan santai, menghabiskan makanan yang di pesan nya. Sambil memperhatikan gerak-gerik Galang.
Dia sedang mencari informasi tentang menghilang nya seorang wanita bernama Tania seminggu yang lalu.
Menurut informasi, Tania terakhir mengunjungi restoran ini dan juga butiknya.
Ada yang melihat Tania diantar seorang pria, dengan ciri-ciri seperti Galang. Yang di kuatkan dengan CCTV, tentunya.
Tapi, teguh tidak bisa gegabah. Dia harus mendapatkan bukti yang kuat.
Dia sudah pernah menyelidiki rumah Galang, namun bersih. Tak di temukan bukti apa pun.
Tentu saja, karena teguh memeriksa rumahnya yang di kota. Bukan vila Galang, yang di dekat hutan. Tak ada yang tau tempat itu.
Hanya ada tiga wanita yang tau tempat itu. Alifa, Tania dan Shopia.
Shopia adalah teman dekat Galang semenjak SD sampai kuliah. Mereka dulu sering mengunjungi vila itu.
Namun, sudah 6 tahun yang lalu Shopia pergi ke luar negeri dan tidak memberi kabar kepada Galang sampai kini.
...Vila Galang...
Tania sedang berenang, menikmati sore hari. Otak nya masih memikirkan kabur dari vila ini.
__ADS_1
Sementara Alifa, masih terkurung di ruangan gelap itu.
Tubuhnya mulai lemah, dia demam kini.
Galang hanya memberikannya makan dan minum 1x sehari, itupun saat dia pulang dari pekerjaannya.
Galang melakukan itu, agar Alifa patuh.
Alifa masih memejamkan matanya. Sisa - sisa air mata yang meleleh masih terlihat jelas.
Matanya sembab, ada lingkaran hitam menandakan dia kurang tidur dan banyak menangis. Rambut panjangnya menutupi wajahnya, bahkan sebagian menempel di pipinya, karena terkena air mata.
Mengingat saat pertama bertemu Galang, dia mulai menyukainya hingga kejadian buruk ini terjadi.
Dia, terkurung dalam sangkar emas Galang. Dan jika tidak patuh, beginilah hukuman nya.
Di kurung di ruangan pengap dan gelap, sesekali jika Galang mengunjunginya, dia akan di cambuk dengan keras.
4 hari sudah dia di kurung.
"Ceklek" Suara pintu di buka.
Alifa enggan membuka matanya.
Terasa sentuhan lembut dan dingin menerpa kulitnya.
Keringat dingin mulai mengalir, bayangan Galang memukulinya terbayang jelas di benaknya. Meskipun kejadian itu sudah sangat lama. Beberapa tahun yang lalu.
Tak ada pukulan, yang ada hanya sentuhan lembut.
Badan nya seakan melayang, dia terangkat.
Terasa tubuhnya menerpa sesuatu yang empuk dan nyaman.
Sesuatu yang sedikit basah menyeka wajahnya. Alifa ingin membuka matanya, namun enggan.
Hingga, dia masih memejamkan matanya.
Terasa satu demi satu kain penutup tubuh nya terbuka. Tubuhnya beraksi, dia gemetaran. Takut membayangkan apa yang akan Galang lakukan.
Terdengar jelas seseorang menelan saliva nya kuat.
Alifa masih tak membuka matanya.
Seluruh tubuhnya di terpa dinginnya kain basah, yang menyeka seluruh tubuhnya tanpa terlewat.
Ya, Galang saat ini sedang membersihkan tubuh Alifa dengan lembut.
Otak mesum nya bekerja dengan kuat. Dengan susah payah, dia berusaha menekan hasratnya yang kuat.
Dia tidak mau merusak Alifa, dia ingin menyentuhnya hanya jika dia sudah halal saja.
"Apakah ini cinta?" Galang bergumam pelan.
Bersambung...
...----------------...
...Happy Reading...
...Di tunggu dukungannya ya ;...
...Like ...
...Vote ...
...Rate ...
...Komentar...
...Terimakasih banyak atas dukungan nya...
__ADS_1
...salam...
...mirastory...