Cinta Terdalam Ku Untuk Tuan Muda Kejam

Cinta Terdalam Ku Untuk Tuan Muda Kejam
Wangi yang Sama


__ADS_3

...Selamat Membaca...


Dengan ragu akhirnya Alifa naik ke mobil pria itu.


Di dalam mobil pria itu terus bersiul, entah menyanyikan lagu apa. Tapi iramanya sangat enak di dengar oleh Alifa.


"Nama ku Brian. Siapa namamu?" Bertanya setelah menghentikan siulan nya.


"Aku, em namaku Alifa." Dengan canggung Alifa menjawab.


"Nama yang bagus seperti orang nya." Celetuk Brian dengan senyum cengengesan nya.


Blush


Pipi Alifa merah merona.


Selama hidup dengan Galang, mana pernah dia mendapatkan tatapan, senyuman dan kata-kata gombal seperti yang Brian katakan.


Pria itu begitu dingin dan kaku, tapi aneh nya dia begitu mencintai pria itu.


Hatinya sulit untuk tak bisa mencintai nya. Cinta untuk Galang begitu besar.


"Kamu kenapa sendirian di jalan yang sepi?" Tanya Brian, matanya melirik Alifa sekilas.


"Aku, emm. Ah, aku terpisah saat piknik dengan teman-teman ku. Karena, dompet ku hilang, akhirnya aku berjalan kaki sendirian." Kedua tangan nya saling meremas, dia cemas sedang berbohong.


"Hahaha, kamu gak bisa membohongi pakar kebohongan." Canda ya, dia tau Alifa sedang berbohong.


Pipi Alifa kembali memerah, malu ketahuan bohongnya.


"Kalau kamu tak mau mengatakan yang sebenarnya sekarang, ya sudahlah. Aku tak memaksa mu." Tersenyum, melirik Alifa sekilas. Lalu pokus nyetir.


Alifa menghela napasnya dalam, hatinya sedikit tenang. Brian tak terus mencecarnya dengan pertanyaan.


Apartemen Xx


"Ini dimana?"


Alifa gelisah, dia sedang bersama orang asing saat ini.


Dia merasa tidak nyaman dan ada sedikit rasa takut di hatinya.


"Ini tempat tinggal ku." Jawab Brian santai.


"Yuk masuk." Lanjut Brian dengan ramahnya.


"Tapi..." Alifa masih berdiri mematung.


"Hei! Apa aku kelihatan jahat?" Brian menatap Alifa dengan senyuman menggodanya.


Senyuman dari bibir **** Brian, bisa menghipnotis wanita manapun.


Tapi, tidak bagi Alifa.


Karena, hatinya sudah di penuhi oleh satu nama, Gilang.


"Apa aku bisa mempercayai mu?" Dengan ragu Alifa bertanya.


"Tentu saja!" Jawab Brian, dia mulai sedikit jengkel dengan segala kecurigaan Alifa.


"Ayolah! Aku ini pria baik-baik dan terhormat! Kamu harus percaya pada ku!"


Brian berusaha meyakinkan Alifa.


Alifa tampak berpikir sejenak.


"Baiklah aku akan coba mempercayaimu, kak."


"Nah, gitu dong." Brian tersenyum senang.


Mereka pun berjalan beriringan menaiki lift ke lantai 4.


Brian segera membuka pintu apartemennya, setelah sampai di depan pintu.


Dia mempersilahkan Alifa masuk.


Lagi-lagi, Alifa hanya diam mematung.


"Ayo masuk lah, aku hanya murni membantu mu!" Rasa jengkel Brian kembali menggebu.


"Janji gak akan jahatin aku ya kak!" Alifa menegaskan.


"Janji!" Ucap Brian sambil geleng-geleng kepala.


Alifa pun masuk ke dalam apartemen milik Brian dengan langkah yang berat.


"Duduklah, kamu pasti lelah." Brian menunjuk sopa.

__ADS_1


Alifa mengangguk, lalu duduk di sopa yang di tunjukkan Brian.


Alifa celingukan, melihat keadaan sekitar.


Cat di dalam apartemen ini di dominasi warna biru laut.


Ruangan nya jadi terkesan hidup dan menenangkan.


Brian meninggalkan Alifa, dia masuk ke dalam kamarnya.


Dia ingin segera mandi, badan nya terasa lengket.


Sedangkan Alifa, duduk dengan gusar. Berada di hunian orang lain, apalagi seorang pria membuatnya sedikit takut dan tidak nyaman.


"Kak Galang lagi apa ya?" Tiba-tiba pikirannya melayang memikirkan Galang.


"Lapar?" Tiba-tiba saja Brian muncul.


Dia terlihat tampan dengan kaos polos tanpa kerah warna abu, dan celana pendek tiga perempat warna hitam nya.


Rambutnya basah, dan tercium wangi aroma tubuhnya yang menguat.


Entah sabun apa yang di pakainya, wanginya enak banget saat tercium oleh Indra penciuman Alifa.


"Eh, ko wangi sabun mandinya sama dengan milik ka Galang sih." Alifa jadi merindukan penculiknya itu.


"Hei! Kenapa melamun? Apa kamu lapar?" Ulang Brian.


"Eh, maap." Alifa tersenyum malu.


Deg


Jantung Brian berdegup kencang melihat senyuman malu-malu Alifa.


"Manis banget senyumnya!" Tanpa sadar Brian berkata.


Membuat Alifa terkejut.


"Kak ada apa?" Alifa merasa cemas mendengar perkataan Brian.


"Hahaha, aku cuma bercanda!" Menyadari perkataannya barusan, Brian langsung berkilah.


"Kamu bisa masak mie instan kan?" tanya Brian.


Alifa hanya mengangguk saja.


Brian berjalan menuju dapur.


Alifa mengikutinya dari belakang.


Sampailah di dapur.


"Bahan makanan ada di kulkas!" Tunjuk Brian.


"Baiklah, silahkan kakak tunggu saja sambil nonton TV, biar aku yang memasak."


Alifa berkata dengan sopan.


"Oke, kalau begitu."


Brian pun bergegas menuju ruang nonton TV, memutar kaset DVD kesukaannya. Genre film misteri.


Sedangkan, Alifa berkutat di dapur.


...Galang...


Waktu menunjukan pukul setengah delapan malam, restoran milik Galang masih cukup ramai.


Seperti biasa, malam itu Galang sedang berada di salah satu restoran miliknya, dia memeriksa kinerja para pegawainya.


Mata Galang menangkap sosok cantik yang duduk di salah satu kursi di pojokan.


Gadis itu terlihat begitu lembut dan elegan, dia duduk sendiri sedang memainkan ponselnya. Sepertinya, wanita itu belum memesan makanan.


Galang menghampiri nya. " Selamat malam nona apa ada yang bisa kami bantu?" Dengan senyuman ramah nya.


Galang memang selalu sopan dan ramah dalam melayani pelanggan.


"Emm, saya masih nunggu teman." Wanita itu menatap Galang.


Dia tersenyum semringah saat bersitatap dengan Galang.


"Boleh kenalan?" Gadis itu melebarkan senyumnya.


"Tentu." Galang sopan.


"Namaku Sonia." Mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Dan namaku Galang." Menerima uluran tangan Sonia.


Jiwa kasanova Galang meronta. Dia menginginkan Sonia.


Sekilas, wajah Alifa terbayang di benak Galang. Membuat nya menggelengkan kepala, karena ingin mengusir bayangan itu.


"Lifa kamu dimana?" Tanpa sadar Galang merindukan Alifa.


"Hei kamu kenapa?" Sonia tersenyum elegan.


"Gak ada, kalau begitu saya permisi dulu nona Sonia." Dengan sopan nya.


"Tunggu dulu Galang!" Sonia sedikit berteriak memanggilnya.


Galang yang baru melangkah dua langkah pun menoleh tanpa senyuman.


"Kapan bisa bertemu lagi?" Menyingkirkan rasa malunya, Sonia ingin mengenal Galang lebih jauh.


Dia sudah mengagumi Galang cukup lama.


Hampir tiap hari selama dua bulan ini, dia sengaja mampir ke restoran ini.


Hanya untuk melihat Galang.


Ini adalah kesempatan nya, mumpung Galang melihatnya dan sepertinya sedikit menyukainya.


Ya walaupun cuma sedikit saja sih.


Galang tersenyum tipis, matanya menatap tajam sulit Sonia artikan.


"Temui aku di sini! Malam ini jam sepuluh." Menyodorkan sebuah kartu nama yang dia ambil dari saku dompetnya.


Galang pun menyeringai, dan meninggalkan Sonia pergi.


Sonia berteriak dalam hati begitu bahagia.


Sedangkan Galang hanya berdecak, kecewa.


"Ah, selalu saja wanita gampangan yang menghampiri ku! Hanya Alifa yang berbeda."


Sonia segera memanggil pelayan dan memesan makanan.


Sebenarnya, dia datang sendiri. Niatnya hanya ingin melihat Galang saja.


Tak terasa waktu yang Sonia tunggu-tunggu pun tiba.


Jam 10 malam di apartemen Xx


Ting tong


Ting tong


Sonia menekan bel dengan hati berbunga.


Ceklek


Pintu di buka dari dalam.


Sonia tersenyum senang melihat seseorang yang berdiri tegak dengan mata elang yang tajam dan senyuman tipis nya.


Aura nya terasa dingin. Dia adalah Galang, tak seperti di restoran yang menunjukkan keramahan nya, saat ini justru sebaliknya.


"Masuklah!" Galang berkata dengan nada rendah, namun mengintimidasi.


"I iya." Sonia jadi gugup.


Kini mereka sudah masuk.


Galang segera mengunci pintu apartemennya.


"Kenapa ingin bertemu?" Raut wajah Galang datar dengan mata menyorot tajam.


Bersambung....


...----------------...


Alhamdulillah, akhirnya bisa up lagi. Hehehe.


Jika suka silahkan vote, like dan rate bintang 5.


Jika gak suka bisa mundur perlahan dan tetap like🤭.


Ditunggu saran dan kritik nya.


Terimakasih


salam Autor

__ADS_1


mirastory


__ADS_2