
...Selamat Membaca...
...****************...
...Paginya...
Alifa bangun pagi seperti biasanya. Dia berkutat di dapur menyiapkan sarapan pagi.
Usai memasak, dia menatanya di meja makan.
Berjalan menuju kamar Galang untuk membangun kan nya.
Tapi, air matanya tiba-tiba saja menetes saat melihat apa yang sedang terjadi saat ini.
Alifa melihat dari pintu kamar Galang yang sedikit terbuka.
Tampak jelas Tania sedang berada di atas tubuh Galang, sedang bergoyang-goyang. Mereka tanpa busana.
******* dan erangan keduanya terdengar menyakitkan bagi Alifa.
Dengan cepat, Alifa berlari meninggalkan kedua orang yang sedang berbuat dosa itu.
Masuk ke dalam kamarnya, segera melucuti pakaiannya dan masuk ke kamar mandi.
Mengguyur tubuhnya dengan air yang mengalir dari shower.
Menahan sesak agar berhenti menangis, namun sulit.
Akhirnya, dia mengeluarkan semua isi hatinya lewat tangisan.
Hampir 30 menit dia seperti itu. Hingga dia menghentikan nya saat tubuhnya mulai menggigil.
Segera memakai pakaiannya dan merias diri seperti biasanya. Lalu turun dan duduk manis di meja makan.
Galang dan Tania masih belum turun.
Alifa berusaha menahan emosi dan sesak di dada nya, saat melihat mereka turun bersamaan.
Wajah Galang tampak cerah begitu pula Tania.
Duduk di meja makan dan mulai menyantap sarapan nya dengan benar.
Sarapan selesai.
"Aku akan pergi dulu bekerja, kalian baik-baiklah di rumah." Berkata dengan lembut kepada keduanya.
Pandangan nya beralih kepada Alifa, memperhatikan mata Alifa yang sembab.
Menarik tangan Alifa dengan lembut membawanya ke dalam pelukannya.
"Kamu habis menangis? Kenapa?" Sudah lama Galang tidak melihat mata Alifa sembab, baru kali ini lagi.
Alifa berusaha berkata senormal mungkin.
"Aku hanya rindu keluarga ku."
Cup
Galang mengecup kening Alifa lembut dan lama.
Mengeratkan pelukannya.
Alifa merasakan kenyamanan, dia balas memeluk Galang.
Tania memasang raut tidak suka melihatnya.
"Baru saja bercinta dengan ku, dan sekarang kamu peluk-peluk wanita lain." gerutu nya dalam hati.
Galang pergi meninggalkan mereka berdua.
Alifa tampak senang, wajah muramnya berubah ceria.
"Ayo ngobrol!" Tania berjalan lebih dulu menuju kolam renang yang ada di dalam salah satu ruangan di vila.
Mereka sudah duduk berdampingan di sisi kolam renang.
__ADS_1
"Kamu tau, aku semakin dekat dengan nya. Dan aku rasa aku mulai menyukai dia." Tersenyum sinis, ekor matanya melirik ke arah Alifa.
Alifa meremas jemari tangannya sendiri, hatinya terasa panas.
"Dia sangat ganas di ranjang." Berbisik dengan suara sedikit genit yang di iringi kekehannya.
Alifa semakin gusar.
"Oh ya, aku akan membuat dia jatuh cinta padaku sepenuhnya. Lalu dia akan membebaskan ku dari tempat ini. Itu hal mudah bagi ku." Berdiri dengan senyuman di bibirnya, ada keyakinan dari ucapannya.
"Jangan! Jangan katakan itu, kamu belum mengenal dia dengan baik. Dia akan marah!" Alifa berusaha mengingat kan.
"Hah, kamu terlalu pengecut, Alifa." Dari nada suaranya terdengar mengejek.
Alifa diam.
"Kamu terlalu bodoh, masa lima tahun terkurung tidak bisa kabur. Di sini tidak ada penjaga nya sama sekali. Aku akan mencoba kabur sekarang, mumpung dia lagi pergi. Ayo ikut dengan ku, atau kamu mau di sini sampai tua!" mengejek.
Tania berjalan cepat keluar dari ruangan itu. Alifa mengikutinya.
"Jangan, kamu gak akan bisa pergi dari sini. Meski gak ada penjaga, ada banyak CCTV di sini. Terus tempat ini di dalam hutan, yang jauh dari keramaian. Kamu akan berjalan kaki sejauh apa?" Alifa kembali mengingatkan.
"Persetan dengan CCTV!" Tania berjalan menuju ke dalam kamarnya.
Alifa terus mengekorinya dari belakang.
Melihat sekeliling kamar, ada CCTV di salah satu sudut kamarnya.
Tania mengambil sebuah buku yang tergeletak di atas nakas, lalu melemparkannya sekeras mungkin ke arah kamera CCTV tersebut.
"Prang!"
Kamera pecah.
"Apa yang kamu lakukan? Kak Galang bisa marah!" Alifa panik.
"Hahah, ayolah jangan panik begitu."
Tania berusaha mencari jalan keluar.
Semua pintu di kunci dari luar.
Dia berlari sekuat tenaga, berusaha menjauh dari vila.
Alifa menatap punggung Tania sampai menghilang.
"Aku tak seberani itu, Tania." Mengingat saat dia dulu berusaha kabur dan Galang menangkap nya kembali.
Dia di hukum dengan berat hingga kapok.
Dan sampai saat ini, dia tak pernah berniat kabur lagi.
Alifa terus berdiri menatap dari jendela, berharap Tania kembali, agar tak mendapat hukuman sepertinya dulu.
...Tania...
Tania berlari sekuat tenaga, namun benar kata Alifa. Vila ini berada di area hutan.
Dia belum menemukan jalan raya.
Hingga akhirnya dia kelelahan dan jatuh pingsan.
Malam menjelang.
Galang sudah pulang dari pekerjaannya.
Dia melihat seorang gadis terbaring di sisi jalan tepat menuju ke vila nya. Dia merasa kaget, takut ada orang yang tau villa tempat tinggal nya.
Menghentikan mobilnya, dan melihat siapa wanita itu.
"Tania!" terkejut.
Dengan cepat membawanya ke dalam mobil, dan membawa nya kembali ke vila.
Membuka pintu, dan masuk menggendong Tania yang masih pingsan.
__ADS_1
Alifa tampak pucat, takut di salahkan akan kejadian ini.
Tanpa bicara dengan raut wajah marah, Galang langsung masuk ke dalam kamar Tania dan membaringkan tubuhnya.
Alifa membawakan air hangat dan makanan untuk Tania.
Galang mencium kan minyak kayu putih aroma terapi, di dekat hidung Tania.
Tatapan matanya beralih kepada Alifa.
Alifa menelan saliva nya dengan susah. Ada rasa takut di dalam dirinya.
Tubuhnya gemetaran, jemari tangannya saling meremas. Keringat dingin mulai bercucuran.
Galang keluar dari kamar Tania, dengan isyarat agar Alifa mengikutinya.
Kini mereka sudah duduk berhadapan di ruang kerja Galang.
"Kenapa bisa kabur? Bukankah aku meminta mu menjaganya!" Nada suaranya datar namun dari sorot matanya terlihat jelas ada kemarahan.
"Maap." Hanya itu yang mampu Alifa ucapkan.
"Hah, maap! " Galang mendengus kesal.
Alifa menundukkan kepalanya, air mata mulai mengalir dari pelupuk matanya membasahi pipinya dan jatuh hingga ke lantai.
Dia sama sekali, tak berniat menyekanya.
"Galang!" Suara Tania tiba-tiba saja terdengar.
Sebelumnya,
Tania tersadar dari pingsannya, dia segera minum air hangat yang ada di atas nakas dan bergegas mencari Galang, dia tahu Galang pasti sudah pulang dan membawanya kembali.
Dia harus mencari alasan yang tepat, agar selamat. Pikir nya.
Galang menoleh ke arah sumber suara.
Tania berjalan dengan lemas dan menghampiri Galang. Duduk bersimpuh di lantai dan meminta maaf.
"Maaf, aku hanya mengikuti saran Alifa saja." Ekor matanya melirik ke arah Alifa, ada senyum sinis di sana.
Alifa terkejut dengan pernyataan Tania, dia mendongakkan wajahnya menatap Tania.
"Maksudmu?" Galang menatap Tania dengan tatapan yang tidak percaya.
"Aku memang ingin pergi dari sini. Lalu, dia memberiku ide untuk kabur. Dia bahkan sengaja merusak beberapa kamera cctv agar aku bisa kabur dengan lancar."
Diam sejenak untuk menghela napasnya.
"Tapi, ternyata jarak dari sini ke jalan sangat jauh. Tau begitu, aku lebih memilih diam saja di sini." Air mata buaya nya mulai keluar.
"Aku menyesal, andai dia tidak membujuk ku untuk kabur, maka aku..." Tania terisak, isakan palsu tentunya.
Alifa menggelengkan kepalanya, untuk menyangkal perkataan Tania.
Galang menatap marah kepada Alifa.
Bersambung...
...****************...
...Happy Reading...
...Di tunggu dukungannya ya ;...
...Like ...
...Vote ...
...Rate ...
...Komentar...
...Terimakasih banyak atas dukungan nya...
__ADS_1
...salam...
...mirastory...