
"Katakan!" Berkata dengan nada rendah, tangan nya membelai lembut kepala Alifa.
"Aku sudah dewasa. Aku bukan anak kecil lagi!" Berkata dengan lembut dan mata bulat nya menatap Galang dengan sendu.
Galang balas menatapnya, tangan nya mencengkram lembut dagu Alifa.
Kedua mata mereka bertemu.
"Deg." Jantung Alifa berdegup kencang, meronta-ronta seakan mau meloncat ke luar.
Galang mulai mendekat.
Alifa memejamkan matanya, dengan pipi merona.
Cup
Bibir Galang menempel di bibir Alifa.
Alifa diam saja, ini adalah ciuman pertamanya.
Selama ini, belum pernah sekalipun Galang memperlakukan nya seperti ini.
Tangan Alifa mulai melingkar di leher Galang.
Tangan Galang mulai melingkar di pinggang Alifa.
Tubuh mereka mendekat, dan saling merapat.
Setelah beberapa saat, Alifa bisa mengimbangi ciuman Galang. Dia sering menonton adegan ini dari serial drama yang di tonton nya setiap hari.
Hingga suara. teriakan seseorang terdengar dari lantai 2.
"Lepaskan akuuuu!" Itu adalah teriakan Tania.
Galang menghentikan ciumannya.
Mengusap lembut bibir Alifa dengan jempol nya.
Tersenyum dengan lembut dan berkata. " Kamu memang sudah dewasa kini." Matanya bersinar dan memberi satu kecupan di pipi Alifa.
Wajah Alifa merona, dia menundukkan pandangan nya. Merasa malu dengan diri sendiri, jika ingat perkataan nya. "Aku sudah dewasa."
Seolah dia yang ingin mendapatkan sentuhan dari Galang.
Galang berdiri. " ikuti aku!" Dengan cepat berjalan menaiki tangga.
Alifa hanya mengangguk dan mengikutinya dari belakang.
Pikiran nya masih di penuhi banyak tanya, tentang wanita itu. Yang telah di bawa oleh Galang.
Sampai lah mereka di depan sebuah kamar. Kamar itu berada di sebelah kamar Alifa.
"Ceklek." Pintu terbuka setelah Galang membuka kuncinya.
Tampak Tania sedang duduk di lantai dengan mata bengkak. Mungkin dia habis menangis.
Melihat Galang, Tania langsung berdiri dan mulai memaki nya.
"Galang! Apa yang kamu lakukan padaku! Kenapa kamu menculik ku!" Berteriak sekeras-kerasnya.
Dari samping Galang, Alifa menatapnya tidak suka. Tidak senang, ada orang yang memaki Galang.
Galang menyeringai licik, berjalan menghampirinya. Lalu mencengkram pergelangan tangannya kuat, hingga Tania meringis kesakitan.
"Awwwh." Teriak nya.
"Belajarlah dari Alifa, dan jangan membuat ku marah! Atau kamu akan menyesal." Pergi meninggalkan kamar.
Sebelum keluar dari kamar Tania, dia berkata kepada Alifa. " Beritahu dia semua yang seharusnya!" Kemudian menutup pintu kamar dan pergi.
Tania menatap Alifa dengan tajam.
Alifa menghampiri Tania, bibirnya sudah bisa tersenyum.
"Duduklah, biar aku obati." Keluar dari kamar.
Tania duduk di tepi tempat tidur dengan berbagai pertanyaan yang bercampur.
Siapa Galang dan Alifa sebenarnya.
Tidak lama kemudian, Alifa datang membawa kotak obat.
__ADS_1
Duduk di samping Tania, mulai mengopres tangan nya yang memerah. Karena cengkraman Galang.
Mengompres luka lain nya yang Galang berikan saat menculiknya. Dan membersihkan darah yang sudah mengering di dahi Tania.
"Awwwh" Tania meringis kesakitan.
Alifa menyingkap pakaian Tania, terlihat beberapa luka memar di bahu dan pungung nya.
Alifa meringis melihat nya, air matanya menetes. "Sakit?" tanya nya.
"Iya." Sambil meringis menahan rasa sakit nya.
"Kamu akan merasakan lebih sakit lagi, jika berani melawan nya." Sudah selesai mengompres, kemudian mengoleskan salep untuk menghilangkan sakit nya.
Meneteskan obat merah pada dahinya, serta membalut luka nya yang terlihat luka robek. Akibat terbentur ujung meja di dapurnya. Saat Galang menculik nya.
"Hahah, apa dia psikopat!" tertawa getir.
"Tidak! Dia baik, jika kita patuh." Dari nada bicaranya terdengar kekaguman.
"Kamu gila apa! Kamu tau, dia bahkan memukuliku! Kalau bukan psiko apa namanya!" Geram, mendengar jawaban Alifa.
"Dia lembut dan baik, jika kita patuh. Tapi dia akan menghukum kita, jika kita berani melawannya atau mencoba kabur."
Bibirnya tersenyum, mata bulatnya bersinar polos seolah tanpa dosa.
"Hahah. Jangan bilang kamu mencintai nya!" Menertawakan cara berpikir Alifa.
"Itu memang tugas kita, untuk mencintai nya seumur hidup." Suara lembut Alifa terdengar menjengkelkan di telinga Tania.
"Sepertinya kamu memang sudah gila ya!" Kesal juga akhirnya sama Alifa.
"Dengar, kamu cukup patuh saja pada kemauan kak Galang. Dia akan memperlakukan mu dengan sangat baik, nanti nya." Senyuman cerah terbit dari bibirnya dengan lebar.
"Gila, ini benar gila. Kamu siapa nya dia? pacar?" Bertanya dengan berapi-api. Matanya menatap penasaran.
"Bukan. Aku hanya wanita yang dia bawa untuk melayani nya dan mencintai nya seumur hidup."
Jawaban yang membuat Tania semakin merasa terkejut.
"Hei! ungkapan seperti apa itu? Itu terdengar seperti budak yang hanya mengabdikan hidupnya untuk tuan nya!" Setengah berteriak.
Menggelengkan kepalanya heran. " Ck ck. Ada ya, wanita seperti kamu! Yang menyukai pria jahat seperti dia!" Kesal mendengarnya.
"Dia tidak jahat! Dia sangat baik! Meski, memang terkadang dia sedikit kasar. Tapi jika kita patuh, dia akan bersikap lembut pada kita." Menunjukkan kekaguman dari nada bicaranya.
"Sedikit kasar! Hahah." Tertawa geli dalam hati mendengar nya.
"Kamu bicara seperti itu, karena tidak mengalami hal seperti ku. Di pukuli dan di culik! Heh," tertawa mengejek.
"Kamu salah! Aku bahkan sudah lima tahun ada di sini, dia menculikku waktu aku berusia 15 tahun." Suaranya berubah sendu.
"Apa!" terkejut, matanya sampai melotot tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
Tania berdiri, mengguncang-guncangkan tubuh Alifa dengan keras. Hingga tubuh Alifa bergoyang.
"Kamu sedang berbohong kan?" Tangannya masih menempel di bahu Alifa.
"Tidak." Bibirnya tersenyum kembali. Perubahan raut dari sedih menjadi ceria sangatlah cepat.
"Dan kamu mencintai pria yang sudah menculik mu?" tatapan matanya semakin menunjukkan rasa penasaran.
"Iya." Dengan wajah merona dan mata yang bersinar.
"Aku benar-benar gak percaya!" tertawa getir, mondar mandir di depan Alifa.
"Jika kamu memahami dia, kamu pasti akan mulai mencintai nya." Menatap Tania dengan lekat.
Tania berhenti mondar-mandir, berdiri tepat di hadapan Alifa. Menatap nya dengan sorot mata yang tak percaya.
"Apa kamu tidak merindukan keluarga mu?"
"Keluarga?" Ekspresi wajah nya berubah sendu.
Air mata lolos dari pelupuk matanya.
"Ibu. aku rindu ibu, hik."
"Ayah. Aku rindu ayah, hik."
"Kakak. Aku rindu kakak, hik."
__ADS_1
"Aku merindukan mereka semuanya. Hik hik." Terisak dengan keras, air matanya mengalir bagaikan sungai.
Bola matanya memerah, dan kelopak matanya mulai sembab.
"Maap, aku membuatmu sedih. Ayo kita kabur dari sini!" Tania berbisik di telinga Alifa.
Isakan Alifa langsung terhenti, mengusap pipinya yang basah dengan jemari tangan nya.
Menatap ke arah Tania dengan tajam.
"Jangan pernah berpikir seperti itu, kamu bisa terluka. Jika tertangkap, dia akan menyiksa mu! Aku tak ingin dia menyakitimu, seperti dia pernah menyakiti ku dulu." Berkata dengan tulus.
"Apa? Dia pernah menyakitimu juga!" Lagi-lagi tak percaya.
Alifa berdiri membuka resleting dres yang di pakainya. Lalu, menurunkan baju nya.
Tania terkejut dengan apa yang di lakukan Alifa.
Alifa membelakangi Tania.
Terlihat jelas beberapa bekas luka lama di punggung nya.
"Apa itu luka yang di berikan Galang sialan itu!" Bertanya dengan berapi-api.
Alifa berbalik. " Jangan panggil dia seperti itu! Ini karena aku yang belum memahaminya, aku mencoba kabur dan menghubungi keluarga ku, hingga dia menghukum ku. "
"Hidupmu pasti selama ini sangat berat, aku tidak tau apa saja yang sudah dia lakukan padamu. Hingga, kamu begitu mengagumi dia, bahkan mencintai dia. Padahal dia sudah menyiksa mu seperti ini!"
Duduk di atas tempat tidur.
Alifa memakai kembali dres nya.
"Bahkan, kamu tanpa tau malu nya membuka pakaian mu di depan ku. Huuuh."
...Galang...
Dari ruangan lain, Galang memperhatikan mereka dari laptop nya.
Tersenyum sinis memperhatikan kedua gadis itu.
Dia memang sudah memasang kamera CCTV, hampir di semua sudut ruangan.
Tidak terkecuali kamar tidur dan kamar mandi.
Hanya satu ruangan yang bebas dari kamera cctv. Ruangan yang menjadi tempat untuk menghukum sang pembangkang.
Dia sudah terbiasa melihat tubuh molek Alifa, sejak awal di bawa nya ke Vila ini.
Kini dia sudah hampir 20 tahun. Sudah dewasa.
"Kamu semakin cantik dan sexy Lifa!" Menatap Alifa dengan sorot mata yang tidak bisa di artikan, matanya berbinar dan senyuman tulus terbit dari bibir **** Galang.
Bersambung....
...****************...
Semoga suka dengan karya terbaru ku, ya.
Mungkin, yang ini gak seamburadul karya pertama ku, hehehe.
Aku berusaha lebih baik dan lebih baik lagi.
Kasih saran dan kritik kalian, di kolom komentar ya. Terimakasih.
Happy Reading
Di tunggu dukungannya ya ;
Like
Vote
Rate
Komentar
Terimakasih banyak atas dukungan nya
salam
mirastory
__ADS_1