
Sebulan sudah Alifa tinggal di Vila Galang.
Pria itu selalu pulang tengah malam.
Bukan karena apa-apa, Galang pulang malam karena memang perjalanan dari kota nya ke vila cukup jauh. memakan waktu 3 jam perjalanan bahkan lebih.
Galang pulang dari restoran nya setiap jam 8 malam.
Kadang dia pulang dulu ke apartemen nya untuk menghibur diri dengan wanita Belian.
Hasratnya terlalu tinggi, dia tak bisa menahan diri.
Apalagi, semenjak kehadiran Alifa di Vila nya. Dia semakin tak terkendali.
Tapi, entah kenapa. Hatinya selalu tidak mau merusak tubuh Alifa dengan nafsunya itu.
Sekalipun dia tak menyentuh Alifa dalam 5 tahun ini, meski hanya mencium bibirnya saja. Kecuali, saat itu, waktu dia terpaksa menggantikan pakaian Alifa.
Gadis itu begitu penurut, setelah menghadapi hukuman waktu itu.
Galang pun memperlakukan nya dengan lembut dan baik.
Alifa sendiri mulai memahami, apa kemauan Galang.
Dia cukup jadi gadis yang patuh dan tidak pernah mencoba untuk kabur.
Setiap hari Alifa harus mengatakan cinta kepada Galang. Setiap pria itu akan berangkat kerja dan sepulang bekerja.
Perasaan Alifa perlahan berubah. Dia mulai mencintai Galang dengan segenap perasaan nya, dan tidak ingin lagi pergi dari Galang.
5 tahun berlalu begitu cepat. Alifa gadis kecil telah bertumbuh dewasa.
Usianya sudah genap 20 tahun. Dan usia Galang, sudah genap 30 tahun. Perbedaan usia yang cukup banyak.
Tapi, perasaan Alifa sudah terpatri untuk Galang.
...Ruang Makan...
Pagi ini, Galang, Alifa dan Tania selesai makan.
"Lifa, sayang. Bukankah hari ini usiamu genap 20 tahun?" Galang menatap Alifa dengan lembut.
Alifa menoleh ke arah Galang dengan senyuman yang mengembang dari bibirnya. Lesung Pipit di kedua pipinya tercetak dalam, membuat senyumnya semakin terlihat manis.
Alifa hanya mengangguk tanpa bicara.
"Dengar, aku akan mengabulkan satu permintaan mu. Apapun itu, mintalah sebelum jam 12 malam." Menyentuh lembut kepala Alifa.
Alifa tampak berpikir, apa yang harus di minta nya.
"Pikirkan dulu, hari ini aku tidak akan pergi ke restoran." Galang berdiri, tanpa melirik Tania.
Berjalan meninggalkan mereka berdua di ruang makan. Menuju, ke ruang baca.
Tania berdiri, dan menarik tangan Alifa. " Ikut aku!"
Alifa mengikuti Tania.
Tania membawa Alifa ke dalam kamarnya, lalu mengunci pintunya rapat-rapat.
"Apa yang mau kamu minta?" Tania tidak sabar mendengar jawaban Alifa.
"Tidak tau." Alifa menggelengkan kepalanya.
"Ayo, pakai otakmu!" Tania mendorong pelan kepala Alifa dengan telunjuknya.
"Sungguh tidak sopan." Alifa mengesah.
"Ayo pikirkan baik-baik!" Tania mengeram kesal.
Alifa menggelengkan kepalanya, tidak tau harus meminta apa.
"Boleh aku kasih saran?" Tania penuh harap.
__ADS_1
"Iya " Jawab Alifa, raut wajahnya menunjukkan kalau dia pun ingin tau saran dari Tania.
Meski dia marah atas kebohongan Tania. Alifa tetap tidak menaruh dendam.
"Kebebasan!" Tania menyeringai.
"Kebebasan?" Alifa mengerut kan dahinya.
"Iya, untuk kita berdua." Jawab nya yakin.
"Apa dia akan mengabulkan nya?" Alifa sedikit ragu.
Tapi di hati kecilnya, Alifa sangat ingin pulang. Bertemu ayah, ibu dan kakaknya.
Senyuman kecil tercetak di bibir tipis nya.
"Harus, kamu harus membuat dia mengabulkan nya. Bukan kah, dia harus menepati janjinya." Tania terus memprovokasi Alifa.
Alifa tampak berpikir, jemari tangan nya saling meremas.
"Katakan, kalau kamu minta kebebasan. Kebebasan untuk kita berdua. Mengerti! Ayolah Lifa jangan bodoh! Bujuklah dia." Berkata dengan berapi-api.
Alifa menghela napasnya dalam.
Setelah membuat berbagai pertimbangan, Alifa akhirnya memutuskan. "Aku akan coba." Ujar Alifa.
"Good girl. Muach muach." Tania semringah, dia mencium pipi kiri dan kanan Alifa.
"Ayo pergi sana,temui Galang!" Tania mendorong tubuh Alifa agar cepat menemui Galang.
Dengan sedikit gugup, Alifa menghampiri Galang di ruang kerjanya.
Sedangkan Tania, sengaja bersembunyi di balik tembok. Setelah Alifa terlihat masuk ke ruang kerja, dia mulai menguping di balik pintu.
Ruang Kerja
"Duduklah." Galang menatap Alifa dengan senyuman tipis yang nyaris tak terlihat.
Tapi, karena Alifa sudah mengenal Galang cukup lama, dia sudah mengerti banyak ekspresi wajah yang di tunjukkan oleh Galang.
Galang beranjak dari tempat duduknya. melenggang, pindah ke sopa dimana ada Alifa duduk.
Duduk di samping Alifa, dengan posisi yang berhadapan.
Matanya menatap Alifa dengan lembut.
"Katakan, hadiah apa yang kamu mau?" Senyuman yang jarang di perlihatkan kepada siapa pun. Kali ini tersungging indahnya untuk Alifa.
Bibir Alifa sedikit bergetar. Nafasnya menderu dengan cepat, ada rasa takut mendera hatinya.
Menghela napasnya panjang dan menghembuskan nya dengan lembut.
"Apa kakak tidak akan marah?" Untuk pertama kalinya, Alifa berani menyentuh tangan Galang.
Galang menatap Alifa dengan lembut, merengkuh bahu nya penuh rasa sayang.
"Katakan lah." Wajah nya miring, dan mendekat ke wajah cantik nya.
Pipi Alifa merona.
Apalagi, jika ingat ciuman yang pernah mereka lakukan waktu itu.
Tiba-tiba tubuhnya merasa gerah, rasa panas menjalar, dan kulit nya mulai meremang. Saat Galang mulai menyentuh lembut setiap bagian wajah nya, Yang berakhir di bibirnya.
Cup
Tiba-tiba saja menempelkan bibirnya di bibir Alifa dengan lembut.
Replex, Alifa membuka mulutnya sedikit. Memberi dan menerima apa yang di lakukan Galang.
Sentuhan Galang, begitu lembut dan membuatnya merasakan sesuatu yang berbeda.
Rasa itu membuncah secara tiba-tiba dalam diri Galang. Tubuhnya mulai memanas, dia tak sanggup menahan dirinya.
__ADS_1
"Arghhh." Dengan cepat Galang berdiri.
Berjalan dengan cepat menuju ke kamar mandi yang ada di ruangan itu.
Alifa menatap nya bingung. Hingga, setelah 15 menit barulah Galang keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah.
"Sial, aku jadi harus melakukan nya solo." gumam nya.
Alifa mengernyitkan dahinya, mendengar perkataan Galang.
"Solo, apa yang di lakukan solo?" Bertanya bingung dengan polosnya.
"Sudahlah, kamu memang masih polos." Berkata dengan datar tanpa ekspresi.
"Katakan lah, apa keinginan mu!" Kali ini menatap tajam kepada Alifa.
"Aku mencintaimu kak." Ucap Alifa dengan tatapan mata yang dalam.
Galang balas menatapnya dengan tatapan mata yang tajam.
"Mungkin kakak pikir, aku berkata seperti ini karena tekanan Kakak selama ini. Tapi..." Suara Alifa tercekat, rasa nya sulit untuk melanjutkan kata-katanya.
Tapi memang kenyataannya seperti itu.
Galang menganggap Alifa mengatakan itu, karena memang dirinya sering menekan nya agar mengatakan itu dalam 5 tahun ini.
"Tapi, sebenarnya. Aku memang sudah sangat mencintai kakak. Aku sendiri tidak tahu, kapan tepatnya aku mulai merasakan perasaan itu."
Di balik pintu.
"Ya ampun kenapa kamu bertele-tele sih Alifa! Katakan saja langsung! Aku jadi gemes!" Mereka ujung dres nya, saking merasa kesal dengan tingkah Alifa.
Ruang Kerja
"Maap jika perkataan ku menyinggung kakak." Alifa mengesah, saat melihat ekspresi Galang yang sama sekali tidak bergeming. Datar dan dingin.
"Hem. Maukah kakak mengabulkan permintaan ku?" Bertanya dengan lembutnya.
"Tentu, aku pria yang menepati janji." Suara Galang terdengar begitu berat.
"Berilah aku dan Tania kebebasan. Lepaskan kami, biarkan kami pulang."
Alifa sampai meremas jemarinya sendiri, tak percaya mulutnya bisa selancar itu berbicara.
Dia tidak tau, kalau ini adalah awal dari sebuah petaka.
Galang menajamkan tatapan nya. Terlihat jelas sorot mata ketidak sukaan, kemarahan dan kekecewaan dari manik mata hitam pekat nya.
Bibirnya merapat dengan gigi yang bergemerutuk menahan Amarah.
"Bukkkk!" terdengar suara...
Bersambung...
...****************...
...Happy Reading...
...Di tunggu dukungannya ya ;...
...Like ...
...Hadiah...
...Vote ...
...Rate ...
...Komentar...
...Terimakasih banyak atas dukungan nya...
...salam...
__ADS_1
...mirastory...