Cinta Untuk Tuan Arga

Cinta Untuk Tuan Arga
Sebuah kegilaan


__ADS_3

"Ah ... sudahlah pak Cip! Aku tidak mau membicarakan ini lagi, aku harus pergi!" Ray beranjak dari tempat duduknya, ia pun segera pergi ke kantor untuk suatu hal yang harus ia kerjakan segera


Pak Cipto hanya bisa mengelus dadanya, tentu saja pak Cipto kurang setuju dengan keputusan Ray yang membiarkan Lovely begitu saja setelah terjadi sesuatu diantara mereka.


"Semoga Tuan muda segera sadar, dia harus bisa mengikhlaskan pernikahan Nona Cinta, karena bagaimanapun juga mereka berdua tidak berjodoh, semoga Tuan muda tidak menyesalinya," pikir Pak Cipto yang pastinya pria 60 tahun itu mengetahui sebuah rahasia besar yang membuatnya harus bisa meyakinkan Ray jika tidak perlu merebut Cinta kembali.


Sementara di tempat lain, Lovely turun dari kamar, pak Cipto segera mempersilahkan Lovely untuk duduk di kursi meja makan. Namun, sepertinya Lovely memilih untuk pergi saja, meskipun perutnya sangat keroncongan, karena ia sendiri tidak ingin berlama-lama di rumah itu.


"Non Lovely mau kemana?"


Lovely berhenti dan menoleh ke arah pak Cipto yang berdiri dengan sopan di belakangnya. Saat itu Lovely lebih memilih memakai kemeja milik Ray daripada baju wanita yang ada di dalam lemari itu, sebuah kemeja dengan legging berwarna hitam sebatas lutut.


"Saya mau pulang!" jawab Lovely singkat.


"Sesuai perintah dari Tuan muda, Non Lovely silakan sarapan dulu, setelah itu Anda boleh pulang, mari!" pak Cipto menunjukkan berbagai hidangan di atas meja makan.

__ADS_1


"Tapi saya harus pulang, Pak. Mama pasti mencari keberadaan saya, mana HP saya lowbat. Jadi, saya tidak bisa menghubungi Mama, Mama pasti sangat khawatir," ucap Lovely. Gadis itu tetap memaksa untuk pulang, hingga akhirnya pak Cipto tidak bisa berbuat apa-apa.


"Baiklah kalau Anda tetap memaksa, kami akan mengantarkan Anda pulang," seru pak Cipto sembari menepuk tangannya seolah ia sedang memanggil seseorang.


"Plok plok!"


Datang seorang pria berpakaian serba hitam yang menghampiri pak Cipto, ia memerintahkan pria itu untuk menjaga Lovely sesuai permintaan Ray.


"Kami akan mengantarkan Anda pulang. Roki, kamu jaga Nona ini di sepanjang perjalanan, pastikan keadaannya baik-baik saja, dan ingat! Kamu tidak boleh jauh-jauh dari Non Lovely."


"Tidak usah, biar saya pulang sendiri!" Lovely menolak, ia bersikeras untuk pergi sendiri tanpa diantar oleh siapapun. Namun, pak Cipto tetap memaksa untuk mengantarkan wanita itu sesuai perintah Ray. Pak Cipto memerintahkan pelayan untuk menghadang Lovely yang ingin keluar dari rumah mewah itu.


"Maaf Nona, saya tidak bisa membiarkan Anda pergi begitu saja, jika Anda tidak ikut dengan mobil kami maka kami tidak akan mengizinkan Anda keluar dari rumah ini, karena ini sudah perintah dari Tuan muda Ray!" seru pak Cipto.


Lovely meniup ke atas poni yang menutupi dahinya, ia pun tidak bisa menolaknya, Lovely terpaksa mengikuti perintah pak Cipto. Gadis itu pun masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Roki.

__ADS_1


"Untuk apa Ray melakukan hal selebay ini, aku bisa pulang sendiri, bukankah dia tidak perduli denganku?" pikir Lovely yang heran dengan sikap pria yang sepantaran dengan nya.


Mobil Alphard itu melaju ke jalan raya, Lovely menyandarkan kepalanya pada jok mobil, pikirannya masih terbayang kejadian semalam dengan Ray, bagaimana bisa dirinya tidur dengan laki-laki mantan kekasih adiknya itu.


"Bukankah ini sebuah kegilaan? Aku dan Ray? Kalau saja Cinta tahu, dia pasti sangat marah padaku dan mengira aku sudah merayu Raymond, ah shiiit! Kenapa harus dengan Ray?" hati Lovely terus berkecamuk sepanjang jalan, hingga akhirnya ia tak sengaja melihat sebuah motor sport yang sangat ia kenali. Iya, itu adalah motor sport milik Monica, sahabatnya sekaligus teman Buci nya.


Monica


Ada sesuatu yang aneh yang sontak membuat Lovely terkejut, ternyata ia melihat Monica sedang bersama seorang gadis yang ia bonceng di belakangnya.


"Monica! Dia bersama siapa?" pikirnya dalam hati, tapi Lovely tidak terlalu heboh menghadapi apa yang baru saja dilihatnya, seperti tidak ada sakit hati atau rasa cemburu yang pernah ia rasakan kepada Monica.


Seolah-olah Lovely merasa biasa saja, ia pun hanya melihatnya dan setelah itu ia tidak memperdulikan pemandangan itu lagi, pemandangan yang seolah-olah kedua gadis itu tampak intim.


"Kok ada yang aneh, ya? Kenapa aku tidak cemburu dengan Monica? Bukankah dia bersama gadis lain? Harusnya aku cemburu dong. Kok sekarang enggak!"

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2