
"Ada kok, Mommy. Masih Arga simpan dengan baik." Balas Arga.
Madam Desy lega, setidaknya kalung yang khusus ia berikan kepada kedua putranya itu masih ada.
"Kira-kira, apa Alvaro masih memakai kalung itu, ya? Mommy takut saja mereka membuang kalung itu." Madam Desy menundukkan wajahnya. Ia kembali bersedih, mengingat ia pernah memakaikan kalung itu untuk bayinya yang masih berusia balita.
Masih teringat betul bagaimana ancaman itu benar-benar terngiang di telinga Madam Desy. Sang mertua tega mengancam untuk melenyapkan Arga jika dirinya masih bertahan di rumah Faruk.
Lagi, air mata Madam Desy terjatuh. Sudah puluhan tahun ia meninggalkan rumah mantan suaminya. Entah bagaimana sekarang keadaan keluarga mantan suami, Madam Desy sudah tidak tahu lagi. Karena waktu itu ia pergi sangat jauh agar putranya bisa selamat dari ancaman sang mertua yang selalu mengintainya.
"Mommy plis! Jangan nangis lagi. Kita pasti menemukan Alvaro, Arga sangat yakin." Arga pun terus menenangkan sang Mommy.
*
*
__ADS_1
*
Di tempat lain. Seorang pria tua tengah membuka sebuah kotak yang sudah bertahun-tahun ia simpan. Kotak berwarna hitam yang berisi sebuah kenangan dari seseorang untuk anak majikannya.
"Maafkan saya, Nyonya. Saya terpaksa menyimpan kalung ini. Karena waktu itu, Tuan besar menyuruh saya untuk membuangnya. Tapi saya ingat, jika Nyonya memberikan ini sebagai simbol kasih sayang seorang ibu untuk dua anaknya. Anda seorang ibu yang penyayang, hanya saja nasib tidak memihak Anda. Seandainya Anda tahu, sekarang Tuan besar sudah dewasa, dia sangat tampan. Andai saja Tuan muda tahu jika ibunya masih hidup. Dia pasti sangat bahagia."
Pak Cipto. Iya, pria tua itu mengambil sebuah kalung yang pernah ibunya Ray berikan kepada anaknya sebelum diusir dari rumah. Hanya saja, sang kakek tidak mengizinkan cucunya untuk mendapatkan barang apapun yang bisa mengingatkan tentang ibu kandung Ray.
"Mungkin, jika aku memberikan kalung ini kepada Tuan muda. Dia pasti senang." pikir pak Cipto.
Malam itu. Di saat Ray sudah berada di rumah. Datang pak Cipto dengan membawa sesuatu untuk sang Tuan muda. Ray tampak sedang sibuk di depan laptopnya. Kemudian pak Cipto meminta izin untuk berbicara sebentar dengannya.
Ray tidak menoleh, hanya saja ia berkata sambil terus menatap laptop nya dengan serius.
"Nanti saja kita bicarakan, Pak. Hari ini aku akan melakukan sesuatu untuk pria itu. Langkahku untuk mendapatkan Cinta semakin besar. Perlahan, pria itu akan bangkrut. Aku sudah mendapatkan partner untuk menghancurkan perusahaan Arga. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini." Ucapan Ray sontak membuat pak Cipto menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa Ray melakukan hal itu. Itu tidak boleh.
__ADS_1
"Sebaiknya jangan, Tuan muda. Saya sarankan jangan lakukan itu, saya takut Tuan sendiri yang akan hancur. Percayalah, Tuan!" sahut pak Cipto yang sangat khawatir dengan apa yang akan dilakukan oleh Ray.
Ray berhenti dan menoleh ke arah sang pelayan setia. Manik matanya menatap tajam ke arah pria tua itu.
"Maksud pak Cipto apa? Kenapa pak Cipto lebih membela pria itu. Pak Cipto tahu sendiri aku sangat mencintai Cinta. Pria itu datang tiba-tiba untuk merebut Cinta dariku. Aku tidak terima, Pak. Pokonya pria itu akan menyesal telah melakukan hal ini." tegas Ray dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Tuan muda, saya sangat menyayangi Anda seperti anak saya sendiri. Saya tidak ingin Anda menyesal, biarkan saja mereka hidup bahagia, Tuan. Non Cinta tidak ditakdirkan menjadi jodoh Anda. Harus bagaimana lagi, semua ini sudah takdir. Tuan harus terima, sama halnya dengan Tuan yang dipertemukan dengan Non Lovely. Apa Tuan tidak terpikirkan tentang hidupnya sekarang? Non Lovely lebih membutuhkan Anda, Tuan!"
Ucapan pak Cipto memang ada benarnya. Demi rasa cintanya kepada Cinta, Ray masih dibutakan oleh angan-angannya menikah dengan Cinta. Tanpa ia sadari jika ia sebenarnya mengkhawatirkan kondisi Lovely. Untuk apa Ray menyuruh anak buahnya mengawasi setiap gerak-gerik Lovely hanya untuk memastikan gadis itu aman dan tidak diganggu lagi oleh sahabat Buci nya yang membuat gadis itu terpengaruh dalam dunia Lesbian.
"Sudahlah, Pak Cip. Aku tidak ingin membicarakan ini lagi. Sekarang katakan, apa yang ingin pak Cip katakan?" ucap pria itu sambil memijit pelipisnya.
Kemudian pak Cipto mengeluarkan sesuatu dari kantong bajunya. Ia memberikan sebuah kalung berliontin dengan tulisan sebuah nama yang membuat Ray mengerutkan keningnya.
"Apa ini, Pak? Kalung siapa ini, dan siapa Alvaro?" Ray menatap liontin yang bertuliskan nama Alvaro.
__ADS_1
"Kalung itu, Mama Anda yang memberikannya, Tuan." balas pak Cipto sambil menundukkan kepalanya.
...BERSAMBUNG ...