Cinta Untuk Tuan Arga

Cinta Untuk Tuan Arga
Bertemu Papi


__ADS_3

Cinta memukul-mukul dada suaminya saat pria itu melepaskan ciumannya. Arga terkekeh, melihat ekspresi wajah Cinta yang terlihat memerah.


"Kebiasaan banget sih, kalau nyium nggak pernah minta izin, malu sama pak sopir." Cinta mencubit lengan Arga.


"Sopir ku sudah terlatih untuk menahan apapun yang dia lihat, inikan cuma ciuman, Sayang. Itu hal yang biasa." Arga kembali memakai kacamata hitamnya. Pria itu memang terlihat cool dengan setelah jas berwarna biru navy. Cinta tersenyum dan sangat gemas, tiba-tiba saja Cinta mendaratkan ciumannya pada pipi Arga. Spontan Arga menoleh dan menatap wajah istrinya yang merah merona.


"Hmm ... apa ini? Kamu menciumku, beraninya kamu menciumku tanpa izin." Arga tampaknya membalas perkataan sang istri.


"Tidak boleh, ya. Ya sudah, besok-besok aku nggak akan mencium kamu, dasar pelit!" sahut wanita itu sambil menatap ke arah jendela. Tapi bibirnya masih melukiskan senyum yang tersirat.


Arga melihat Cinta yang memalingkan wajah darinya. Pria itu menyunggingkan senyumnya dan meraba tangan sang istri kemudian menggenggam tangan itu pada pangkuannya. Cinta merasakan genggaman tangan Arga begitu hangat, ia menoleh ke arah sang suami yang saat itu tidak berekspresi dan hanya menatap ke arah depan.


Cinta pun membalas genggaman tangan sang suami dan kembali menatap ke arah jendela mobil.


Selang beberapa menit, mobil mewah itu tiba di sebuah rumah dengan pagar besi bercat putih, rumah di mana dulu Cinta menghabiskan masa kecilnya di sana.


Pagar terbuka secara otomatis, mobil Mercedes Benz itu masuk ke dalam halaman yang cukup luas, berhenti tepat di depan pintu rumah pak Fadly, Papinya Cinta.


Arga dan Cinta turun dari mobil, wanita itu sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan sang Papi, ia sedikit berlari untuk sampai di ambang pintu. Arga memaklumi sikap istrinya, tentu saja sang istri begitu bersemangat untuk bertemu dengan sang Papi yang baru saja bebas dari penjara.


Cinta menekan tombol pintu rumahnya, seorang pelayan membukakan pintu untuk anak majikannya itu.


"Nona Cinta, selamat pagi, Non. Selamat pagi, Tuan!" sapa sang pelayan yang memberikan hormat kepada Cinta dan Arga.


"Di mana Papi?" tanya Cinta yang langsung masuk ke dalam ruangan, ia mencari keberadaan sang Papi yang belum ia temukan.


"Beliau ada di dalam kamar, Non!" jawab sang pelayan. Tanpa menunggu lama, Cinta segera naik ke lantai atas dan segera bertemu dengan sang Papi.


Arga dipersilahkan untuk duduk di kursi, pria itu dilayani begitu ramah di rumah itu, sambil menunggu kedatangan sang Mertua dan istrinya turun.

__ADS_1


Arga sangat mengerti jika Cinta sangatlah merindukan Papinya, itulah kenapa ia membiarkan naik ke lantai atas untuk bertemu dengan sang Papi.


Sementara itu, Cinta pun sampai di lantai atas, ia berjalan menuju ke kamar sang Papi. Kebetulan pintu kamar sang Papi masih terbuka, sehingga memudahkan Cinta untuk segera bertemu dengan Papi Fadly.


Cinta melihat seorang pria yang sedang berdiri di depan jendela. Iya, siapa lagi yang sedang berdiri di sana jika bukan sang Papi.


"Papi!"


Suara lembut itu langsung membuyarkan lamunan Papi Fadly. Pria yang berusia sekitar setengah abad itu membalikkan badan ke arah sang putri yang sangat ia sayangi.


"Cinta, putriku!"


Cinta berlari ke arah sang Papi, kerinduan seorang anak dan bahagianya bisa bertemu dengan orang yang sangat disayanginya.


"Papi, Cinta kangen sekali dengan Papi," seru Cinta sambil memeluk Papinya penuh kerinduan.


Cinta melepaskan pelukannya dan menatap wajah senja Papi Fadly.


"Papi tidak usah mengkhawatirkan Cinta, Apa yang Papi katakan itu benar, Cinta berusaha untuk ikhlas untuk menjalani pernikahan ini, Tuan Arga sangat baik kepada Cinta, dan dia tidak akan pernah menceraikan Cinta, Pi. Dia menghapus pernikahan kontrak itu dan akan membina rumah tangga bersama Cinta untuk selamanya." Mata Cinta berbinar-binar saat ia mengatakan bahwa Arga tidak akan menceraikan Cinta meskipun Cinta akan memberikan seorang anak untuknya.


"Papi bahagia mendengarnya, Tuan Arga memang orang yang baik. Papi sangat berterima kasih sekali kepadanya sudah membebaskan Papi dari penjara, hanya saja ada satu hal yang Papi khawatirkan." Ucapan Papi Fadly seketika membuat alis Cinta saling bertaut.


"Maksud Papi apa?" Cinta membulatkan matanya dan mulai penasaran.


"Sehari sebelum Papi keluar dari penjara, seseorang menemui Papi di dalam penjara, Papi tidak tahu siapa orang itu, dia bilang setelah Papi keluar dari penjara nanti, Papi harus bisa membuatmu menceraikan Arga. Jika tidak, maka mereka mengancam akan menghancurkan perusahaan Arga dan keluarganya dan juga Lovely. Papi curiga jika itu adalah ulah Bisma Panega."


"Apa, sebenarnya tuh orang apa sih maunya, belum cukup apa dia mengusik hidup kita dengan mengambil Mama," Cinta semakin kesal dan semakin penasaran dengan sosok yang bernama Bisma Panega.


*

__ADS_1


*


*


Sementara itu di sisi lain, Lovely sudah tiba di depan rumahnya, ia pun turun dari mobil dan segera masuk ke halaman rumah. Roki, sang bodyguard tampak masih diam dan memperhatikan Lovely hingga akhirnya ia masuk ke dalam rumahnya. Setelah itu Roki tidak akan pergi, pria itu terus mengintai rumah Lovely untuk memastikan Lovely berada dalam pengawasannya, karena itu yang akan ia laporkan kepada Ray nantinya.


Pulang pagi, sepertinya hal yang wajar bagi Lovely. Sang Mama yang sangat sibuk mengurusi bisnisnya, tidak terlalu perduli dengan keadaan Lovely. Gadis itu memang hidup dalam kecukupan, kemewahan yang berlimpah. Namun sayang, ia sebenarnya menyimpan sebuah kekecewaan yang sangat besar terhadap sang Mama apalagi terhadap Ayah sambungnya.


Lovely masuk disambut oleh seorang pria yang masih terlihat fisiknya yang sempurna, wajahnya tidak terlalu tampan, tapi bisa dilihat jika ia memiliki raga idaman setiap wanita, tinggi tegap, dada bidang, kulit putih, serta wajah yang tidak membosankan.


"Darimana saja kamu?" suara pria itu terdengar sedikit marah.


"Bukan urusanmu!" jawab Lovely singkat, ia pun segera pergi meninggalkan pria yang biasa dipanggil Bisma Panega itu. Dengan cepat, Bisma meraih tangan Lovely dan menatap tajam ke arah anak sambungnya itu.


"Aku bertanya darimana saja kamu, kenapa tidak menjawabnya?" Bisma membentak Lovely dan tidak terima jika ia diacuhkan.


"Lepaskan aku, tolong jangan ganggu aku, aku mau istirahat, aku sangat lelah sekali!" sahut Lovely sembari menarik tangannya dari cengkeraman Bisma.


"Hai hai kucing manis, kamu jangan coba-coba bermain-main denganku. Kamu ingin aku berbuat sesuatu kepada Mamamu? Kamu ingin melihat Mama kesayanganmu itu menderita? Itu mudah saja bagiku." Bisma dengan senyum seringainya membuat Lovely menatap nanar ke wajah Bisma yang sudah membuatnya sangat membenci sosok laki-laki itu.


"Dasar manusia brengsek. Aku menyesal pernah mengenalmu, kamu memang laki-laki durjana yang pernah aku temui, kamu memanfaatkan Mama untuk kepuasanmu sendiri, dan kamu juga yang sudah membuatku sangat benci dengan yang namanya laki-laki, kamu manusia laknat Bisma Panega!" teriak Lovely pada pria itu. Namun tiba-tiba, seorang wanita datang menghampiri Lovely dan langsung menamparnya.


'Plaaakkk'


Suara tamparan itu terdengar cukup keras, seketika Lovely tercengang, ternyata sang Mama lah yang melakukan hal itu kepadanya.


"Mama ...."


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2