
Lovely segera membuka percakapan dengan sang adik.
"Cinta, tumben malam-malam begini kamu menelepon Kakak? Apa ada masalah?" tanya Lovely. Sambil tiduran, Cinta berbicara kepada sang kakak.
"Bagaimana kabar Kakak?"
"Aku baik, seperti yang kamu lihat!" balas Lovely sambil tersenyum.
"Syukurlah, lalu Mama?" kembali Cinta bertanya tentang sang Mama.
"Mama, Mama juga baik-baik saja. Tumben kamu menanyakan Mama? Biasanya kamu tidak pernah mau membicarakan tentang Mama?" pertanyaan Lovely mengusik hati Cinta.
"Nggak tahu kenapa tiba-tiba saja aku kepikiran tentang Mama. Aku ngerasa Mama dalam masalah besar, Kak. Kalian berdua baik-baik saja, kan?" pertanyaan Cinta lebih menekankan pada kondisi keduanya.
"I-iya, kami tidak apa-apa. Kamu tidak perlu khawatir." balas Lovely yang berusaha untuk tenang seolah tidak sedang terjadi apapun.
__ADS_1
Ray melihat Lovely begitu dalam menutupi rasa sedihnya kepada Cinta. Wanita itu mencoba untuk kuat di depan sang adik. Meskipun sebenarnya dirinya begitu rapuh. Untuk sejenak Ray mulai simpati kepada Lovely. Ia hanya memilih diam saja dan seolah tidak memperdulikan perbincangan Kakak beradik itu.
"Kamu sendiri bagaimana kabarnya? Aku dengar kamu menikah dengan Arga. Apa kamu bahagia bersamanya?" pertanyaan Lovely spontan membuat Ray gugup. Bagaimana bisa Lovely menyinggung masalah Cinta dan Arga.
Cinta tersenyum, "Aku baik, Kak. Kakak tahu, ternyata Arga bukanlah pria yang disebutkan oleh orang-orang, dia pria normal, Kak!" ucapan Cinta tentu saja memaksa Ray melihat ke arah Lovely. Pria itu terkejut saat Cinta menyebut jika Arga adalah pria yang normal.
"Apa? Maksud kamu?" Lovely tampak menyelidik dengan kening yang mengerut.
"Iya, Kakak. Ternyata suamiku itu bukan pria seperti yang mereka bilang. Dia laki-laki tulen!" Cinta benar-benar mencoba meyakinkan sang kakak jika dugaan tentang Arga yang berbelok itu adalah salah besar.
Dengan mantap, Cinta pun mengatakan hal yang sebenarnya. "Iya Kakak, aku dan dia sudah melakukannya ...!"
'Deg'
Bagaikan disambar petir saat Ray mendengarkan pengakuan Cinta. Ternyata mereka berdua sudah melakukannya. Ray pikir Cinta tidak mungkin bisa menerima pria lain dalam hatinya. Ternyata kini posisinya telah digantikan oleh Arga.
__ADS_1
"Cinta dan Arga sudah melakukan hubungan itu? Ini benar-benar tidak pernah kuduga, aku kira Cinta tidak akan pernah bisa melakukannya dengan pria lain, tapi dugaanku salah. Mereka benar-benar bukan hanya sekedar menikah, Cinta memang sudah melupakan aku!" Ray semakin tidak tenang mendengar pengakuan dari mantan kekasihnya itu.
"Ka-kamu sudah melakukannya dengan suamimu? Ah ... kakak pikir itu hal biasa wajar, kamu adalah istrinya dan kalian berdua memang pasangan sah. Itu artinya kamu membuktikan jika suamimu adalah pria yang normal. Yang tidak wajar itu adalah ketika kita bukan pasangan sah tapi terlalu menikmati kebersamaan itu." Ucapan Lovely sontak membuat Ray lagi-lagi menoleh ke arah Lovely. Pria itu menatap tajam ke arah sang wanita.
"Emm ... kalau seperti itu, jalan satu-satunya ya harus menikah dong, Kak. Laki-laki yang hanya menginginkan kepuasan dari wanita tapi tidak mau menikahinya, bagiku dia laki-laki yang bodoh, pengecut, jika dia gentleman seharusnya dia juga berani bertanggung jawab. Si cewek nya juga jangan mau-mau aja dong diajakin bermesraan gitu." Ucapan Cinta seolah menampar keduanya.
Baik Lovely maupun Ray hanya bisa terdiam. Karena apa yang dikatakan oleh Cinta ada benarnya.
"Menikah? Iya mungkin kamu benar. Tapi bagaimana jika kita melakukannya hanya karena suka sama suka tanpa ada ikatan ...!" Lovely tidak melanjutkan kata-katanya karena Cinta langsung memotong pembicaraannya.
"So what Kakak! Itu hal yang bodoh. Mau enak-enak sendiri tanpa memikirkan masa depan selanjutnya? Bagaimana kalau tiba-tiba tumbuh janin yang tak berdosa? Jangan bilang kalau kita akan menggugurkannya? Hello ... bagiku itu adalah kekejaman dan perbuatan mereka sangat terkutuk! Emm ngomong-ngomong kenapa Kakak tiba-tiba membicarakan tentang hal ini? Jangan bilang jika ini tidak ada sangkut pautnya dengan Kakak??"
Jawaban sekaligus pertanyaan Cinta benar-benar membuat keduanya mulai berpikir.
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1