
"Sahhh"
Gema suara terdengar menyeruak di dalam ruang perawatan. Kata sah yang menjadi isyarat atas resmi nya sepasang insan manusia menjadi sepasang suami istri telah terucap dengan lantang.
Sepasang pengantin baru itu pun menghela nafas panjang atas status baru yang kini tersemat dalam dirinya. Kemeja putih dan peci hitam serta seragam sekolah yang belum diganti menjadi busana sakral pernikahan ini.
Iya, Atas pertimbangan dari permintaan Thalita dan saran dari kedua orang tua Revan. Maka pada saat ini, Adelia telah resmi menikah dan menjadi istri siri dari Gurunya sendiri.
Dan 2 jam yang lalu, Orang tua Adelia yang disusul oleh beberapa pengawal farel telah sampai di rumah sakit dan telah mengetahui apa yang tengah terjadi saat ini karena keterangan dari farel. Dan dengan berat hati mereka pun menyetujui Adelia untuk menikah dengan Revan.
"Terimakasih mas dan Adel ka kalian telah mengabulkan permintaan ku" kata Thalita
"Iya sayang, maka untuk itu kamu harus sembuh ya" ucap Revan mengusap rambut Thalita
"Iya mbak, mbak harus sembuh dan semangat" kata Adel.
Melihat hal itu, Sarah pun lantas menghampiri mereka bertiga dengan mata yang berkaca-kaca, sungguh ia tidak menyangka kalau nasib pernikahan anak nya akan seperti ini.
"Terimakasih banyak Adelia, kamu telah menerima Revan dan menuruti keinginan Thalita" ucap Sarah memeluk Adelia sang menantu baru
"Sama - sama Bu, tolong bimbing Adel ya" kata Adelia.
"Iya nak pasti"
Lantas setelah itu, Adel pun melangkahkan kakinya ke arah kedua orang tuanya.
"Mah, maafin Adel ya yang belum bisa menjadi anak yang membanggakan buat mamah" kata Adel memeluk erat sang mamah sambil menitikkan air matanya.
"Nggak, Adel adalah anak terbaik kamu sangat membanggakan dan mamah begitu sayang padamu nak. Jadilah istri dan ibu yang baik ya" kata mamah Adel
"Iya mah pasti"
lalu, Adel pun segera beralih memeluk sang bapak.
"Pak, Terimakasih ya atas segala pengorbanan bapak buat Adel. maafin semua kesalahan dan sikap Adel yang buat bapak susah" kata Adel
__ADS_1
"Bapak selalu maafin kamu Del, tidak terasa ya anak gadis bapak sekarang udah punya suami padahal baru kemarin rasanya bapak menggendong kamu." ucap bapak Adel dan mencium keningnya.
Namun di tengah - tengah keharuan ini, tiba - tiba Thalita mengalami kejang dan terdengar bunyi dari alat monitor di samping nya. Lantas Revan pun segera berlari memanggil dokter.
Setelah itu, Dokter dan beberapa perawat pun dengan sigap memeriksa kondisi Thalita, Namun sayangnya thalita masih tetap memejamkan matanya hingga alat pendeteksi jantung pun tidak mempan lagi di tubuhnya.
"Huftt, dengan berat hati saya ingin menyampaikan kalau Saudara thalita tidak dapat kami selamatkan" kata dokter yang membuat semua orang terkejut seketika.
"Apaaa ?? thalitaaaaa.. ini nggak mungkin"
.........
Awan mendung menghiasi cakrawala, Terlihat dari sana sebentar lagi langit akan menurunkan tangisan nya. Iya anggaplah itu sebagai ucapan belasungkawa dari nya atas kepergian salah satu penghuni kolong nya.
"Mengapa kamu pergi secepat ini meninggalkan ku dan anak kita sayang, mana janji yang dulu kau ucapkan itu, sekarang kau malah mengingkari nya" kata Revan memeluk nisan bertuliskan nama sang istri Thalita
Iya, hari ini tepat jam 10 pagi tadi Thalita telah dikebumikan dengan iringan tangis dari sanak keluarga. Begitupun dengan Adel dan kedua orangtuanya yang ikut serta berada di sana.
"Sudah Van, ikhlaskan Thalita. Ini sudah menjadi takdir dan kehendak yang kuasa. Lebih baik sekarang kita pulang lihatlah sebentar lagi akan turun hujan" kata Sarah mengusap pelan bahu sang anak.
"Nggak mah, aku gak mau ninggalin Thalita. aku mau disini" balas Revan.
Namun tetap saja, Revan tidak mau mendengarkan perkataan ibunya. Adelia yang melihat hal itu merasa sangat iba sekaligus sedih melihat keadaan guru sekaligus suami nya itu.
"Van, jangan jadi pria cengeng. Sudah cukup karena kehilangan Thalita kau menjadi lemah. Ingat ada anak kalian yang membutuhkan kasih sayang dan perhatian mu" kata farel tegas yang membuat Revan sedikit tersadar.
"maafkan aku, baiklah kita pulang" kata Revan yang langsung berdiri dan melangkah kakinya terlebih dahulu menuju mobil dengan perasaan berat dan tak rela.
.........
"Adel sayang, mulai hari ini kamu tinggal disini ya nak. Nanti mamah akan menyuruh orang untuk mengambil perlengkapan mu di rumah" kata Sarah sesampainya mereka di mansion
"Baik mah, terimakasih" jawab Adel tersenyum
"Sama - sama. oh iya sekarang mendingan kamu istirahat di kamar revan ya di lantai atas pintu warna gold" titah Sarah yang langsung di angguki oleh Adel.
__ADS_1
Dan kini sampailah Adelia, di dalam sebuah kamar yang begitu luas dan mewah. Sentuhan warna gold dan putih membuat nya terlihat menawan. Ia begitu mengagumi kamar ini, ya meskipun pada awalnya Adel merasa sangat ragu untuk masuk ke sana.
Di tengah - tengah kegiatannya, tiba - tiba pintu kamar terbuka tampaklah di sana Revan dengan wajah terkejut melihat kehadiran adel di sana.
"Kau ? apa yang kau lakukan di kamar ini ?" tanya revan dingin
"Pak Revan, maaf pak tadi mamah menyuruh saya untuk beristirahat di kamar ini" kata Adelia menunduk.
Mendengar hal itu, Revan pun lantas berteriak memanggil sang mamah.
"Ada apa sih Rev, kamu panggil - panggil mamah" tanya Sarah
"Justru mamah yang apa - apaan, kenapa mamah nyuruh dia buat tidur di sini ?"
"Loh, kenapa emang ? salahnya dimana ? Adel kan sekarang istrimu dan sudah sewajarnya dia ada di sini"
"Iya mah, tapi Revan belum siap kalau harus kembali memasuki wanita lain ke dalam sini, kenangan Thalita terlalu kuat untuk Revan cegah" kata revan lirih.
Melihat kondisi Revan yang seperti itu, hati Adelia menjadi sedih sekaligus menyesal.
"kemana fikiran mu kemarin Adel, seharusnya kau tolak saja permintaan mbak Thalita. dan lihat sekarang ? pernikahan ini malah menciptakan kesedihan" ucap Adel dalam hati nya sambil menatap Revan dalam.
"Iya Van, tapi kau juga tidak bisa bertindak seperti ini. Ayolah gunakan hati mu, jangan hanya terus mengedepankan kesedihan dan keterpaksaan mu dalam ikatan pernikahan ini.
justru yang harusnya merasa sedih saat ini adalah Adel, di usianya yang masih belia ia dengan rela menukar kebebasan nya untuk menjadi istri sekaligus ibu sambung untuk anak mu, apa kau tidak berpikir demikian ?" kata Sarah
Mendengar perkataan sang mamah, Revan pun lantas terdiam beberapa saat seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Terserahlah" kata Revan yang langsung pergi ke kamar mandi meninggalkan Sarah dan Adelia.
"Adel, jangan dengarkan Revan ya nak. maklumi saja ia baru saja kehilangan seseorang yang berharga dan mamah harap kamu dan Revan akan bahagia selalu." kata Sarah sambil mengelus rambut Adel.
"Iya mah, semoga saja"
.........
__ADS_1
dukung terus karya cintai aku pak guru ya
penasaran kan bagaimana kisah cinta antara Revan dan Adelia ?