
" Bu kapan bapak pulang? " tanyaku sama ibu rasanya suasana rumah sepi sekali tanpa bapak , dan rindu sama sosok bapak yang selalu ada di saat aku terpuruk , aku selalu bercerita sama bapak jika ada sesuatu di hatiku.
" 2 hari lagi nak , kenapa? rindu ya sama bapakmu ?.." ibu menggoda ku sambil memotong sayur ...
" iya Bu " aku mengiyakan perkataan ibu sambil berlalu ke kamar mandi rasanya menunggu 2 hari seperti 2 tahun , lama sekali , bapak ke luar kota baru di tinggal beberapa hari aja rinduku udah gak tertahankan apalagi kalau bapak meninggalkan diriku untuk selamanya....
Rasanya enak sekali mengguyur air dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan air hangat membuat pikiran dan hatiku lebih tenang walaupun tidak berat beban di hidup ku tapi berantem dengan kak dewi merasa sudah berdosa kepadanya karena baik buruknya dia tetap kakaku dan dirinya pasti pengganti ibu saat ibu sudah tiada.
Lulur herbal dari kulit jeruk dan masker wajah lumayan sudah membuat moodku kembali semangat dan menghilangkan rasa dendam di benak hatiku , dendam? apa arti dendam ... aku tidak bisa dendam dengan siapapun apalagi dengan saudara sendiri udah lah mungkin kemarin aku salah udah melawan kak dewi terbawa emosi perkataan dirinya ke ibu udah membuat aku buta pikiran.
Ritual mandi ku pun selesai ku balutkan handuk di badanku dan sambil ku gulung rambut basahku dengan handuk ...
Aku harus meminta maaf sama kak dewi kemarin udah berkata kasar dengannya , ku belikan aja makanan kesukaan nya corndog semoga aja di terima.
sesampai di kamar ku bercermin melihat setiap lekuk tubuhku rasanya aku puas punya badan dan wajah yang seperti ini , jauh dari sebelumnya lebih cantik , bersih , dan putih mulus.
" Ueekkk "
suara itu berasal dari kamar mandi...
seperti nya itu suara kak dewi
apa kak Dewi belum membaik?
bukannya kemarin kak Dewi udah minum obat?
ku cepat cepat memakai baju , handbody dan bedak , ingin melihat keadaan kak Dewi.
__ADS_1
tapi sebelum langkah ku keluar dari kamar , aku mendengar kak Dewi berteriak teriak di dalam kamarnya ....
dengan siapa dia marah marah?
apa dengan ibu lagi?
atau sedang teleponan?
ku fokuskan terus menguping pembicaraan kka dewi dari balik pintu kamar ku
ha? bertanggungjawab? apa maksud dari perkataan kak dewi...
aku mendengar sekilas dari balik pintu kamar , kamar kami bersebelahan jadi suara sekecil apapun pasti kedengaran...
rasa penasaran ku sangat tinggi saat ini ku buka pintu kamar ku , ku lihat ibu sudah mengedor pintu kamar kak dewi...
gak lama kakak pun membuka pintunya dan wajahnya hancur matanya bengkak dan merah , rambut berantakan bahkan banyak sekali goresan luka di pipi kak dewi seperti bekas cakaran kuku.
aku dan ibu masuk ke kamar kakak kondisi nya berantakan sekali seperti tempat sampah , dimana mana barang yang sudah tidak lagi berada di tempatnya alias pecah akibat pelampiasan emosi nya.
bahkan gelas minuman dan piring yang ku sediakan di meja samping tempat tidur nya pun terbuang begitu aja .
"kamu kenapa Dewi , kenapa wajahmu seperti ini , ada apa? cerita sama ibu" ibu terus mendesak agar kak Dewi bercerita apa yang terjadi sebenarnya
kak Dewi bersujud meminta maaf kepada ibu sambil menunjukkan kertas kecil berwarna putih yang terdapat 2 garis merah di dalamnya alias tespack hasil urinnya.
" apa ini Dewi? kamu hamil?" ibu menanya seperti tidak percaya dengan apa yang di lihat nya ,
__ADS_1
air mata ibu pecah keluar begitu saja mengalir , kecewa , sakit hati , dan perasaan berkecamuk berhasil mendarat sempurna di dada ibu.
putri kesayangannya sudah membuat ibu tidak bisa merasa berharga sebagai orang tua bahkan putri nya tidak bisa menjaga kehormatan diri nya sendiri.
kali ini ibu memulai mengeluarkan tanduk nya yang tadinya selalu membela dan mengiyakan perkataan kak dewi kali ini ibu menyerang kak dewi tapi masih menggunakan kata kata yang baik , karena melihat keadaan kak dewi seperti orang yang frustasi berat.
Kak Dewi hanya tertunduk malu mendengar semua perkataan ibu dan penuh rasa bersalah atas apa yang dia perbuat selama ini dengan ibu dan diriku bahkan untuk menatap wajah ku aja dirinya tidak mampu lagi .
Disini lah kelemahan ku disaat melihat keadaan kayak gini ntah kenapa mataku mengeluarkan air mata dan merasa iba melihat kondisi kakakku sendiri seperti ini nasibnya sangat tidak beruntung dan anak yang di kandung nya apakah bapaknya tidak bertanggungjawab?
ku lap air mata ku aku gak mau sampai terlihat lemah disini aku tidak akan lagi berantem denganya lebih baik aku mengalah dari pada membuat permusuhan antara persaudaraan.
" Bu ayuk cepat kita bawa kak Dewi ke bidan depan " saran ku sambil duduk di sebelah kak Dewi sambil menggosok punggung leher nya dengan minyak kayu putih
ibu hanya menghela nafas panjang, berat dan rasanya ingin sekali mengeluarkan emosinya yang selama ini di tahan apa yang di perbuat sama kak dewi.
ku rangkul ibu sambil membawa ibu ke arah keluar kamar , ku dudukan ibu di kursi meja makan , dan ku berikan segelas air putih untuk ibu dan sambil ku bilang ke ibu untuk tenang dulu dan buat sementara waktu ibu harus banyak dampingi kak dewi pasti kak dewi butuh sosok seorang ibu disampingnya ...
ibu seperti berat sekali rasanya menerima kenyataan pahit ini , yang ibu pikirkan bagaimana dirinya bisa bercerita ke bapak kalau anak yang yang selama ini dia manja bisa hamil di luar nikah ..
"apakah Hendra ayah dari anak yang di kandung Dewi? " tanya ibu sambil memegang tanganku saat aku ingin pergi ke kamar
aku terdiam sejenak... karena setau ku kak Dewi banyak sekali bergonta ganti pacaran .... aku binggung harus jawab apa dengan apa ini tanyakan
" kayaknya nanti kita tanyakan ke kak Dewi aja Bu , kalau memang mas Hendra bapak anak yang di kandung kak Dewi kita harus bertindak Bu " cuma itu yang bisa ku bilang ke ibu untuk saat ini , sebenarnya juga aku memikirkan hal yang sama dengan apa yang ibu pikirkan.
Aku meninggalkan ibu sendirian di ruang makan , aku bersiap siap untuk membawa kak Dewi ke bidan , bukan khawatir dengan dirinya tapi melainkan dengan bayi yang di kandung nya.
__ADS_1