
Julia Dewi adalah pemberian nama dari ayahku untuk sosok gadis berkulit putih bersih , tinggi , berambut panjang keriting dan wajah yang cantik yang mempunyai tahi lalat di sudut atas bibir nya , yang memiliki arti nama "Wanita pemberani". Sebenarnya sosok kakak adalah sosok yang selalu menjadi panutan hidupku , tapi untuk sekarang sudah tidak lagi , keras nya hidup di kota membuat kakak berubah 180 derajat .
Usia kakak yang beranjak 28 tahun tidak jauh dengan seumuranku hanya selisih 5 tahun tapi sifat kakak selalu berakhir dengan kata ( as ) { Sarkas , ganas , keras , dan malas ).
itu semua sudah ada di genggaman tangan kakaku , kenapa seperti itu? Pahit , iya sekali lagi ku katakan "meminum obat pil tidak sebanding dengan pahitnya hidup".
Walaupun cuma jenjang pendidikan menengah atas , kakaku tidak gampang terbodohi dan mengikuti arus , kecuali kalau soal cinta , siapapun pasti bisa bodoh dibuatnya , bahkan baunya t*i kucing pun tidak ada artinya jika ada sang kekasih di sampingnya.
Bullying , Cacian , Hinaan sudah menjadi makanan kak Dewi semenjak duduk di kelas SMP . karena kami pendatang baru dari kampung , pasti akan beda jauh dengan orang-orang di kota metropolitan ini.
Dari cara berpakaian , cara bicara , dan cara pola pikir bagaikan langit dan bumi , tapi tidak berlaku untuk kak Dewi karena dia cepat belajar dan bergaul dengan orang di kota ini sehingga gampang sekali mempunyai kawan bahkan dirinya tidak jauh seperti selebriti , beda dengan ku tidak jauh dengan mbok"di kampung pelosok.
Kak Dewi tidak segan-segan untuk memakai baju yang seksi seperti teman teman nya supaya terlihat modis dan elegan.
Rata rata yang ku tau teman kak dewi semua orang yang berkelas bahkan terpandang , orang tua mereka juga selalu memakai barang branded dan naik turun mobil , tapi kakaku pandai sekali , entah jurus apa yang di keluarkan sehingga dapat teman seperti itu .
__ADS_1
Beda sekali denganku bahkan temanku mengajak nongkrong untuk nonton bioskop dan makan di cafe aku tidak punya uang makanya mereka menjauhi diriku secara perlahan-lahan.
apa yang kakaku rasakan , sekarang ia terapkan kepada ku, supaya apa? Berlatih untuk menjalani hidup di kota orang. Kalau cuman modal lembek pasti akan di pijak atas kepala.walaupun tidak semua seperti itu , tapi kebanyakan orang ya seperti itu.
Tapi walaupun Kaka seperti ini aku tidak mau mencontoh nya karena ku pikir kak dewi bukan nya menutup aurat melainkan makin sengaja memamerkan tubuh nya kemana mana , makanya lelaki pun senang bergaul dengannya .
Dengan kehidupan yang jauh dari kata biasa saja bahkan lebih tepatnya bak model , membuat ia selalu menerima kekasih tajir dan yang bisa membelikan semua apa yang dia mau , untuk laki laki yang cuma modal motor , dan pekerjaan yang biasa tidak akan di lirik kakaku bahkan dia enggan untuk mengenal nya.
Arogan , sombong dan kementelan sudah nempel di diri kak dewi , cantik tapi sifatnya tidak secantik wajahnya , manis tapi sifatnya sangat pahit.
Entah apa yang merasuki pikirannya saat ini , harta dan kekayaan menjadi nomor 1 di hidupnya , mungkin dengan caranya bisa mengangkat derajat kami yang tadinya di bawah menjadi di atas , tanpa dia sadari ia harus melakukan kebohongan untuk menutupi seluruh kesederhanaan kami dan dirinya...
Tapi ada kelebihan kakak yang sampai sekarang akan ku pegang menjadi panutannya di untuk hidup ku kedepannya bahkan inilah yang sering ku jalani ....
(Jangan mudah percaya dengan orang lain termasuk dirimu sendiri ) itu lah yang sering ku dengar dari ucapan kakaku , disaat kami sedang akur"nya kalau gak seperti bawang merah dan bawang putih , bertengkar terus dan jarang jumpa karena kak dewi sering berpergian ke luar kota ikut teman nya camping ataupun tinggal di rumah mewah teman nya.
__ADS_1
Dirinya tidak betah tinggal dengan kami yang rumah sederhana yang penampilan kami biasa saja , mungkin orang lain adalah keluarganya tapi keluarga adalah orang lain untuk nya.
kegiatan kakakku sekarang sebagai seorang guru jahit , tapi itu bukan kerjaan tetap hanya selingan saja jika kakaku bosan di rumah ia pergi ke tempat mengajar nya yang sudah di sewanya sejak 2 tahun lamanya yang berlokasi di Kuningan , Jakarta. Ia hobby menjahit sejak duduk di kelas SMA 1 , mempunyai ilmu jahit yang lumayan mahir kakak sudah mempunyai banyak langganan yang sangat puas dengan hasil jahitan nya .
untuk kekasihnya jangan di tanya lagi 3 lelaki sudah berhasil menerobos hati kakaku dan yang terakhir ini adalah mas Hendra , entah ini pelabuhan terakhir atau masih ada lowongan di hatinya untuk yang lain , aku gak ngerti dengan kakak yang selama ini hubungannya yang tidak sampai 1 tahun sudah sirna . Apa karena kekasihnya kurang tajir atau karena takut karena ke galak kan kakaku .
tapi moto hidup yang kakak lakukan ke aku Segalak galaknya harimau pasti tidak akan memakan anaknya sendiri. itu yang kakak terapkan ke hidupku , mungkin dengan cara bentakan , dan marahnya ia mendidik ku supaya tidak dinilai selalu dibawah orang lain. Tapi apakah tidak bisa mendidik dengan kata lembut dan halus , karena kami berbeda jauh aku yang masih mempunyai karakter lembek" seperti dodol sedangkan kakakku seperti kayu kerasnya.
Walaupun sifatnya yang kurang sopan dengan diriku , bapak dan juga ibu , tapi ia tidak mau membuat bapak , ibu terlihat rendah di mata orang lain , harta boleh miskin tapi martabat jangan... itu lah yang jadi pedoman nya .
Jika ada seseorang menghargai kita dengan uang percaya lah orang itu bukan orang baik untuk kita .
Seperti kak dewi menghargai seseorang karena uang , jika orang kaya dan berwibawa pasti dia sangat merendahkan diri nya sendiri dan kalau melihat orang susah dirinya bagaikan langit tinggi di atas awan , sombong tak menentu padahal kak dewi bukanlah orang terpandang ataupun orang yang tersohor dimana mana .
Dirinya lupa darimana ia berasal dan di lahirkan , dari pelosok kampung yang jauh dari kata mewah ia di lahirkan dan juga bukan di rumah sakit mahal melainkan dari dukun beranak yang cuman ada di kampung kami , seperti kacang lupa kulit , suatu saat dirinya akan sadar sendiri siapa dirinya dan siapa keluarga nya .
__ADS_1
Walaupun kak dewi seperti itu aku tetap sayang denganya , karena aku yakin jika ibu tiada dirinya yang akan menjadi pengganti sosok ibu untuk diriku tidak sekarang tapi entah kapan sadarnya .
Tidak ada guna ribut dengan dirinya yang ada hanya menyakiti diri sendiri dengan mendengarkan perkataan nya yang menusuk di hati , tanpa memandang dengan siapa dia berhadapan ia bisa memaki bahkan mencaci orang tersebut.