
Mereka berpelukan di depann pintu kamar mandi.
___________________________________________
"Sayang apa kau tak jadi mandi?" Tanya Davian yang merusak suasana.
"Iya lah, badan ku udah lengket kek gini".
"Ya udah ayok, aku mau ikut".
Mereka pun masuk ke kamar mandi bersama, mereka mandi di bath up yang sama.
"Maaf sayang" ucap Fransisca.
"Tak masalah, lakukan lah sesukamu, aku hanya milik mu😊" ucap Davian dengan senyuman indah nya.
Fransisca pun langsung ******* bibir Davian dan...
Crat
Fransisca melukai lengan Davian dengan pisau yg ia pegang, Davian hanya mengerutkan kening nya menahan rasa sakit itu, darah mengalir dari lengan Davian, tapi Davian berusaha untuk tidak merasakan nya.
Fransisca melepaskan pautan ciuman nya, dan melihat wajah Davian, ia ingin mengecek apakah Davian baik baik saja.
Davian menatap Fransisca lekat, membuat Fransisca percaya jika dia baik baik saja.
"Apa kau yakin?" Tanya Fransisca.
"Yaa sayang😊" setelah mengucapkan itu, davian langsung menarik kepala Fransisca untuk kembali ******* bibir nya dan kembali melanjutkan kegiatan nya.
__ADS_1
Sayatan demi sayatan mendarat di tubuh Davian, air di bathtub berubah menjadi merah muda, Davian berusaha menahan rasa sakit itu, karna merasa ada yang mengganjal Fransisca melakukan hal yg sama dngn diri nya.
Crat
Fransisca melukai lengan nya dan membuat darah mengalir deras, Fransisca menahan rasa sakit itu, dia mengerut kan dahi nya.
"Sayang, apa yg kau lakukan?" Davian benar benar panik saat melihat Fransisca melukai lengan nya sendiri dan membuat darah mengalir dari lengan nya, luka yang di buat Fransisca di lengan nya sangat besar.
"Aku ingin merasakan apa yang kau rasakan" ucap Fransisca tanpa ekspresi apa pun.
"Kau tak perlu melakukan itu, kenapa kau sangat tak percaya aku" ucap khawatir Davian sambil mengobati luka Fransisca dengan kotak obat yg berada di toilet.
"Aku percaya pada mu, sangat percaya, tapi aku tak ingin kau merasakan sakit ini sendiri, aku juga harus tau bagaimana rasa sakit nya"
"Luka yang berada di tubuh ku ini tak sepadan dengan rasa sakit saat kau melukai diri mu sendiri" jelas Davian sambil membalut luka di lengan Fransisca, Davian benar benar tak memperdulikan jika saat itu tubuh nya juga mengeluarkan banyak darah, dia hanya peduli pada luka yang berada di tubuh Fransisca.
"Tapi kau juga terluka, bahkan lebih banyak dari pada ku, biar aku yang mengobati nya".
"Baiklah😊".
Skip
Luka di tubuh Davian sudah terobati semua, tak ada lagi darah yang mengalir di kamar mandi itu, mereka memakai pakaian mereka.
"Sayang, aku ingin bertanya" ucap Davian sambil bersandar di atas ranjang.
"Hm, tanya kan lah" too.
"Jika saja aku tak ada hari ini, apa yang akan terjadi?".
__ADS_1
"Mungkin aku bisa melukai diri ku sendiri dengan semua pecahan barang, atau aku mencari hewan untuk ku bunuh".
"Sudah berapa banyak orang yang kau bunuh?".
"Tak banyak, se umur hidup ku ini, aku baru membunuh 14 orang" jawab santai Fransisca.
"Kau serius?".
"Yaaa, itu jumlah yang sedikit jika ingin kau bandingkan dengan sikopat lain nya di luar sana"
"Hmm, ya kau benar".
Kalimat itu membuat suasana kamar hotel sunyi, Fransisca sibuk dengan Ipad nya.
Tiba tiba entah apa yang membuat Davian melakukan itu.
Davian menggengam ke2 tangan Fransisca dan menatap nya, Fransisca yqmg terkejut pun langsung menatap wajah Davian heran.
"Dengar, berjanji lah untuk tidak lagi melukai diri mu sendiri" ucap Davian sambil menatap semu Fransisca.
"Aku tak bisa berjanji" too.
"Aku akan berusaha agar kau tak melukai diri mu, dan kau juga harus berusaha untuk tidak melakukan hal itu".
"Apa yang bisa kau lakukan?, Dengan memberikan diri mu sebagai santapan ku?, Dengan membuat diri mu kesakitan?, Atau kau berusaha untuk mengobati ku?, Ini bukan lah penyakit Davian" jelas Fransisca.
"Aku tau ini bukan penyakit, dan aku tau apa yang harus aku lakukan, jadi aku memohon pada mu untuk ikut berusaha bersama ku, aku hanya meminta kau untuk tidak melukai diri mu, apakah itu sangat sulit?".
"Itu.... Entah lah😞, terkadang aku merasa lelah bersikap seperti ini, aku di tuntut untuk selalu berhati hati dan teliti di setiap gerak ku, aku juga harus memikirkan terlebih dahulu tindakan ku apakah itu baik atau buruk nanti nya, aku lelah dngn semua ini, aku ingin merasa bebas" jelas Fransisca dengan nada yang lesu namun ekspresi yang tetap biasa.
__ADS_1