Crazy Eros

Crazy Eros
Siapa Raka?


__ADS_3

Sesudah menyelesaikan urusannya dengan kedua orang tua Eros, Jingga pun memutuskan untuk kembali ke kamar Eros, tak lupa pula gadis itu membawa sebuah nampan yang berisi makan dan minum untuk Eros, yang tadi memang sudah dia persiapkan.


Ceklek


"Maaf, aku lama." Ujar Jingga yang baru saja masuk ke dalam kamar Eros.


Suara Jingga yang mengalun di pendengaran Eros, membuat Eros yang tadinya sedang bersandar di dashboard ranjang sembari bermain ponsel seketika mengalihkan pandangannya ke arah Jingga.


"Gapapa, sayang." Balas Eros sembari tersenyum. Lebih tepatnya pura-pura tersenyum, karena sejujurnya laki-laki itu sedang bersusah payah untuk mengontrol emosinya karena membaca sebuah pesan mesra dari laki-laki lain di ponsel gadisnya.


Jingga berjalan ke arah Eros, sesudah sampai di hadapan Eros, Jingga pun menaruh nampan yang tadi dia bawa ke atas nakas samping tempat tidur laki-laki itu.


"Emang kamu dari mana? Kok lama?" Tanya Eros seraya menepuk kasur di sampingnya, bermaksud menyuruh Jingga untuk duduk di sampingnya.


"Tadi mama kamu ngajak aku ngobrol sebentar." Bohong Jingga sembari mendudukkan dirinya di samping Eros.


'Mama sama papa pasti udah ngejalanin misinya.' Batin Eros sembari tersenyum miring.


"Oh, ngobrolin tentang apa rupanya?" Tanya Eros pura-pura percaya.


"Adalah, kepo banget." Ujarnya sinis.


"Bukan kepo, sayang. Cuman pengen tau." Kata Eros sembari mengacak rambut Jingga.


"Is kamu ni kebiasaan ya, selalu aja ngacak-ngacak rambut aku." Ujar Jingga kesal.


"Maaf, tapi ngacak-ngacak rambut kamu itu salah satu favorit aku." Ucapnya sembari tersenyum ke arah Jingga.


Mendengar itu, Jingga pun berdecak malas.


"Ohya, aku mau balik. Semua badan aku capek, aku pengen istirahat." Kata Jingga.


"Kok cepat banget? Kalau kamu capek, kamu istirahat aja disini, di samping aku, atau kamu bisa tidur di kamar tamu." Ujarnya seperti menahan kepergian Jingga.


"Gak bisa, lagian aku punya rumah, Ros. Kamu juga udah mendingan sekarang, nanti kalau kamu perlu apa-apa kamu kan bisa minta tolong sama bibi atau orang tua kamu." Ucap Jingga berusaha untuk tetap lembut.


"Tapi aku maunya sama kamu, kamu kan pacar aku." Ujarnya tak menyerah, dia masih ingin gadis itu disini bersamanya.


"Please, sayang! Aku capek, aku pengen istirahat di rumah aja." Tak ada cara lain, Jingga pun dengan terpaksa memanggil Eros dengan sebutan sayang, dan Jingga yakin, caranya kali ini pasti berhasil.


Dan benar saja, mendengar ucapan itu, Eros pun mengembangkan senyumannya.


"Kamu manggil aku apa tadi?" Tanya Eros antusias.


"Sayang." Jawab Jingga sembari tersenyum paksa.


"Akhirnya, aku dengar kamu manggil aku sayang lagi, karena semenjak kecelakaan itu aku gak pernah lagi dengar kamu manggil aku sayang." Celotehnya dengan lebar, terdengar ada nada sedih dari ucapannya.


"Iyaudah maaf." Balas Jingga dengan malas.


"Gapapa, sayang. Aku ngerti kok." Katanya sembari tersenyum. "Yaudah kamu balik gih sana! Tapi besok kesini lagi." Lanjutnya.


Jingga mengangguk. "Yaudah, aku balik ya." Pamitnya sembari beranjak dari duduknya.


"Sini bentar!" Pinta Eros menyuruh agar gadis itu mendekat.


Jingga yang mendengar itu mengernyitkan dahinya bingung. "Kenapa?" Tanya Jingga.


"Tunduk dikit dong, babe!" Pintanya lagi.


Walau malas, Jingga pun tetap melakukam permintaan Eros dengan perasaan terpaksa. "Kamu mau ap-" ucapan Jingga terputus karena tiba-tiba saja Eros mencium pipinya.


Cup


Jingga yang dicium pun seketika pipinya memanas, antara malu, dan marah. Karena sejujurnya ini pertama kalinya Eros menciumnya lagi setelah mereka putus.


"K-kamu apaansih, pake cium-cium segala?" Tanya Jingga dengan pipi memerah.


"Kenapa? Kita kan udah gak di tempat umum, lagian disini cuman ada kita berdua, kan?" Bukannya menjawab Eros justru melontarkan pertanyaan balik kepada Jingga.


"Ya, tapi kan gak tiba-tiba gitu. Setidaknya bilang dulu." Jawab Jingga berusaha tenang.

__ADS_1


"Yaudah, sorry, Entar lain kali aku bilang dulu deh sama kamu." Kata Eros sembari tersenyum.


"Yaudah iya. Udah deh aku mau balik dulu, kalau kita ngobrol terus yang ada aku gak balik-balik lagi." Ujar Jingga.


Eros mengangguk. "Oke, nanti kamu minta antarin aja sama pak joko ya."


"Iya, yaudah byee." Katanya, kemudian gadis itu pun melenggang pergi dari kamar Eros.


Setelah kepergian Jingga, Eros pun merebahkan tubuhnya kembali sembari menatap langit-langit kamarnya.


"Siapa sebenarnya laki-laki yang tadi ngirim pesan ke Jingga? Kok kayaknya mereka dekat banget, terbukti dari nama kontak laki-laki itu ada lovenya di handphone Jingga." Gumam Eros. "Oke, tugas aku bertambah sekarang. Aku bakalan cari tau nanti tentang siapa Raka." Lanjutnya sembari tersenyum sinis.


***


"kamu udah pulang, sayang?" Tanya Rachel kepada putrinya yang baru saja masuk ke dalam rumah.


Jingga yang mendengar suara sang mama pun terkejut. "Ih, mama. Jingga kaget tau, mama tiba-tiba muncul di belakang Jingga." Katanya sembari mengerucutkan bibirnya. Tak lupa pula gadis itu menyalami tangan Rachel.


Rachel yang mendengar itu pun seketika terkekeh. "Maaf, sayang." Ujarnya sembari menuntun sang anak agar duduk di sofa yang terletak tak jauh dari mereka berdiri.


"Gimana keadaan Eros, nak?" Tanya Rachel ketika mereka sudah duduk di sofa tersebut.


"Alhamdulillah, Eros udah lebih baik dari sebelumnya kok, ma." Jawab Jingga.


"Baguslah kalau seperti itu." Ujar Rachel sembari mengelus lembut rambut putri satu-satunya itu.


"Papa mana, ma?" Tanya Jingga ketika tidak melihat sang papa.


"Papa lagi ke kantor, tiba-tiba saja ada seseorang yang membantu perusahaan kita, dan berkat itu perusahaan kita perlahan-lahan bisa bangkit lagi." Jelas Rachel antusias.


'Ternyata tante Dara sama om Kenan beneran ngelakuin ucapan mereka' Batin Jingga sembari tersenyum.


"Ma, sebenarnya orang tua Eros yang udah bantu kita." Tutur Jingga kepada sang mama.


"Maksud kamu apa, Jingga? Mama sama sekali tidak mengerti." Kata Rachel sembarj mengernyitkan dahinya.


Jingga menghela napas pelan. Kemudian gadis itu pun menjelaskan semuanya dengan jujur kepada Rachel.


"Begitu, ma." Ujarnya setelah sudah selesai menjelaskan.


"Gak usah, ma. Jingga langsung istirahat aja." Ujar Jingga, yang kemudian di Jawab anggukan oleh Rachel.


Cup


"Bye, ma." Ujarnya sembari mencium pipi sang mama.


Jingga pun beranjak dari duduknya, setelah itu ia pun melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


Sesudah sampai di kamarnya, Jingga pun langsung merebahkan dirinya di kasur empuk miliknya, tanpa mau membersihkan diri terlebih dahulu.


"Capek banget, harus pura-pura akting seharian. Untung aja ada imbalannya, kalau enggak, pasti gue gak akan ikhlas nurutin kemauan orang tua dari laki-laki gila itu." Katanya dengan sinis.


Dreettt...dreettt...


Ketika dia ingin memejamkan matanya, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, menandakan ada yang menelponnya.


"Siapa si ganggu banget." Ujarnya kesal


Dengan malas Jingga pun mengambil handphonenya yang berada di atas nakas. Matanya pun melihat nama siapa yang menelponnya. Sumpah, Jika yang menelponnya ialah Eros, dia tidak akan mau mengangkatnya.


Rakađź–¤ is calling...


Deg!


Nama Raka tertera di benda pipih tersebut, melihat itu Jingga yang tadinya memasang wajah kesal, kini berganti menjadi senang. Tanpa menunggu lama lagi, dengan segera gadis itu menjawab telepon tersebut


"Do you miss me?" Tanya seseorang di sebrang sana.


"Yes, i miss you." Jawabnya dengan hati yang berbunga-bunga.


"Aku ingin bertemu denganmu, honey."

__ADS_1


"Makanya cepat balik dong."


"Aku sudah kembali, sayang." Ujar laki-laki yang bernama Raka itu sembari terkekeh.


"Benarkah?" Tanya Jingga tak percaya.


"Yes. Jadi apakah bisa aku menemuimu?"


"Of course, kamu ingin bertemu denganku di mana, babe?"


"Bagaimana jika di rumahmu saja, aku akan berkunjung di rumahmu besok."


"Baiklah, aku akan menunggumu."


"I love you."


"To."


"Sampai ketemu besok, honey."


Telepon pun di tutup sepihak oleh laki-laki itu.


"Kyaaaaa!!! Dia sudah kembali." Teriaknya dengan perasaan yang berbunga-bunga. "Aku tidak sabar bertemu dengannya." Sambungnya.


Raka Alexander, pacar dari Jingga yang kebetulan sedang menjalankan studynya di London. Ya, tanpa kalian tau, Jingga sudah mempunyai pacar sebelum dia menjalin hubungan dengan Eros. Bahkan kedua orang tua Jingga sudah mengetahuinya, tapi setelah Jingga mengakui bahwa dia sudah resmi berpacaran dengan Eros, Jingga pun mengatakan kepada orang tuanya bahwa dia dan Raka sudah tidak menjalin hubungan padahal kenyataannya mereka masih berpacaran sampai sekarang. Bahkan Raka sudah mengetahui mengenai tantangan yang di berikan teman-teman Jingga kepada Jingga.


***


Di lain tempat tetapi di waktu yang sama, sebuah keluarga sedang duduk bersantai di-ruang keluarga.


"Terima kasih, ma, pa. Kalian sudah mau membantuku sampai sejauh ini." Kata Eros sembari senyum.


"Tidak masalah." Ujar Kenan.


Sedangkan Dara? Dia tidak menjawab, melainkan dia sedang melamun, dia berpikir bahwa yang dia dan keluarganya terhadap Jingga itu salah. Jujur, Dara ingin sekali menolak dan menasehati ayah dan anak itu untuk agar tidak melakukan hal-hal licik lagi, tetapi Dara tidak bisa, Dara takut melawan Kenan yang notabenenya adalah suaminya dan ayah dari Eros itu.


"Sayang?" Panggil Kenan yang membuat lamunan Dara buyar.


"Ah--iya, mas." Ujarnya dengan gelagapan.


"Are you okay? Kamu seperti lagi mikirin sesuatu? Mikirin apa?" Tanya Kenan curiga.


"Enggak kok, mas. Aku cuman lagi mikirin mau masak apa besok." Bohongnya berusaha tetap tenang.


"Beneran?" Tanya Kenan memastikan.


Dara tersenyum. "Iya, mas." Katanya sembari mengelus lengan sang suami.


Eros yang melihat itu berdecih, ini yang tidak dia sukai jika sedang berkumpul bersama orang tuanya, mereka pasti akan bermesraan di depannya, dia kan juga ingin woy.


"Kenapa kau melihat kami seperti itu? Kau iri, he?" Ejek Kenan yang tak sengaja melihat tatapan muak Eros terhadap mereka.


"Kalian ini sudah tua, berhenti bersikap seperti anak muda yang sedang di mabuk asmara." Balas Eros menusuk.


Mendengar itu membuat Kenan menggeram. "Anak kurang ajar! Beraninya kau berbicara seperti itu kepada kami, masuk ke kamarmu sana!"


"Sudahlah, mas. Kalian ini selalu saja bertengkar, aku sungguh pusing melihat kalian." Lerai Dara kesal.


Sedangkan Eros yang sudah berhasil kekesalan sang papa pun menyeringai.


"Tanpa papa suruh akupun akan masuk ke kamar, aku sungguh muak melihat muka papa." Katanya dengan nada mengejek.


"Sialan." Desis Kenan.


"Sudah-sudah! Eros, pergilah! Jangan terus mengejek papamu!" Ujar Dara sembari berkacak pinggang.


"Baiklah, ma." Katanya dengan lembut.


Cup


Setelah mencium pipi sang mama, Eros pun berlari secepat mungkin, takut monster yang berada di sebelah mamanya itu mengamuk.

__ADS_1


"Brengsek! Beraninya kau mencium istriku." Teriaknya marah.


Dara yang melihat itu hanya menggeleng pasrah. Beginilah hari-hari Eros dan Kenan, mereka tidak pernah akur jika bertemu. Tapi asal kalian tau, jika salah satu di antara mereka membutuhkan bantuan, mereka pasti dengan cepat akan membantu.


__ADS_2