Crazy Eros

Crazy Eros
Pesan Misterius


__ADS_3

"Jingga, tunggu!" Seru laki-laki dari arah belakang Jingga.


Bukannya berhenti Jingga malah semakin mempercepat langkahnya agar segera menjauh dari Eros.


Yap, laki-laki yang memanggil Jingga adalah Eros. Tadi selepas bel pulang berbunyi, Eros memanggilnya, tetapi hanya di hiraukan oleh gadis itu.


Jingga kira, Eros bakalan berhenti mengejarnya, tapi perkiraan Jingga salah, Eros justru mengejarnya hingga sampai di parkiran.


Akibat berjalan terburu-buru, Jingga pun tidak menyadari bahwa ada sebuah batu yang lumayan besar di depannya.


Bruk


"****." Umpat Jingga yang jatuh tersungkur.


"Siapa si yang berani naruh batu di sini." Omelnya sembari berdiri, walaupun sedikit susah, karena dengkulnya terluka.


Eros yang baru saja datang pun dengan cepat membantu Jingga untuk berdiri, tetapi tangannya malah di tepis oleh gadis itu.


"Jingga, kamu gak papa? Kita ke uks ya, biar aku obatin, pas-" ucapan Eros terputus karena Jingga memotongnya.


"BISA DIAM GAK SI LO!!" Bentak gadis itu. "INI SEMUA GARA-GARA LO TAU GAK SI!!" Sambungnya.


Eros yang di bentak oleh gadis yang di cintainya pun merasakan sakit di dadanya


"Maaf Jingga, aku gak bermaksud buat bikin kamu jatuh," Ucapnya merasa bersalah.


"Udalah Eros, mending lo gak usah ganggu gue lagi, apa masih kurang jelas perkataan gue waktu itu, ha?" Ucap Jingga dengan napas memburu.


"Aku gak mau putus sama kamu, please! Jangan putus ya," Ujar lembut Eros sembari menggenggam tangan Jingga.


Jingga yang melihat tangannya di genggam oleh laki-laki di depannya pun segera menarik paksa tangannya.


"Gak usah sentuh gue!" Peringatnya.


"Tapi keputusan gue udah bulat, gue tetap mau putus sama lo," Kata Jingga mutlak.


"Kenapa kamu jadi kayak gini? Ini beneran bukan Jingga yang aku kenal, kamu berubah jadi kasar sama aku," Lirih Eros dengan memandang sendu Jingga. "Dan juga kenapa kamu block nomor aku?" Sambugnya


"Terserah apa kata lo, gue udah gak peduli. Intinya gak usah ganggu gue lagi, kita udah gak ada hubungan apa-apa! Mau lo setuju atau gak setuju tentang keputusan ini, GUE GAK PEDULI!" Tuturnya sembari menatap tajam Eros.


"Lo nanya kenapa gue block nomor lo? Itu semua ya salah lo, suruh siapa lo ngeganggu gue terus?"


"Dan ohiya, mulai sekarang, gak usah panggil aku-kamu lagi. Cukup panggil lo-gue aja, soalnya gue geli dengarny,." Sambung Jingga lagi.


Kemudian tanpa menunggu jawaban dari Eros Jingga pun segera melenggang pergi.


"Kita lihat aja Jingga, siapa yang bakal menang di sini," Ujar Eros sembari mengepalkan tangannya.


***


"Sayang, kenapa? Kok mukanya cemberut gitu?" Tanya Rachel kepada putrinya.


"Jingga gak papa kok ma, cuma pusing aja karena lagi banyak tugas hari ini," Jawab Jingga berbohong.


Rachel tersenyum. "Oh gitu, yaudah gak usah di pikirin banget ya, sekarang kamu mending ganti baju, terus makan! Biar nanti mama siapain makanannya," Ujar Rachel sembari mengelus surai rambut Jingga.


"Iya ma. Kalau gitu Jingga ke kamar dulu ya, ma," Pamitnya seraya tersenyum.


"Iya, sayang." Ucap Rachel dengan membalas senyuman putrinya.


Setelah sampai di kamarnya, Jingga pun membuang tasnya ke sembarang arah.


"Eros beneran gila, nyesel gue nurutin dare dari Aca sama Abel," Monolognya kesal.


Masih asik mendumel, tiba-tiba saja dia mendapatkan pesan masuk dari ponselnya.


Ting


Dengan segera dia mengambil ponselnya yang berada di saku baju seragamnya.


"Nomor gak di kenal? Siapa ya kira-kira?" Tanyanya pada diri sendiri.


08**********


"Waiting for me, honey."


Melihat isi pesan tersebut Jingga pun mengerutkan dahinya.


"Apa maksudnya? Siapa si ini? Gaje banget!" Katanya sembari memandangin ponselnya.


"Alah, pasti cuma orang iseng," Ucapnya mencoba untuk menghiraukan isi pesan itu.


"Mending gue mandi," Sambungnya.


Kemudian Jingga pun menaruh ponselnya di meja samping tempat tidurnya.


Setelah itu dia pun masuk ke dalam kamar mandi.


***


Sedangkan disisi lain.


Saat ini Eros dan keluarganya sedang melakukan makan malam bersama.


"Bagaimana hubungan mu dengan putrinya Evan, boy?" Tanya Kenan sembari memasukkan potongan daging ke mulutnya.


"Kami sudah putus, pa," Jawab Eros seraya mengaduk-aduk makanannya yang sama sekali belum dia sentuh.


"Kok bisa sayang?" Tanya Dara cepat.

__ADS_1


"Gak tau, ma, dia sendiri yang minta putus," Bohong Eros, dia memang sengaja tidak memberitahu kepada orang tuanya alasan Jingga meminta putus kepadanya. Eros hanya tidak ingin kalau nantinya kedua orang tuanya membenci gadis itu.


'"Pantasan saja kamu tidak pernah lagi membawanya berkunjung ke rumah ini," Ujar Dara sembari meminum jus strawberry nya.


Eros hanya diam, bingung ingin menjawab apa.


"Papa selesai," Ujar Kenan yang sudah menyelesaikan makanannya.


"Kamu mau ku ambilkan dessert, mas?" Tanya Dara kepada suaminya.


"Kamu membuat dessert?" Bukannya menjawab pertanyaan Dara, Kenan justru balik bertanya.


"Iya mas. Bagaimana? Mau ku ambilkan?"


"Tidak usah, kebetulan aku sudah kenyang,"


Jawaban dari Kenan membuat Dara memanyunkan bibirnya.


Kenan yang melihat raut wajah istrinya seperti itu pun terkekeh. "Jangan bersedih, sayang! Aku janji akan memakannya nanti, berikan luang untuk perutku bernafas sejenak," Jawab Kenan sembari mencium pipi istrinya.


"Janji ya!" Ucap Dara dan di jawab anggukan oleh Kenan.


"Ck! Hargai aku di sini!" Eros yang melihat kelakuan kedua orang tuanya pun berdecih.


"Itu sudah resikomu menjadi jomblo," Tekan Kenan sembari tersenyum sinis.


"Sialan!" Umpat Eros pelan, tapi dapat di dengar oleh kedua orang tuanya.


"Sudahlah, kalian selalu bertengkar," Lerai Dara.


"Anakmu duluan yang memulainya, sayang," Balas Kenan dengan santainya.


"Bukankah dia juga anakmu?" Tanya Dara sembari memutar bola matanya malas.


"Tentu saja," Jawab Kenan.


Eros yang mendengarnya pun menghela nafas.


"Pa?" Panggil Eros.


Kenan yang sedang fokus membersihkan mulutnya dengan tisu pun seketika menoleh ke arah putranya.


"Ada apa, boy?" Tanya kenan sembari menaikkan satu alisnya.


"Apa papa mau membantuku?" Tanya Eros ragu.


"Katakanlah!" Perintah Kenan.


"Bantu aku agar Jingga mau berbalikan denganku," Ucap Eros dengan raut muka datar.


"Kau masih mencintainya?" Tanya Kenan. Dan di jawab anggukan oleh Eros.


"Papa serius?" Tanya Eros antusias.


"Iya," Jawab Kenan mantap.


"Terima kasih pa, kau memang penyelamatku. Aku mencintaimu." Ujar Eros.


"Kamu tidak mencintai mama ya?" Ujar Dara yang pura-pura bersedih.


"No, ma, aku mencintai kalian berdua," Jawaban dari Eros membuat Dara dan Kenan tersenyum.


"Mama bercanda, sayang," Seru Dara seraya terkekeh


"Kalau begitu Eros ke kamar ya ma, pa," Pamit Eros dan di jawab anggukan oleh keduanya.


"Apa yang ingin kamu lakukan mas mengenai permintaan Eros tadi?" Tanya Dara.


"Nanti kamu juga akan tau sayang," Jawab Kenan sembari mengedipkan sebelah matanya.


"Kamu tidak akan melakukan sesuatu yang tidak-tidak kan?" Tanya Dara curigai.


"Tenanglah sayang! Aku tidak akan melakukan sesuatu yang berbahaya," Tutur Kenan. "Dari pada kamu memikirkan itu, alangkah baiknya kita melakukan sesuatu yang menyenangkan, sayang," Sambungnya seraya tersenyum miring.


Tanpa menunggu persetujuan dari Dara, Kenan pun menggendong tubuh istrinya seperti karung beras.


Dan hal selanjutnya hanya pasutri suami-istri tersebut yang tau.


***


Tidak seperti hari-hari sebelumnya, Eros yang biasanya selalu mengejar-ngejar Jingga, dan selalu meminta balikan kepada gadis itu, tapi kali ini malah diam ketika berjumpa dengannya, seperti tadi pagi di koridor sekolah. Bahkan laki-laki itu seolah tidak menganggap kehadiran Jingga sama sekali.


Dan itu benar-benar membuat Jingga bingung. Sadar akan pemikiraannya, Jingga pun menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menepis semua pikiran tentang Eros, toh, buat apa dia memikirkan itu? Harusnya dia bersyukur, bukan? Itu artinya Eros tidak akan pernah menggangunya lagi.


"Gue perhatiin Eros kayaknya udah move-on deh dari lo," Ujar Abel memulai pembicaraan.


"Maybe," Jawab Jingga malas.


"Kok lo biasa aja si?" Tanya Abel lagi.


"Ya terus? Gue harus ngapain, Abel? Masak iya gue harus bilang ke dia ‘Eh Eros, jangan cepat move-on dong dari gue.’ Masa iya gue harus ngomong gitu!" Jawab Jingga kesal dengan pertanyaan Abel.


Abel pun menyengir. "Iya gak gitu juga si,"


"Dah lah, malas gue ngomong sama lo," Tutur Jingga sembari beranjak dari duduknya.


"Mau kemana lo?" Tanya Aca.


"Ke toilet," Jawabnya tanpa melihat ke belakang.

__ADS_1


Sedangkan seseorang yang duduk di sudut ruangan menyeringai sembari menatap punggung Jingga yang berjalan.


***


"Assalamualaikum, ma." Ucap Evan yang baru saja masuk ke dalam rumahnya.


"Waalaikumsalam." Jawab Rachel sembari menyalami sang suami. "Kok papa udah pulang jam segini?" Tanyanya bingung karena melihat suaminya pulang lebih awal.


"Perusahaan kita lagi di ujung tanduk, ma," Jawab Evan. Kemudian Evan pun duduk di sofa sembari memijat keningnya.


Rachel pun menyusul Evan. "Kok bisa pa? Bukannya kemarin baik-baik aja?" Tanya Rachel sembari melototkan matanya.


"Ada satu karyawan yang bawa kabur semua uang perusahaan, ma,”


"Ya allah, jahat sekali dia." Ujar Rachel. "Terus bagaimana dong, pa?" Sambungnya.


"Ya mau gimana lagi ma, udah terjadi kan? Papa nanti akan coba buat cari pinjaman dana ke teman-teman papa, agar perusahaan kita kembali seperti semula," Tutur Evan.


"Papa yang sabar ya! Mungkin ini semua ujian dari Allah, mama yakin, semua pasti ada jalan keluarnya," Ujar Rachel meyakinkan suaminya. "Papa tenang aja, mama akan selalu ada buat papa," sambungnya sembari tersenyum.


"Terima kasih, ma. Papa bersyukur banget bisa punya istri kayak mama," Katanya sembari mencium kening sang istri.


"Mama juga bangga punya suami yang tegas kayak papa," Ujar Rachel tak mau kalah.


"Duh, kok panas ya," Sindir Jingga yang baru saja pulang sekolah.


Evan dan Rachel yang tau bahwa sang anak sudah pulang pun menoleh ke arah putri semata wayang mereka.


"Biasakan ucap assalamualaikum sebelum masuk Jingga!" Tegur Evan.


Jingga menyengir. "Lupa, pa," Ujarnya dengan tampang polos. "Assalamualaikum papa, mama," Ucapnya.


"Waalaikumsalam, sayang." Jawab kedua orang tuanya.


Kemudian Jingga pun menyalami keduanya. Setelah itu dia pun duduk di tengah-tengah Evan dan Rachel.


"Papa kok tumben pulang cepat?" Tanya Jingga.


Evan dan Rachel saling menatap karena mendengar pertanyaan dari sang anak.


"Sayang, ganti baju dulu yuk! Habis itu kita makan siang, setelah makan siang kita kumpul lagi di sini, soalnya ada yang mau kami omongin sama kamu," Tutur Rachel sembari mengelus pundak Jingga.


"Oke, ma," Katanya sembari beranjak dari duduknya. "Kalau gitu Jingga ganti baju dulu ya," Pamitnya, dan di jawab anggukan oleh keduanya. Kemudian dia pun melenggang pergi ke kamar.


"Kamu yakin mau ngasih tau masalah ini ke Jingga?" Tanya Rachel kepada suaminya.


"Iya sayang. Toh, cepat atau lambat putri kita bakalan tau juga kan," Jawab Evan.


"Tapi pa--" ucapan Rachel di potong oleh Evan.


"Kamu tenang aja sayang, aku yakin Jingga pasti bakal ngertiin kita,"


"Semoga aja deh pa,"


***


"Emang papa mau ngomongin apa?" Tanya Jingga setelah mereka selesai makan siang.


"Maafin papa ya sayang," Ujar Evan dengan sendu.


"Papa kok minta maaf? Papa kan gak ada salah," Ucap Jingga.


"Papa salah sayang, papa udah gagal buat jadi ayah, dan suami yang baik buat kalian berdu,." Katanya seraya menunduk sedih.


"Papa ngomong apasih? Jingga gak ngerti,"


"Sayang, perusahaan kita sedang di ujuk tanduk," Jelas Evan. "Papa ngerasa gak becus jadi kepala keluarga,"


"Maksud papa perusahaan kita hampir bangkrut gitu?" Tanyanya dan di jawab anggukan lemah oleh Evan. "Papa bohong kan?" Tanyanya tak percaya.


"Yang di katakan papa kamu benar, sayang., Sahut Rachel.


"Kok bisa si ma, pa? Perasaan kemarin masih baik-baik aja,"


"Ada satu karyawan papa kamu yang bawa kabur semua uang perusahaan,"


"Terus orangnya gimana? Gak papa laporin polisi?"


"Udah sayang, polisi lagi coba buat cari dia," Ujar Rachel.


"Sayang, maafin papa ya kalau misalnya mungkin mulai dari sekarang papa belum tentu bisa belikan apa yang kamu mau," Ujar Evan merasa tak enak.


"Papa kok malah mikirin itu si?" Ucap Jingga kesal. "Lagian Jingga gak masalahin itu, pa. Yang Jingga pikirin itu kalian. Apalagi papa, Jingga kasian sama papa, Jingga tau betul papa udah bangun perusahaan itu dari nol dulu, tapi sekarang, perusahaan itu malah lagi di ujung tanduk," Tuturnya dengan mata berkaca-kaca.


"Sayang, papa baik-baik aja. Mungkin memang awalnya berat buat papa, tapi papa akan coba buat ikhlas, mungkin kita sedang di uji sama Allah," Ujar Evan menenangkan putrinya.


"Dan papa janji, papa bakalan cari cara buat bikin perusahaan kita kayak dulu lagi,"


"Maafin Jingga, pa. Jingga taunya cuma main, sama minta-minta doang ke kalian. Sedangkan lagi ada masalah kayak gini Jingga malah cuma diam gak bisa bantu apa-apa. Jingga merasa gak berguna, hiks," Ujarnya seraya terisak.


"Hei, princess. Don't talk like that!" Kata Kenan sembari membawa Jingga ke dalam pelukannya.


"Tugas kamu itu cuma belajar sama main, biar urusan ini papa aja yang berusaha," Peringat Evan.


"Benar sayang, kamu gak boleh ngomong seperti itu, oke!" Sahut Rachel seraya ikut berpelukan dengan anak dan suaminya.


"Jingga sayang sama kalian," Ujarnya di dalam pelukan Evan dan Rachel.


"Kami juga sayang sama kamu, bahkan rasa sayang kami ke kamu itu melebihi rasa sayang kami ke diri kami sendiri," Ujar Evan sembari mengelus surai rambut Jingga.

__ADS_1


"Jingga janji bakalan coba cari cara buat bantu papa sama mama," Batinnya sendu.


__ADS_2