
Malam ini Dara, selaku mama dari Eros mengundang Jingga untuk makan malam bersama di rumahnya.
"Kamu malam ini cantik banget, sayang." Puji Dara kepada Jingga.
Jingga yang mendengar itupun pipinya memanas.
"Makasih, ma. Mama juga cantik kok." Katanya dengan tersenyum malu.
Ya, Jingga memang sudah mengganti panggilan kepada Dara dan juga Kenan menjadi papa, mama. Itupun karena perintah dari keduanya.
Eros yang memang duduk di sebelah Jingga pun menggerakkan tangannya untuk merangkul Jingga. "Siapa dulu, pacar Eros." Sela Eros dengan bangga.
Jingga yang mendengar itu menegang. Dia tak tau bagaimana jika Eros mengetahui jika ini semua hanyalah pura-pura.
Sedangkan Dara yang mendengar ucapan putranya pun tersenyum miris.
'Eros, sampai kapan kamu akan terus seperti ini, nak.' Batinnya kasian melihat sikap anak semata wayangnya yang seperti itu.
"Sudah-sudah, lebih baik kita mulai makan malamnya sekarang!" Tegur Kenan. Dan di setujui oleh yang lainnya.
***
Setelah makan malam selesai, kini mereka berempat pun sedang duduk sembari mengobrol di ruang keluarga.
"Kalau boleh tau, Jingga entar mau kuliah dimana?" Tanya Dara memulai percakapan.
Jingga yang mendengar pertanyaan itupun bingung ingin menjawab apa. Karena pada dasarnya, gadis itu tidak mau memberi tau Eros dimana dia akan melanjutkan studynya nanti. Karena dia takut jika nanti Eros akan mengikutinya, dan itu pasti akan membuat dia tidak akan bisa terbebas dari laki-laki itu.
Sebelum menjawab, Jingga pun lebih dulu berdehem. "Jingga belum tau, ma. Belum ada kampus yang cocok menurut Jingga." Jawab Jingga berbohong.
Dara mengangguk sebagai jawaban.
"Gimana kalau kita satu kampus aja, sayang? Kebetulan aku udah punya pilihan universitas yang bagus." Sahut Eros.
Sudah Jingga duga, laki-laki itu pasti akan bicara seperti itu.
Belum sempat Jingga menjawab, Dara lebih dulu menyela. "Eros, kamu gak boleh gitu dong, biarin Jingga ngelanjutin studynya di universitas pilihan dia sendiri." Ujar Dara mencoba menasehati Eros.
"Mama apaansih, kan Eros nanyaknya ke- Jingga, kenapa jadi mama yang jawab?" Kesal Eros.
"Sudahlah, Dara! Kamu tidak perlu ikut campur dengan urusan mereka." Sela Kenan yang sedari tadi diam.
Dara yang mendengar ucapan Kenan pun hanya mengangguk. Dia sungguh tidak berani menjawab jika Kenan sudah bersuara.
"Jadi gimana Jingga?" Tanya Eros kembali.
"Nanti aku pikirin." Jawab Jingga sembari tersenyum paksa.
Tidak mau Eros terus membahas itu, Jingga pun lebih baik meminta izin untuk pergi ke toilet kepada mereka bertiga.
"Semuanya, aku izin ke toilet dulu ya." Ujar Jingga dengan sopan.
"Silahkan, Jingga!" Ucap Dara.
"Mau aku antar?" Tanya Eros.
"Gak perlu. Aku bisa sendiri kok." Jawabnya sembari berusaha untuk tidak memukul kepala Eros sekarang. Sial, apa-apaan laki-laki itu, dia pikir aku ini anak kecil apa? Yang kemana-mana harus di temanin, batinnya.
Sebelum Eros akan menjawab lagi, Jingga pun dengan cepat bangun dari duduknya, dan segera melangkahkan kakinya menuju ke toilet.
__ADS_1
Sepeninggalan Jingga, Dara pun memberanikan diri untuk bicara kepada Eros agar mengakhiri sandiwara ini.
"Eros." Panggil Dara hati-hati.
Eros yang tadinya sedang memperhatikan Jingga kinipun menoleh ke arah sang mama. "Ada apa, ma?" Tanyanya.
"Mama minta, kita akhiri saja semua sandiwara ini, nak." Ujar Dara sembari menatap wajah sang anak dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kenapa begitu, sayang?" Tanya Kenan.
"Mas, kamu gak sadar apa? Kalau selama ini yang kita lakukan salah, aku capek, mas. Harus berpura-pura seperti ini, aku juga kasihan lihat Jingga yang sudah kita bohongin!" Jawab Dara kepada Kenan.
"Aku gak mau." Ujar Eros sembari menatap tajam sang mama.
"Kamu gak boleh egois, nak. Sadar! Yang kamu lakuin ini salah. Jingga juga punya kehidupannya sendiri, Jingga berhak ngejalanin kehidupannya seperti apa yang dia mau. Kamu gak boleh begini, sayang. Jingga berhak bahagia!" Ujar sang mama sembari menatap sendu wajah sang anak.
"Terus mama pikir Jingga selama ini gak bahagia sama aku? Mama salah! Justru Jingga bahagia sama aku, karena kebahagiaan Jingga itu ada di aku, dan cuma aku yang sayang sama dia dengan tulus, ma." Kata Eros. "Aku udah capek-capek loh, ma. Ngerencanain ini semua! Untuk ngebuat Jingga balik lagi ke aku. Di mulai dari kecelakaan itu, terus hilang ingatan aku yang pura-pura ini, sampai akhirnya Jingga beneran balik lagi ke aku! Tapi dengan gampangnya mama bilang mau udahin sandiwara kita ini, mama pikir aku mau? Enggak, ma. Aku gak akan pernah sudi, karena kalau sandiwara ini berakhir, Jingga pasti bakal pergi lagi dari aku." Lanjutnya dengan tangan yang terkepal erat.
"Enggak, sayang! Kamu gak boleh begini!" Ucap Dara sembari menggelengkan kepalanya.
"Kayanya mama beneran udah gak sayang deh sama aku, makanya mama gak mau lihat aku bahagia." Ujar Eros sembari tersenyum sinis.
"Bukan begitu maksud mama, nak. Justru mama ngomong begitu karena mama sayang sama kamu, mama peduli sama kamu! Dan mama gak mau kamu ngelakuin itu, karena nantinya akan berdampak buruk sama kamu." Tutur Dara berharap putranya itu mengerti mengapa dia berbicara seperti ini.
"Udalah, ma. Intinya aku gak mau akhirin semua sandiwara ini!" Ujar Eros mutlak.
Prang!
Mendengar suara barang jatuh tersebut, ketiganya pun menoleh ke arah asal suara tersebut. Yang ternyata asal suara itu berasal dari sebuah vas bunga yang tidak sengaja di senggol oleh Jingga. Yap, Jingga! Gadis itu sudah sedari tadi mendengar pembicaraan Eros dan kedua orang tuanya.
Dan Jingga yang mengetahui itu pun merasa kecewa dengan Eros dan kedua orang tuanya. Dia tak abis pikir, mengapa mereka tega membohonginya.
Sedangkan Eros dan kedua orang tuanya yang melihat Jingga berdiri tak jauh dari ketiganya pun menegang.
"Keterlaluan." Teriak Jingga sebelum berlari keluar dari rumah Eros.
"Sayang, ini gak seperti yang kamu pikirkan." Teriak Eros. Kemudian laki-laki itupun segera bangun dari sofa dan berniat untuk megejar Jingga.
Tapi sebelum itu--
"See! Semuanya udah terbongkar, Jingga udah tau semuanya sekarang, dan setelah ini pasti Jingga bakalan pergi lagi dari aku! Ini semua gara-gara mama tau gak!" Teriak Eros marah, setelah itu laki-laki itupun ikut berlari keluar rumah untuk mengejar Jingga.
"Kamu lihat Dara? Apa yang sudah kamu lakukan tadi?" Ujar Kenan kepada istrinya dengan tenang. Tapi tak ayal, pria itu menarik sang istri ke dalam pelukannya. Agar sang istri merasa tenang.
"Apa aku salah, mas? Aku cuma gak mau Eros terus seperti ini, mas." Ucap Dara sembari menangis di pelukan suaminya.
"Aku paham apa yang kamu pikirkan, Dara. Tapi, bukannya untuk meraih sesuatu harus melakukan usaha?" Kata Kenan.
"Maafin aku, mas." Tutur Dara yang masih menangis. 'Maafin mama, Eros.' Batinnya terisak.
***
Sedangkan di sisi lain, Eros tak henti mengejar Jingga.
Saat sudah mendekati gerbang, lengan Jingga di cekal oleh Eros.
"LEPASIN! LEPASIN GUE, BRENGSEK!" Teriak Jingga marah sembari memberontak.
Mendengar itu Eros pun dengan terpaksa melepaskan cekalan tangannya di lengan Jingga.
__ADS_1
"Jingga, aku bisa jelasin semuanya, sayang." Ujar Eros dengan sendu.
"Stop panggil gue sayang, bangsat!" Umpat Jingga. "Dan tadi apa kata lo? Jelasin? Gak perlu! Lo gak perlu jelasin lagi, karena gue udah tau semuanya, gue udah denger!" Lanjutnya dengan napas memburu.
Eros menggeleng. "Ini gak seperti apa yang kamu pikirkan, Jingga."
"Berhenti mengelak! Karena gue gak akan pernah percaya lagi sama laki-laki brengsek kayak lo!"
"Jangan begini, Jingga!" Ujarnya dengan air mata yang mengalir deras di pelupuk matanya. Yap, laki-laki itu kini menangis, menangis karena gadis di hadapannya ini.
"Gak usah nangis! Lo pikir gue bakalan kasian sama lo gitu? Ck, jangan harap!" Kata Jingga sembari menatap tajam Eros.
"Tega ya lo Eros, tega lo sama gue! Bisa-bisanya lo bohongin gue, tapi dengan bodohnya gue percaya." Ujar Jingga seraya tersenyum miris. "Asal lo tau, gue udah nyia-nyiain waktu berharga gue gara-gara harus ngerawat lo yang pura-pura Amnesia itu! Dan bahkan ternyata lo yang udah ngerencanain kecelakaan itu, lo gilak tau, gak!" Lanjutnya.
"AKU NGELAKUIN ITU SEMUA KARENA AKU SAYANG SAMA KAMU, JINGGA! TAPI KAMU GAK PERNAH NGEHARGAI AKU, KAMU SELALU MEMPERMAINKAN AKU!" Teriak Eros. "AKU JUGA NGELAKUIN ITU SEMUA, KARENA AKU GAK MAU KAMU PERGI LAGI, AKU MAU TERUS BARENG-BARENG SAMA KAMU WALAU ITU PAKAI CARA KOTOR SEKALIPUN!" sambungnya.
Jingga yang mendengar itu mematung. Yap, sedari awal ini memang salahnya, tapi tidak seharusnya Eros bertingkah seperti ini.
"Dan kamu pikir aku gatau? Kalau Raka itu pacar kamu, ha? Bahkan waktu kita masih pacaran dulu kamu juga pacaran sama dia." Ujar Eros dengan tangan yang terkepal.
Jingga yang mendengar itu membelalakkan matanya. Dari mana dia tau, batin Jingga.
"Aku tau perbuatan aku ini salah, Jingga. Tapi aku ngelakuin ini semua karena kamu, kamu yang udah buat aku kayak gini, Jingga." Tutur Eros seraya terisak. "Aku bahkan gak peduli, kalau ada yang bilang aku bodoh karena masih sayang ke kamu." Lanjutnya.
'Apa gue keterlaluan? Gak, gak! Ini gak sepenuhnya salah gue. Dia aja yang kebaperan.' Batin Jingga.
"Terserah apa kata lo. Intinya gue kecewa sama lo! Dan gue minta, mulai sekarang jangan ganggu gue lagi! Dan gue gamau ketemu sama lo, karena gue benci sama lo, Eros!" Ujarnya. Setelah itu Jingga pun pergi meninggalkan Eros.
"JINGGA!" teriak Eros.
"JANGAN TINGGALIN AKU LAGI JINGGA, AKU MOHON!" teriaknya lagi sembari mengejar Jingga. Tapi gagal, karena laki-laki itu kesandung, sehingga membuatnya tersungkur.
"Sial! Arghhgghhh!" Teriaknya sembari memukul tanah.
"Maafin aku, Jingga! Aku mohon jangan tinggalin aku lagi, hiks." Ujarnya seraya terisak.
"Eros." Panggil keduanya setelah sampai di hadapan Eros.
"Bangun, boy!" Perintah Kenan yang di jawab gelengan oleh Eros.
Dara yang melihat putranya seperti itupun menangis. Sungguh, dia amat sedih melihat putranya yang terlihat rapuh saat ini.
Dara pun memilih berjongkok agar menyamakan tubuhnya dengan Eros yang saat ini sedang duduk di atas tanah.
"Maafin mama, sayang." ujar Dara sembari membawa putranya itu ke dalam pelukannya.
"Ini semua gara-gara mama, kalau aja mama gak ngomong kayak gitu tadi, Jingga pasti sekarang masih ada disini, dia gak akan ninggalin aku." Ucap Eros dengan lirih.
"Lihat, ma! Mama puas kan sekarang? Mama senang kan sekarang? Karena Jingga udah pergi ninggalin aku, Jingga ninggalin aku lagi, ma." Sambungnya sembari terisak.
Dara menggeleng. "Maafin mama, maafin mama, sayang." Kata Dara sembari terisak juga. "Mama janji, mama akan bawa Jingga buat kamu. Mama akan buat Jingga berada selamanya disisi kamu." Tutur Dara.
"Aku gak yakin, karena Jingga aja udah sekecewa itu sama aku."
"Percaya sama mama, mama pasti bisa buat Jingga balik lagi ke kamu." Ujar Dara berharap sang anak percaya.
"Papa juga berjanji akan membuat Jingga menjadi milik kamu selamanya." Sahut Kenan yang sedari tadi hanya diam.
"Tapi gimana caranya pa, ma?" Tanya Eros yang sudah sedikit tenang.
__ADS_1
Dara dan Kenan yang mendengar pertanyaan itupun kini menatap satu sama lain.
"Kamu akan tau nanti." Ujar Dara.