
Keesokan harinya, Jingga pun mulai masuk kembali ke sekolah.
Jam pelajaran pun sudah di mulai. Saat ini bu Alya sedang mengabsen satu persatu para muridnya.
"Eros Stefano Miguel." Panggil guru tersebut.
"Gak hadir, bu." Sahut Roni, salah satu teman sekelas Jingga dan Eros.
Mendengar jawaban Roni, Jingga pun mengernyit bingung. Pantas saja sedari tadi kursi milik Eros kosong tak berpenghuni, Jingga pikir, laki-laki itu terlambat, tetapi kenyataannya adalah laki-laki itu tidak hadir ke sekolah hari ini.
'Kenapa ya dia gak datang?' Batin Jingga. Seolah sadar dengan pemikirannya, Jingga pun berdecak, 'Apaan-apaansih gue.' Batinnya lagi.
"Apa alasannya?" Tanya bu Alya.
"Sakit, bu."
Mendengar itu Jingga yang tadinya memilih bodoh amat, kini pun tidak dapat menghindar bahwa kenyataannya ada sedikit rasa khawatir di dalam dirinya.
"Jingga, Eros sakit tu." Bisik Abel yang berada di sampingnya.
"Ya terus? Apa urusannya sama gue?" Tanyak Jingga seraya berbisik.
"Lo gak ada niatan jenguk dia gitu? Bukannya lo lagi drama pura-pura ada hubungan ya sama dia?"
"Malas. Lagian dramanya udah selesai."
"Ha? Kok bisa?" Tanya Abel penasaran.
"Udalah, Abel. Gue lagi gak mau bahas itu sekarang." Jawab Jingga kesal.
"Okey deh, tapi ntar kasih tau kita ya."
Jingga berdehem sebagai jawaban.
***
Sedangkan di lain sisi.
"Kok tumben, mbak, ngajak saya ketemuan?" Tanya Rachel kepada Dara.
Yap, hari ini tiba-tiba saja Dara mengirimkan pesan kepadanya, isi pesannya adalah, Dara mengajaknya bertemu. Dan itu membuat Rachel merasa heran, karena tidak biasa-biasanya ibu dari Eros itu mengajaknya bertemu, seperti ada sesuatu yang sangat penting untuk di bicarakan.
"Rachel, menurut kamu Eros sama Jingga cocok gak?" Bukannya menjawab, Dara justru melontarkan pertanyaan kepada Rachel.
"Cocok dong, mbak. Justru saya lebih setuju Jingga pacaran sama Eros di bandingkan sama laki-laki lain." Jawab Rachel tanpa berpikir. "Sebagai ibu yang baik, saya pasti bakal pilihkan yang terbaik buat anak saya, mbak. Saya mau masa depan anak saya terjamin."
Dara tersenyum. "Kalau begitu, mari kita buat kesepakatan!" Ujar Dara.
"Kesepakatan apa, mbak?" Tanya Rachel bingung.
"Kita nikahkan Eros dan Jingga." Jawab Dara dengan serius.
Rachel yang mendengar itu terkejut. "Mbak serius?" Tanya Rachel tak percaya.
"Saya serius, Rachel."
"Tapi, mbak. Anak-anak kan masih sekolah, kalau mereka menikah, ntar sekolah mereka gimana? Lagian mereka juga belum pantas buat menikah, mbak."
"Kamu gak perlu khawatir sama sekolah mereka, mereka tetap bisa sekolah kok walaupun udah menikah, asalkan pernikahannya gak ada yang tau. Dan tadi kamu bilang mereka belum pantas buat menikah? Siapa bilang? Mereka udah pantas kok, umur mereka kan udah 18 tahun." Tutur Dara untuk menyakinkan Rachel.
"Dengan kamu menikahkan anak kamu dengan anak saya, keluarga kamu bakal banyak dapat keuntungan. Terutama dalam masalah keuangan dan bisnis. Saya juga bakal jamin kalau Jingga pasti bakal bahagia sama Eros." Seru Dara lagi.
"Gimana, Rachel? Kamu setuju?"
'Maafin mama Jingga, tapi mama rasa ini adalah keputusan yang tepat. Dengan begini masa depan kamu pasti bakal terjamin.' Batin Rachel.
"Baik, mbak. Saya setuju." Jawab Rachel.
Dara yang mendengar itupun merekahkan senyumannya. "Bagus, Rachel. Pilihan yang tepat." Puji Dara.
"So, kamu tinggal bilang ke suami kamu nanti, dan kamu yakini dia."
"Iya, mbak. Saya akan berusaha buat yakini suami saya."
"Baiklah, Rachel. Saya dan keluarga saya akan ke rumah kalian nanti malam, untuk melakukan lamaran. Jadi, waktu kamu untuk bicara sama suami kamu cuman sedikit." Kata Dara sembari beranjak dari duduknya.
"Saya harap semuanya berjalan dengan lancar." Ujar Dara. "Kalau begitu saya permisi dulu, Rachel. Soalnya suami saya sudah menyuruh saya untuk pulang." Lanjutnya sembari pamit kepada Rachel.
"Iya, mbak. Silahkan!" Kata Rachel sembari tersenyum.
"Sampai jumpa nanti malam." Ucap Dara. Setelah mengatakan itu, wanita itupun pergi meninggalkan cafe.
"Semoga ini memang pilihan yang tepat." Gumam Rachel sendu. "Lebih baik aku ke kantor papa sekarang, untuk membicarakan soal ini." Lanjutnya.
***
Sesampainya di kantor suaminya, Rachel pun langsung pergi menuju ruangan Evan.
Tok tok tok
"Masuk!" Sahut Evan dari dalam.
Ceklek
"Pa." Panggil Rachel.
Evan menoleh mendengar suara itu. Dan dia terkejut melihat sang istri yang datang ke kantornya secara tiba-tiba, tanpa lebih dulu mengabarinya.
"Sayang, kok gak bilang kalau mau kesini?" Tanya Evan sembari beranjak dari kursi kerjanya untuk mendatangi Rachel yang sudah duduk di sofa.
__ADS_1
"Em, iya aku lupa mau ngabarin." Jawab Rachel.
"Kamu dari mana?"
"Aku ketemuan sama mbak Dara, pa."
Evan yang mendengar jawaban dari sang istri pun mengernyit bingung. "Kok tumben, mbak Dara ngajak kamu ketemuan? Emangnya ada apa?" Tanya Evan penasaran.
"Nah ini dia tujuan aku datang kesini. Tadi kan aku ketemu sama mbak Dara, dan mbak Dara mau ngajuin kesepakatan bersama sama kita." Jawab Rachel.
"Kesepakatan tentang apa?"
"Mbak Dara mau, kalau Jingga sama Eros menikah secepatnya,pa."
"Apa? Aku gak salah dengar?" Ujar Evan.
Rachel menggeleng.
"Kesepakatan macam apa itu? Yang benar aja, mereka kan masih sekolah. Papa gak setuju." Tolak Evan.
Rachel yang mendengar itu seketika pun panik."iya mama tau mereka masih sekolah, pa. Tapi tadi mbak Rachel bilang, kalau mereka masih tetap bakal bisa sekolah kok, pa, walaupun mereka udah menikah nanti." Ujar Rachel meyakinkan suaminya sembari memegang kedua tangan suaminya.
"Enggak, ma. Papa tetap gak setuju! Pernikahan itu bukan mainan."
"Papa kok gitu si! Papa tau gak? Awalnya juga mama nolak, mama punya pemikiran yang sama kayak papa, tapi mbak Rachel bilang, kalau Jingga menikah sama Eros, kita bakal dapat keuntungan banyak, mau itu keuntungan tentang bisnis, atauapun keuangan. Dan mbak Rachel juga bilang, kalau Jingga menikah sama Eros, di jamin masa depan Jingga bakalan bagus, Jingga pasti bahagia." Tutur Rachel. "Mama ngomong gini, juga sebelumnya bakal mikir dulu. Mama tau apa yang terbaik buat Jingga, sebagai seorang ibu, mama mau Jingga dapat masa yang depan yang baik. Dan mama sendiri tau, secinta apa Eros sama Jingga, papa pasti tau itu juga kan?" Lanjut Rachel.
"Tapi gak sekarang menikahnya, ma." Ujar lirik Evan.
"Pa, mereka udah pantas kok buat menikah, Jingga juga masih bisa buat sekolah. Ayolah, pa! Papa mau kan Jingga punya masa depan yang baik?" Bujuk Rachel. "Karena belum tentu, pa, laki-laki lain ngebahagiain Jingga nantinya. Mama rasa cuman Eros yang bisa ngebahagiain Jingga." Sambung Rachel.
Evan terdiam, terlihat sekali bahwa pria itu sedang berpikir keras.
"Oke lah, papa setuju." Ujar Evan setelah sekian lama terdiam.
Rachel tersenyum senang mendengar itu. Kemudian wanita itu pun memeluk suaminya. "Kamu memang seorang papa yang hebat, pa." Puji Rachel.
Evan pun membalas pelukan istrinya itu.
"Ohiya, pa, ntar malam keluarga Eros bakalan ke rumah kita, untuk melakukan lamaran." Ujar Rachel memberi tahu, sembari melepaskan pelukannya.
"Kenapa secepat itu? Lagian kita juga belum bicarain ini sama Jingga." Ujar Evan.
"Soal Jingga, itu bisa kita bilangin ke dia nanti. Lagian mama yakin, Jingga pasti mau kok." Seru Rachel.
Evan tidak menjawab, laki-laki itu malah sibuk berpikir. Entah apa yang sedang laki-laki itu pikirkan, tapi yang pasti, itu tak jauh-jauh tentang Jingga dan Eros.
***
Sepulang sekolah, Jingga di buat terkejut karena melihat sebuah dress cantik yang terletak di atas kasurnya.
"Dress siapa ni? Kayaknya gue gak punya dress ini deh." Ujar Jingga sembari memegang dress tersebut.
Ceklek
"Itu dress buat kamu, sayang." Sahut Rachel dari arah belakang Jingga.
"Buat Jingga? Kok tumben mama beliin Jingga dress baru, mana ini dress kayaknya untuk datang ke acara penting lagi." Ujar Jingga heran.
Rachel tersenyum. "Emang, bakalan ada acara penting nanti di rumah kita. Kita bakalan kedatangan tamu penting." Kata Rachel.
"Acara penting? Tamu penting? Sebenernya ada apasih, ma?"
"Nanti malam kamu juga bakalan tau, intinya jangan lupa dandan yang cantik ya, dan jangan lupa juga pakai dress nya." Ucap Rachel sembari menunjuk dress yang sedang di pegang Jingga.
Kemudian tanpa menunggu jawaban Jingga, Rachel pun melangkah keluar dari kamar putrinya itu.
"Ma, Jingga belum selesai nanyanya." Teriak Jingga.
Jingga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Sebenarnya siapa si yang mau datang? Kenapa gue harus pake dandan segala si?" Tanyanya pada diri sendiri.
***
"Selamat datang di rumah kami, mbak, mas, dan juga Eros." Ujar Rachel yang sedang menyambut keluarga Eros yang baru saja tiba di rumahnya.
"Silahkan masuk!" Sahut Evan.
"Terimakasih, Evan, Rachel." Ujar Dara sembari tersenyum.
Kemudian mereka pun masuk ke dalam rumah tersebut.
Sesampainya di dalam rumah, Rachel dan juga Evan pun menuntun mereka hingga sampai di ruang tamu.
Keluarga Eros pun mendudukkan diri mereka di sofa.
"Ngomong-ngomong, dimana Jingganya?" Tanya Dara sembari mencari-cari keberadaan Jingga.
"Jingganya masih ada di kamar, mbak. Bentar ya biar saya panggilkan dulu." Jawab Rachel. Kemudian wanita itu pun melangkahkan kakinya untuk menuju ke kamar putrinya.
Ceklek
"Jingga, tamunya sudah datang itu. Ayo turun, sayang!" Perintah Rachel ketika sudah masuk ke dalam kamar Jingga.
Jingga yang masih sedang menata rambutnya pun menolehkan kepalanya ke arah sang mama. "Sebentar, ma!" Ujar Jingga.
Rachel mendekat, kemudian wanita itu membantu sang putri untuk menata rambutnya. "Biar mama bantu." Ujar Rachel.
"Makasih, ma." Ucap Jingga. "Sebenarnya siapa si, ma, yang datang?" Tanya Jingga yang masih penasaran.
"Nanti kamu juga tau, sayang." Ujar Rachel sembari tersenyum.
__ADS_1
Jingga berdecak mendengar jawaban sang mama. Ayolah, itu bukan jawaban yang Jingga inginkan.
"Selesai." Seru Rachel dengan semangat.
Mendengar itu Jingga pun menatap pantulan dirinya di cermin yang berada di depannya.
"Kamu cantik banget, sayang." Puji Rachel sembari tersenyum manis.
"Thanks, ma." Sahut Jingga sembari tersenyum juga.
"Ayo gih, kita keluar! Takutnya entar tamunya nungguin, kan gak enak nanti." Ujar Rachel yang di jawab anggukan oleh Jingga.
Kemudian setelah itu keduanya pun melangkahkan kakinya meninggalkan kamar.
Setelah sudah sampai di ruang tamu, Jingga pun mengernyit bingung. "Tamunya cuman 3 orang, ma?" Tanya Jingga.
Memang saat ini posisi duduk Eros dan keluarga membelakangi Jingga, sehingga gadis itu tidak dapat melihat wajah mereka.
"Iya, sayang." Jawab Rachel.
"Maaf ya lama." Ujar Rachel sesudah sampai di hadapan keluarga Eros.
Jingga yang tadinya sedang menunduk kini pun menoleh ke depan. Dan alangkah terkejutnya bahwa ternyata tamu yang di maksud oleh mamanya itu adalah Eros dan keluarganya. "Lo!" Ujar Jingga terkejut.
Eros tersenyum. "Hai, Jingga." Sapa Eros.
"Kamu cantik banget, Jingga." Puji Dara.
Jingga menatap Eros dan keluarganya dengan tatapan tajam. "Ini apa-apaansih, ma? Ini maksudnya apa?" Ujar Jingga dengan nada dingin.
"Sayang, tenang dulu ya!" Perintah Rachel sembari mengelus lengan putrinya.
Jingga menghindari elusan itu. "Jawab, ma! Ini maksudnya apa? Kenapa bisa ada mereka disini?" Tanya Jingga. "Jadi ini tamu yang di maksud mama? Kalau aku tau mereka tamunya, aku gak akan mau capek-capek buat dandan kayak gini untuk nyambut mereka." Sambungnya.
Evan beranjak dari duduknya. "Jingga, duduk dulu ya! Ada yang mau kita bicarain sama kamu." Perintah Evan.
"Bicarain apa, pa? Gak ada lagi deh kayaknya yang harus di bicarain bareng mereka." Ucap Jingga kesal.
"Makanya kamu tenang dulu, nak! Kalau kamu emosi gini, gimana kamu mau tau?" Ujar Evan dengan tegas.
Jingga yang mendengar nada tegas dari sang papa pun mendadak takut. "Okey." Ujarnya yang terlihat pasrah.
Sedangkan Rachel pun merasa lega.
Kemudian ketiganya pun mendudukkan dirinya di sofa.
"Jingga, sebelumnya papa sama mama mau minta maaf sama kamu. Mungkin yang akan kami sampaikan nanti terdengar mendadak buat kamu, tapi percayalah, ini semua demi kebaikan kamu." Ujar Evan memulai pembicaraan.
"To the point aja deh, pa. Jingga udah malas basa-basi." Ujar Jingga dengan malas.
"Biar saya saja yang bicara." Sela Kenan.
"Baik, silahkan!" Ujar Evan.
"Jadi, Jingga, kedatangan saya dan keluarga saya disini, adalah untuk melamar kamu agar menjadi istri dari putra saya, Eros." Jelas Kenan dengan serius.
Jingga yang mendengar itu pun terkejut. "What the hell! Omong kosong apa ini?" Ujar Jingga datar.
"Ini bukan omong kosong, Jingga, tapi ini kebenarannya. Dan orang tua kamu juga sudah menyetujui tentang ini." Seru Kenan.
"Papa sama mama apaansih! Kenapa kalian nyetujuin ini tanpa sepengetahuan Jingga." Ujar Jingga marah.
"Bukan begitu maksud kami, sayang." Kata Rachel.
Jingga berdecak, kemudian gadis itu beranjak dari duduknya. Setelah itu gadis itu pun menunjuk Eros. "LO, LO LUPA SAMA APA YANG GUE BILANG KEMARIN ITU, HA? GUE KAN UDAH BILANG SAMA LO, JANGAN PERNAH NAMPAKIN DIRI LO DI HADAPAN GUE! KARENA GUE UDAH MUAK SAMA LO!" Teriak Jingga dengan lantang.
Eros diam, tidak berniat menjawab ucapan Jingga.
"KENAPA GAK JAWAB? MENDADAK BISU LO!"
"JINGGA, JAGA SIKAP KAMU!" Bentak Evan marah, karena melihat sikap tak sopan putrinya.
Jingga yang mendengar bentakan sang papa kini pun menatap papanya tak percaya. "Papa bentak aku?" Tanya Jingga dengan lirih.
Sadar apa yang dia lakukan, Evan pun panik. "Bukan gitu, sayang." Kata Evan.
"Maaf, Jingga." Ucap Eros yang sedari tadi diam.
"Gue gak butuh ucapan maaf lo, yang gue mau, lo dan keluarga lo pergi dari rumah gue! Dan jangan pernah lo berharap gue terima lamaran lo! Karena sampai kapanpun gue gak akan pernah mau nerima lamaran lo." Ujar Jingga sembari menatap tajam Eros.
Kemudian tanpa mendengarkan jawaban dari Eros, gadis itu pun pergi ke kamarnya. Meninggalkan semua orang yang ada disitu.
Sedangkan Eros? Kini rahang laki-laki itu mengeras, tangannya juga terkepal erat di bawah sana karena mendengar penolakan dari gadis yang di cintainya itu.
'Lagi dan lagi kamu sakitin hati aku, Jingga.' Batin Eros marah. 'Oke, jadi jangan salahin aku, kalau setelah ini aku pakai cara yang lebih kotor buat dapatin kamu.' sambungnya.
"Maafin putri kami ya." Ujar Evan tak enak.
"Gapapa, mungkin Jingga lagi butuh waktu sekarang." Sahut Dara. "Kalau begitu kami pulang saja ya."
"Gak mau makan dulu, mbak?" Tawar Rachel.
Dara menggeleng. "Gak usah, yang ada nanti semuanya makin kacau kalau kami lama-lama berada disini." Balas Dara.
"Yaudah deh, mbak. Sekali lagi kami minta maaf ya." Ucap Rachel.
Kemudian, Eros dan keluarganya pun pulang. Dan kini hanya menyisahkan pasangan suami istri tersebut, siapa lagi kalau bukan Rachel dan Evan.
"Gimana coba dong, pa. Gimana kalau Jingga beneran nolak lamaran Eros, kan gak enak sama mbak Dara dan keluarganya." Ujar Rachel cemas.
__ADS_1
Evan menghela nafas pelan. "Ini salah kita juga, ma. Yang sudah lancang tanpa memberi tau dulu kepada Jingga tentang ini." Ucap Evan. "Kita beri waktu saja kepada Jingga, dan kalau memang Jingga tetap menolaknya, kita bisa apa?" Sambungnya.
Dan Rachel pun mengangguk menyetujui.