
Sesampainya di sekolah, Jingga dengan segera turun dari motor Eros.
"Makasih ya atas tumpangannya." Ujar Jingga sembari merapihkan roknya yang sedikit kusut.
Eros yang sedang merapihkan tatanan rambutnya pun kini sekarang mengalihkan perhatiannya ke arah Jingga. "Kok kamu ngomongnya gitu? Lagian itu udah salah satu kewajiban aku. Aku pacar kamu, dan aku gak ngerasa keberatan kok kalau setiap hari harus antar jemput kamu ke sekolah. Gak cuman ke-sekolah aja si, kemanapun kamu pergi, aku siap buat antarin kamu. Lagian kan tadi aku yang ngajakin buat bareng." Jelas Eros dengan panjang lebar.
"Yaudah iya. Kalau gitu, aku ke kelas dulu ya, soalnya bentar lagi pasti bel masuk bakalan bunyi." Pamit Jingga.
Eros mengangguk sembari tersenyum manis, senyuman yang sangat jarang di perlihatkan kepada orang lain. Hanya Jingga yang dapat melihat senyuman itu, dan hanya Jingga pula yang dapat menciptakan senyuman itu.
"Belajar yang rajin ya!" Katanya sembari mengacak pelan rambut Jingga.
"Is, kok di acak si! Kan jadi berantakan." Kesal Jingga sembari mengerucutkan bibirnya.
Eros terkekeh. "Cuman pelan lo padahal."
"Yakan sama aja." Balas Jingga tak mau kalah.
"Iya-iya maaf. Lain kali aku gak bakalan kayak gitu." Ucap Eros yang akhirnya mengalah. "Yaudah gih sana masuk kelas!" Perintah Eros.
"Iya." Ujarnya. Kemudian gadis itu pun melenggang pergi meninggalkan Eros.
"Sweet." Gumam Eros sembari mencium tangannya yang tadi dia gunakan untuk mengacak rambut Jingga. Di hirupnya dalam-dalam tangan itu dengan mata yang memejam.
***
"Jinggaaaaa." Teriak kedua temannya seraya berlari ke arahnya.
Jingga yang melihat kelakuan temannya pun mendadak bingung.
"Lo berdua kenapa?" Tanyanya tanpa menghentikan langkahnya untuk menuju kursinya.
"Lo punya hutang penjelasan sama kita berdua!" Jawab Abel.
"Hutang penjelasan?" Tanya Jingga memastikan. Dan langsung di jawab anggukan oleh Abel dan Aca.
"Tentang apaan?" Tanya Jingga lagi dengan raut wajah yang bingung.
"Tentang lo yang balikan sama Eros." Sahut Aca.
Jingga yang mendengar itu membelalakkan matanya. "What? Lo berdua dapat rumor dari mana si?" Ujarnya sembari mendudukkan dirinya di kursi miliknya.
"Lo gak tau? Di grub sekolah lagi rame tentang lo yang balikan sama Eros, dan gue tadi sama Abel ngelihat pake mata kepala kami sendiri, kalau lo tadi datang ke-sekolah bareng sama Eros." Tutur Aca menjelaskan.
"Yang jadi pertanyaan kami, sejak kapan lo balikan sama Eros? Bukannya lo benci banget ta sama dia?" Tanya Abel.
Jingga menghembuskan nafasnya dengan pelan. "Gue bakal cerita, tapi nanti waktu jam istirahat." Katanya.
"Oke, kita tunggu penjelasan dari lo." Seru Abel dan Aca bersamaan.
Tak berselang lama, guru yang akan mengajar mereka pun datang. Semua siswa dan siswi pun dengan segera duduk di bangkunya masing-masing.
Bukan itu yang mencuri perhatian Jingga, melainkan seseorang cowo yang tadi datang bersama guru tersebut. Dia adalah Raka.
__ADS_1
Yang menjadi pertanyaannya adalah, mengapa kekasihnya itu berada di sekolahnya? Dan juga, mengapa dia memakai seragam yang sama dengan dirinya? Apa kekasihnya itu pindah ke sekolah yang sama dengannya? Tapi gimana bisa? Bukannya kekasihnya itu sedang melakukan study di London? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang ada di isi kepala Jingga sekarang.
"Selamat pagi semuanya." Ujar guru tersebut.
"Pagi, bu." Jawab semua siswa-siswi di kelas itu.
"Pagi ini kalian mendapatkan teman baru." Katanya memberitahu.
Kemudian guru tersebut pun mengalihkan perhatiannya yang semula ke depan menjadi ke arah Raka. "Raka, silahkan perkenalan dirimu!" Perintahnya yang di jawab anggukan oleh Raka.
"Hai semua, perkenalkan nama gue Raka Alexander. Gue pindahan dari London, gue harap kalian semua bisa nerima kehadiran gue di kelas ini." Ucapnya dengan kedua tangan yang dia masukkan ke dalam sakunya.
"Baik, ada pertanyaan?" Tanya guru tersebut kepada seluruh siswa-siswinya.
Salah satu siswi mengangkat tangannya. "Saya, bu." Jawab siswi yang bernama Chika dengan antusias.
"Silahkan, Chika! Ingin bertanya apa?" Seru sang guru.
"Udah punya pacar belum?" Tanyanya kepada Raka dengan kondisi muka yang sudah seperti kepiting rebus.
"Huuuuuuu." Ujar seluruh teman-teman satu kelasnya menyoraki.
"Dih, si Chika kegatelan banget si." Cibir Abel dengan raut muka menahan jijik.
"Biasa, Bel. Cewe kurang belaian ya gitu." Sahut Aca ikut mencibir.
Yap, kedua sahabatnya itu memang tidak mengetahui bahwa Raka adalah pacar dari Jingga.
Raka yang tau bahwa pacarnya di sana sedang cemburu pun tersenyum.
"Gue udah punya pacar." Jawab Raka sembari menatap lembut ke arah Jingga.
Jingga yang di tatap oleh Raka pun kini merasa salah tingkah, pipinya memerah.
"Yaaaaah, sayang banget. Padahal baru aja gue mau daftar." Katanya sembari merengut.
Mendengar ucapan Chika membuat seisi kelas menertawakannya.
"DIAM LO SEMUA!" Bentaknya marah.
"Sudah-sudah jangan berisik!!" Kata sang guru menengahi. "Raka, silahkan duduk di sebelah Ardi. Ardi, angkat tanganmu!" Perintahnya.
Setelah Ardi mengangkat tangan, Raka pun dengan segera melangkahkan kakinya ke arah Ardi.
Setelah sudah duduk, Raka pun menoleh ke samping kirinya, yang kebetulan adalah tempat duduk Jingga.
Laki-laki itu tersenyum, dan Jingga membalas senyumannya. Setelah itu Jingga pun membuka ponselnya, dan mengirimkan sebuah pesan untuk kekasihnya.
Me:
Kenapa kamu bisa pindah ke sekolah ini?
Rakađź–¤:
__ADS_1
Emang gak boleh ya?
Me:
Bukan gitu si, tapi kan kamu lagi belajar di London
Rakađź–¤:
Nanti aku jelasin
Me:
Oke, ketemuan di taman belakang sekolah aja ya waktu istirahat
Rakađź–¤:
Oke, sayang<3
Setelah sudah selesai bertukar pesan, Jingga pun menaruh ponselnya kembali di atas meja, dan kemudian gadis itu kembali mendengarkan penjelasan guru di depan sana, begitupula sama halnya yang di lakukan oleh Raka.
***
Bel istirahat berbunyi, semua siswa-siswi berbondong-bondong keluar kelas. Ada yang kantin, toilet, perpustakaan, dan lainnya.
Begitupula dengan Jingga yang sedang membereskan buku-bukunya untuk segera menuju taman belakang sekolah, tempat yang tadi dia janjikan untuk bertemu dengan sang kekasih.
"Ayo, guys! Kita ke kantin." Ujar Abel yang sudah selesai membereskan buku-bukunya.
"Lo berdua duluan aja deh ke kantinnya, soalnya gue ada urusan sebentar." Sahut Jingga.
"Urusan apaan? Kok tumben." Kini giliran Aca yang bertanya.
"Anuu--gue pengen ke perpus, pengen nyari buku sejarah." Jawab Jingga dengan gugup.
"Bukannya lo benci banget sama pelajaran sejarah, kok tumben mau nyari buku sejarah." Tanya Abel lagi yang tampaknya masih tidak puas dengan jawaban Jingga.
'Bangsat, banyak tanya banget si ni anak.' Batinnya kesal.
"Kan kita kemarin itu ada tugas sejarah. Nah, gue belum siap, makanya ni gue mau cari jawabannya tu dia buku sejarah, siapa tau kan ada ya." Tutur Jingga sembari tersenyum paksa.
"Ohgitu, yaudah deh. Tapi gak mau makan dulu aja? Emangnya lo gak lapar?" Tanya Aca.
"Enggak deh, gue lagi diet. Lo berdua duluan aja." Jawab Jingga tanpa melunturkan senyuman paksanya.
"Terus, lo kapan mau jelasin tentang hubungan lo sama Eros ke kita?" Ujar Abel.
Jingga berdehem. "Gimana kalau nanti setelah pulang sekolah lo berdua nginep di rumah gue. Dan gue bakal jelasin semuanya." Tawar Jingga.
"Oke, setuju." Balas keduanya berbarengan
"Yaudah kalau gitu, kami ke kantin dulu ya." Pamit Aca, dan di jawab anggukan oleh Jingga.
"Byee, Jingga." Ujar Abel. Kemudian keduanya pun melenggang pergi menuju kantin.
__ADS_1