Crazy Eros

Crazy Eros
Kehancuran


__ADS_3

Pagi telah tiba, matahari pun telah terbit sedari tadi. Tetapi tidak membuat kedua orang yang berbeda jenis kelamin yang sedang tidur sembari berpelukan itu lekas terbangun dari tidurnya.


Hingga beberapa menit kemudian, salah satu dari mereka terbangun.


Mata Jingga perlahan terbuka, gadis-- ah ralat wanita itu mengerjapkan matanya agar matanya itu menyesuaikan dengan cahaya lampu.


Setelah matanya terbuka, wanita itu pun memandangi ke seluruh penjuru ruangan, agar tau  sedang berada dimana dia sekarang. "Gue di mana?" Tanyanya pada diri sendiri dengan lirih. "Ini bukan kamar gue." Lanjutnya sembari meringis akibat rasa pusing di kepalanya.


Merasakan ada sebuah tangan kekar yang melingkar di pinggangnya, wanita itupun menoleh ke arah belakangnya. Karena saat ini posisinya sedang memunggungi orang tersebut.


Dan betapa terkejutnya Jingga, ketika mengetahui bahwa Eros lah yang telah melingkarkan tangannya itu ke pinggang Jingga.


"Eros." Gumamnya.


Kemudian Jingga pun melihat ke arah tubuhnya dan juga tubuh Eros yang sangat intim, bahkan mereka ternyata saat ini sedang sama-sama naked, hanya sebuah selimut yang menutupi tubuh mereka berdua. Pantas saja Jingga merasakan rasa dingin itu menerpa kulit tubuhnya.


Dengan spontan wanita itu pun mengeratkan selimut ke tubuhnya, Jingga menatap tak percaya kepada apa yang dia lihat saat ini.


"Apa-apaan ini, kenapa Eros ada disini?" Tanyanya kepada diri sendiri. "Apa yang udah gue sama Eros lakuin semalam?" Lanjutnya sembari mengusap wajahnya kasar.


Tiba-tiba rasa pusing mendatanginya, membuat gadis itu memegangi kepalanya. Dengan perlahan satu persatu pecahan memori kejadian kemarin pun muncul di pikirannya, yang membuat gadis itu kini menangis, menyesali semua perbuatannya.


"Hiks, hiks, gak mungkin, ini pasti cuman mimpi." Tangisnya sembari menjambak rambutnya sendiri.


Eros terbangun karena terusik saat mendengar suara isak tangis di sebelahnya.


Laki-laki itu kini tersenyum miring ketika mengingat kembali momen terindah kemarin antara dirinya dan juga Jingga.


"Jingga, kamu kenapa, sayang?" Tanya Eros. Yap, setelah kejadian kemarin, Eros memutuskan untuk kembali memanggil Jingga dengan sebutan aku-kamu lagi.


Saat Eros hendak menyentuh bahu Jingga. Wanita itu nampak beringsut menjauh sembari mengeratkan selimutnya, kemudian kembali menangis.


"JANGAN SENTUH GUE, HIKS!" teriaknya sembari terisak.


Eros yang mendengar teriakkan itu pun memilih untuk berpura-pura menulikan pendengarannya. Laki-laki itu bahkan kini tanpa takut memeluk tubuh polos Jingga. Bahkan pelukannya sangat erat, seolah tidak ingin melepaskannya.


"Kamu kenapa nangis, hm?" Tanya Eros dengan lembut.


"Lepasin, lepasin gue!"


Jingga yang sedang di peluk Eros pun tentu saja memberontak, sehingga membuat Eros dengan pasrah melepaskan pelukannya.


"Lo masih tanya kenapa gue nangis? Gue benar-benar benci lo, Eros, hiks." Ujarnya sembari menatap Eros dengan tatapan penuh kebencian.


Eros yang mendengar itu malah terkekeh, membuat Jingga mengepalkan tangannya. Dasar gila, batin Jingga marah.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu menyesal sekarang?" Tanya Eros sembari tersenyum sinis. "Bukannya kemarin kamu ya, yang maksa aku buat ngelakuin ini?" Lanjutnya tanpa melunturkan senyuman sinisnya.


Jingga yang mendengar ucapan itu merasa tak terima.


Plak


Jingga menampar Eros. Ruangan itu kini terasa hening, hanya deru napas Jingga yang terdengar.


"INI SEMUA PASTI ULAH LO KAN? LO YANG UDAH JEBAK GUE BUAT TIDUR SAMA LO! IYAKAN?" teriak Jingga penuh dengan emosi.


Laki-laki yang saat ini sedang memegangi pipinya akibat tamparan yang tadi di berikan oleh Jingga pun kini mulai menyeringai. "Kalau iya emang kenapa? Dan kalau enggak, emangnya juga kenapa?" Tanyanya Eros dengan santai.


"Jingga, Jingga, kamu itu gak usah munafik. Kamu juga menikmatinya kok, bahkan kamu yang terus menerus mendesak aku buat lanjutin kegiatan panas kita kemarin." Sambungnya.


Mendengar itu, Jingga semakin terisak, air matanya semakin menetes dengan deras. "STOP! STOP! GUE GAK KAYAK GITU!" Teriaknya sembari menutup kedua telinganya dengan tangannya.


"Kamu gak percaya? Tenang, aku punya buktinya kok, kebetulan aku udah ngerekam seluruh kegiatan kita kemarin."


Jingga yang mendengar kalimat Eros membelalakkan matanya. "CRAZY!" Teriaknya. "GUE GAK MAU LIAT VIDEO MENJIJIKKAN ITU!" Sambung Jingga.


Eros terkekeh. "Stt, jangan terus menerus berteriak, sayang. Emangnya suara mu itu tidak sakit sedari tadi malam terus berteriak, huh?" Goda Eros yang membuat Jingga semakin merasa emosi.


Kemudian laki-laki itu berdiri, tak lupa pula dia memakai kembali pakaiannya.


Eros yang melihat itu tertawa, sungguh wanita yang di cintainya itu sangat menggemaskan.


Setelah memakai pakaiannya, Eros pun mengambil ponselnya yang berada di atas dinding sudut ruangan. Tidak perlu bingung, rekamannya sudah dia berhentikan kok setelah kegiatan mereka selesai, sehingga itu tidak memakan memori dan baterai di ponselnya.


Kemudian laki-laki itu pun kembali ke ranjangnya.


Setelah sudah sampai di ranjangnya, dia pun membuka aplikasi video, dan memilih salah satu video, kemudian memutarnya.


Jingga menggeleng, dia tidak ingin melihatnya. Dia juga menutup kedua telinganya, ketika mendengar suara-suara menjijikkan dari video itu, yang dia yakini itu adalah suaranya.


"MATIIN, MATIIN VIDEONYA!" Perintah Jingga.


Eros menurut. Setelah mematikan videonya, laki-laki itu memegang ponselnya.


"Kenapa, Eros? Kenapa lo ngelakuin ini sama gue? Kenapa?" Tanya Jingga dengan lirih. "Hidup gue hancur sekarang, gue-gue udah kotor, gue menjijikkan, hiks." Katanya sembari terisak.


Eros yang mendengar ucapan menyakitkan Jingga terdiam, ada secuil perasaan menyesal karena telah melakukan itu kepada Jingga.


"Ini semua karena kamu, Jingga. Seandainya kamu gak mempermainkan aku dari awal, seandainya kamu tulus cinta sama aku, aku pasti gak akan ngelakuin hal ini ke kamu." Tutur Eros.


"Kamu tau, Jingga? Setiap kamu nolak aku, hati aku sakit, aku rasanya pengen mati karena sangking putus asanya."

__ADS_1


"Apa salah, kalau aku berharap kamu cinta sama aku? kayak aku yang cinta sama kamu."


"Tapi gak gini juga caranya, Eros." Ujar Jingga dengan lirih.


Eros menghela nafas pelan. "Udalah, Jingga. Kamu ikhlasin aja semuanya yang udah terjadi. Ikhlasin kalau kamu itu memang terlahir untuk aku." Kata Eros.


"Kamu tenang aja, aku janji, aku bakal tanggung jawab sama semua ini, aku bakal nikahin kamu secepatnya."


Jingga menatap tajam Eros. "Dengar ya, Eros. Sampai kapanpun, gue gak akan mau nikah sama lo, Eros. Gak akan sudi." Ucap Jingga.


Eros menyeringai. "Kamu yakin sama ucapan kamu?" Tanya Eros menantang.


"Dengar, Jingga! Semua kelakuan kita udah aku rekam. Aku bisa aja nyebarin video kita ini ke seluruh dunia, kamu gak lupa kan siapa aku?"  Ujarnya sembari menunjuk ponselnya yang dia pegang di tangan satunya.


Jingga diam, wanita itu saat ini sedang berkeringat dingin. Dia takut, sangat takut, bagaimana jika Eros nekat menyebarkan video mereka? Hidupnya pasti akan semakin hancur.


"Aku gak akan nyebarin video ini, asal kamu mau nerima lamaran aku dan menikah sama aku."


"Aku gak peduli!" Ujar Jingga sembari beranjak dari kasur dengan selimut yang masih melingkar di tubuhnya. Wanita itu sesekali meringis ketika merasakan sakit di area intimnya.


Setelah sudah berhasil berdiri, Jingga pun mulai memakai pakaiannya. Dia bersyukur bahwa kini pakaiannya tidak ada robekan sama sekali, sehingga pakaiannya masih bisa di gunakan.


Sesudahnya dia memakai pakaian, Jingga pun melenggang pergi, tanpa lebih dulu berpamitan dengan Eros.


Eros yang melihat kepergian Jingga mengepalkan tangannya, tapi beberapa menit kemudian, laki-laki itu mengeluarkan seringainya.


***


Sesudah sampainya Jingga di rumah, wanita itu dengan segera masuk ke dalam kamarnya dengan berjalan tertatih.


Untung saja kedua orang tuanya belum kembali dari perjalanan bisnis, sehingga dia tidak akan di interogasi oleh kedua orang tuanya tentang mengapa iya tidak pulang semalam.


Sesampainya di kamar, wanita itu pun langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk menghapus jejak-jejak menjijikkan mengenai kejadian kemarin yang dia lakukan.


"Gue benci." Ujarnya sembari menggosok-gosokkan bekas kemerahan yang di berikan oleh Eros di tubuhnya.


"GUE MANUSIA KOTOR SEKARANG, GUE MANUSIA HINA!" Teriaknya emosi di bawah pancuran shower.


"Gue udah kehilangan benda berharga gue, gue udah menjijikkan sekarang, hiks." Lirihnya dengan tubuh yang merosot ke lantai.


"Mama, papa, maafin Jingga."


"Raka, maafin gue. G-Gue sekarang udah gak merasa pantas lagi sama lo, hiks."


Sungguh, saat ini keadaan wanita itu sangat memprihatinkan. Senyum yang biasa terpancar di wajahnya kini hilang. Perempuan mana yang tidak hancur? Di saat dirinya kehilangan sesuatu hal berharga yang dia punya?

__ADS_1


__ADS_2