
"Sayang, gimana kalau kita pergi keluar. Entah ke taman atau mall gitu, udah lama juga kan kita gak main-main bareng." Ujar Raka kepada Jingga.
Saat ini keduanya sedang bersantai ria di sofa milik Jingga. Dengan Raka yang tidur di paha gadis itu, dan Jingga yang sedang mengelus rambut sang kekasih.
"Boleh tuh, pokoknya hari ini kita harus full time seharian, kan sekaligus untuk ganti hari-hari kita yang sebelumnya." Ucap Jingga dengan antusias.
Raka yang melihat ke antusiassan Jingga pun tersenyum seraya mencubit pipi Jingga.
"Ih sakit tau!" Kata Jingga sembari memukul pelan tangan Raka.
"Habisnya kamu lucu." Ujar Raka seraya terkekeh. "Yaudah yuk pergi! Tunggu apalagi." Lanjutnya.
"Yuk--eh tapi bentar dulu ya! Aku mau ganti baju sama pamit dulu ke mama." Ucap Jingga yang di jawab anggukan oleh Raka.
Setelah itu, Jingga pun melenggang pergi.
15 menit berlalu, akhirnya Jingga pun sudah selesai bersiap-siap. Kemudian gadis itu pun melangkahkan kakinya, ke arah kamar orang tuanya, guna untuk pamit kepada mamanya.
Ceklek
"Ma, Jingga mau pergi dulu ya sama Raka." Ucap Jingga setelah sudah sampai di kamar orang tuanya.
"Mau pergi kemana?" Tanya Rachel yang sedang duduk di pinggiran ranjang sembari membaca sebuah majalah.
"Keluar bentar, jalan-jalan." Jawab Jingga dengan santai.
"Jangan lama-lama! Kan bahaya kalau Eros tau." Kata Rachel memperingati.
"Ya biarin aja kali, ma. Emang Eros siapanya aku? Mama kok kayaknya terkesan ngedukung aku sama Eros ya!"
"Jingga! Jaga bicara kamu! Mama cuman memperingati sekaligus berjaga-jaga, kan bahaya kalau Eros ataupun keluarganya tau. Kamu lupa, Jingga? Keluarga Eros udah baik sama kita, jadi jangan sampai kamu ngecewain mereka!" Cerocos Rachel.
Jingga yang mendengar sang mama terus merocos pun menghela nafas kasar. "Ya ya ya, Jingga tau. Jingga bakalan hati-hati." Ujar Jingga yang akhirnya pasrah.
"Awas aja kalau sampai Eros ataupun keluarganya tau tentang hubungan kamu sama Raka, mama bakalan suruh kalian putus!" Ancam Rachel yang membuat Jingga memutar bola matanya malas.
"Yaudah, kalau gitu Jingga pergi dulu!" Ujarnya sembari menyalami sang mama.
Setelah itu, Jingga pun langsung melenggang pergi keluar kamar, dan tanpa Jingga ketahui sang mama mengikutinya dari belakang.
Menyadari bahwa sang mama mengikutinya dari belakang, Jingga pun memberhentikan langkahnya.
"Mama ngapain ikut keluar?" Tanya Jingga sinis.
"Terserah mama dong." Jawabnya tak kalah sinis.
Mendengar jawaban Rachel, Jingga pun menghela nafas kasar. Setelah itu gadis itupun memilih diam, dan melanjutkan langkahnya kembali.
"Yuk, sayang. Kita pergi!" Ajak Jingga setelah sudah sampai di hadapan Raka.
Raka mengangguk, kemudian beranjak dari duduknya. "Yuk!" Seru Raka sembari menggenggam tangan Jingga.
"Eh tante." Ujar Raka dengan terkejut saat menyadari ada Rachel di belakang Jingga.
Rachel tersenyum. "Mau pergi ya?" Tanya Rachel dengan pura-pura ramah.
Raka mengangguk. "Saya izin bawa anak tante keluar sebentar ya." Ucap Raka sopan sembari menyalami tangan Rachel.
"Oke, jangan pulang malam-malam ya!" Tutur Rachel.
"Iya, tante."
"Udah ah, mama lama banget." Sahut Jingga kesal.
Rachel yang mendengar itu membelalakkan matanya. "Gak sopan kamu ya!"
Memilih abai, Jingga pun langsung menarik tangan Raka untuk mengikutinya keluar.
***
Sesampainya di mall, tempat pertama yang mereka tuju adalah bioskop.
Ya, mereka pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke mall.
Setelah 2 jam menonton bioskop, mereka pun memutuskan untuk mengisi perut mereka terlebih dahulu ke cafe yang ada di mall tersebut.
"Kamu mau pesan apa, sayang?" Tanya Raka sembari membolak-balik menu.
__ADS_1
"Aku mau pesan spaghetti sama strawberry milkshake." Jawab Jingga.
"Mbak, saya pesan, spaghetti 1, strawberry milkshake 1, terus ayam rica-rica 1 dan jus jeruknya 1." Ujar Raka kepada sang waiters.
"Oke, mohon tunggu sebentar ya, mas, mbak." Ucap sang waiters, kemudian melenggang pergi.
"Udah lama ya, kita gak kayak gini?" Tanya Jingga sembari memandang ke penjuru cafe.
"Iya, kayaknya terakhir kita kayak gini tu waktu sebelum aku pergi study ke london deh, dan bertepatan ngerayain hari anniversary kita, right?" Jawab Raka sembari tersenyum.
Jingga mengangguk antusias. "Right, aku masih ingat banget waktu itu, kamu benar-benar buat aku jadi ratu." Ujar Jingga.
"Kamu itu kam emang ratu aku, dari dulu sampai sekarang." Gombal Raka yang membuat pipi Jingga merona.
"Kamu bisa aja, ih." Ujar Jingga salah tingkah.
Setelah itu pembicaraan mereka pun terhenti karena pesanan mereka sudah datang.
Setelah beberapa menit mereka pun sudah menyelesaikan acara makannya. Kemudian mereka pun memutuskan untuk shoping.
Selesai acara shoppingnya, mereka pun memutuskan untuk pulang, karena kebetulan hari sudah hampir petang.
***
"Itu mobil siapa? Kok parkir di halaman rumah kamu?" Tanya Raka sembari mengernyitkan dahinya bingung.
'Mati gue, itukan mobil Eros.' Batin Jingga panik.
"Kayaknya itu mobil Eros deh." Jawab Jingga.
"Mau ngapain dia ke rumah kamu?" Tanya Raka lagi.
Jingga yang mendengar itu hanya mengedihkan bahunya acuh. "Gak tau. Mendingan kamu langsung pulang aja deh, bahaya kalau Eros tau kita abis jalan bareng." Tutur Jingga panik.
"Gak ah, biarin aja kali. Tinggal bilang aja kalau aku sepupu kamu yang ada di luar negeri." Celetuk Raka.
"Dasar, keras kepala!" Gerutu Jingga.
Raka yang mendengar itu terkekeh. "Yuk turun! Aku antar sampai depan pintu." Ucapnya sembari membuka pintu mobilnya dan di susul oleh Jingga yang terlihat pasrah.
Ceklek
Eros yang melihat kehadiran sang kekasih pun beranjak dari duduknya.
"Dari mana? Dan siapa dia?" Tanya Eros setelah sampai di hadapan Jingga.
"Aku habis makan dari luar tadi." Jawab Jingga mencoba santai. "Dan ohiya, kenalin ini sepupu aku, namanya Raka. Dia tinggal di london." Sambungnya.
Raut wajah Eros yang tadinya datar, kini pun berubah menjadi tersenyum. "Oh gitu, kenalin gue Eros, pacar Jingga." Ujarnya sembari mengulurkan tangannya kepada Raka, bermaksud untuk mengajak Raka berjabat tangan.
Raka membalas jabatan tangan. "Gue Raka, salam kenal ya." Ujarnya sembari tersenyum.
***
"Em, Raka. Mendingan lo pulang aja deh, soalnya udah hampir sore, pasti ntar mama lo nyarikin, dan makasih ya atas traktirannya hari ini." Sela Jingga sembari tersenyum ke arah Raka.
"No problem, kalau gitu gue pulang dulu ya. Gue juga makasih banyak atas waktunya karena lo udah mau nemenin gue keliling kota ini." Bohong Raka seraya membalas senyuman Jingga. "Tante Rachel mana? Gue mau pamit." Tanya Raka.
"Kayaknya mama lagi di kamar deh, lo langsung balik aja, entar gue sampein ke nyokap." Jawab Jingga.
"Oke deh, gue pulang ya." Ujarnya sembari mengacak rambut Jingga.
Eros yang memang sedari tadi sedang memperhatikan mereka berdua pun seketika rahangnya mengeras dengan tangan yang terkepal erat. Tapi kemudian, dia pun tersenyum.
"Bro, gue duluan ya." Ujar Raka kepada Eros.
Eros mengangguk. "Hati-hati ya, semoga sampai rumah!" Ujarnya sembari tersenyum.
Setelah kepergian Raka, Jingga dan Eros pun masuk ke dalam rumah milik Jingga. Kemudian keduanya pun duduk di sofa.
"Kemana aja tadi sama Raka?" Tanya Eros sembari mengelus rambut Jingga dengan lembut.
"Kan tadi aku udah bilang, aku abis makan di luar sama tadi sekalian keliling-keliling sebentar sama Raka, soalnya dia minta aku nemenin." Jawab Jingga dengan malas. "Ohiya, kamu ngapain kesini?" Tanya Jingga mengalihkan pembicaraan.
"Emang gak boleh kalau aku main kesini?" Bukannya menjawab, Eros justru bertanya balik kepada gadis itu.
Jingga gelagapan, tapi kemudian dia pun mencoba untuk tenang. "Ya, enggak si. Cuman kan kamu lagi sakit, gak boleh kemana-mana dulu." Ujar Jingga.
__ADS_1
"Aku udah sembuh kok, itu berkat kamu yang kemarin udah ngerawat aku." Ucap Eros.
"Ohiya? Bagus dong. Lagian itu udah kewajibab aku kan? Sebagai pacar kamu." Ujarnya pura-pura.
Eros mengangguk. "Kamu tau, Jingga? Karena perlakuan kamu kayak gini, buat aku jadi makin sayang sama kamu." Ujarnya, tanpa aba-aba Eros pun membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
Jingga yang di perlakukan seperti itu pun menegang, entah kenapa tiba-tiba saja hatinya berdesir ketika melihat perlakuan Eros kepadanya.
Eros melerai pelukan mereka berdua, kemudian dia mendongak, menatap wajah cantik gadis pujaannya. "Kamu sayang sama aku kan, Jingga?" Tanya Eros sembari menatap dalam Jingga.
Jingga yang di tatap seperti itu pun menjadi gelisah, ia sampai tidak mendengar pertanyaan dari laki-laki itu.
"Jingga?" Panggil Eros.
Jingga tersadar dari lamunannya. "Ha? Apa? Kamu ngomong apa tadi?" Tanyanya gelagapan.
Eros yang melihat ekspresi lucu Jingga pun seketika tersenyum. "Lucu." Ujar Eros. Dan itu semakin membuat Jingga salah tingkah.
'Sial, kok gue jadi salting gini si.' Batinnya kesal.
"Aku tadi lagi tanya sama kamu, kamu sayang kan sama aku?" Tanya Eros ulang.
Jingga menganggukan kepalanya tanpa sadar. Dan Eros yang melihat itu semakin mengembangkan senyumannya.
Kemudian laki-laki itu menangkup wajah Jingga, di pandangnya wajah gadis itu dengan dalam. Orang-orang yang melihat tatapannya pasti akan tau kalau laki-laki itu sangat mencintai Jingga dengan tulus. Lalu dengan perlahan Eros pun mendekatkan bibirnya ke arah kening Jingga.
Cup
Ya, Eros mengecup kening Jingga dengan lembut.
Jingga yang di perlakukan seperti itu tidak bisa mengpungkiri bahwa dirinya senang.
"E-Eros.." Panggil Jingga dengan gugup.
"Hm?"
"Jangan kayak gini, nanti kalau mama lihat kan malu." Ujarnya dengan gugup. Selain takut sang mama melihat perbuatan mereka, Jingga juga sudah tidak kuat melihat perlakuan Eros yang seketika membuat jantung Jingga berdebar kencang.
"Maaf, aku kelepasan ya?" Tanyanya dengan merasa bersalah.
Jingga diam, bingung ingin menjawab apa.
"Jingga?" Panggil Eros dengan suara lembutnya.
"Iya?" Jawab Jingga.
"Boleh janji satu hal ke aku?"
"Janji apa?" Tanya Jingga tidak mengerti.
"Jangan pernah tinggalin aku selamanya!" Jawab Eros dengan serius.
"Kalau aku pergi gimana?" Tanya Jingga.
"Aku bakalan culik kamu, dan aku bakalan jauhin kamu sama semua orang." Walau Eros bicara dengan santai, tapi itu adalah keseriusan.
Jingga awalnya mematung mendengar ucapan laki-laki itu, tapi kemudian dia tertawa terbahak-bahak. "Lakuin aja! Kalau kamu bisa." Ketika di kalimat terakhir, gadis itu berucap dengan berbisik ke laki-laki itu.
"Kamu nantangin aku?" Tanya Eros sembari menaikkan alisnya, tak lupa pula dia memasang senyuman, ah ralat, seringainya.
"Iya! Aku yakin kamu gak seberani itu, Eros." Ujar Jingga sepele.
"Terserah kamu, kita lihat aja nanti Jingga." Lanjutnya dalam hati di kalimat terakhirnya.
"Yang buatin minuman siapa?" Tanya Jingga.
"Tante Rachel tadi." Jawab Eros.
Jingga hanya menjawab dengan berohria.
"Kamu gak pulang? Ini udah hampir maghrib loh." Celetuk Jingga.
"Nanti aja, sekaligus nunggu abis magrib, baru aku pulang." Balas Eros sembari menyandarkan kepalnya di bahu Jingga. Dan Jingga tanpa sadar mengelus rambut Eros.
"Eros? Kenapa kamu bisa sayang sama aku?" Tanya Jingga tiba-tiba.
"Kamu beda dari yang lain, Jingga. Bukan rupa kamu doang yang cantik tapi kamu juga punya hati yang baik, aku tau itu. Walaupun kadang sifat kamu ketus." Jawab Eros sembari memejamkan matanya, ia merasakan nyaman dengan posisi itu.
__ADS_1
'Lo ternyata setulus itu ya sama gue? Maafin gue, Eros. Gue sadar, kalau selama ini gue udah jahat banget sama lo, gue udah nyia-nyiain orang kayak lo. Tapi gue beneran minta maaf sama lo, Eros. Kalau gue, untuk sekarang belum bisa nempatin posisi lo di hati gue. Karena hati gue udah diisi sama laki-laki lain, yaitu Raka, dia udah duluan nempatin hati gue, jauh sebelum gue ngenal lo.' Batin Jingga.