
Merasakan bahwa jari-jari tangan Eros bergerak, Jingga pun dengan cepat memanggil orang tuanya dan juga kedua orang tua Eros untuk memberitahu mereka tentang keadaan Eros yang sedang dia lihat saat ini.
"Om, tante? Mama, papa?" Panggil Jingga seperti orang panik.
Orang-orang yang tadi Jingga panggil pun dengan cepat melangkahkan kakinya ke arah Jingga.
"Ada apa, sayang?" Tanya Dara mewakili yang lainnya, dari nada suaranya terlihat tak kalah panik dari Jingga.
"T-Tadi tangan Eros gerak!" Katanya dengan terbata-bata.
"Kamu serius? Nanti kamu salah lihat lagi." Ujar Rachel.
"Enggak, ma. Jingga yakin tadi tangan Eros gerak." Balas Jingga.
"Mas, kamu panggilkan dokter sana!" Pinta Dara yang langsung di lakukan oleh Kenan.
Tak lama, Kenan pun kembali sembari membawa dokter, dan 2 orang suster.
"Mohon tunggu di luar dulu ya pak, bu." Tutur dokter tersebut.
Tanpa menunggu lama, mereka semua pun segera melenggang keluar dari ruang rawat Eros, agar memberi waktu untuk memeriksa keadaan Eros.
Setelah 5 menit memeriksa Eros, sang dokter pun keluar beserta 2 suster tadi.
"Alhamdulillah pak, bu. Pasien sudah sadar, kalian bisa menjenguknya sekarang. Tapi saya mohon untuk kerjasamanya pak, bu. Tolong jangan membuat pasien memikirkan sesuatu yang berat-berat dulu! Agar ingatan pasien lebih cepat kembali." Jelas sang dokter.
"Alhamdulillah." Seru Jingga dan kedua orang tuanya.
"Baik, dok. Terimakasih banyak, dok." Ujar Kenan.
"Itu sudah menjadi tugas saya, pak." Balas dokter tersebut sembari tersenyum. "Kalau begitu, saya permisi pak, bu." Sambungnya kemudian melenggang pergi setelah mendapat anggukan dari kenan dan yang lainnya. Tak lupa pula di susul 2 suster tadi yang mengikuti langkah sang dokter.
"Alhamdulillah ya Allah. Terimakasih karena engkau sudah mengembalikan kesadaran putra saya." Ucap Dara bersyukur.
"Terimakasih ya Allah." Lirih Kenan.
"Kalau begitu, mari kita masuk ke dalam." Ajak Dara yang di jawab anggukan oleh mereka semua.
***
"Kalian siapa?" Ketika mereka sudah masuk ke-dalam ruang rawat Eros, pertanyaan itu langsung keluar dari mulut Eros.
Mereka semua yang ada di ruangan itu pun merasa sedih, termasuk Dara yang bahkan kini air matanya pun sudah keluar.
"Kamu gak ingat kami, sayang?" Tanya Dara dengan berusaha terlihat sebiasa mungkin.
Sedangkan sang empu yang di tanya kini bukan menjawab, melainkan memegangi kepalanya seperti sedang mengingat sesuatu.
"Mama? Papa?" Panggil Eros pelan.
Kenan dan Dara yang mendengar ucapan itu pun tersenyum lega.
"Kamu ingat kami, nak?" Tanya Dara antusias.
Eros mengangguk. Yang membuat kedua orang itu semakin melebarkan senyumnya.
"Syukurlah." Ujar Kenan.
"Tapi--mereka siapa, pa, ma?" Tanya Eros sembari menunjuk Jingga dan kedua orang tuanya yang berdiri tak jauh dari ranjangnya.
Dara yang mendengar pertanyaan itupun lantas memanggil Jingga dan kedua orang tuanya untuk lebih mendekat ke arah mereka.
"Ini namanya, om Evan dan tante Rachel. Mereka itu orang tua dari gadis itu." Jelas Dara sembari menunjuk Jingga.
"Kalau gadis itu siapa namanya?" Tanya Eros seraya menatap lurus ke Jingga. Sedangkan Jingga yang di tatap pun menjadi salah tingkah.
__ADS_1
'sial, kok gue jadi gini si' Batin Jingga gelisah.
"Sayang?" Panggil Dara kepada Jingga.
Jingga yang masih melamun seketika pun gelagapan.
"Eh--iya, tante?" Ujar Jingga bingung.
"Kemari sayang! Di sebelah tante." Ucap Dara sembari menyuruh Jingga bergeser ke sebelahnya.
Walaupun bingung, tak ayal Jingga pun menuruti perintah dari Dara. "Baik, tante." Katanya sembari tersenyum tipis.
Sesudah Jingga berdiri di samping Dara, Dara pun langsung mengenalkannya kepada Eros.
"Kenalin, sayang! Gadis cantik ini, namanya Jingga, dia ini kekasih kamu." Ujar Dara antusias sembari merangkul bahu Jingga.
Eros yang tadinya menatap Jingga dengan raut bingung pun kini berganti dengan raut senang.
"Jadi? Dia pacar aku, ma?" Tanya Eros sembari tersenyum.
"Iya, sayang." Jawab Dara sembari tersenyum juga.
"Dia cantik." Ujar Eros yang membuat Jingga seketika tersipu malu.
'sialan ni orang' Batin Jingga sembari mengumpati Eros.
"M-Makasih." Jawab Jingga gugup seraya mencoba untuk tersenyum. Yang di jawab anggukan oleh Eros.
"Yaudah, kalau begitu kami keluar saja ya, sekaligus untuk ngasih ruang buat kalian, kalian juga udah lama kan gak ngobrol-ngobrol kayak gini?" Ujar Dara keceplosan. Dara pun merutuki mulutnya yang seperti ember bocor itu.
"Maksud mama? Kami udah lama gak ngobrol-ngobrol kayak gini? Terus kami ngobrol kayak gimana emang?" Tanya Eros sembari menaikkan alisnya.
Mereka semua yang mendengar pertanyaan Eros pun seketika menegang.
"Ah--anu, maksud mama kamu, kan kamu udah lama gak sadarnya tadi, jadinya kita kan gak ada ngobrol, gitu!" Dengan cepat Jingga menjawab ucapan Eros, walaupun kalimatnya terdengar tak jelas.
Sedangkan Jingga yang di tanya hanya menjawab dengan senyuman paksa andalannya.
"Yaudah kalau gitu kami keluar ya, sayang."
"Iya, ma."
"Mama sama papa keluar dulu ya, sayang." Pamit Rachel kepada Jingga.
"Iya, ma." Jawab Jingga.
"Have fun buat kalian." Setelah Evan mengatakan itu, mereka semua pun satu persatu keluar dari ruang rawat Eros. Hanya menyisahkan Jingga dan Eros di dalam ruangan itu.
"Sayang?" Panggil Eros kepada Jingga.
Jingga yang sedang menatap kepergian orang tuanya dengan pandangan tak rela pun kini beralih menatap Eros.
"Ada apa?" Tanya Jingga berusaha untuk memainkan peran.
"Sini duduk!" Pinta Eros sembari menunjuk ranjangnya.
"Mana muat, is."
"Siapa bilang? Coba dulu!" Katanya seperti nada memaksa.
Jingga menghela nafas pelan. Kemudian gadis itu pun mendaratkan pantatnya untuk duduk di samping Eros, di ranjang yang sama dengan laki-laki itu.
"Aku mau tanya sesuatu boleh?" Sesudah Jingga duduk di sebelahnya, Eros langsung meluncurkan pertanyaan itu untuk Jingga.
"Mau nanya apa?"
__ADS_1
"Kita beneran pacaran?" Tanya Eros sembari menatap Jingga penuh selidik.
"Iyalah." Jawab Jingga sedikit gugup.
"udah berapa lama kita pacaran?"
'kok gue berasa lagi di interogasi gini si' Batin Jingga kesal.
"Lo- eh maksudnya, kamu kenapa banyak tanya si? Emangnya kamu gak percaya ya?" Ujar Jingga sembari memasang wajah pura-pura cemberut.
Eros yang mendengar itupun seketika terkekeh.
"Bukan gitu, aku cuma pengen tau aja kita udah berapa lama pacarannya." Ujarnya sembari mengelus surai rambut Jingga.
"Udah hampir 1 tahun." Jawab Jingga asal-asalan.
"Cukup lama juga ya?" Ujar Eros sembari tersenyum manis.
"Iya." Balas Jingga malas.
"Kamu sayang aku kan? Kita pacaran bukan karena paksaan kan?" Tanya Eros lagi.
'ih, banyak tanya banget si. Kalau bukan karena lo lagi sakit, gue pasti udah teriak di depan lo. Tapi bentar deh, kok dia kayak lagi mojokin gue' Batin Jingga.
"Sayang?" Panggil Eros karena tidak mendapat jawaban dari gadis itu.
"Ha? Iya?" Tanya Jingga gelagapan.
"Kamu melamun? What it's?" Bukan menjawab, Eros justru melontarkan pertanyaan kepada Jingga.
"Aku gapapa." Ujar Jingga.
"Aku kira ada apa. So? Kamu jawab dong pertanyaan aku." Tuntut Eros.
"Pertanyaan yang mana?" Tanya Jingga pura-pura tidak mendengar pertanyaan yang tadi di lontarkan oleh Eros.
"Kamu kayak gak fokus gitu? Ada apa?" Katanya yang masih mencurigai gadis itu.
"Aku gapapa, ros."
"Ros?" Tanya Eros bingung.
"Iya Eros. Kan nama kamu Eros." Jawab Jingga dengan polosnya.
"Bukannya kita pacaran? Kenapa manggilnya pakai nama? Harusnya panggilannya sayang dong, atau honey, babe. Iyakan?" Tutur Eros.
"Iya, biasanya juga kita manggil itu kok. Tapi tadi aku keceplosan manggil kamu pakai nama doang." Alibi Jingga.
"Ohgitu." Ujar Eros sembari menganggukkan kepalanya.
"Ohiya tadi kamu mau nanya apa?" Tanya Jingga mengalihkan pembicaraan.
"Aku tadi mau nanya. Kamu sayang kan sama aku? Dan juga, kita pacaran bukan karena paksaan kan?"
Iya. Ingin sekali Jingga menjawab itu, tetapi tidak bisa untuk saat ini, maka dari itu dia hanya mampu berkata di dalam hatinya saja.
"Sayang lah. Kita juga pacaran bukan karena paksaan kok, kita pacaran ya karena kemauan kita sendiri." Jawab Jingga sembari tersenyum paksa.
"Baguslah. Aku pikir semua ini pura-pura." Gumam Eros yang tak jelas di telinga Jingga.
"Kamu ngomong apa?" Tanya Jingga tidak mengerti.
"Enggak. Lupain aja!" Jawab Eros sembari tersenyum lebar. Yang di jawab anggukan oleh gadis itu.
"Jingga?" Panggil Eros.
__ADS_1
"Iya?" Jawab Jingga.
"Kiss me babe!" Pintanya sembari menatap harap ke arah Jingga.