
"Jadi? Mereka yang udah bantu perusahaan keluarga kita?" Tanya Evan, selaku papa dari Jingga.
Saat ini memang Jingga dan keluarganya sedang bersantai ria di ruang keluarga.
Jingga mengangguk mendengar pertanyaan sang papa. "Iya, pa. Mereka yang udah bantu perusahaan kita." Jawab Jingga sembari tersenyum.
"Mereka baik banget kan, pa? Andai Jingga masih pacaran sama Eros, kan enak, dapat besan orang kaya sekaligus berpengaruh di negara ini." Sela Rachel antusias.
Jingga yang mendengar perkataan sang mama pun mendelik tak suka.
"Apaansih, ma." Ujar Jingga kesal.
Rachel yang mendengar penolakan sang anak pun mengangkat bahunya acuh.
"Kenapa kamu terima, Jingga?" Tanya Evan marah.
"Loh, kok papa marah? Harusnya papa senang dong, karena perusahaan kita akhirnya ada yang bantu." Jawab Jingga seraya tersenyum.
"Iya, pa. Kok papa malah kelihatannya gak suka gitu di bantu sama mereka? Kan niat mereka baik." Sahut Rachel.
"Bukan gak suka, tapi papa cuman gak mau kita ngerepotin keluarga Eros, apalagi Jingga sama Eros kan udah putus, papa ngerasa gak enak sama mereka." Ucap Evan. "Lagian pasti mereka bantu kamu bukan cuman-cuman kan? Pasti mereka minta imbalan?" Sambung Evan lagi.
"Sebenarnya bukan imbalan si, pa. Tapi-- gimana ya bilangnya, intinya mereka ngebantu kita karena Jingga udah mau bantu mereka mengenai Eros." Kata Jingga.
"Entah kenapa, papa ngerasa gak suka, kamu bantuin mereka yang menyuruh kamu menjadi pacar pura-pura Eros." Tutur Evan dengan jujur.
"Gak suka kenapa, pa? Bukannya kemarin papa ngedukung ya?" Tanya Jingga.
"Kamu lupa? Papa sama sekali belum kasih izin ke kamu, kamu cuman minta persetujuan sama mama doang." Jawab Evan.
"Tapi, pa. Kenapa papa gak setuju?" Kini giliran Rachel yang bertanya.
"Entalah, papa gak tau. Papa ngerasa ragu aja gitu. Sudahlah, Jingga. Lebih baik kamu istirahat saja sana! Ini udah malam." Perintah Evan yang di jawab anggukan oleh Jingga.
"Kalian besok udah masuk sekolah?" Tanya Rachel.
"Belum, ma." Jawab Jingga.
Ya, memang Jingga dan teman-temannya, termasuk eros, di liburkan dari pihak sekolah selama 3 hari karena kelas 12 yang sedang melakukan acara perpisahan.
"Yaudah kalau gitu, Jingga ke kamar ya ma, pa." Pamit Jingga sembari mencium pipi kedua orang tuanya secara bergantian.
"Good night, sayang." Ujar kedua orang tua Jingga sembari tersenyum.
"Good night, pa, ma." Balas Jingga.
Setelah itu Jingga pun melenggang pergi.
***
Seperti yang di katakan Raka kemarin, Raka hari ini benar-benar berkunjung ke rumah Jingga untuk menemui gadis itu, sekaligus melepas rindu kepada Jingga.
"Aku kira kamu bohongin aku, ternyata kamu beneran kesini." Ujar Jingga sembari melepaskan pelukan keduanya.
Ya, mereka baru saja berpelukan.
"Emang kapan si, aku bohong sama kamu?" Tanya Raka sembari menghapus air mata Jingga. Yap, gadis itu sedang menangis sekarang, karena sangking bahagianya.
"Kamu gak pernah bohong sama aku, kamu juga selalu nepatin janji kamu." Jawab Jingga sembari tersenyum.
__ADS_1
"Itu karena aku sayang dan cinta banget sama kamu." Ujar Raka seraya mengacak rambut Jingga.
"Aku juga, sayang dan cinta banget sama kamu." Kata Jingga dengan girang.
"I know. Ohya by the way, mama sama papa kamu mana?" Tanya Raka sembari melihat seluruh penjuru rumah Jingga.
"Papa lagi di kantor, tapi kalau mama kayaknya lagi di butik deh, paling sebentar lagi juga pulang." Jawab Jingga.
Raka mengangguk mengerti. "Ohya ni, oleh-oleh buat kamu sama keluarga kamu, yang ini untuk kamu, spesial untuk kamu." Ujar Raka sembari menyerahkan 5 paper bag kepada Jingga.
Jingga yang mendengar itu seketika pipinya pun memanas. "Makasih, sayang. Kamu selalu buat aku bahagia." Katanya seraya memeluk Raka kembali.
"Syukurlah kalau kamu bahagia." Ujar Raka.
"Kamu minum apa? Biar aku buatin." Tanya Jingga seraya melepaskan pelukan keduanya.
"Apa aja." Jawab Raka.
Setelah itu Raka pun mendudukkan dirinya di sofa milik Jingga.
"Oke, aku buatin minum dulu ya buat kamu." Pamit Jingga yang di jawab anggukan oleh Raka.
Tak lama kepergian Jingga, Rachel, ibu dari Jingga pun kembali ke rumah.
"Assalamualaikum." Ucap Rachel.
"Waalaikumsalam." Sahut Raka sembari beranjak dari duduknya.
"Raka?" Ujar Rachel terkejut.
"Hai, tante." Ucap Raka sembari menyalami mama dari Jingga itu.
"Kamu kok bisa ada di sini? Bukannya kamu lagi di luar negeri?" Tanya Rachel yang masih terkejut.
"Ohgitu, terus kamu kok bisa main ke rumah tante?"
"Emang kenapa, tante? Gak boleh ya?"
"Bukan gitu, tapi kan kalian udah putus."
Belum sempat Raka menjawab kembali, Jingga yang baru saja datang sembari membawa sebuah nampan, lebih dulu menjawab pertanyaan sang mama. "Kami udah balikan, ma." Sela Jingga dengan santai.
Rachel yang mendengar itu pun membelalakkan matanya. "Apa? Kalian balikan?" Tanya Rachel terkejut.
"Iya, kenapa, ma?"
"Oh gapapa. Selamat ya buat kalian." Ujar Rachel sembari tersenyum.
"Makasih, ma / makasih, tante." Ujar keduanya.
"Iya, kalau gitu mama ke kamar ya." Pamit Rachel.
Ketika Rachel ingin melangkahkan kakinya, suara Raka lebih dulu mencegahnya. "Tante, tunggu!" Kata Raka.
"Kenapa, Raka?"
"Ini oleh-oleh buat tante, sama om." Ujar Raka sembari menyerahkan 2 buah paper bag.
Rachel yang melihat itu berbinar. "Makasih, Raka. Kamu baik banget." Ujar Rachel sembari tersenyum.
__ADS_1
"Sama-sama, tante." Ucap Raka.
"Yaudah kalau gitu, saya ke kamar ya."
"Iya, tante."
Setelah itu Rachel pun melenggang pergi.
"Kamu harusnya gak perlu repot-repot bawa oleh-oleh untuk kami." Ujar Jingga sembari mendudukkan dirinya di sofa, tak lupa pula di ikutin oleh Raka yang duduk di sampingnya.
"Gapapa, sayang. Lagian aku gak ngerasa di repotin kok." Celetuk Raka.
Jingga mengembuskan napas pelan. "Terserah kamu deh." Ujarnya. "Ini minum dulu minumannya!" Perintah Jingga sembari menyerahkan gelas yang sudah berisi jus jeruk kepada Raka.
Raka menerimanya. "Makasih." Ucapnya, kemudian laki-laki itupun meminum jus tersebut.
"Manis, kayak kamu." Goda Raka setelah sudah meneguk setengah jus jeruk itu.
Jingga yang di gombali pun seketika salah tingkah. "Apaansih, gombal mulu." Ujarnya malu-malu.
"Aku gak gombal, beneran!" Tutur Raka.
"Ya ya ya. Terserah kamu!" Kesal Jingga.
Raka yang melihat itu seketika pun merasa gemas dengan kekasihnya itu.
Cup
"Lucu banget si." Ujar Raka sembari mencium pipi Jingga. Dan Jingga semakin malu karenanya.
"Ohya, aku mau cerita banyak sama kamu." Ucap Jingga tiba-tiba.
"Cerita apa? Tentang laki-laki yang bernama Eros itu ya?" Tebak Raka.
"Kok kamu tau?" Tanya Jingga.
"Nebak doang." Jawab Raka santai. "So, kamu mau cerita apa?" Sambungnya.
"Aku sekarang lagi jadi pacar pura-pura dia, karena di suruh sama orang tuanya." Jelas Jingga.
"Kok kamu mau? Dan kenapa orang tuanya nyuruh kamu jadi pacar pura-pura dia?" Tanya Raka sembari mengernyitkan dahinya bingung.
"Ceritanya panjang si, intinya mereka nyuruh aku karena Eros lupa ingatan, dan supaya ingatan Eros cepat balik, mamanya Eros itu nyuruh aku buat jadi pacar pura-pura Eros, dan nanti kalau Eros udah sembuh, Eros bakalan pergi ke
luar negeri, dan aku bakalan terbebas dari Eros. Makanya deh aku mau, di tambah lagi, orang tua Eros, bantuin perusahaan keluarga aku yang kebetulan lagi di ambang kehancuran, yaudah deh aku tambah mau. Kan lumayan, aku bisa bantu papa." Jawab Jingga menjelaskan.
"Tunggu! Eros lupa ingatan? Kok bisa." Tanya Raka.
"Nah, itu dia, salah satu alasan yang buat aku mau nurutin kemauan tante Dara. Eros itu lupa ingatan karena kecelakaan, dan dia kecelakaan karena habis nyelamatin nyawa aku, andai aja gadak Eros, mungkin aku bakalan mati, dan kita gak bakalan bisa ketemu kayak sekarang." Jawab Jingga.
"Kamu hampir kecelakaan? Kok bisa? Tapi kamu gapapa kan? Gada yang luka kan?" Tanya Raka khawatir.
Jingga menggeleng. "Gadak kok, ceritanya panjang banget." Ujar Jingga.
"Syukurlah kamu gapapa, kalau kamu sampai kenapa-kenapa, aku gak bakal maafin diri aku sendiri, karena aku udah gak becus jadi cowok kamu." Tutur Raka sembari menundukkan kepalanya.
"Kamu apaansih, ini bukan salah kamu, ini salah aku" celetuk Jingga. "Ini semua berawal dari----" kemudian Jingga pun menjelaskan semuanya dengan teliti, hingga tidak ada satupun yang tersisa.
"Brengsek! Ini semua tu salah dia, bukan salah kamu, itu sebagai karma, karena dia selalu maksa kamu." Marah Raka dengan rahang yang mengeras.
__ADS_1
Jingga yang melihat itu pun mencoba menenangkan sang pacar, dengan cara mengelus lembut punggung Raka. "Udalah, lagian semuanya udah terjadi. Lagian kalau dia udah sembuh nanti, hidup aku bakalan jauh lebih tenang." Ujar Jingga sembari tersenyum.
"Iya, kamu benar. Ini cuman sebentar doang." Ucap Raka seraya tersenyum juga.